Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 243 : LISTRIK PADAM


__ADS_3

Lampu ruangan berkedip karena dentuman dan getaran kapal. Langsung, Pedro memukul ke -anak buah Daniel-


Pada detik yang sama, Parker membanting tubuh Daniel yang tengah lengah dan menguncinya sampai Daniel tidak bisa berkutik untuk melawan.


Bella tidak membuang kesempatan, membungkuk dengan cepat dan mencomot senapan di dekat kaki dan mengarahkan ke kepala Kevin. Bella menyeringai jahat. "Lepas dia, Bill !"


Membuat Parker seketika menoleh dan menahan aksinya.


Kevin menoleh ke belakang dan mendapati Bella sedang membidiknya. "Kenapa Bell?" tatapan menghunus tajam, "Akhirnya, sudah tidak berakting? Bangs*t!"


Parker melirik Daniel, semakin mencekik leher Daniel dengan kuat. Wajah Daniel merah padam, pucat ungu, menampakan otot kening Daniel yang menonjol


"Memang apa yang kau harapkan!" Bella menjaga jarak dengan Kevin. Melirik ke arah Daniel, "Bill, lepaskan Daniel! Tiga, dua ... " Bella menghitung dengan nafas pendek.


Parker dengan sebuah tendangan, menjauh dari Daniel lalu memicingkan mata pada Bella, si ular licik yang terlalu menghabiskan kesabarannya.


"Cepat, Bell," Daniel bangkit. Melangkah ke luar dan mengelus lehernya yang sakit. Daniel mengepalkan tangan dan menatap anak buahnya yang sempat kecolongan, kini anak buahnya berhasil mengarahkan senapan ke arah Pedro. Daniel meninggalkan Bella yang tampak, tidak ingin beranjak dari sana. "Aku ke atas."


Bella menarik senapan bagian belakang hingga menempel bahu, "Dua tahun lalu, Kamu memaksa ku ikut bersamamu karena dengan begitu kamu lebih mudah mengumpulkan sisa anggota scorpion." Meletakan jari di dekat pelatuk, "di belakang ku kamu mencuci otak Edrik untuk melupakan ku."


Kevin berdiri sambil tertawa kecil, "apa itu yang ada di pikiranmu?"


"Kamu berencana membunuhku sejak dua puluh tiga tahun lalu, tapi aku hamil anakmu dan kau menunda. Lalu dengan sangat halus kamu berakting di depan Edrik menjadi sosok manis, padahal kau sengaja menjadikan Edrik sebagai alat untuk mengambil simpati anak buah suamiku."


Kevin tertawa, "Pintar pintar ... " maju dua langkah.


Bella mundur dua langkah, "Diam di situ, kamu pikir aku main-main?"


Bella mendesis mundur dua langkah karena Kevin terus manju, dia mengencangkan pegangan pada senapan. "Lihat kevin aku bahkan jauh lebih hebat dan seluruh saham mu di SANLA telah beralih padaku."


"Bukankah saat pertemuan kita di vila pertama kali, aku telah memperingatkan mu, Bell? Kamu tidak bisa mengganggu hidup ku. Kamu sampah seperti Ibu mu, murahan!"


Dorr!


Bella menembak ke sisi kiri dan Kevin menghindar.


"Diam sialan!" bentak Bella. Sesat melirik Parker dan Pedro yang sudah mengambil ancang-ancang. "Berani sekali kau membawa-bawa nama ibuku, Kevin!"


"Kau tahu, kau anak yang TIDAK diinginkan, Bella Anastasya Kencana. Seharusnya kamu sadar diri, dan kau masih berharap Sarah mau menerima mu, apa kamu tahu, kau aib baginya, sebuah hasil pemer..kosaan," gumam Kevin dengan seringai.


"Sialan!" Bella maju dua langkah, "kamu akan menyesal, Kevin! aku akan membuat kau membayar penghinaan ini! Kau sama biadab, sialan!"


"Oh ya? sebelum itu aku akan melenyapkan mu. Jadi, sekarang saya tidak perlu perlu harus berakting kasihan lagi padamu ya, kan, Bell? berhubung kamu telah tahu. Saya tidak perlu basa-basi bukan? Dan kau ...


"Apa kamu pikir aku bodoh, Bel. Kau juga sama menggunakan Edric, untuk mengambil kasihan ku? Dan cepat atau lambat ... Edric akan tahu siapa yang menculik dia. 'Ibunya sendiri' " Kevin tertawa.


"Aku harus sampai menyetujui perceraian dengan Lala. Bangs*t, demi mengecoh mu ...


"Aku sudah memperingatkan mu menjauhi Lala sejak awal. Kau justru akan menggunakan dia untuk membalas sakit hati pada ibumu? sayangnya Lala menemukan mamanya," Kevin tertawa, "dan saat kau kembali pada James, kau mulai menyusun rencana serangan dan mengintai kediaman ku."


"Sampai aku membawa mu, kamu semakin melancarkan dan memperkuat rencana mu. Kamu pikir aku tidak tahu? Dua tahun terakhir kamu gencar mengirim pesawat tanpa awak bahkan sampai KEMARIN, kau masih mengintai putri-putri ku. BERANI SEKALI," geram Kevin.

__ADS_1


"Tapi biar ku beri tahu soal serangan tadi? Mereka sudah mengambil alih markas mu!! mereka mendapatkan MARKAS MU." Kevin tertawa menang.


"Aku telah memegang semua kartu mu, Bell? Jadi apa ... ada yang mau kau katakan? misal kata-kata terakhir? dengan luka buatan di lengan? Kau masih mau bermain? APA KAMU PIKIR AKU BODOH."


Dorr!!!


Parker berhasil mendorong Kevin sebelum Bella melepaskan tembakan, pada saat yang sama Pedro mengambil senapan menyerang tiga anak buah itu sekaligus menjejak Bella sampai tersungkur.


Dobrakan pintu dari luar, dan beberapa pakaian tertutup menyelamat kan Kevin.


Kevin mengarahkan pistol dan menembak bahu Bella dengan penuh kegeraman. Sampai bahu wanita itu terguncang dan darah mengalir dari bahu Bella. Anak buah Ars sudah di tembak mati.


"Aku sudah tidak membutuhkan mu. Bangs*t. Ya, Dua puluh tiga tahun, aku bersabar menunggu ini. Menyembunyikan rahasia ini dari siapapun, kau tahu demi apa?" Kevin memuntir pergelangan kaki Bella dengan sepatu pantofelnya. "Aku, sudah menemukan dimana keberadaan KAKAK mu, Bell. Aku tidak sabar meledak kakak tiri kesayangan mu dan menguburnya di markasmu, bagus kan?!"


"Sialan, kau Kevin," menendang tapi di halangi, Kevin.


" Bell, dan jika mereka bertanya siapa yang membunuhmu ... dengan mudah saya menjawab. Bahwa kau mati di tangan Daniel. Sempurna kan?"


Parker tersentak dengan pernyataan itu.


Apa bos mengecoh ku dengan memasang foto Bella di laptop? Lagi-lagi aku tertipu lagi. Aku sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikirannya, yang di luar nalar. (Billy/ Parker)


Dorr!


Sekali lagi dengan tatapan jijik, Kevin menembak bahu kiri Bella, bahu itu terguncang dan darah mengalir.


Dammmmnn


Dentuman besar dan asap hitam memenuhi ruangan, mengganggu pandangan Kevin. Dia terlempar dalam asap gelap, telinga nyeri.


Setelah beberapa waktu, perlahan. Kevin menangkap suara Parker, dia memerjap beberapa kali dan terbatuk-batuk karena ledakan granat.


Saat melirik ke puing-puing, Bella sudah tidak ada. Ruangan menjadi segelap arang.


"Ke-jar cep-at," Kevin sesak karena dadanya membentur dinding.


"Mereka sedang mengejar Bella, sebaiknya anda pulang. Johan baru turun dan akan membawa nyonya dan Alen," kata Parker membantu Kevin duduk.


"Pastikan kau menghabis Bella sendiri, Bill!" Kevin mendorong tangan Parker, "aku butuh waktu sebentar, tinggalkan saya, cepat!"


"Baik," Parker berdiri, dan berbicara pada anak buahnya yang baru saja datang dan semua dari klan Black Lion.


**


"Kapal telah dikepung oleh pasukan paman Jin. Saya memperkirakan itu baru sepertiga, dan akan bertambah dalam satu jam. Bagian belakang kapal terbakar dan masih mencoba dipadamkan. Serangan mereka ternyata lebih awal. Beruntung, barang sudah semua dipindahkan."


*Barang : penyelundupan koka..in*


"Damir tidak bisa di kirim, karena sekarang, terlalu bahaya di luar," kata Nick memeriksa seluruh cctv. "Bella naik ke lantai atas dengan. Azil?"


"Siapa?" tanya Ars saat mengawasi beberapa orang yang mengatur anak buah lain menyerang ke beberapa titik, radio sangat sibuk, bercampur beberapa dentuman dan tembakan.

__ADS_1


"Azil anak buah Kevin, 'si legenda' " Nick menggeleng.


"Si legenda? jadi Bella menggandeng anak itu?" gumam Ars. "Siapa yang mau ditemui. Ke lantai atas?" mengelus dagu dengan telunjuk dan jempol kanan.


"Nona Lala dan Alen. Incarannya. Semua di atas, dan Tuan Damir juga di atas!"


BET! Seketika pandangan gelap seperti hitamnya arang.


"Listrik padam!" Nick menendang besi di depannya.


"Mereka sedang memeriksa generator, Tuan," anak buah Ars berbicara lewat HT.


"Pantau posisi Bella," Nick memerintah lewat earpiece. "Pantau posisi, Tuan Damir dan Alen."


"Apa semua penumpang sudah kau turunkan?" Ars mengisi senapannya dengan peluru saat sebuah lampu emergency menyala.


"Sudah dari pagi, mereka langsung di evakuasi, untungnya," sahut Nick memasangkan jaket anti peluru pada tubuh Ars dan juga dirinya sendiri. Lalu dengan senter menyala di kepala mereka, memecah kegelapan dalam kapal.


Nick bergegas mengikuti Ars. Baru berjalan beberapa langkah dia berhenti sejenak untuk menajamkan telinga saat anak buahnya membacakan hasil pencocokan DNA di TKP.


Kemudian segera menyusul Ars melewati tangga, untuk mencapai lantai atas dari ruang kontrol harus menaiki tangga sebanyak lima belas lantai tanpa lift.


"Tuan Ars, mungkin anda akan terkejut. DNA di gelas teh chamomile, cocok dengan profile DNA Bella."


"Apa maksudmu, Nick," geram Ars dengan nafas mulai meningkat terus menyusuri tangga, otaknya sedang tidak bisa bekerja.


"Positif, Bella yang memasukan racun itu pada paman Jin."


"Apa maksudmu Nick, omong kosong?" suara Daniel dari earpiece. "Untuk apa Bella mengincar paman Jin? tidak masuk akal."


"Anda bisa mengechek sendiri bila tidak percaya, Tuan Artyom. Bella menjebak kita, dan celakanya, kita, sudah terlambat untuk mengklarifikasi pada pasukan paman Jin. Mereka sudah menyerang membabi buta hampir di semua titik. Kita telah kehilangan dua puluh persen pasukan," sahut Nick pada Daniel.


"Bukan-kah sudah ku bi-lang, Tyoma! Da-ri awal aku, ti-dak setuju, dan kau te-tap membawa ular itu!" Ars berkata dengan nafas cepat terputus-putus.


"Damn! amankan berkas saham, sebelum wanita itu mengambilnya," sahut Daniel dari tempat berbeda sambil memukul dan melumpuhkan anak buah paman Jin.


"Sial! Bella baru saja membunuh 030 dan sudah mengambil berkas di bantu Azil. Tim B sedang menyusul," sahut Nick.


"Damn! aku akan membunuhnya!" sahut Daniel.


"Ada yang sudah mendapatkan posisinya?" tanya Nick yang terhubung pada banyak saluran. "Nihil."


*


"Sial, yang benar saja!" Bella menendang lift yang berhenti dalam kegelapan.


Azil menyalakan sebuah senter dan menyerahkan ke Bella, "pegang," membuka langit lift, "Kemari, cepat, kita harus mengejar Alen," mengulurkan tangan saat Bella memberikan berkasnya.


Bella menatap Azil yang memasukan berkas ke dalam jaketnya, dia langsung berpegangan pada tangan Azil, dan ikut memanjat kawat sling untuk mencapai pintu lift di atasnya dengan senter kecil di selipkan disaku rompi.


Setelah cukup lama Azil membelah pintu lift, dan keluar. Mereka menyusuri lewat tangga.

__ADS_1


__ADS_2