
"Ayo, Lala, kita mati saja."
Ars mendengar suara Bella, dia mempercepat langkah dan di ujung lorong, langsung berbelok ke kiri. Di sana, yang cahayanya sedikit redup berasal dari cahaya beberapa jendela. Ars yang baru tiba, terlonjak saat mendapati Bella memutar sebuah botol kaca kecil di punggung Lala.
Dia berlari sambil menaikan masker secara asal untuk menutupi hidung dan menurunkan kaca mata dengan secepat kilat. Mempercepatnya, berusaha menghentikan perbuatan Bella.
Ars yakin itu, masih sejenis racun yang kemarin membuat paman Jin dalam kondisi kritis. "Cepat menjauh darinya, Lala!"
Tersadar oleh panggilan dari belakang, Lala menoleh tapi terhalang, karena pelukan tangan Bella. Tangan Bella mempercepat untuk membuka botol.
Sementara Nick langsunh memanggil dokter dan anak buahnya dengan menyatakan situasi genting.
"Aaa!" Ars melempar botol dari tangan Bella, yang cairannya baru menetes di pundak Lala dan botol itu terlempar. Cairannya menciprati kulit tangan Lala dan sarung tangan Ars, pada saat yang sama Nick berusaha menjauhkan Bella dari Lala.
Dengan cepat Ars menarik Lala dan mendobrak kamar saat Nick menahan Bella "Air! bawakan Air!" Ars berbicara pada earpiece sambil menarik dengan kasar tangan Lala.
"Tolong jangan sakiti Bella," kata Lala saat akan ditarik ke kamar.Ars tak mempedulikan ucapan Lala
"Tahan nafas selama mungkin! turunkan resleting jaket, cepat! kamu bisa mati !"Ars berteriak sambil membuang kedua sarung tangan ke tong sampah, terutama tangan kanan yang terpapar, ke tong sampah. Lala menuruti, dan Ars sudah berdiri di depannya untuk membantu menarik jaket Lala.
"Mana Air, Mana!" Kesal Ars pada earpiece. Dia langsung memasukan jaket Lala yang diyakini terpapar, ke tong sampah. Berusaha menjauhi titik paparan, Ars mendorong Lala sambil meraih pisau. Dia menjambret kerah baju Lala dan merobek ke bawah - ke bagian dada dengan cepat dan menurunkannya. "Diam, aku mencoba membuang racun mungkin meresap, jangan panik." Ars menarik gaun dari kaki Lala dan membuangya ke tempat sampah lalu dia sendiri melepas rompi, "Lala buka semua pakaianmu,buang!"
"Aku tidak-"
"Bahkan nyawa lebih berharga dalam waktu sedetik, buka dan buang pakaian mu itu racun!" Ars melepas kemeja dan jeansya.
Dengan mengandalkan senter di kepalanya, Ars menarik Lala ke kamar mandi gelap, lalu merobek b.r.a, di bagian depannya, dengan pisau. Beruntung itu hanya sebatas b.r.a model kain, dan Ars membuang dalam tong sampah kamar mandi.
Semua terjadi dalam waktu cepat, membuat Lala bingung. Lala mencium sedikit bau busuk telur.
"Mana dokter!" Ars terus berbicara dalam salurannya, dia menumpakan sabun ke tangannya dan menggosok.
"Singkirkan tong sampah, bawa keluar!" perintah Ars, pada anak buahnya yang di dekat kamar mandi.
Anak buah itu masuk kamar mandi, bagi Ars terlambat sedikit nyawa melayang. Dan anak buahnya langsung masuk mengambil tong sampah.
Saat itu Lala yang hanya memakai ****** ***** langsung memunggungi orang-orang, berlindung di balik tubuh Ars. Beruntung gelap. Anak buah Ars itu bergerak cepat, secepat kecepatan angin lalu hilang di balik dinding.
Sementara ember berisi air baru datang berjajar-jajar dan Ars langsung menumpahkan seluruh isinya ke kepala Lala tanpa aba-aba, membuat Lala kaget dan batuk-batuk.
Kemudian Ars menuangkan dengan bantuan kakinya pada tangannya yang bersabun.
Selang-seling Ars mengguyur tiap ember bergantian.
__ADS_1
Ars langsung menumpahkan sabun ke bahu Lala yang membelakanginya, fokus mengingat pada titik mana yang terpapar dan menggosok dengann hati-hati tapi dalam gerakan dari atas ke bawah sampai sebatas punggung tengah. Ars masih menggunakan masker, menghindari menghirup racun.
"Cepat tuangkan ke badanku," kata Ars berjongkok , mendorong ember yang berisi setengah dan Lala melakukannya.
Ars merasa sedikit Mual, dia bolak-balik pintu mengambil ember dan mengguyur ke Lala menunggu dokter, mempercepat dekontaminasi.
Di sudut lorong Johan dan Damar bertemu anak buah Ars. Dua orang itu melawan anak buah Ars dan memaksa mereka mengatakan sesuatu. Setelah mendengar apa yang terjadi, Johan memaksa masuk ke salah satu kamar saat suara pria begitu keras seolah sedang muntah-muntah.
"Johan! Jangan mendekat! ada racun!" teriak Lala.
Ars menahan mualnya, "cepat siram Lala! bahunya terpapar racun!" Ars begitu mual sampai dia bertahan pada westafel.
Johan cepat memahami situasi, dalam semi gelap menatap punggung polos Lala dan mengguyurnya.
Ars keluar dari kamar mandi dengan sangat lemas, badannya panas, sakit dan sesak, saat Nick datang. Pada saat yang sama Johan memberikan jubah mandi pada Lala dan menyuruh Lala untuk melepas ce..lana dalamnya, saat Johan berjalan keluar.
Sebuah tandu menopang tubuh Ars yang mengejang, jantung Lala berdebar-debar menatap selimut Ars yang basah oleh keringat, pupil mata Ars mengecil, lelaki itu terus menggigil.
Lala beralih ke kamar lain, seseorang memandu Bella, pada saat yang sama Daniel datang. Situasi rumit dan penuh kebingungan.
Setelah dokter menyuntikan penawar pada Ars, Lalu menjadi perdebatan sengit antara Lala, Daniel, dan Johan saat Daniel melarang dokter menyuntikan penawar pada Bella.
Lala dengan susah payah meyakinkan Daniel agar memberi pertolongan pada Bella dengan memberi penawar sementara, dan akhirnya Daniel menyerah karena otaknya tidak bisa berpikir dan dokter menyuntikan atropin dalam sepuluh menit pertama.
Jarak mereka semua menjaga jarak dan itu di ruang yang lebih terbuka bukan di tempat botol racun yang terlempar.
"Bawa Tuan Ars, Jo, tolong dia, cepat," rengek Lala dengan kekesalan.
"Anak-anak mengepung, mereka tak mengijinkan orang ini keluar dari kapal," sahut Johan dengan bibir ditekuk.
"Cepat nona, helikpoter akan segera tiba!" Damar sekali lagi mengingatkan.
"Tolong Pak Damar! cepat Tolong! Pasti Richie mau mendengarkan ku, cepat bawa Tuan Ars," serak Lala dalam histeris, "Ars sudah menolongku, tolong, kalian mau meninggalkan dia? keterlaluan! cepat Jo!" Jarak Lala dari orang-orang ada tiga meter.
Johan dan Damar berpandangan lalu mengangguk, sementara Daniel masih menatap dokter.
"Mereka yang terpapar harus dibawa ke rumah sakit segera," kata dokter.
"Cepat-cepat! ya sudah cepat" Johan tidak memiliki pilihan.
"Ayo nona, helikopter akan mendarat," kata Damar, lalu mengangguk pada anak buah Ars, sehingga anak buah Ars jalan lebih dulu dengan setengah berlari membawa Ars.
"Dan bawa Daniel juga," kata Lala dengan nada putus asa, "hanya dia yang bisa menangani Tuan Ars."
__ADS_1
"Lala!! berhentilah memikirkan orang lain, cepat jalan!" bentak Johan.
"Ayo, chef cepat jalan!" teriak Lala sambil menunggu Daniel.
Johan menggeleng tidak tahu lagi dengan jalan pikiran wanita itu, "sudahlah cepat, bawa saja yang kamu mau. Kita lihat mana yang bisa masuk," Johan berdecak, berbalik mulai melangkah.
Pasukan Sayap Kana menghadang tandu yang membawa Ars bahkan sudah menembak dan Johan memukul. Damar meyakinkan pada mereka dengan sebuah ancaman. Perlahan tapi pasti, tandu yang membawa Ars dan Bella di naikan. Menyusul Lala yang duduk bersama Nick, berikut dengan satu dokter ikut mengontrol. Tentu Nick dan Lala mengenakan APD perlindungan agar tidak tertular Bella dan Ars.
Setelah Helikopter Black Hawk pertama pergi, sekitar lima belas menit kemudian, datang Helikopter berikutnya. Dan Richie yang memakai mantel hitam panjang, keluar dengan setengah berlari menjauh dari helikopter.
Richie sudah merasa gelisah mendapati banyak orang mati yang, adalah anak buah Jin dari sayap kanan dan anak buah Ars.
"Mengapa kau membawa Bella?" tanya Richie setelah menjauh dari helikopter saat Damar mendekat.
"Nona memaksa membawa Bella. Jika tidak membawa Ars, maka nona tidak akan naik lalu juga bersikukuh meminta kami membawa Daniel," kata Damar.
Richie mengangguk dan menyaksikan sesuatu di depannya saat Daniel di kelilingi oleh -Pasukan Sayap Kanan- Jin. Mereka mengarahkan senapan pada Daniel dan pasti akan mengeksekusinya, Richie meyakini.
"Berhenti," Richie menginterupsi, masuk ke dalam orang-orang yang membentuk lingkaran. Dia meraih cincin di saku jas, cincin milik paman Jin. Memberikannya pada lelaki berkemeja putih yang tanpa di kancing. Lelaki berambut semi keriting itu mengamati cincin di tangannya.
"Saya membawa pesan," kata Daniel lalu mengulurkan ponselnya, menunjukan video -paman Jin ketika belum diracun-
"Saya akan membawa Artyom, saya mengambil alih, atas persetujuan Master Jin, dan Anda tidak memiliki hak untuk melawan. Saya akan mengirimkan sisanya ke markas," Richie memberi hormat dan lelaki itu membalas hormat mengembalikan cincin Master Jin. -Pasukan Sayap Kanan Jin- itu menyingkir memberi jalan.
Daniel mematung memikirkan kapalnya yang telah diambil alih pasukan paman Jin berikut anak buahnya yang telah dilumpuhkan, bibirnya berkedut karena Ars telah bersama mereka, walau setidaknya sedikit kelegaan karena Ars akan mendapatkan perawatan, situasinya sangat tidak mungkin. Jika tadi menahan Ars, maka dia bisa kehilangan kakaknya.
Richie berhenti tanpa menoleh ke belakang. "Anda masih mau di sini? suka tidak suka kamu akan tetap melihat kapal ini tenggelam."
"Aku mencari Damir dan aku bisa mengurus diri sendiri," sahut Daniel.
"Hei, Damir dibawa Kevin."
Daniel menangkap suara Richie yang seakan-akan tertawa sedang mengejeknya.
"Kesempatan tidak akan datang dua kali, dan mungkin kamu akan menyesali," kata Richie lalu kembali melangkah.
Daniel mengepalkan tangan kuat dan rahang makin mengeras. Saat melirik ke kiri, ada ketua Sayap Kanan yang menatap tajam akan mengincar nyawanya.
Saat ini, merasa tidak memiliki pilihan, Daniel terpaksa melangkahkan kaki semakin cepat menyusul Richie.
Memasang wajah dingin, Daniel mengacuhkan tatapan tajam Johan yang duduk di jok tengah, cucu Lewis itu tampak sibuk berbicara dengan headshet.
Daniel mengacuhkan tatapan tidak suka Damar dan duduk dengan kasar menyikut lengan Damar agar jauh-jauh darinya.
__ADS_1
Dan Richie lalu masuk ke dalam menatap Daniel dengan satu Alis berkedut.
Daniel menangkap wajah Richie yang mengulas senyum. Membuat Daniel bertanya-bertanya arti senyuman itu.