Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 212 : KAPAL PESIAR


__ADS_3

-POV Author-


Lala membuka mata perlahan dan mendapati cahaya lampu kuning, dirinya telah berpindah dalam kamar dan Ars di samping dengan sang asisten.


"Tuan Ars, dimana kita?" saya memperhatikan kamar yang berbeda dan sedikit bergetar.


Sang asisten keluar setelah memberi hormat, Lala memperhatikan asisten itu melangkah ke ujung dan hilang dibalik tangga.


Di depan tempat tidur, cukup jauh, terdapat pagar sepinggang dewasa dari kaca, di pagar itu terdapat korden putih tinggi. Mungkin itu bisa di tutup, sepertinya ini kamar tidur, dengan konsep tempat tidur terbuka.


"Berlayar, kita akan berlayar. Cepat mandi kenakan gaun mu," Ars menunjuk sebuah gaun putih tulang yang tergantung di dinding sebelah pintu kaca, dimana pemandangan di luar gelap. Saya mengangguk dan Ars membantu saya bangkit.


"Apakah Dima dan Tatyana ikut? gumam saya tanpa sengaja saat menatap lantai marmer.


"Ya, anak-anak akan menghiburmu, tetapi besok."


Lala mengulas senyum menatap Ars, "Terimakasih." Kemudian Ars mengangguk kecil nyaris tak terlihat, lelaki itu berjalan dengan elegan setelah menyibak rambut gondrongnya ke belakang dan hilang saat menuruni tangga.


Di kamar mandi Lala tak berkedip dengan pemandangan laut dan langit malam yang tertutup kaca. Disana ada bak Jacuzzi, shower dan TV layar datar.


Dia baru saja pertamakali naik kapal pesiar. Namun tempat ini seperti surga, tetapi tetap saja itu tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya.


Kemana Ars akan membawa saya. Saya sangat merindukan Vino.


Bukannya mandi, Lala justru terisak di lantai marmer, hidupnya seperti hancur, menyedihkan, tak mau mempercayai tentang Ayah dan Kevin.


Ayahnya bukanlah pembunuh, dan mantan suaminya tidak sekeji itu, terlepas satu kali dirinya pernah mengintip dari lantai sepuluh saat Kevin membiarkan anak buahnya menembak seseorang. Bagaimana pun dirinya saat itu teringat dengan jelas, orang yang ditembak jatuh terkulai.


Ayah bukan pembunuh, dan papah dari anak-anak ku juga bukan pembunuh.


Jam menunjukan pukul delapan ketika Lala telah siap, dan bahkan Ars menyiapkan peralatan make up lengkap. Melangkah ke luar, Lala termenung menempel pagar balkon, menikmati aroma laut dan balkon ini sangat privasi tidak terlihat dari kamar lain.


Seandainya aku tak memiliki Vino, mungkin aku akan menceburkan diri ke laut, membuang pahitnya kenyataan ini.


Dirinya tak yakin akan sanggup bertemu dengan ayah dan mantan suaminya, itu sangat mengerikan.

__ADS_1


Tidak Lala! kamu tidak boleh mempercayai orang yang baru kamu temui. Kamu hanya baru dua kali bertemu Dima. Tidak mungkin Ayah dan Kevin seperti itu. Aku yakin tidak.


Ars datang mencari Lala, aroma vanila segar mengganggu reseptornya, pintu kamar mandi terbuka dan dia melangkah ke sana, tapi tidak ada siapapun.


Melangkah ke arah lain menuju pintu balkon, aroma angin laut bergantian menusuk reseptor dengan aroma vanila, sesosok wanita dalam balutan gaun yang mengikuti lekuk tubuh jam pasir itu cantik, tengah mengusap pipi, menatap ke bawah.


"Anda mau loncat?" tanya Ars, bahkan wanita itu tak bergeming oleh kedatangannya.


Lala menggeleng, tanpa mengalihkan perhatian dari gelombang laut.


"Anda merindukan putra anda?"


Mengangguk, dan Lala menatap ke arah Ars dengan mata merah.


"Saya ingin sekali bertemu dengannya. Dimana vino, saya sangat ingin memeluknya."


Menatap wajah cantik yang tak bernyawa itu, Ars meraih ponsel pintarnya, dia membuka sebuah galeri, dan mengulurkan tangan ke kanan dimana Video Vino tertawa tengah diputar.


Ars mengukir senyum tipis saat Lala merebutnya, wanita itu mendekatkan ponsel bahkan hingga jarak sekepal dari mata yang membelalak sangat antusias.


Ars menatap air laut biru gelap, dirinya menjadi ingat ketika saat dalam pelukan gendongan sang mama, bagaimana saat itu mata mamanya juga menitihkan air mata pada pipi saat memandanginya dalam senyuman penuh cintanya.


Namun, semua itu hanya kenyataan pahit saat semua itu hilang dari hidupnya. Bahkan dia tidak diijinkan untuk melihat wajah terakhir kalinya, saat mayat sang mama hancur tak berbentuk, dan semua itu, adalah bukan lain karena tangan kanan sang papa yang menghancurkannya. Dia bersumpah demi apapun, akan membalas jauh lebih buruk dari apa yang pernah dia lihat dalam ingatan masa kecilnya.


Namun, saat dirinya datang menculik wanita ini, tampaknya dunia berkata lain, bagaimana bisa dirinya yang selalu menyiksa wanita tampak ampun justru dibuat kasian ketika mendapati wajah itu, seolah wanita ini sendiri telah banyak menyimpan luka.


Ars tersenyum tipis, tangannya mencengkram kuat pagar, bahkan saat dirinya mengamati dari cctv saat wanita itu terus melempari kamera, dirinya bukannya marah dan justru semakin terhibur.


Bahkan saat wanita itu mencakar pintu karena kejadian ular piton, dirinya menjadi tidak tega. Bahkan ayah wanita itu adalah seorang pembunuh, mengapa dia harus memiliki rasa Kasian.


Saat wanita itu kabur, anak buahnya lapor bahwa wanita itu jatuh dipinggir jurang, dirinya membiarkan. Namun laporan ke dua saat babi hutan akan menyerangnya, sesaat dia tersadar, tujuannya bukan seperti itu. Wanita ini adalah alat ... pion, dirinya akan membalas semua apa yang mereka lakukan pada keluarganya.


Ars berbalik, dadanya mendidih, saat tiba-tiba tangan mungil meraihnya. Dia menghempaskan kasar dan menjauh melewati tempat tidur.


"Tuan Ars."

__ADS_1


Langkah kakinya terhenti otomatis, dia tak mengerti. Saat wanita itu berlari lalu berdiri di depannya, dia menjadi semakin jijik dan ingin menjambak lalu membenturkan kepala itu pada lantai marmer sampai hancur pecah berantakan.


"Terimakasih."


Bibir Ars berkedut, betapa naifnya wanita itu. Terimakasih katanya? setelah semua yang dirinya lakukan pada wanita itu dan masih bilang terimakasih dengan senyuman menyebalkan itu? Ck.


Maju satu satu Langkah, Ars sangat menempel pada wanita itu yang mematung, dia menunduk menyelami mata biru langit cerah itu, mata jernih itu makin menjengkelkan, haruskah dirinya mencongkel mata itu dan menyimpan di akurium sebelum dirinya melempar tubuh wanita ini ke kandang hiu.


"Tuan Ars apa kita akan menghadiri pesta seperti yang anda katakan? bukankah pestanya besok?"


Dada Ars makin mendidih , dia menghela nafas kasar di depan wanita itu, dia meraih ponselnya yang memisahkan badannya dengan wanita itu.


Lala membeku, netra Ars begitu dingin, saat Ars mencekal tangannya keras dan lalu bergeser meraih ponsel. Lelaki itu bergeser menjauh dan dengan jari panjang keras itu meminta agar dirinya mengikuti Ars.


Dengan setengah harapan karena Video Vino yang mana pipi putranya semakin gembul, mereka menjaga Vino dengan baik, dan mainan dari mereka yang disukai Vino. Putranya terus memanggil mama dan papah, betapa itu membuatnya rindu sekaligus memercik rasa sakit ke seluruh tubuhnya.


Bagaimana pun dirinya yang melahirkan Vino, apapun tentang Vino tidak luput darinya, sampai tubuhnya selalu merasakan sakit yang tak terlihat semenjak perpisahannya dengan Vino, dan kian hari makin menjadi. Dirinya mulai putus asa karena habis kesabarannya menunggu Richie dan ayahnya. Dirinya mulai diliputi kabut kemarahan.


"Anda bisa dansa?"


Pertanyaan Ars di lift membuyarkan lamunan, "ya...sedikit." Sebenarnya dirinya bisa, perasaannya kacau, dan kini pertanyaan itu jelas Ars akan membawanya berdansa, hatinya menyusut, dia sangat benci situasi ini, semua diluar kendalinya.


"Tersenyumlah atau saya akan melemparkan anda ke laut," Ars dengan suara rendah namun kuat, Tangan Ars menggenggamnya saat keluar dari lift. Semua mata tertuju dan semua orangnya menyambutnya dengan jas rapih dan gaun-gaun koktail mereka yang luar biasa indah.


Susah, namun, Lala berusaha mengangkat dua sudut bibirnya dengan tulus, untuk setidaknya rasa terimakasih karena Ars menunjukan video Vino.


Ars membuka botol Sampanye dan menuangkan pada gelas paling atas yang bersusun bertingkat, dan Lala bertanya mengapa dirinya yang berdiri di samping Ars, bukankah seharusnya istrinya, jadi dimana istrinya.


Segelas sampanye, Ars memaksa Lala menghabiskannya. Dan mereka berpindah ke meja makan, para pelayan meladeninya dengan sangat ramah, para tamu bak raja dan ratu. Dan dirinya dan Ars duduk di meja paling tengah.


Setelah memakan hidangan dari beberapa negara, beberapa tamu bergantian datang pada Ars dengan bahasa mereka yang berbeda-beda, Ars bilang ... para wanita adalah istri-istri mereka.


Tubuh Lala semakin ringan, dia menangkap bagaimana cara Ars menatapnya. Sampai musik dansa mulai berputar dan membuat tubuh Lala semakin ringan.


Entah bagaimana caranya, dia sudah di tengah lantai dansa, orang-orang mulai dansa. Dirinya seperti setengah mabuk, Ars di depannya, tangan kekar Ars melingkar di punggungnya, dia nyaris jatuh dan Ars menahannya.

__ADS_1


__ADS_2