Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 119 : PENCULIKAN SAAT KECIL


__ADS_3

Balon-balon telah terpasang mengitari sepanjang ruang keluarga dan kolam renang. Beberapa balon juga menghiasi permukaan kolam renang.


Lala baru sampai rumah, setelah keluar bersama Siska, Luca dan Fabio. Dia menjinjing kado untuk papa mertua, tidak lupa juga membelikan satu hadiah untuk Alen, dia tidak mengijinkan pelayan membawa kado spesial itu.


Setelah melewati lorong, Lala tertegun karena ayahnya berdiri di depan pintu kamar. "Ayah, mengapa disini? sejak kapan?"


Alen menoleh ke kiri, "putriku, sudah pulang."


"Ayah berdiri terus, pasti capek ya?!" tanya Lala sambil menarik -tangan Alen- menuju ruang santai, di depan kamarnya.


Di sana terdapat dua sofa panjang, piano, dan beberapa alat musik. Ada tempat yang dipisah oleh sekat ukiran kayu, tempat favorit Kevin untuk melukis.


Di salah satu dinding, terdapat rak buku. Rak buku yang juga pintu rahasia yang menghubungkan ruang baca, dimana Kevin biasa belajar. Di situ Lala juga kadang ikut belajar bersama suaminya.


Lala meletakan tas kado di atas meja.


"Putriku, ayah minta maaf," kata Alen yang melihat perut besar Lala yang dalam tiga hari lagi akan melahirkan.


"Lala yang harusnya minta maaf, Ayah. Pasti Lala sudah menyakiti hati ayah. Lala menyesal, tolong maafkan Lala," kata Lala dengan lembut, dan duduk di sebelah Alen. "Hati Lala tidak tenang berhari-hari, maaf atas kekasaran Lala."


Alen mengusap puncak kepala Lala. "Aku tidak pernah menyalahkan sikapmu, tapi Rumi itu Ibu mu. Ayah membohongimu sejak kecil soal Ibu, karena ayah takut Rumi memisahkan kamu dengan Ayah."


"Lala tidak mengerti ucapan ayah. Ibu telah tiada."


Alen meraih tangan kanan Lala, "sayang, Ayah dan tante Rumi pernah menjalin hubungan. Lalu karena suatu hal kita terpisah. Ayah meninggalkan Rumi dan tidak tahu Rumi akan mengandung. Rumi juga pergi jauh, kami putus kontak," kata Alen sedikit berbohong. Dia tidak mungkin bilang pada putrinya, jika Alen tidur bersama Rumi tanpa sengaja, apalagi karena mabuk. Alen tidak mau jika putrinya berpikir bawah -Lala kecil- adalah sebuah kesalahan.


"Lala masih tidak paham," kata Lala dengan mata mulai mengembun, 'apa ayah selingkuh dengan tante rumi dan menghianati Ibu?' hati Lala mulai terasa sakit.


"Dua tahun setelah perpisahan dengan Rumi, Ayah mendonorkan darah pada seorang bayi dari panti asuhan. Tuhan mempertemukan ayah dengan bayi itu, dengan golongan darah yang sama-sama langka. Dan ayah terkejut sekaligus bahagia karena ternyata dokter bilang itu putriku. Dan itu adalah kamu, Nak."


Lala tersentak kaget, jantungnya langsung berdegub kencang. Bulir air mata jatuh dari mata Lala, dia tidak siap mendengarkan itu. Semua yang diceritakan oleh ayah selama ini, begitu bertolak belakang dengan apa yang keluar dari -mulut Ayah- hari ini. "Lala tidak mengerti," kata Lala yang mulai terisak.


Alen merasakan genggaman Lala yang lebih erat, putrinya itu gemetar, "aku memberi nama bayi itu, Lala Clarissa. Kemudian, saat umurmu dua tahun, ayah membawa mu ke Rusia. Ayah cuma dekat dengan Rumi, tidak kenal wanita lain.Di sana takdir membuat ayah kembali bertemu Rumi, tapi dia sudah menikah. Cukup lama ayah frustasi menahan untuk tidak memberitahu keberadaanmu," kata Alen dengan jujur dan hati yang terasa perih.


"Sampai akhir pun ayah tidak berani memberitahu Rumi soal kamu, padahal ayah tahu dia selalu mencari, tapi ayah selalu menghalangi jejak mu. Akhirnya saat kamu berusia tujuh tahun, dengan berat hati, ayah membawa mu kembali ke negara kepulauan dan jauh dari Rumi."

__ADS_1


Alen memendam kekecewaan sejak lama pada Rumi, karena wanita itu telah menikah. Namun, itu juga bukan salah Rumi, karena malam itu hanya cinta satu malam. Kristal-kristal air mata jatuh meluncur di pipi Alen yang tidak mau jika putrinya dibesarkan lelaki lain.


"Saat SD kamu mulai menanyakan soal ibu. Jadi, ayah menjadikan tanah datar itu kuburan, lalu ayah mulai mengarang cerita soal kematian dan semua cerita tentang ibumu, termasuk -kisah cinta restoran jepang- itu juga cuma karangan ayah. Kuburan Itu hanya tanah kosong, tidak ada jenasah yang dikubur di sana. Ayah minta maaf."


Lala menggeleng tak percaya, dia menutup wajah dengan kedua tangan. Bulir air mata itu terus tumpah tanpa bisa dibendung meski Lala menahan tangisan.


Kevin yang akan memasuki kamar, tanpa sengaja mendengar suara Lala.


Saat Kevin tahu pintu ruangan terbuka, dia hampir masuk. Namun, akhirnya dia mengurungkan niat dan mendengarkan semua kisah Alen.


Kevin mengepal tangan, 'Banyak duri pada tubuh istriku, kamu pasti sangat kesakitan. Saya tidak akan membawa Bella padamu, sehingga membuatmu lebih sakit lagi.'


Lala menangis dengan suara tertahan, tapi tetap saja dapat di dengar Alen dan Kevin.


"Apa tante Rumi itu beneran ibuku, ayah?" tanya Lala dengan mulut bergetar, masih tidak percaya. Hati Lala merasa sakit, karena kebohongan yang telah diciptakan Ayah selama bertahun-tahun.


"Rumi adalah ibu kandung kamu, sayang. Kamu tahu kenapa ayah selalu mewanti-wanti kamu untuk memakai kalung ini? karena ini ada di keranjang gendong, saat kamu ditemukan. Ayah tahu, pasti Rumi akan menemukan mu lewat kalung ini, benar kan dia akhirnya menemukan mu..." kata Alen dengan suara bergetar, sambil memegang kalung turmaline biru, yang dikenakan Lala.


"Jadi, tante Rumi tidak bohong?"


Alen mengalihkan pandangan ke meja dengan kedua tangan mengepal kuat di atas paha, "setelah ayah menyusuri penculikan itu. Mereka menculik mu dari Rumi saat di bandara," mengusap pipinya yang basah. "Tapi ada penculik lain, yang juga menginginkan mu. Di suatu tempat lain mereka kembali bertarung merebutkan kamu."


Alen mengusap air matanya lagi, "seorang kakek pengemis mengambil mu dan bermaksud menolong mu karena tampilan mereka yang terlihat mengerikan. Tapi umur sang kakek tidak Lama."


Alen memandang Lala, "saat kakek itu meninggal, seorang anak pemulung membawa mu ke panti. Sejauh itu yang baru ayah ketahui. Ayah tidak tahu siapa penculiknya."


Alen menunduk, bulir-bulir air mata jatuh ke pangkuan, "tapi ayah sangat bersyukur, Tuhan mempertemukan aku dengan kamu putriku," mendongak dan tersenyum pada Lala, "Kamu lah hidupku. Jadi, jangan benci ayah, ya?"


Lala mengangguk dengan pelan, lalu tersenyum, "Lala sayang ayah, Lala tidak akan pernah membenci Ayah!"


Alen tersenyum, lalu mengambil sapu tangan di kantong dan mengelap pipi Lala yang basah, dan membersihkan ingus Lala, "kamu janji akan hidup bahagia, kan? jadi jangan menangis lagi."


"Baik ayah," kata Lala berusaha tersenyum sambil mengelap pipi Alen yang juga basah.


Terlihat kening sang ayah yang mulai berkerut. "Selama ini ayah berjuang sangat keras untuk ku, berjuang sendirian, maafin Lala ayah..."

__ADS_1


"Asal kamu bahagia, putriku."


"Lala juga ingin ... ayah bahagia ... apa ayah mencintai ibu?"


" ... " Alen terdiam dengan tatapan nanar.


Lala berpikir sang Ayah memiliki perasaan pada tante Rumi, yang juga adalah ibunya.


"Aku memiliki ibu ayah." Lala tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Dia begitu merasa sangat bahagia.


"Kamu memiliki ibu. Ibu yang bagai bidadari. Sekarang kamu tahu kan darimana kecantikan mu berasal? tidak hanya dari luar tapi dari dalam. Seperti Ibu mu."


"Ayaahhhh !!!!! hug' hugh" rengek Lala menghabur ke pelukan ayah, disambut Alen yang menepuk-nepuk punggung putrinya, berusaha menyemangati Lala.


Lala merasakan kebahagiaan itu, doanya sejak lama untuk memiliki seorang ibu dan bisa merasakan pelukan ibu. Akhirnya, akan terwujud.


Namun, Lala juga merasa kasihan sekali pada perasaan Alen, 'apa cinta ayah bertepuk sebelah tangan?'


Kevin yang menyaksikan itu terus tersenyum terharu, dia mengelap setetes kristal air di ujung mata, lalu melangkah mundur, tangannya memutar kenop pintu.


Lelaki itu memasuki kamar, bau vanila menyambutnya. Ia Bergegas mengeluarkan hp dan dompet, Kevin melepas jam tangan, lalu jas dan ikat pinggangnya.


Dia menatap dirinya di pantulan cermin, melihat ketampanan yang selalu dikagumi. Menelisik rahang menonjol dan hidung mancung. Mata tajam dan alis tebal. Bibir tebal dan semerah cherry, "Di mata Lala saya seperti apa ya? menarik tidak sih?" gumam Kevin, merasa sedikit ragu.


Dilepas kemeja dan di letakan ke kursi rias. Tidak lupa celana panjangnya. Kevin menekuk tangan ke atas, dan bercermin. "Trisep bisep lumayan kan, apa kurang besar?" gumam Kevin, lalu meraba perut rampingnya, "apa ini kurang keras? ah tidak, ini sudah ramping ko."


Kevin menggeleng kepala dan bergegas mandi.


Dibawah pancuran shower, dia bernyanyi seperti sedang konser di atas panggung.


Rintikan air hangat itu membuatnya semakin semangat dalam luapan kesenangan.


Berharap malam ini, Lala akan menyambutnya dengan penuh senyuman. Dia harus mandi dengan bersih, siapa tahu Lala akan menyerangnya.


Kevin semakin berdendang membelah rambutnya yang basah dan penuh oleh busa samphoo.

__ADS_1


Kevin akan menyiapkan diri malam ini, dia harus wangi dan terlihat keren di depan istrinya, agar Lala bisa terkesima dan kagum padanya.


__ADS_2