Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
TAMAT


__ADS_3

Kevin keluar dari pintu kapal membawa baki berlapis kain putih yang terdapat cincin pernikahan.


Hati seperti jatuh di tempat lain oleh hantaman tombak beracun. Dada mengembang terguncang dan mengkerut maksimal tidak bisa menahan nyeri pada titik di bawah tulang rusuk.


Atau terombang-ambing dan ditelan ganasnya ombak cinta. Seakan badai mengikutinya hingga ke tempat dimana Lala bergaun putih seperti 'Dewi' berdiri diantara latar belakang kokohnya Menara Eiffel. Kevin ingin merekam kecantikan 'Nya' di sungai Seine ini.


Air mata berbahaya tersangkut di tenggorokan seperti gabus, yang Kevin tahan dengan sekuat tenaga. Lebih awal, dia masih bisa menangis nanti. Segera dia akan punya waktu banyak untuk itu setelah dari sini, saat mata menatap ke arah sepasang suami-istri yang sedang dimabuk cinta.


Pandangan orang yang duduk paling belakang mulai beralih menatap ke arah Kevin yang berkaca-kaca, melangkah dengan konstan sekaligus membawa aura kegelapan.


Perlahan berurutan orang-orang yang duduk di depannya dan sampai yang terdepan teralihkan kearah pria yang menatap begitu dingin ke depan, seolah netranya membawa luka sembilu.


Ivy menitihkan setetes cairan bening begitu melihat uraian air mata berjatuhan di pipi sang papah. Ivy yang menggigit bibirnya sendiri, seakan tak rela mendapati bibir papah yang bergetar seakan sedang mengemut permen. Tampaknya itu permen kepahitan. Tangan kiri Ivy menutup mulutnya sendiri, dia merasakan sakit sang papah.

__ADS_1


Tampaknya semua orangpun tahu tanpa diberitahu, apa artinya ...


Suara ketukan semakin keras dan Lala secara skeptis menoleh kiri, berdebar dan gemetar kakinya, perlahan menajamkan mata pada sepatu pantofel dengan lecet di bagian depan yang begitu familiar dalam ingatan matanya.


Sepatu kesayangan yang dia langsung memolesnya sendiri setiap pagi-saat dahulu, orang itu tidak menggantinya meskipun sedikit lecet- dengan alasan hadiah yang Lala pilihkan khusus.


Dan tidak salah, matanya bergeser ke atas, bertemu dengan netra deepblue. Menusuknya dengan tatapan tersirat akan luka.


Sementara bahu kokoh itu terus terlihat terguncang, tampaknya menahan sesenggukan.


Kaki Lala membeku, ingin datang menghampiri, dia berusaha menggerakkan jari-jarinya tetapi seperti lumpuh. Lelaki itu yang tidak menghubunginya sejak kematian Bella, dan kini justru tampak kacau.


Lala menatap bingung pada Richie yang ikut berjongkok di dekat Kevin. Dalam gerakan halus bila Kevin menjauhkan tangan dari bantuan Richie.

__ADS_1


Merinding merayap pada hati Lala yang sudah bergetar, tanpa sadar mulut telah sedikit ternganga dengan kelopak mata mengayun masih tidak percaya.


Dan seiring bergesernya waktu, Lala memakan udara, seperti ikan yang menggelepar di daratan, begitu mulutnya membuka menutup mencari oksigen untuk melegakan paru-parunya.


Mengatupkan bibir rapat, Lala menahan untuk tidak menangis, tapi bohong, pandangannya tertutupi gelembung bening.


Dan Kevin telah berdiri kembali di antara dirinya dengan Richie, Lala merasakan bahunya terguncang ketika air bening berlomba menyentuh bumi. Mematung seolah nafasnya berhenti.


Rasa sakit yang entah dari mana datang menelusup ke dalam dada, lalu hatinya. Lala mendapati tatapan Richie terhadap Kevin, dan sebaliknya. Lala kira untuk semua kesalahan bermula darinya.


Bagaimana bisa aku menyakiti salah satu di antara mereka. Mereka adalah teman satu paket. Dan aku apa? mesin penghancur? (Lala)


Dan Johan melihat pandangannya menjadi titik hitam dia memegang apa saja di sekitarnya, dia yakin mendengar keributan di sekitarnya yang meneriaki namanya. Kemudian semuanya ... dia mulai merasa tuli, dan buta sampai suara terakhir samar adalah teriakan dari Amber dan Lala. Ya, panggilan orang-orang yang dicintainya dan dunia menjadi hilang dalam sekejap mata.

__ADS_1


__ADS_2