
-POV Johan-
Saat Sasha menyuruh untuk memanggil teman dia, itu sungguh menjengkelkan.
Namun, ada yang aneh mengapa suami Shasa bahkan tidak ada di acara pestanya. Apa pekerjaan itu lebih penting daripada pesta ulang tahun istrinya.
Langkah demi langkah lebih cepat melewati anak tangga kayu, di pucuk anak tangga langkah terakhirku melambat saat kedua mataku memaku pada efek cahaya yang berkumpul menyilaukan membingkai sesosok tangan lentik yang memilah rambut -hitam berkilau sebahu- ke belakang telinga, gerakan tangannya anggun menghipnotis mataku sampai beberapa menit aku membeku.
Berdenyut lebih cepat, Aku masih menatap jemari lentik yang mengaitkan karet ke telinganya. Dari arah samping, perut dia tercetak jelas, langsing, di gaun merah saat bersimpuh condong ke depan semakin terukir indah. DAG DIG DUG. Dia sedang mengusap pipi seorang bayi superior yang tengah menepuk pipi wanita itu.
Efek cahaya seolah mendramatisir dan menyorot berputar disana, di punggung polos. Empat tali melintang merayap di kulit punggung yang berkilau licin.
Itu menggetarkan arus listrik di seluruh penjuru tubuhku.
Rambut dia menggantung jatuh mengikuti gravitasi. A'****! Apa ada malaikat!
Pinggang dan punggung itu . Gila ini mahakarya indah! aku ingin menyentuhnya!
Membayangkan memijat setiap jengkal dari punggungnya.
Kaki yang bersih, mulus, dan terawat itu membuat darahku memanas, indah menapaki lantai kayu.
Sesaat aku memelototi, aku merasa mataku akan keluar, menyapu dari jemari kakinya ke atas ke lutut yang tertutupi gaun mencetak bentuk pinggul dan lagi itu indah dan pinggang kecil. Glek- Aku menelan saliva pa..yu..dara itu terbentuk sempurna, dan tulang selangkanya yang sedikit menonjol seakan menantang bibirku untuk menempel dan jatuh di sana.
Aku merasa nafasku mulai sedikit meningkat.
Tanpa sadar aku terlalu memperhatikan area sekitar wajahnya.
Gerakan bibir yang menarik saat dia berbicara membuatku membayangkan bagaimana cara aku mencium dia.
Mata yang sehat, cerah, dan tampak bersahabat. "Ah itu begitu tajam."
Dia berkomat-kamit.
Aku tersadar, aku sadar dia melambaikan tangan dengan gemulai. "Ah."
"Halooo??" katanya, dia terlihat mengeraskan suara tapi tersamarkan musik dari bawah.
Aku ingin melihat dia untuk waktu yang lama. Aku bahkan tidak bisa bernafas! kalau tidak mengapa saya diam, seperti orang bodoh yang bodoh. Refleks! tubuh ini tidak bisa mengontrol aku ingin mendekat. Apa dia menggunkan magnet lalu menarik saya?
Aroma buah pear, segar menguar dari ceruk lehernya.
"Maaf, anda terlalu dekat," katanya sambil mundur menjauh dari saya
Suara itu seperti, sial seandainya musik dibawah bisa diam sebentar, aku bisa mendengar warna suaranya.
__ADS_1
Bernafas perlahan mencoba mengembalikan kewarasan, melihat sekeliling dan wanita bergaun merah hanya dia. Aku harap aku tidak salah, aku ingin berbicara dengannya lebih banyak di sepanjang pesta. "Apa kamu 'Mawar'? Jika benar itu lakon mu, artinya Shasa memintaku membawamu ke bawah," kata saya menggerakan bibir dengan sangat jelas agar dia mengerti.
Menatapnya, Apa aku boleh membuka topeng dia, sungguh membuat penasaran.
"Sebentar," katanya, berbalik, dia berjongkok mengecup anak bayi.
Saya kira mata saya hari ini sedang sakit, melihat dia duduk di sofa krem sedang berjongkok mengaitkan sepatu, membuatku mabuk.
Ayolah Jo, bahkan dia sudah memiliki anak! Bersikaplah seperti biasa.
Berulang kali aku membuang nafas, menetralkan gejolak aneh tubuh dan pikiran yang tidak terkontrol. Bahkan ini belum sepuluh menit dan dia membuat saya menjadi gilam
Langkahnya begitu anggun, mengapa aku semakin mabuk.
"Biar saya bantu," kata ku dengan suara gentle.
Bahkan aku membuat suaraku terlihat keren, apa saya bodoh!
Masa bodoh! Aku mengulurkan tangan menghadap atas, di depan perut ratanya, bahkan aku ingin menyentuh itu tetapi aku benar-benar menahan begitu kuat, jangan sampai dia menilai saya buruk.
"Maaf, saya bisa sendiri, mari," katanya dingin sambil memegangi tembok turun langkah demi langkah membuatku jadi ingin menggendongnya.
Wah saya di tolak, memalukan.
Mengapa aroma tubuhnya seperti familiar?
"Hai 'mawar' , 'jerapah' kemari," kata Sasha.
Ya, aku mendapat nama 'jerapah'. Seandainya saya bisa memilih nama, saya akan memilih 'Lion.
Begitu Sasha menatap bergantian ke arah saya dan 'mawar'.
Menggunakan gaun hijau selutut dan topeng berbulu hijau, dialah Sasha. Sejak kapan Sasha memiliki teman seperti 'mawar' apa 'mawar' tinggal di kota ini?
Aku refleks menggelengkan kepala dengan pelan, lihatlah 'mawar' itu sudah berkeluarga kan? jadi dimana suaminya? Aku menatap sekeliling, sekali lagi memeriksa sekilas pengunjung apakah ada yang terlihat menonjol. Mungkin bila ada pria terlihat keren pasti itu pasangan 'mawar'.
"Kalian, ini Tag Name nya, cepat pakai, duduklah di depan," kata Sasha terlihat gugup, dia memberikan dua tag name yang sudah menyala led biru.
Melihat tag name bertuliskan 'mawar' sekilas aku menatap wanita bertopeng merah itu dan mengulurkan padanya. "Ini"
Para tamu lain yang mulai duduk di meja meja bundar yang berjajar.
"Terimakasih."
Saya tidak dapat menyangkal dorongan sesaat-untuk duduk di samping 'mawar', dia mempesona.
__ADS_1
"Wah keren ini meja nomer satu, apa kamu teman dekatnya?" tanya saya saat dia terlihat memakai tag name di atas pa..yu..dara. Dia mengangkat dagu sekilas dan mata kami bertemu.
"Ya kami berteman cukup dekat," kata dia, lalu dia menghadap cenderung ke kanan, sedikit memunggungi saya dan berbicara dengan seorang wanita.
Harapan saya, 'mawar' menjadi teman mengobrol saya di sepanjang pesta. Tanganku mengarah ke punggung dia, ingin menyentuh. Namun, aku mengepal sebelum menyentuhnya.
Saya berharap dia menjadi pasangan dansa saya.
Tag name jerapah telah terpasang di kemeja putih saya, ini tidak buruk juga.
Saat mawar terus berbicara dengan 'melati' seakan saya tidak ada saya di sana, aku melemparkan pandangan ke atas panggung pada Sasha yang tengah menyapa semua pengunjung dari atas sana. Ini lapangan indoor tempat biasa Sasha badminton, dan sekarang berubah jadi lautan para wanita dengan gaun koktail dan sama halnya para pria sibuk memikat para bunga-bunga, tentu saja sejatinya kami para lelaki sering lapar mata, sekadar cuci mata.
Namun, ada yang tidak biasa dengan saya, biasanya saya tidak mau mempedulikan para wanita. Atau karena ini efek terlalu lama sendiri.
Sampai acara utama tiba, semua merapat ke depan, mengelilingi Sasha dan saya menggerakan kaki, memilih berdiri di belakang 'mawar' berusaha menutupi punggung dia dengan keberadaan saya saat para pasang mata lelaki menatap lapar ke arah 'mawar'.
"Tiup lilinnya ... sekarang juga," lantunan suara serempak semua orang, dan sahabat saya itu sedikit membungkuk, ke kue dengan lilin angka empat puluh dua. Asap mengepul, lilin padam, suara tepuk tangan menggema dan riuh semua tamu.
Dimana Indra? sialan suami pengecut. Bagaimana Sasha bisa mepertahankan suami seperti itu, CK!
"Tuan Jerapah, kemarilah," panggil Sasha, saya menggerakan kaki dan refleks menggengam tangan 'mawar'.
"Eh, kenapa," Mawar berusaha protes, ya saya menariknya cukup kuat. Bukan apa, saya hanya tidak mau 'mawar' dilecehkan. Menangkap maksud para lelaki di belakang saya dan terus mencoba mencari kesempatan mendekati 'mawar' yang mana dua sudut bibir itu terus terangkat.
Sebenaranya, saya ingin menyarankan dia 'Mawar' jangan tersenyum, itu membuat orang makin menggila. Bagaimana bisa bibir itu menantang banyak pasang mata, bahkan saya sempat mendengar para lelaki itu terang-terangan membicarakan 'Mawar', ya tidak jauh-jauh apalagi jika bukan karena kesenangan para lelaki.
"Tuan jerapah, ini untuk mu, " kata Sasha, bibirnya terus melengkung ke atas membentuk senyuman, dia cukup terlihat bahagia hari ini. Baguslah.
Saya menangkup sendokan kue, itu saat tepuk tangan menyambut kami yang berpelukan.
"Wish you all the best," (Harapan terbaik untukmu) kata saya, menepuk punggungnya, mata saya memanas.
"Thank you for the wish," (terimakasih untuk harapannya) lirih Sasha dengan suara bergetar dan kami melepas pelukan. Percayalah, kami berdua terlihat bodoh dan sama-sama memiliki kabut di mata kami.
"Hey, simpan air mata mu saat di belakang," lirihku, tertawa garing, dan Sasha membalas dengan tawa tidak biasa. Menatapnya, saya harap Sasha tidak sedang ada masalah.
Suami Sasha sungguh brengsek. Bahkan dimana ke dua putranya sekarang? sungguh lucu.
Potongan kue ke dua dan ketiga itu diberikan kepada 'mawar' dan 'melati'.
Benarkan dugaan ku, siapa ini mawar? dia dekat dengan Sasha tapi saya tidak pernah melihatnya.
Acara demi acara terlewati, musik Salsa mulai dimainkan. Jantung saya berdebar. Berlipat-lipat.
Tatapan saya dan 'mawar' bertemu di bawah cahaya lampu yang berubah remang merah.
__ADS_1