
"Aku akan menunggu di sini." Lala memerjapkan mata, wajahnya sudah sangat memanas. Dua tangannya masih menggelayut pada leher si jangkung.
Walau Richie mulai mendekapnya, dia mulai tidak keberatan akan hal itu. Bagaimanapun dirinya akan tetap butuh sosok pendamping nantinya.
Dengan perasaan tak karuan, Richie menyandarkan kepala di bahu wanita itu. "Saya akan sangat merindukanmu," katanya dengan suara lembut dan dalam.
Lala menghirup bau maskulin dari leher hangat lelaki itu. "Vino juga akan merindukanmu."
"Lalu, kamu tidak ya?" Richie berdiri tegap dan memeluk erat, dia benci meninggalkan Lala.
"Hm...maka itu cepat kembali, aku kan sudah bilang menunggu, artinya tidak ingin kamu lama-lama di sana, kan?" Untuk pertamakalinya Lala melingkarkan tangan ke punggung Richie dan mendekapnya dengan sangat dalam. Aku akan merindukan pelukan ini.
Hal itu begitu dirasakan Richie, Setelah pelukan masa kecil itu, Kamu akhirnya kembali memeluk ku .. Rissa, Ingatkah kamu dengan janji akan menikah denganku saat kecil. Bukankah kamu yang mengulurkan jari kelingkingmu dan berjanji untuk saling mencari!
Dia mengelap air matanya yang mengganjal masing-masing di sudut matanya yang telah memanas, dan jatuh meluncur melewati pipinya. Dia tidak akan mau bila Lala melihat ini, dia menahan kepala Lala tetap di lehernya, sementara tangan lain mengelap pipinya.
Di depan rumah untuk terakhir kali Richie menatap dan mengecup bibir Lala perlahan dua kali dan menghirup dalam-dalam hembusan nafas wanita itu.
Lala mengusap pelan pipi Richie yang memerah. "Hati-hati dijalan."
Lelaki itu memandang dengan tatapan lembut, dan masuk dalam mobil hitam mewah yang telah dibukakan pengawalnya, setelah sempat mengusap kepala dan telinga wanita itu.
Hati Lala berdenyut saat Richie melambaikan tangan dengan tatapan sulit diartikan, mobil itu hilang ditelan kegelapan malam.
Rumah itu di tatapnya. Malam itu cukup terang. Sampai Lala bisa melihat lempengan Cell Surya yang dipasang di atap rumahnya.
Lala menutup wajah dengan kedua tangan dan berjongkok. Tubuhnya bergetar, matanya memanas, rasanya sepi, dia kembali kesepian.
__ADS_1
Dia menahan sesak hatinya dan mulai terisak, di depan rumahnya di tengah dingin dan keheningan malam.
Dia membutuhkan sosok pendamping hidup. Dia tidak ingin hidup sendiri.
...***...
Pagi sangat sunyi. Biasanya jam 5, Richie sudah sibuk mengganggunya, tapi kini rumah begitu nyayat. Lala yang akan ke kamar mandi, menjadi malas, menghempaskan pantatnya ke kursi, kepala dan tangannya tak berdaya di atas -meja makan bundar keramik-
"Richie, kamu menyebalkan..." Dagunya bertopang pada meja, menatap tempat sendok didepannya.
Selesai memasak, seperti biasa dia menyapu. Nyanyian itu terhenti ketika membuka pintu, mendapati bunga segar yang tergelak di tengah pintu.
Dia meletakan sapu dan duduk bersimpuh, meraih buket bung mawar merah dalam background putih dan plastik bening itu. Lala menatap kuntum tiap kuntum mawar yang semerah darah, dia mendekatkan bau segar itu ke hidungnya.
Itulah mawar kesukaaanya. Matanya terpejam, sudah lama dia tidak mendapatkan ini, biasanya saat masih hidup bersama Kevin, lelaki selalu membawakannya tiap minggu.
Lala mendongak menatap langit pagi yang mulai putih, Tidak mungkin Kevin! Buket itu terlepas dari tangannya.Dia menatap gelindingan bunga itu.
Ataukah ini dari Richie? ah bisa jadi. Dia menghirup bunga itu lagi dan melepas dari bungkusnya. Dia lebih suka memegangi tangkai mawar itu, merasakan textur kasar dan bau tangkainya, itu sangat mengagumkan.
Perlahan dia membawa tumpukan tangkai mawar, menimangnya seperti seorang bayi, dan meletakan pada vas bunga di kamarnya. Bunga itu menjadi semangat paginya.
Menjelang jam makan siang, setelah mengisi di beberapa pertemuan acara pengembangan kreatifitas masyarakat di dua kecamatan yang letaknya lumayan jauh.
Tanpa sengaja dia bertemu dengan pak bupati dan berlanjut makan siang. Biasanya bila Lala makan bersama pria itu bila ada beberapa perwakilan tokoh masyarakat yang lain, tapi rasanya jadi canggung bila hanya berdua seperti ini.
"Apa kabar Vino?" tanya pak Zayn, sang bupati, dia menatap wanita di depannya dengan takjub. Dia menyelesaikan makannya. Mengapa kulitnya begitu berkilau, lihat dengan rambut pendeknya dia terlihat seperti belum memiliki anak kan?Apa dia mau jadi istri kedua ku, pasti mau, siapa yang bisa menolak ku?
__ADS_1
Lelaki berpakaian dinas putih itu menelan salivanya, dia tidak berkedip, takut keindahan itu hilang dari pandangan matanya.
"Pak Zayn." Lala memangil berkali-kali, pria di depannya tak kunjung menjawab.
"Iya-iya mih... Eh, dik Lala. Ada apa?" Dia tersenyum kegirangan dengan wajah menghangat, disaat melihat wanita itu memberikan sebuah kotak.
"Bapak, Ini ada sauvenir ini untuk Ibu Zayn, semoga beliau menyukainya."
"Loh, kok bisa dik Lala membawa ini, apa sudah tahu mau ketemu saya?" Pak Zayn semakin percaya diri, mengira wanita ini sengaja mengikuti jadwalnya. Apa dia menyukai saya dan menjadikan ini alasan, apa ini kode?
Lala tersenyum ramah, merasa ada yang aneh dengan sikap pak Zayn. "Itu, beberapa waktu lalu saya sempat bertemu Ibu Zayn di acara training warga, dan kami duduk bersebelahan, sepertinya Bu Zayn sangat menyukai ini, jadi saya membawa hadiah ini kemana-mana, karena saya rasa akan berjumpa dengan Bu Zayn." Lala mendorong kotak ke dekat pria itu, dan langsung menarik tangannya disaat Lala merasakan instingnya ketika lelaki itu akan menggapai tangannya. Itu benar adanya, Lala menghela nafas panjang, menjaga tetap tersenyum, dia jadi sedikit bergidik.
"Oh seperti itu, pasti istri saya akan senang." Pak Zayn semakin dag dig dug, sepertinya perjalanan dia mendekati wanita itu akan mulus karena terlihat dik Lala dan istrinya sudah mengenal, dan kemungkinan besar mereka akan akur. Dia tersenyum penuh. Senyumnya tak bertahan lama saat wanita itu terlihat beberes.
"Maaf sekali, saya menjadi tidak sopan, karena dapat kabar Vino menangis." Mencari alasan apapun, untuk kabur.
"Mungkin Vino butuh ayah, saya sangat disukai anak-anak Loh, dik."
DEG- Apa maksudnya? batin Lala, semakin berpikir yang tidak-tidak.
"Siapa tahu Dik Lala membutuhkan suami, saya-"
Kringgggggggggg-
Lala melihat ponselnya berdering di atas meja, dia menggunakan kesempatan itu. "Maaf sekali bapak, tanpa mengurangi rasa hormat, saya pamit terlebih dulu."
Kringggggg--
__ADS_1
"Ah ya sudah, hati-hati dijalan, saya ingin mengantar tapi sedang menunggu orang." Pak Zayn menjabat tangan wanita itu, tangan yang selembut sutra, dia merekam senyum wanita itu untuk terakhir kali dan terus menatap kepergian wanita itu. Jalannya saja begitu anggun, bak putri kerajaan.
"Pak Zayn, apa sudah lama, menunggu??" Johan yang baru saja tiba, mengamati lelaki itu yang tersenyum-senyum sendiri.