Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 207 : RUANG TERSEMBUNYI


__ADS_3

-POV Lala-


Saya menggigit jari, ini akan sulit. Bergegas, saya kembali ke kamar, sampai sesuatu jatuh membuat saya tersentak, Jantung berdebar kuat seakan-akan mau copot.


Berbalik, memeriksa. Sebuah tumbler jatuh. Saya berlari memijaki lantai kayu.


Berjongkok dan cepat meraih tumbler, bangun lagi berpegangan pada tembok.


Suara gemuruh terdengar dari bawah, sesuatu yang saya pijaki terpisah dari lantai sekitar.


Entah bagaimana caranya lantai berukuran satu meter kali satu meter itu turun ke bawah melwati dinding besi.


"Oh! tolong!! siapapun tolong!" Saya berteriak menatap ke atas, lantai itu telap tertutup. Saya memukul besi itu, saya tidak ingin melakukan kesalahan lagi atau Ars akan menghukum saya.


Saya duduk loyo, besi itu terus bergerak. Memangnya apa yang sudah saya lakukan sampai besi ini membawa saya.


Bagaimana cara saya berbalik atau bagaimana jika saat terbuka di sana ada Ars.


Keempat sisi dinding besi di atas saya mulai turun perlahan, sehingga saya dapat mengintip ruangan berbeda di luar, saya menutup mata sebelum besi turun lebih rendah, saya ngeri dan gemetar bila ada orang disana.


Lama, senyap, saya membuka mata, jantung saya berdebar, ruangan berdinding gelap ini, sepi.


Sebuah lampu lampu menyala di ujung. Saya turun dari lantai kayu persegi yang tadi membawa saya.


Mengendap memijaki lantai jubin, mendekat ke meja. Disana banyak kertas-kertas bertumpukan.


"Pendonor organ?" saya membuka map itu berisi foto, biodata, rekam medis, dan semacam surat persetujuan, nominal, di sana juga tertulis jadwal transplantansi.


"Oh apa gadis ini mau menjual ginjalnya?"


Saya mencari tumpukan lain dan laci-laci tak terkunci, saya melotot menemukan empat buah pistol di laci teratas dan anak-anak peluru berceceran. Saya gemetar. Kembali fokus mencari ke segala pelosok ...


Mencari sebuah ponsel sampai ke setiap sudut.


"Bagaimana bisa di ruangan ini tidak ada telelpon."


Mata saya melebar di meja lain, dua monitor layar cctv. Saya mengamati satu per satu, sampai sesuatu menarik perhatian saya.


Memperbesar layar, saya menemuka Ars tengah menarik senapan dan sesuatu seperti percikan api muncul dari moncong.

__ADS_1


"Dima! oh Tatiana!" Hidung saya berkerut, dan mata sata melebar. Di tengah lapangan Dima, Tatiana dan mamanya berdiri berjajar.


Anak buah Ars meletakan sebuah apel di atas kepala Dima, dimana wajah mereka bertiga telah kotor oleh pecahan buah. Apel utuh di atas Tatiana meledak dan jatuh berantakan mengalir ke wajah Tatiana.


Saya gemetar mundur ke belakang, badan bergidik. Bagaimana jika Ars membunuh mereka. Mereka dengan wajah pucat pasi, ini semua gara-gara saya. Dan sekarang aku harus apa. Ars akan marah bila tahu saya memasuki ruangan tersembunyi, saya harus bergegas kembali.


Di lantai kayu persegi, kini saya berdiri, "ayolah jalan! kembalikan saya!" saya memutar tubuh, tidak ada tombol atau tuas.


Bagaimana saya balik, Oh Tuhan. Ars akan membunuh saya.


Saya ingin buang air kecil, bahkan disini hanya ruang persegi gelap dan tidak ada semacam kamar mandi. Bagaimana ini, saya memutari ruangan, secara harafiah mungkin berukuran sepuluh meter kali sepuluh meter.


"Daniel, oh bantu saya," gumam ku. Saya memutar bola mata mencari cara.


Kembali ke layar cctv, membuka laci-laci di bawahnya, saya membuka kertas, dan adalah peta. Beruntung! terimakasih Tuhan.


Namun, apakah ini peta rumah ini, peta bukan berbahahasa inggris maupun indonesia. Dan itu banyak ruangan besar yang saya tak yakin.


Saya menggaruk kepala tidak mengerti.


Menatap cctv memeriksa tempat Ars. Mata saya membelalak Ars sudah tidak ada disana, apa dia menyadari saya tidak di kamar.


Menemukan! Ars sedang berjalan diikuti seorang gadis berwajah pucat pasi, sepertinya ketakutan. Ars membawa gadis itu, ke sebuah ruangan.


Di ruang itu, di sebuah meja, ada telepon ... saya harus ke ruangan itu, saya memperhatikan baik-baik ruangan berjendela kecil, saya memperbesar tampilan jika di lihat dari jendela yang tampak area luar, mungkin itu di lantai satu, saya ingin sekali cepat menelpon Richie.


Keringat dingin saya bercuculuran, saya tidak menemukan petunjuk untuk kembali ke kamar.


Melangkah berat membawa peta, menuju meja penuh berkas. Mata saya terpaku pada papan dinding tertutup lembar kain tipis putih tulang.


Saya menaiki kursi lalu meja, dan membuka, siapa tahu itulah peta.


Begitu terbuka, bingkai lebar itu membuat saya mundur dari meja. Kaki saya tak menginjak meja, say terjengkang. Membentur sandaran kursi hitam, kursi hitam itu jatuh, otomatis saya ikut terjatuh dengan punggung mendarat di lantai, sementara pantat saya di atas sandaran kursi.


Saya melenguh. Bahu dan siku ngilu, pantat saya nyeri tapi mata saya terpaku pada bingkai.


Mengapa ada foto seluruh keluarga saya dan orang-orang di sekitar saya? Ars memata-matai keluarga kami?


Saya memperhatikan teliti pada diagram pertama berjudul: Tiger Shark, dibawahnya disana terdapat dua nama: Sergey Vladimir. Dan satunya ada foto ayah saat muda (tetapi tertulis Algio) .

__ADS_1


Dari nama Sergey turun ke bawah, bertulis: Veeper. Garis ke bawah lagi, sisi kiri nama: Ars Vladimir dan, kanannya: Artyom Vladimir.


Pada diagram kedua berjudul Bee. Garis ke bawah : Lewis Martin sejajar dengan foto ayah bertulis Algio.


Dan turun ke bawah dari nama Lewis: nama 'Johan Orion Abimanyu'. Dan di kanannya, foto saya. Garis ke bawah -Amber dan Lydia-


"Foto amber dan Lydia ini, saat anak saya baru lulus kuliah, kan. Ars mematai-matai kami, sejak lama?"


Diagram Ke tiga, saya memandang digram ini dengan bingung.


Nama Kevin, garis ke bawah ada dua:


Kiri, Black Lion : garis ke bawah Parker.


Kanan, Macan putih : garis ke bawah foto Ayah, algio.


Sementara garis dari ayah ke bawah : foto saya. Garis ke bawah lagi berjajar foto : Isla, Irish, Ivy, dan Vino.


"Apa ini semacam diagram keluarga? mengapa ada nama tuan Parker?"


"Ars Vladimir, apa itu nama Ars?" saya menelaah. "Tulisan Veeper di atas Ars, mungkin karena Ars semacam ketua dari Veeper."


Saya memutar bola mata. "Tapi apa hubunganya Bee dan kakek Lewis, apa itu Bee?"


"Dan apa hubungannya Kevin dengan Black Lion dan macan putih" saya berpikir keras, "apa itu semacam kode?"


"Dan mengapa di ketiga-ketiganya diagram, selalu ada foto ayah?"


Suara bising datang dari atas, sebuah kotak besi mulai turun dimana tempat tadi saya turun.


Dengan gemetar, saya mengembalikan kursi yang jatuh dan naik dengan ke meja, menutup diagram itu dengan kain tipis.


"Saya harus apa," gumam saya bingung, menatap lantai dan ke seluruh ruangan saat kotak besi itu udah setengah turun.


Saya memasukan peta tipis, itu ke dalam cela...na da...lam saya.


Saya berbalik menyembunyikan diri di belakang sofa. Saat say jongkok, mesin besi itu sudah mulai terbuka bagian atasnya.


Saya duduk meringkuk, jantung saya berdebar mata saya terpejam. Derap langkah kaki seseorang semakin mendekat. Saya semakin tidak dapat menahan ingin buang air kecil, tangan saya gemetar memeluk lutut.

__ADS_1


__ADS_2