Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 113 : BISA


__ADS_3

"Aku nggak mau tante Rumi, aku nggak mau pulang!"


"kita harus kontrol sikembar, Babe. Kita tidak bisa kemana-mana."


"Kamu menyebalkan!"


"Mamanya Guskov, telah pulang. Ayo kita pulang, saya lapar, Babe..."


Melihat kening suami yang berkeringat dingin, Lala mengangguk. Kevin mengecup pipi Lala dengan lembut, dan akan meramba ke bibirnya, tapi wanita itu menolak.


"Ya sudah,"kata Lelaki itu memggendong istrinya dan kembali kekediaman.


Di meja makan, sore itu semua orang menatap Lala. Alen menempati duduk di tengah sisi kiri Kevin, agar bisa bersebelahan dengan putrinya.


Setelah Lala, mengambilkan makan untuk Kevin dia duduk di sebelah Luca, membuat duduk Lala paling jauh dari Kevin. Semua orang tahu, Lala menghindari Alen.


"Putriku, bisa ambilkan ayah, cake di depanmu?"


Lala menuruti, dia memundurkan kursi, meletakan di sisi ayahnya. Saat sang ayah memegangi pergelangan tangan kiri Lala, wanita melepas dalam mulut terkunci dan kembali ke duduk paling jauh. Semua orang menangkap itu dan hanya memandang kasian pada Alen. Kevin tidak bisa berbuat apa-apa, karena Lala masih menolak itu, ia tak berani memaksa Lala untuk langsung menerima. Kevin juga pernah di posisi Lala, merasakan kesakitan bagaimana rasanya tanpa kasih sayang ibu saat kecil. Kevin dan Alen saling tatap, seolah tahu maksud Alen, Kevin memanggil istrinya.


"Babe... jangan jauh-jauh dari saya, kemari" Tatap dalam Kevin, membuat Lala memundurkan kursi.


"Saya sudah kenyang, dan saya ingin kebelakang, maaf ... " Lala meninggalkan mereka begitu saja.


Hari mulai petang, Lala terlihat memegang buku di tangan, tapi pandangannya terlihat kosong, dia bersandar dengan kako selonjor diatas sofa kamar. Setelah Kevin masuk, Lala tak bergeming.


Lelaki itu melepas jam tangan dan meletakan di meja rias, dia melepas dasi dan melirik istrinya. Di satu sisi senang karena Lala sudah mau berbicara dengannya, tapi di sisi lain kasian melihat istrinya.


"Babe, mandikan saya," kata Kevin melepas sabuk dan celana panjang, dan meletakan di kursi rias begitu saja.


"Mandi sendiri, sudah besarkan," ketus Lala saat melirik sang suami sedang melepas kancing kemeja yang paling bawah dan menampilkan perut ramping dan kokoh itu.


"Ayolah Babe," rajuk Kevin sambil mengecupi leher Lala, tapi Kepala Kevin di dorong.


"Saya memijit kakimu semalaman, tapi mandikan saya, ya, istriku," rengek Kevin, menarik kaos longgar istrinya dan mencium lembut si kembar.


"Girl, bantuin papah dong... Papah buatin pulau bermain untuk kamu, jika mamah mu tak marah lagi," bisik Kevin yang didengar Lala, wanita itu meletakan buku di sebelah, dia membelah rambut lembut suaminya dengan pelan.

__ADS_1


"Katanya mau mandi," keluh Lala karena Kevin justru tiduran, dan minta terus di belai rambutnya. Dirinya malah jadi memijat wajah Kevin yang terlihat begitu lelah itu, sampai lelaki itu nyaris tertidur.


"Hemmm."


Perut Sixpack suami di rabanya pelan, membuat adik kecil yang tadinya tidur, kini menunjukan tonjolan Mic yang berdiri tegap di celana da lam putih dalam posisi tidurnya. Lala menelan ludah, dia langsung menghentikan tangannya.


Kevin membuka satu matanya, dengan nafas yang sudah memburu.


"Babe, temani mandi...hhh."


Melihat wajah Kevin yang merah merona, Lala kasian. Terutama, saat sang suami, mulai mencium lehernya sampai membuat Lala kelimpungan.


Merasa Lala tak menolaknya, Kevin melucuti sweater Lala, melepas kausnya. Mengecup lembut dan menggigit meninggalkan tanda cinta di dua bongkahan daging yang masih terbungkus.


Lelaki itu mulai kemana-mana dan tangannya memijat eksotis pada titik paling sensitif istrinya. Setelah Lala basah, lelaki itu berjongkok dan membuat dua paha Lala saling menjauh, membuatnya semakin basah, hingga kain kecil yang sudah basah itu bercampur liur suaminya. Kevin, menyingkap kain kecil itu, dan lidahnya mulai bermain menari-nari disana, membuat dua paha Lala yang diatas bahu Kevin, mengapit kuat kepala suaminya.


Wanita yang menutup mulutnya itu, berusaha menahan suaranya. Namun, suaminya sengaja membuat dia tak bisa menahan, sampai suaranya menge rang panjang memenuhi ruangan.


Sang suami yang mendengar itu merasa menang, tanpa membiarkan sang istri mencapai puncak dia melepas kepala dari sana, membuat wajah Lala langsung kecewa.


Sekali gerakan Kevin menggendong istrinya menuju kamar mandi dan mendudukan dalam bathtub Lelaki itu terus tersenyum saat mengguyur tubuh istrinya dengan shower bathtub.


"Sayang, kemana kamu selama seminggu kemarin?" tanya Lala memainkan busa yang telah menutup sampai atas dada. Sedangkan Air hangat itu merendam sampai batas dadanya. Terasa Daging keras suaminya menyentuh pinggangnya. Namun, suaminya tak terlihat akan mengajaknya beradu.


" Kan saya bilang di London, Babe, dengan Guskov."


"Oh...? senang ya disana?" kesal Lala, suaminya berbohong, jelas-jelas Guskov di indo sudah dua minggu.


Kevin mendekap Lala, tubuh kokoh menyelimuti punggungnya, membuat sensasi hangat sekaligus geli luar biasa, terutama pusat kelelakian suaminya semakin menekan pinggang belakanngnya. "Senang? tidak sih, mana ada kerjaan menumpuk membuat senang, Babe...Begitu banyak berkas yang harus saya tanda tangani untuk produksi film baru, Babe."


"Oh begitu? Pasti artisnya cantik dan bahenol ya?"


"What!??????" tanya Kevin, pipinya menempel pada pipi Lala.


"Sudah pasti. Apa perempuannya juga ada yang hamil?" kesal Lala, pertanyaanya sudah semakin melantur.


"Ha?? hamil?mana ada aktris hamil Babe? tidak ada. Sudah, jangan mengungkit pekerjaan lagi, kemarin saya mau membawa mu ke sana tapi kamu terus diam, saya takut kamu tambah marah."

__ADS_1


Kevin mulai mengguyur tubuh mereka, dan membiarkan semua air terglontor, terbuang. Lelaki itu duduk di depan tubuh polos istrinya meraup bibir manis dalam pagutannya, sementara tangan lain Kevin bekerja keras pada daging panjang yang sudah sekeras pentungan besi.


Malam datang, Lala beranjak dari tidur, tangan wanita itu di tarik.


"Mau kemana, Babe?" matanya yang sudah berat, kembali membuka menyadari pergeseran Lala dari dekapan.


"Tidur di kamar lama."


"Kenapa?"


"Karena kamus terus bohong!!!"


"bohong apa?"


Pertanyaan Kevin tak digubris, sampai Lala berada di kamarnya saat belum menikah, kamar itu sudah lama tak di tempati.Namun, tetap bersih dan harum, dia mengunci pintu, sembunyi di balik selimut dalam gelap kamarnya, tak mempedulikan gedoran dan teriakan Kevin dari balik pintu.


Kevin menghelas nafas kasar, tubuhnya jatuh ke lantai, bersandar di pintu kamar yang di tiduri Lala. Dia masih tak tahu apa yang membuat Lala marah.Wanita itu benar-benar membuat pikirannya kacau setengah mati. 'Kapan saya bohong?'


Sampai pagi pun Kevin tidur dibalik pintu. Lala terkaget saat membuka pintu itu, suaminya terhuyung ke belakang dengan wajah lusuh.


Lelaki itu kembali duduk, dan Lala hanya menatap Lelaki yang kini merangkul kedua kaki Lala.


"Jangan terus seperti ini. Kita harus saling terbuka, kita obrolin bersama-sama, kita ambil solusinya."


"Terbuka??? apa kamu sudah melakukan itu sayang?? apa kamu sudah terbuka? lepaskan kakiku, kamu mau membuat tubuhku jatuh?"


Lelaki itu berdiri, "apapun akan saya lakukan demi kamu, Babe."


"Oh??? apa kamu bisa mencari Bella dan mengajak dia kemari, SAYANG!?" tanya Lala penuh penekanan saat wajah lelaki itu akan menciumnya.


Mata Lelaki itu mendelik dan terlihat menahan nafas sesat.


"Oh tidak bisa kan!?" kata Lala tersenyum sinis di lampu temaram depan pintu.


"BISA!"


DUARRRRRR

__ADS_1


Lala jauh lebih kaget, sampai tubuhnya mundur beberapa langkah kebelakang, tak percaya dengan apa yang diucapkan suaminya.


__ADS_2