Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 241 : PERMEN PELANGI


__ADS_3

Menangkap sosok punggung itu, langkah demi langkah menjadi berarti, bagaimana lekuk itu, bagaimana kemeja biru itu masuk dalam rok putih yang mengunggulkan bentuk pinggang ramping dengan bokong yang kencang dan indah dimana kaki nya menjadi terekspos begitu jenjang, kaki tanpa alas kaki, bentuk tumitnya yang indah.


"Milly ... "


Wanita di depannya, Ars sulit membedakan, wajah itu terdistorsi, "Milly," panggilnya bergetar, dia tidak mempercayai dengan apa yang dilihatnya, hatinya bergetar dan panas.


"Tuan Ars ..."


"Milly, kamu marah?" Ars meraih dan membalik bahu itu hingga menatapnya. "Kau pulang, Milly, sayang," Ars membanting dada itu ke dadanya. "Milly kau pulang, Damir sudah menunggu, Milly," Ars menciumi rambut pirang itu, "Milly kamu potong rambut? tak masalah. Kamu sudah pulang, kamu tahu aku merindukanmu sayang, aku tak bisa hidup tanpamu, aku yakin kamu datang ..."


"Tuan Ars, tolong lepaskan, anda salah orang."


Suara itu menjadi samar, suara Milly, suara orang lain.


"Milly, Milly, jangan pergi, Milly..." Ars memegang wajah wanita itu yang kabur, "Kamu tersenyum Milly, ya seperti itu."


"Saya bukan Milly, saya Lala, saya putri Alen, Tuan Ars."


"Ada apa denganmu Milly, kamu jelas milly," Ars memegang pipi itu memperhatikan teliti wajah yang dirindukannya, "kamu jadi kurusan Milly?"


"Tuan Ars, ini Lala."


"Apa kamu marah karena aku membawa perempuan lain pada Damir? Maaf kan saya, sayang," Ars mengecup keningnya, "istriku, jangan marah lagi, aku tidak akan melarang mu kerja lagi, okay, jangan pergi Milly, aku butuh kamu, Milly!"


"Lepas, Tuan Ars!!"


"Tidak Milly jangan pergi," Ars merasakan dingin mengalir di pipinya, dia mengeratkan dekapannya tak ingin ditinggalkan lagi, "Kamu lebih pendekkan."


Ars mendengarkan tangisan Milly, "tidak, sejak kapan kamu jadi cengeng. Apa aku menyakitimu sayang, maaf."


Kenapa Milly ku yang tidak pernah menangis, menjadi .. (Ars)


Daniel menarik Ars, "Ars apa yang kamu lakukan!" menarik Lala.


"Oh, kamu jangan kasar pada Milly."


"Kakak ipar?" Daniel memicingkan mata, "Lihatlah ! dia bukan kakak ipar!"


Ars memerjap beberapa kali, Milly tengah tersenyum padanya, "Milly," dia menendang adik memukul tangannya, "Jauhkan tangannmu!" Ars menarik wanitanya , dia menggeser laci dan meraih pistol menempatkan peluru.


"Ars ! kau mau menembakku? tembak saja!" dengus Daniel baru bangkit, dan menempelkan keningnya ke ujung pistol.


"Ars jangan begini, saya Lala bukan ibu Damir," pekik Lala.


"Cup, Milly, kenapa jadi cengeng, aku tidak menyakitimu, sayang."


"Ars lepas," tegas Daniel.


"Tidak," Ars menarik pistol dan memindahkan ke pelipis wanitanya. "Pergi, kau Tyoma!"


"Sekarang kamu mau apa?!" Daniel memicing pada Ars yang mengecupi rambut wanita itu, dia rasa periode psikosis kakaknya tengah kambuh. "Dia bukan kakak ipar," geramnya, "Rambut kakak ipar panjang kamu tahu itu ... ini tidak nyata, Ars ... "


"Dia Milly! Milly telah potong rambut, mungkin dia bosan," Ars bersikukuh dengan apa yang dilihatnya.


Daniel menghela nafas kasar, "berikan pistol mu, aku akan pergi, okay?!"


"Cepat!" teriak Ars.


"Berikan pistolmu," tangan Daniel sedikit mengulur.


"Ku tembak dia! pergi!" kesal Ars dengan hidung berkedut.


"Okey! okey!" Daniel mundur ke belakang, sampai setengah ruangan, "cepat lemparkan pistolnya!"


Prak---


Ars melemparkan pistol ke depan adik.


"Kau tidak boleh melukainya, Ars!" Daniel meraih pistol dan berjalan ke pintu. "Dia bukan Milly tapi Lala!"


*


Ars mendorong wanita itu saat bayangan menjadi kabur, wajah wanita itu berubah-ubah. "Siapa kamu?"


"Tuan Ars, tenang ... "


Ars mencari Laci, meraih beberapa tablet dan meminumnya. Apa yang ditangkap matanya membuatnya kebingungan. Dengan perlahan Ars mundur dengan badan gemetar meraih sesuatu di sekitarnya, dia mencoba bersandar pada apa yang di dekatnya.


"Milly ..."


Lala membeku menatap Ars yang memeluk bantal di atas kasur. Sepertinya lelaki itu bermasalah dengan kejiwaannya, Lala bergidik.


Bayangkan siapa orang yang akan sanggup berdiri di depan orang gila. (Lala)

__ADS_1


Menunggu dengan sabar, Lala berdiri, dia ngeri bila Ars melempari dirinya dengan benda tajam.


Ars mendongak, alisnya berkerut, "Lala?"


"Ya, saya Lala, apa anda merasa baik kan?"


"Dimana Damir?" tanya Ars mengelap pipinya yang basah. Dia segera bangun, "dimana Milly," gumamnya dalam kebingungan mengedar pandangan ke seluruh ruangan.


"Saya akan membawa Damir," teriak Lala sambil berlari sebelum Ars mendekat, saat dingin terus merayap di tulang punggungnya.


**


Daniel sedang mempertimbangkan perlukah mengikutkan Ars dalam pelayaran selanjutnya, mengetahui periode psikosis Ars itu bisa menggangu rencananya.


"Bagaimana jika Tuan Ars menolak, tapi bila tetap di kapal akan sangat berbahaya," kata Nick menangkap gerakan tiba-tiba nona Lala yang menubruk Daniel.


Nick mundur beberapa langkah, keningnya berkerut dalam menatap nona Lala dari bawah ke atas, menggunakan pakaian kesukaan nyonya Milly.


"Maaf, Tuan Ars mencari Damir," kata Lala langsung menjauh dan terlonjak oleh sentakan Daniel yang membawa Lala pergi.


Nick mengelus-ngelus dagu, tampaknya Daniel sedang sangat marah, jika Tuan Ars sedang normal dia akan melaporkan, tapi bila seperti ini ...


Mengangkat bahu, Nick masuk ke kamar dan melaporkan semuanya, tuan utamanya adalah Tuan Ars, tidak peduli seberapa gila sang tuan yang penting dia sudah melapor.


Menarik nafas dalam-dalam, saat Daniel baru membawanya ke ruangan semacam tempat gym, dari tampilan jendela ... kapal ini sepertinya akan mendekat ke suatu pulau.


"Ada apa ini?" Menarik kemeja di lengan Lala, "berani sekali kamu memakai pakaian kesukaan kakak ipar? kamu sengaja menghancurkan Ars, ya, kan?!"


"Apa maksudmu menghancurkan?" Lala menggeleng tidak mengerti, sambil mundur ke belakang saat Daniel terus mendekat.


"Kamu memang pura-pura polos ya? kamu seperti ular boa-"


Plak!!


Lala menampar Daniel, lelaki itu meringis, mengelus pipi kiri dan meludah ke kiri, rahangnya mengeras. Dua tangannya memghentak di sisi kepala Lala, "kau benar-benar menghabiskan kesabaran ku ya Lala." Menatap tajam pada netra biru langit, memikirkan hukuman.


Lala merasakan tangan Daniel menariknya dengan kasar.


"Mau membawaku kemana!" dengan langkah kaki terseret masuk ke dalam Lift dan lift turun. "Tuan Ars yang memaksaku memakai baju ini, aku tidak tahu apa-apa," dengus Lala kesal, mencoba menjelaskan tapi tampaknya tidak meredakan emosi lelaki itu.


"Kau menggoda Ars," kesal Daniel sambil menendang sisi lift di sebelah kaki Lala.


"Tidak! untuk apa, aku sudah memiliki tunangan."


Daniel tertawa dengan mengejek. Dirinya tidak mempercayai Lala, perkataan Bella memang benar, jika Lala diam-diam akan menggoda Ars untuk membebaskan Kevin dan Alen. Awalnya dia akan membantu Lala saat awal penculikan itu, tapi sepertinya wanita itu sama sekali tak pantas di tolong. Picik juga.


**


"Mati saja kamu!"


"Jangan! aku tidak bisa berenang! ku mohon !!! oh tidak jangan chef!!" Lala merasakan tangan pria itu melepaskan diri dari paha Lala.


Dan badannya meluncur ke bawah. "TOLOOOONG!"


Lala mencakar leher Daniel, kakinya mencoba mengayun menangkap ke pagar kapal, tapi sulit. "Richhiiii," isak Lala.


Daniel dengan darah mendidih melepas tangan Lala dari lehernya dan mencekal tangan Lala untuk terlepas dari tubuhnya.


"Daniel maaf! aku bisa mati! angkat aku!" Lala bergidik merengek melihat ke bawah, ombak dan dari ketinggian. "Ars!!!" Lala menangkap wajah Ars dari samping Daniel.


Tangan Lala terlepas dari badan Daniel.


Tangannya masih menggantung, Ars menahan pergelangan tangannya tapi tangan itu licin dan jelas meluncur, tangannya terpisah dengan telapak tangan Ars, matanya menangkap tatapan Ars yang terkejut.


"Tidak!!!" Mata Lala terpejam, badan meluncur ke bawah dengan bebas, jantungnya memompa penuh, rasa mau muntah dan sekejap berkunang-kunang, Lala merasakan dirinya berputar dengan sendirinya tak beraturan di udara menembus gesekan desissan angin di kulitnya.


BLak!


Rasanya badan di tampar keras dengan tangan Tuhan. Sakit untuk detik itu, disusul detik berikutnya tubuh tergoyang terlempar gulungan ombak. Tertarik ke bawah basah dingin es seakan ada magnet di bawah dan dirinya belum siap terus tertarik ke bawah, pada saat yang sama tak terelakkan menggelegak air asin dalam jumlah besar.


Hidung terasa pedas dengan sendirinya menyedot cairan.


Lala menjejak, dadanya terasa penuh oleh cairan, dia mencari nafas justru tidak bisa bernafas karena aliran menyakitkan. Mata hidung telinga perih oleh air, tangannya berusaha meraih ke permukaan dengan sangat sulit, dadanya akan meledak karena rasa sakit luar biasa dan merasa dirinya tergulung dalam suara blebek-blebek bercampur tuli.


Dan dirinya menangkap wajah Ars ...


Cahaya menjadi gelap dan semua dipenuhi sakit menyiksa.


.


.


.

__ADS_1


Bibir Daniel berkedut sambil menendang pagar kapal, matanya terus menangkap bagaimana Ars menyingkirkan tangannya dan memilih terjun. Kakaknya itu terus berenang mendekati wanita yang sebentar lagi mungkin mati.


Bibir Daniel berkedut, wanita itu benar-benar memperalat kelemahan Ars.


Anak buahnya menjemput Ars dengan pelampung, wanita itu telah terkulai di tangan Ars, dan kakaknya itu memompa air keluar dari perut Lala dan memberi nafas buatan, lalu memiringkan tubuh wanita itu setelah dada itu membusung.


Tandu langsung mengangkat wanita itu dan Ars mendongakan menatap tajam ke arah sini. Sialan. Wanita itu merebut simpati Ars, dan kini kakaknya sendiri akan menghukumnya.


Dengan darah mendidih Daniel kembali berbalik, menendang pot di depannya sampai pot itu terguling.


Sejam berlalu Ars masih menunggu wanita itu, dirinya belum sempat sarapan, dan justru bertengkar hebat dengan adiknya.


"Bintang, ayah ... ayah ..." lirih wanita itu dalam tidak sadarnya.


"Hei bangun ...Milly," Ars mengelus kepala Lala, rambut wanita itu yang telah dia keringkan sendiri. Wanita itu tampak hanyut dalam dunianya.


**


**


Di depan Lala semua tampak gelap, dirinya menjadi kecil, dan rumah di kampungnya terasa menjadi tinggi.


Saat dirinya melihat ke depan, mata Risaa tingginya sejajar dengan pinggang ayah. Lala meyakini ini saat dulu kelas dua SD.


"Ada bintang, Risaa," Ayah duduk di depan rumah dan memangku.


Risaa menunjuk cahaya paling terang, "Bintang, katakan pada Ibu, aku ingin melukis dengan ibu dan ayah." Risaa kembali menatap wajah Ayah yang sendu.


"Apa kamu merindukan ibu?"


Risaa mengangguk, "Risa ingin memeluk ibu, seperti memeluk ayah."


Tangan besar ayah menangkup rambut belakang dan menarik sampai menempel di leher ayah.


"Biar ayah akan mendekap erat lebih banyak, dan pasti ibu mendekap kita. Risaa, jangan sedih, ibu akan selalu bersama kita. Ibu juga merindukan Risaa dari atas sana. Kita doakan ibu ya?"


Rissa mengangguk. "Risa, ingin memegang wajah wajah ibu di angkasa yang indah. Rindu ibu, ibu ... "


"Ada ayah akan memberikan cinta besar untuk kamu," kata Ayah.


"Oh ayah? Risaa akan mengumpulkan cinta Risaa dan menumpuknya dalam tas Risaa dan membawanya untuk ayah saat pulang sekolah. Risa akan mengumpulkan itu setiap hari, agar ayah tidak pernah sedih lagi."


Risaa memandang tawa ayah, tangan Risaa memegang janggut ayah, dan ayah menggigit jari-jari dengan gigi ayah, Risaa meringis dan ayah kembali memeluk.


"Ayah hanya butuh Risa dalam hidup ayah," serak Ayah.


"Risa tidak mau permen pelangi, asal Risa selalu bersama ayah."


"Ow ya? jadi besok tidak perlu beli permen ya?"


"Besok tidak, ayah. Besoknya lagi, tapi boleh?"


Ayah tertawa lagi.


"Besok bibi Ane akan mengantarmu ke sekolah, mulai sekarang bibi yang akan menjemput mu pulang."


"Ayah mau kemana?"


"Ayah akan menjadi guru, untuk anak sebesar kamu. Dan anaknya sangat nakal, karena itu Risaa tidak boleh nakal."


"Apa bisa Risaa bisa berteman dengan dia, ayah?"


"Tidak, tidak bisa Risa."


"Siapa namanya ayah?"


"Orion ... "


Rissa tertawa dan Ayah justru menggelitiknya.


"Kenapa kamu tertawa?"


"Onion? untuk masak ayah ... seperti saat kita buat dalam daging ... "


"Orion, Rissa."


Risa mengangguk dan mengecup pipi ayah, "Rissa mau bermain dengan Orion, ayah..."


Suara dan wajah ayah menjadi kabur...


Perlahan berubah cahaya menyilaukan dan dia merasa tepukan di pipinya.


"Milly..."

__ADS_1


Lala memerjap mulai mengenal suara, mendapati seorang laki-laki dengan pipi basah, "Tuan Ars..."


"Milly, kamu tidak apa-apa?"


__ADS_2