Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 248 : JANGAN PERNAH ADA PERPISAHAN LAGI


__ADS_3

-POV Richie-


"Maaf, Richie Estarchus ... " Dokter berkata, meremas bahuku.


Pada saat itu, seluruh duniaku runtuh dan hanya kegelapan yang tersisa. "Tampaknya hanya." Baru saja mulai secara sadar menerima Lala dan saya sebagai keluarga, dan saat berikutnya rumah ini di ambil dari saya ...


Saya tenggelam ke lantai dan menangis seperti seorang gadis, tetapi saya tidak peduli bagaimana penampilan saya. "Mereka mengambil Lala dari saya, dan karenanya seluruh dunia." Saya tidak bisa bernafas,air mata mencekik saya, dan kemudian saya melalukan satu-satunya yang saya bisa. Saya mulai berdoa untuk pertamakalinya dalam hidup saya.


"Tuhan, kembalikan dia padaku, tolong .... " Aku memejamkan mata dan meminta Yang Mahakuasa untuk memberi kami satu kesempatan lagi, di mana kami akan bahagia selamanya. "Aku tidak bisa hidup tanpa dia. Bawalah Risaa ku kembali .... "


Saya tidak tahu berapa lama saya duduk di lantai seperti itu, sepertinya selamanya, tetapi sebenarnya satu menit. Satu menit sialan dan sinyal yang berbeda dalam keheningan mematikan dari BIP ....


Pertama satu kali ... dua detik dan bip lagi ... dua bip lagi ... "bip .... "


"Ya Tuhan, dia masih hidup!" Seseorang dari staf media berseteru. "Jantung berdetak, Dokter, apakah Anda mendengar detaknya? Dia hidup!"


Saya merasa lega dan, tidak mampu menahan emosi yang membanjiri, saya tertawa.


Risaa ku! Sahabat masa kecil saya, dan tunanganku masih hidup!


"Terima kasih," kataku dengan bibirku kepada Tuhan. "Terima kasih .... "


Tuhan mendengar doa ku  yang berarti aku tidak akan membuat kesalahan masa kecil lagi yang bodoh itu lagi dan membuat Lala tersenyum sepanjang hidup saya. Tapi pertama-tama, kantor pendaftaran pernikahan!


-Kilas Balik Richie perpisahan dengan Lala saat kecil-


Ternyata saya tidak akan melihat Lala dua tahun ke depan. Dan bagaimana saya mengatakan tentang ini di hari ulangtahunnya? Terlepas dari usianya, dia masih seorang gadis kecil dan pasti memikirkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Saya pikir saya mulai membenci Paman Jin.


Setelah melihat halaman apartment dan menyapa beberapa orang, saya naik ke lantai tiga apartemen untuk mencari pacar saya. Saya telah mengenal dia hampir dua tahun, mungkin sejak kepindahan Lala di Moskow, saya sendiri lupa.


Seperti yang saya duga, Lala ada di kamarnya.  Dia duduk di meja membelakangi saya. Aku tersenyum, bahkan di hari ulangtahunnya dia duduk sendirian di kamarnya dan menunggu ku untuk menemukannya. Tetapi begitu saya memikirkannya, senyum itu mulai perlahan memudar;


Beginikah cara kita akan hidup dengannya jauh dari satu sama lain? Bagaimanapun, bahkan dalam badai petir atau hanya dalam cuaca hujan, kami diijinkan untuk menghabiskan malam bersama.


Di dadaku lagi, seolah-olah ada sesuatu yang terjepit, dan di jiwaku itu menjadi sangat menjijikkan bahkan tidak mungkin untuk di jelaskan.


Melangkahi emosi saya, saya memasang senyum bahagia dan ramah dan diam-diam berjalan ke ruangan, berhenti di belakang teman saya. Dia dengan hati-hati memiringkan kepalanya dan mulai mempelajari apa yang dia gambar. Dan sedang mengambar orang, itu hanya gambar lingkaran dan garis, dimana satu lingkaran seperti rambut panjang, dan satu lingkaran tanpa garis rambut.


“Risaa, apa yang kau gambar?” tanyaku saat dia menoleh ke arahku dan tersenyum.


“’Ini Eros dan Risaa.” Gadis itu menutup buku gambar dan kotak crayonnya. Bangkit dari kursinya dan melempar kan dirinya ke leherku saat aku berjongkok, omong-omong, aku mungkin lebih tinggi enam puluh sentimeter darinya, jadi begitu dia menempel sepenuhnya aku langsung menggendongnya.


“Aku sangat merindukanmu, Eros! Kenapa anda tidak datang kemarin?” aku tahu dari suaranya bahwa dia cemberut.


“Risaa, kau meminta saya untuk datang dengan tuksedo, jadi saya pergi berbelanja dengan paman.” 


Dan Risaa lalu menjawab dengan bercerita bagaimana dia mencoba banyak gaun berbeda.


Oh Ibuku, aku enam belas tahun, aku ingin bermain game perang, tapi apa aku sekarang? Dan saya berkeliling seperti orang bodoh dan mencoba kostum yang berbeda untuk membuat Risaa menyukainya.“Oh.”


Si Risaa kecil menepuk-nepuk lengan saya meminta turun, dan saat saya berjongkok dia langsung terpental dari saya dan saya berdiri saat dia mulai memeriksa dari ujung kepala sampai ujung kaki ku dengan tampilan cerdas sehingga saya pikir dia adalah seorang profesor. “Kamu sangat tampan! Dan Masha pasti tidak suka melihatku di sebelah mu.”

__ADS_1


“Kenapa tidak suka?” aku menunjuk celana pendek dan kausnya. “Saya tidak mengerti, Risaa kenapa kamu ingin melihat aku melakukan ini, berpakaian seperti parade. Sedangkan kamu?”


“Nah, Eros … ini hari ulang tahunku. Ini keinginanku.” Dia memeluk pinggangku, kepalanya tepat di perutku. Saya membungkuk memeluk kembali dan menghirup aroma shamponya.


“Eros, Risaa mau berganti pakaian dan aku akan lebih bagus darimmu.”


Gadis itu mengerutkan kening dan, mengatakan sesuatu yang mirip dengan fakta bahwa aku menyesali kata-kataku, dia meninggalkan ruangan. Dan aku tetap berdiri diam.


Mengetahui Risaa lebih baik daripada siapa pun, saya merebahkan diri ke tempat tidurnya dengan hati-hati agar tidak kusut, berbaring, berpikir bagaimana memberi tahu Risaa bahwa ini adalah pertemuan terakhir kami.


Saya tidak ingin terlalu menyakitinya, saya tidak ingin berpisah dengannya untuk waktu yang lama. Bagaimanapun dia adalah sahabat saya, dan pacar, dan bila temanku tahu ini …  aku akan sangat malu, karena saya memacari anak pra sekolah, sedangkan teman-temanku bahkan memacari anak kuliah.


Lala kembali cukup cepat dalam gaun putih dengan rambut dijepit  dengan jepit rambut hijau.


“Wow, well, kamu hanya seperti seorang pengantin,” kataku sambil memeriksanya dengan pandanganku dari atas ke bawah.


“Apa Anda akan menikahiku?” Dan aku melemparkan winnie the pooh lembut padanya, yang sedang duduk di tempat tidur. “Eros! Anda merusaknya! Bangun dan pergi ke tempat ayah!”


Yah … eh, tapi tetap saja saya tidak bisa menolak, hari ini adalah harinya, meskipun paman juga pernah memarahiku, tapi! Gadis ini beneran galak!


Kami berada di halaman apartment. Saya melihat ayahnya Risaa dan Paman Jin, yang berdiri di dekat baberkyu dan berbicara tentang sesuatu, dengan cemberut memandangi daging dan sesekali menatap ke arah kami. Aku menatap tatapan cemas Paman Jin. Lalu  aku menatap Risaa, memperhatikan bahwa dia juga mengerutkan kening dan menatap ayahnya.


“Ayah sedih,” Risaa lalu menatapku dengan netra biru langitnya, “apakah Eros tahu?”


Aku mengangkat bahu dan meraih tangannya. “Aku ingin memberimu hadiah, Bisa?”


Matanya berbinar dan dia mengalihkan perhatiannya, sepenuhnya padaku.


Saya tertawa sambil membawanya ke ayunan dan di sana tidak banyak orang. Setelah meletakan Risaa di ayunan, saya berdiri di seberang dan mengeluarkan hadiah dari saku saya.


“Eros!” Dia berseru dan bertepuk tangan. “Apakah ini yang saya inginkan?”


Saya tidak tahu apa yang Risaa pikirkan, tetapi ini adalah sesuatu yang pasti Risaa sukai.


Aku tersenyum bangga dan memberinya hadiah. Risaa, tanpa membuang waktu langsung merobek bungkusnya dan melihat sebuah  boneka NEVALYASHKA.


*Nevalyashka : Boneka kecil, meskipun ana-anak berusaha menjatuhkannya, boneka ini akan kembali berdiri tegak. Beban yang memang sengaja diletakkan pada bagian bawah mainan ini, membuatnya mampu kembali berdiri tegak meskipun dijatuhkan berkali-kali. Tak sedikit anak yang merasa kesal karena tak pernah berhasil menjatuhkannya.*


Risaa memekik dan menempelkan boneka sebesar tangan ke dadanya.


“Eros, mengapa anda tahu bila my Nevalyashka  hilang? Terima kasih Eros …. “


Saya menarik nafas lega, karena saya sendiri yang memilih hadiah itu, dan saya sangat gugup.


“Eros Anda harus memberi nama pada my Nevalyashka!”


Aku mengangkat bahu, berdiri disamping ayunan dan mulai mengayunkannya. “Erossa.”


“Erossa?” tanya gadis kecil, mendongak dari Nevalyashka dan menatap lurus ke mataku.


Aku melihat ke langit. “Erosaa, Eros dan Risaa.”

__ADS_1


“Oh itu bagus. Saya yakin dia suka dengan namanya!” Betapa senangnya suaranya, yang membuat bibirku bergetar. Dan aku tidak bisa menceritakan kepergianku pada Risaa, bahwa Paman Jin  akan membawaku ke Cambridge untuk pendidikan menengah tingkat akhir di Cambridge pre- University.


Tiba-tiba Risaa melompat dari ayunan dan berlari. Ketika dia kembali sekitar lima menit kemudian, dia membawa duri tumbuhan di tangannya.


“Mengapa anda membawa itu?” saya menunjuk diantara telunjuk dan jempolnya.


“Saya  ingin mengambil sumpah dari Eros.”


“Nah, jika Anda mau, mari kita bersumpah. Untuk apa?”


“Bersumpah Eros akan menemukan saya. Tidak peduli berapa lama.  Eros tidak akan pernah melupakan Risaa.”


Aku memutar bola mataku, menyadari bahwa temanku mendekat. “Oke, dan kamu?”


Risaa memberi jari kelingkingnya di depan dada, “Dan aku juga.”


“Risaa. Tidak. itu tidak akan berhasil.” Mungkin aku tidak akan bertemu dengannya lagi. Aku menggelengkan kepalaku.  “Maukah kamu bersumpah bahwa kamu akan selalu, selalu mencintaiku, Risaa? Setuju?”


Aku mengulurkan jari kelingkingku untuk mengaitkan padanya setidaknya aku akan lebih meyakini ini. Namun, Risaa membalikan telapak tanganku dan menusuk  jariku, lalu jarinya. Dia menempelkan darahnya pada darahku, jadi darimana gadis yang baru berusia enam tahun mengerti hal seperti ini?  dan dia  kemudian meraih tanganku, yah darah kami telah bersatu.


“Lala Chlarisaa bersumpah … akan mencintaimu selamanya …  tidak pernah melupakanmu. Dan Risaa menunggu,  Eros menikahi Risaa.”


“Saya, Richie Estarchus, bersumpah bahwa saya akan selalu menemukan Anda, tidak peduli berapa lama waktu berlalu, saya tidak akan pernah melupakan Anda. Dan akan menikahi Anda di menara cantik Paris.”


Kami mengaitkan kelingking dan melepaskannya, dan kami melihat sekeliling halaman.


“Ingat! Anda bersumpah!” Si kecil Risaa berkata dengan berbisik dan sekali lagi mengambil tanganku, dia menyeretku ke anak-anak lain.


--


Dan dua tahun setelah itu, saya telah menyelesaikan -dua tahun pra kuliah saya- lalu pulang ke Moskow, apartemen Risaa telah rata menjadi tanah dan Paman Jin memberikan boneka Nevalyashka yang   -sepertiga bagiannya- terbakar dan keseluruhan yang tadinya berwarna merah putih menjadi hitam hangus, ini milik Risaa.


Saya kembali ke Cambridge dan Paman Jin bilang tidak mengetahui dimana ayah Risaa. Lalu Paman Jin memberi sebuah jalan keluar, jika saya mau meneruskan apa yang telah dibangun Daddy maka dengan sendirinya aku akan bisa menemukan Risaa.


Karena itu, saat awal saya masuk kuliah di Universitas Cambridge, saya mulai membangun markas di tengah hutan, tanah luas yang telah dibeli Daddy karena kong kalikong dengan pejabat yang menggila dengan uang, dan Paman Jin mulai mengenalkan kepada saya sebuah kelompok terorganisir bernama Fraksi Utara berikut para pengikutnya, dan itulah peninggalan ayah saya, yang saya sendiri tidak tahu apa tujuannya saat pertama turun langsung, yang saya tahu dari sana pundi-pundi dollar membuatku bisa mengoleksi mobi-mobil yang hanya diproduksi dua unit di dunia.


Dan saat itu Pak Pram (seorang anak buah ayah) mendaftarkan diri untuk mengabdi dan saya menjadikannya kepala pelayan. Semenjak pada saat itu, aku mulai bercerita kepada Pak Pram tentang, teman masa kecil saya dan dia mulai membantu saya untuk terus mencari, keberadaan Risaa.


Paman Jin mulai memiliki kesibukan dengan keluarganya sendiri dan sering berpergian ke luar negeri.


Jadi, saya dituntut untuk hidup seorang diri, membuatku kesepian tanpa adanya keluarga, dan bahkan seorang teman hanya peduli pada uang saya.


Kemudian saya bahkan tidak bisa membayangkan, bahwa bagi saya, SUMPAH RISAA itu bukan hanya lelucon kekanak-kanakan, atau kesenangan. Bahwa sumpah ini lebih berarti bagiku daripada baginya. Kemudian saya tidak mengerti bahwa, ketika saya sempat melupakan dia, saya merasa telah kehilangan sesuatu yang berharga dan penting yang pernah ada dalam hidup saya.


-kilas balik selesai-


Saya tidak tahu bahwa gadis kecil yang saya kenal dan yang merupakan sahabat saya akan menjadi orang yang membuat saya gila.


Dan bahwa dialah yang dulu dan sekarang menjadi pusat alam semesta saya.


-

__ADS_1


__ADS_2