
-POV Lala-
Setelah Inem bersiap-siap, dia membawaku turun ke bawah, menemui mereka semua yang telah berkumpul di ruang tamu. Ayah-Ibu mertua, Luca, Kevin dan Fabio. Mereka sedang tertawa karena acara reallity show. Membuatku sungguh merasa iri dengan kebersamaan mereka. Walau sekarang aku menjadi bagian dar keluarga mereka. Iri, aku juga merindukan Ibu, merindukan pelukan ibu, ibu yang kini bahagia di surga.
“Sudah selesai, Babe?” tanya Kevin sambil menghampiriku dan bersimpuh, dia mengecup punggung tanganku dengan kelembutan. “I love you.”
‘Apakah ucapanmu bisa aku percaya? Itu seperti kebohongan,’ batinku. Aku menyelidik mencoba mencari kebenaran ucapan dia pada netra- deep blue- itu.
“Saya ke kampus siang, tapi saya harus ke tempat Guskov. Maaf, belum bisa menemanimu,” kata Kevin.
Aku mengangguk dengan pelan, resah mulai menghinggapiku. Hatiku semakin tidak nyaman dan pikiranku terus mengira-ngira, lalu selalu berpikir buruk tentangnya. Aku tak mengharapkan pernikahan seperti ini.
Sikap suamiku terlihat normal, ponselnya juga selalu tergeletak tanpa disembunyikan. DIa terlihat seperti tidak punya rahasia. Namun, fakta dibaliknya masih sulit ku terima. Mulutku terus terkunci di hadapan Kevin. Apa hatiku telah mati, aku tidak siap dengan semua ini.
Dekapan hangat Kevin menyelimutiku, apa aku salah jika aku ingin di temani Kevin untuk mencari perlengkapan bayi. Ataukah justru Kevin melalukan itu dengan Bella. Apakah dia sangat perhatian dengan Bella.
Dia mengusap air mataku.”kenapa? Saya tidak mengerti apa salah saya, kamu terus-menerus diam, Babe,”lirih dia. Aku semakin tak terima mengapa dia berbicara begitu di depan mereka. Mereka bisa saja mendengarkan ini. Aku tidak ingin jika sampai mereka mengira hubungan kami bermasalah. Aku malu, aku merasa tak pantas, aku merasa begitu memalukan di depan mereka.
“Ya sudah, saya harus pergi sekarang, apa kamu mau titip sesutu?” tanya dia padaku dengan tatapan lembutnya. Dia terlalu sempurna bagiku, sekali lagi aku merasa tak pantas untuknya. Aku menggeleng dan dia terus melihat jam tangan, seolah tengah ditunggu seseorang.
Kecupan lembut mendarat di bibirku, nafas hangatnya menyapu pipiku. Dia begitu berani memainkan lidahku di depan mereka. Aku hanya menatap kosong, sampai kapan suamiku sabar dengan kondisiku. Akankah kesabaran habis dan meninggalkan aku, lalu memilih hidup dengan Bella.
Sudah tiga bulan lebih, dia tidak menunjukan tanda hasrtatnya, ataukah dia dengan Bella. Dia hanya mendekapku saat tidur, apa dia tak menginginkanku. Atau karena aku sudah terlihat terlalu gila dimatanya, sampai dia tidak menginginkanku lagi.
“Jangan banyak melamun, kita akan jadi orang tua, semangat ya, ya sudah ...saya jalan, sampai jumpa,” kata Kevin, dua tangannya memegangi wajahku dan mengecup banyak sekali di wajahku, sampai aku sulit bernafas. Lalu dia pergi diikuti Parker dan empat bodyguard lainnya.
Terlihat Sheril bangkit dari sofa kulit, menyingkirkan kepala papa dan Luca yang bersender pada bahu Sheril. Dia begitu ayu, kulit kuning langsat, rambut bergelombang, bulu mata lentik, pakaiannya selalu fashionable dan sopan. Dia mengecup papa Anton, sesaat sebelum menarik tangan Luca.
“Aku tak mau ikut,” rengek Luca pada Sheril, aku melihat pemandangan tak biasa itu. Luca selalu terlihat kekanak-kanakan di depan Sheril, tetapi begitu anteng di depan Anton.
__ADS_1
“Suatu hari kamu akan punya anak, jadi ayo belajar dulu. Bantuin mamah mencari perlengkapan untuk keponakanmu. Kamu saja yang mengemudi,” kata Sheril.
“Dengar mamahmu, jangan kantor terus yang kamu urusin. Cepat cari istri, atau papa akan mencarikannya?” cerca Anton, matanya tak lepas dari TV.
“Enggak mau papah! Sudahlah! Lebih baik aku ikut mamah, dari pada dengerin kultum papah, huh!”
Sheril memutar kursi roda, aku menyadari badan ku terlalu lemah hingga dokter tidak mengijinkan aku banyak jalan, dan aku harus memakai kursi roda sepanjang waktu. Badan ku mulai terasa tak nyaman, pegal semua, terutama kaki, dan pinggang. Tidur pun aku semakin kesulitan, aku sering tidak bisa tidur malam dan justru baru bisa tidur saat pagi.
“Mah, aku saja,”kata Luca, dia akhirnya mendorong kursi rodaku.
“Sebentar, ada yang ketinggalan. Kalian tunggu saja di mobil,”kata Sheril dia menjauh, dan Luca mulai mendorong kursiku.
“Lala sampai kapan kamu mau terus diam? aku tidak lama disini. Jadi aku berharap, bisa mendengar suaramu sebelum kembali ke New York.”
Kami melewati pintu dan para penjaga, menuju mobil yang telah siap. Luca menuntunku ke jok depan, membantuku mengenakan safety belt, dia terlalu dekat, sampai parfum yang di pakai Luca langsung menyambut hidungku.
Terlihat di spion kiri, penjaga itu memasukan kursi roda ke mobil lain.
Luca tertawa, entah apa yang dianggapnya lucu, tangan dia lalu menyetel musik, kami menunggu Sheril yang belum juga masuk.
“Aku merindukan suaramu Lala... aku ingin tahu masalah atau kesedihan atau apapun yang ada di pikiran dan hati kamu. Jika aku boleh jujur, kamu terlihat kesakitan, apa anggapan ku salah?” tanya dia sambil meraih tanganku. “Kita tidak bisa memendam masalh sendiri Lala, kita tidak akan kuat, karena kita mahluk sosial, jangan terlalu membebani dirimu, kamu hanya perlu berbagi masalahmu.”
“Diam!!!” teriakku tak kuat menahannya, itu terasa begitu menyudutkanku.
“Bagaimana kami tahu masalahmu, jika kamu hanya diam ha!” bentak Luca, untuk pertama kalinya. Tidak, itu bukan salah Luca, aku hanya tidak nyaman. Aku semakin tertunduk meremas jemari tanganku.
“Aku peduli padamu! Ini bukan kamu yang ku kenal. Jika kamu tak bahagia dengan perikahanmu katakan padaku ! Aku akan membawamu dan kita hidup di New York!”
Aku memegang keningku yang sakit.
__ADS_1
“Lala, kenapa kau diam!?”tanya dia menarik tangan kiriku agar aku tak menyembunyikan wajah.
“Kau ada masalah dengan Kevin kan? Kau menyembunyikannya tanpa Kevin tahu kan? Ceritakan padaku apa itu???”
“Lepaskan tanganku!”teriaku.
“Enggak, sebelum kamu menjawabnya, apa yang membuatmu begitu kacau? Lihat ini tanganmu, kau benar-benar ya, untuk apa melukai dirimu? Kau tidak tahu? Aku mencintaimu, aku membiarkanmu dengan Kevin agar kau dapatkan kebabahiaanmu, tapi apa ini? Kau bahkan mau lompat dari balkon apa kau gila? Kau ingin pergi dari dunia ini, lalu bagaimana denganku??!!
“Aku terima kau tak pernah mau melihatku, tapi aku tidak akan membiakan kamu terus hidup sepeti ini.”
Aku tak bisa mencerna apa yang diucapkan Luca, sudah terlalu banyak sesuatu memenuhi kepalaku.
“Masalah itu dicari solusinya bukan dipendam Lala, apa sesulit itu hanya untuk terbuka,” kata Luca mulai menurunkan suara dan melepaskan cengkraman.
Tas slempang hitam kubawa ke pangkuan, lalu memutar pengait perak bentuk plus . Ceklek. Aku merogoh mencari-cari hp diantara selipan, “Tidak sesederhana itu mas Luca, biarkan aku menyelesaikan sendiri.”
“Kevin tidak main-main denganmu, kan?”
“Mas Luca kan tahu sendiri, Kevin tidak sperti itu.”
“Apa dia selingkuh?”
DEG. Aku mematung dan badanku terasa lebih lemas seketika, “Ti-tidak.”
“Baguslah, jika bukan karena itu. Jika dia selingkuh, aku akan langsung membawa mu.”
“Cukup, aku akan selamanya dengan dia! hatiku hanya untuk dia. Jangan memojokan aku lagi!”
“HAh!” Luca menghela nafas dengan kasar, sedangkan aku tidak mengerti arah jalan pikirannya.
__ADS_1
HP dengan casing pink itu menyala setelah sensor mengenali telunjuk pemiliknya. TUT. Terpampang foto selfi aku dengan Kevin di hari pernikahan. Dimana terlihat aku benar-benar bisa tersenyum lepas, terpancar aura penuh kebahagiaan disana. Seakan-akan, tidak ada datang kesedihan setelahnya.
Aku berharap aku menjadi kuat seperti saran Richie.