
Jus spesial itu ditelan habis Kevin tanpa tersisa. Lala bangkit dari atas Kevin, dan menarik celana Kevin, membuat tubuh suami yang sangat menggoda itu jadi benar-benar polos. Lala melepas g-string merah, lalu memegang dinding dan mamerkan dua bongkahan pantat sintal pada suami, tangannya menuntun besi keras hangat itu.
Shattt!!!
Sekali gerakan Kevin langsung mendorong dan menghentak dengan keras, menimbulkan bunyi PLAK!!
Tangan Kevin yang masih terikat itu menarik rambut istri dalam genggaman, "kamu sukahh istriku hh?" tanya Kevin, sambil menarik lagi pinggul dengan pelan menjauh dari dua daging empuk.
Shatttt!!!
Lagi Dorongan Keras membuat tubuh Lala terdorong dan mengayun ke depan dan Kevin menarik rambut Lala lagi dengan tatapan dalam, "kamu suka Babe?"tanya Kevin dengan suara berat.
"ahhhhmmm suhhh kkha."
Shaattt!!!
Inti tubuh Lala terasa penuh, bahkan terasa akan sobek dan perutnya terasa penuh.
DOG DOG DOG !
"Mamah ini Irish, mamah letakkin jaket baru Irish dimana ya?!"
Lala menelan salivanya, "sayang.."
"Hhhh Biarkanhhhh,"kata Kevin dengan suara berat, tak mau menghiraukan panggilan putrinya, dada Kevin telah penuh gelora.
Tali yang telah mengikat tangan, ditarik dengan gigi Kevin, tangannya kini bebas, lalu menarik resleting gaun di punggung Lala dan mulai menyerang punggung dan tengkuk istrinya dengan kecupan, sementara tangan lain mengusap bahu dan semakin menurunkan dress, menangkup dua bongkahan kenyal di dalam b r a, dan sekali tarikan menarik pengait b r a di depan dan dia daging menggantung itu ditangkupnya dan bermain dengan biji yang sudah mengeras disana.
Lidah Kevin mulai merambat ke telinga, pipi dan bertemu dengan lidah istrinya yang sedikit mendongak kebelakang. Kevin menarik bahu istrinnya, mendorong pinggulnya, sementara kedua tangan istrinya kini bertumpu pada kasur menahan berat Kevin di atasnya.
Kevin medekap perut ramping Lala, menarik bahu Lala sampai istrinya-benar-benar terbenam.
"Mamah tidur ya?" panggil Ivy dari luar.
Kevin merasakan panasnya -punggung Lala- bercampur keringat di dada Kevin, keringat yang terasa dingin dan menyenangkan, membuatnya semakin semangat. Peluh kening Kevin berjatuhan di rambut Lala.
Setelah dirasa tidak ada suara Irish di luar, suara Lala dan Kevin kembali beradu bercampur nafas pendek pekikan. Kevin mulai memompa, setelah setengah jam inti kejantanan mulai berdenyut, dan Kevin semakin menghentak berkali-kali.
__ADS_1
"Datang bersamaku, Babe."
Lala yang sudah tak tahan dengan serangan suaminya, Ia berteriak panjang disusul Kevin dan mereka jatuh bersamaan ke kasur dengan keringat di seluruh tubuh mereka. Kevin mengecup tubuh pipi istrinya tanpa bermaksud mencabut, dia menarik selimut di sisi kanannya dan menutupi tubuh yang masih saling menempel.
"Babe, kamu sudah tidak minum pil kb kan?"
"Aku tidak meminumnya lagi, seperti keinginan mu.."
"Saya ingin bayi laki-laki, Babe... supaya bisa melindungi kakak perempuanya."
Lala menatap jauh ke dinding, jam menunjukan lima sore, "setelah 18 tahun lewat, aku masih saja teringat beratnya perjuangan kehamilan si kembar tiga, suami ku..."
"Saya akan selalu di sampingmu,Babe. Seperti selama ini. Saya akan menjagamu, saya mau libur satu tahun tidak kerja bila kamu sampai hamil lagi."
"Bagaimana bila itu perempuan lagi?"
"Tidak apa, kita bikin lagi tahun depan."
"Astaga kamu sayang, coba kamu saja yang hamil."
"Bukankah kamu senang memiliki anak banyak?"
"Bukan kah pengawal kita selalu menjaganya saat di kampus, bahkan tanpa sepengetahuan mereka kita mengirim untuk menyusup menjadi temannya. Lagian saya sudah melatih mereka kungfu, karate, jika ada yang macam-macam dengan mereka, mereka bisa melawanya."
"Iya suami, aku tahu kamu ayah terbaik untuk anak-anak kita," kata Lala dengan senyum. Kejantanan suaminya telah mengendur dan keluar dari kewanitaanya, di bawah sana cairan kehidupan terasa dingin keluar di antara pahanya.
Pelukan suaminya terasa begitu hangat dan dingin keringat. Lala memejamkan mata sebentar...
☘️☘️
Di ruang keluarga, Ivy yang sibuk dengan laptopnya sambil menonton tv, duduk di karpet bersama Luca berebut cemilan kacang di toples kaca.
Sedangkan Irish datang membawa puding buatannya.
"Apa kamu punya sistem keamanan terbaru untuk perusahaan Uncle yang akan Uncle buka di kota Ini Ivy?" tanya Luca melirik keponakan yang matanya tidak lepas dari laptop.
"Masih kusiapkan Uncle, beri waktu Ivy satu bulan, dan Uncle harus membayar mahal kali ini."
__ADS_1
Luca mengacak puncak rambut Ivy, membuat Ivy mengerucutkan mulut 4cm.
"Kamu kalau cemberut tambah jelek Ivy," kata Luca.
"Biarin,begini -begini juga banyak yang mau." Kesal Ivy saat melihat Iris duduk di sebelah Luca, pasti saudara kembarnya itu cari perhatian pada unclenya
"Memangnya ada yang mau sama cewek berkacamata dan baju gombrang begitu? mending kamu ganti style fashion mu seperti saya, Ivy."
Luca merangkul bahu Irish dan mencubit telinganya, "Irish, kita tidak boleh berbicara seperti itu, walaupun itu kepada keluarga kita, bisa saja yang mendengarnya sakit hati. Manusia itu yang dilihat dari kecantikan hatinya, lagian Ivy tetap cantik walaupun dengan kacamata, dan bajunya, justru bajunya itu bisa melindungi dari mata lelaki yang berniat tidak baik."
Irish memotong puding diatas meja, mengambil ke nampan kecil, "Uncle mah, apa-apa Ivy, selalu belain Ivy, kapan Irish dibela..." memberikan puding pada Luca.
Ivy tersenyum kecil, matanya tidak lepas dari angka-angka di depannya. Bila diingat Uncle nya memang selalu membela Ivy, dan Ivy memang merasa lebih diperhatikan dari kecil oleh Uncle dari pada kembarannya Irish, dan Isla. Kalo Isla si memang tipe cuek, tidak haus akan perhatian.
"Loh, Uncle juga perhatian sama Ivy, buktinya itu kalung uncle pilihin khusus buat Ivy, hayo coba ... ?" tanya Luca.
"Memangnya ... Uncle tidak membawa hadiah buat Ivy?" tanya Irish setengah kegirangan.
"Tidak tuh," sahut Ivy, dari awal Ivy memang sudah mewanti-wanti tidak mau di bawakan apapun saat Uncle pulang.
"Tuh dengar Ivy, uncle nggak bawa hadiah buat dia." Luca mulai merasakan kecemburuan Irish.
Bagi Luca, dari kecil, Irish selalu membanding-bandingkan perlakuan dirinya pada Irish atau Ivy, dirinya benar-benar harus terlihat netral, Luca mengalihkan pikiran Ivy. "Ini buatan Irish?" Luca melahap puding yang segar itu, "emmmh ini enak."
"Uncle suka?" tanya Irish.
"Besok bikinin Uncle yang banyak ya... " kata Luca sambil menerima potongan puding lagi dari tangan Ivy.
Luca melihat dua keponakannya ini, Ivy yang banyak diam, dan Irish yang minta diperhatikan. Luca tertawa dalam hati, rasanya seperti memiliki anak perempuan.
Satu jam berlalu ...
Kevin mengendap-ngendap ke ruang keluarga, bibirnya tersenyum melihat dua putrinya sedang bersandar di bahu Luca, Kevin menggelengkan kepala.
Bahkan mereka tak sadar dengan kedatangan Kevin, setelah berdiri cukup dekat di dekatnya, "E'hem."
Tiga orang yang asik menonton drama korea itu, mengalihkan perhatian ke asal suara, melihat Kevin lalu kembali lagi dengan filmnya. Begitupun Luca, ikut asik dengan film yang sedang mencapai puncak masalah itu.
__ADS_1
Wajah Kevin langsung merah padam, dia tidak suka diacuhkan. Begitu Luca memasuki rumahnya, pasti perhatian anak-anaknya teralihkan pada pria yang asik menyendiri itu.