Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 199 : USAHA


__ADS_3

-POV Lala-


Aku membuka mata lalu menyipit menyesuaikan cahaya. Lampu telah padam pertanda pagi, tapi cahaya dari jendela persis menyorot ke mata. Sorot keemasan matahari pagi, selalu menerobos masuk jendela.


Saya mengelupas plester dan mencabut jarum infus dari punggung tangan kanan yangmana cairan masih tinggal setengah. Kemudian bangkit, mencoba membelokkan pinggang ke kanan dan kiri. Merentangkan tangan ke atas.


Badan seperti dipanggang, saya demam. Perut mual, asam lambung naik ke tenggorokan menimbulkan rasa kecut di mulut. Setelah terkapar berhari-hari, mereka tidak ada niatan untuk menampakan batang hidungnya.


Hati saya mendidih karena kehabisan cara untuk memancing mereka keluar.


"Kevin atau siapa." Mata saya melebar. Menebak-nebak, jika itu bukan Kevin lalu bagaimana nasib putraku.


Turun dari bed dengan sempoyongan dan saya pindah duduk di kursi. Kerjaan saya yang hanya duduk, mengumpat, melempari kamera cctv dan menggedor pintu, setiap hari.


Dua telur ceplok, salad sayur, roti dan aneka selai asin. Segelas susu, jus semangka. Dan sebuah botol vitamin. Kenapa mereka memberi Vitamin?


Saya mengetuk-ngetuk meja dengan kuku telunjuk. Setiap ketukan membatu saya dalam berpikir. Saya memandangi makanan dengan malas.


Dan bila diperhatikan semua menu makanan mereka tidak pernah ada nasi, semua terbuat dari gandum.


Lebih sering roti tipis berisi daging kalkun. Mereka juga pernah memberikan kugel yangmana dari campuran mie dan telur, dengan toping kentang. Saya pernah membuat kugel untuk Lydia, makanan khas timur.


Bila dipikir-pikir, saya tidak mungkin di eropa. ini lebih condong khas negara timur.


Saya mencari alasan dari balik kegundahan.


Mengira-ngira dengan apa yang mereka lakukan pada Vino, membuat hati saya semakin gila.


Tuhan, tolong lindungi Vino.


Satu yang tidak saya mengerti, Mereka selalu mengganti peralatan mandi, pakaian dengan yang baru. Bahkan -pakaian dalam- itu sesuai ukuran.


Bulu kuduk merinding, saya risih setiap membuang pakaian inti yang bekas pakai ke sampah.


Saya menggigit kuku jempol dengan keras dan merasa cemas, bagaimana jika si penculik adalah seorang ca*ul. Saya bergidik memeluk lengan.


Dingin lantai mozambik mencium telapak kaki dan saya menggigil makin membeku.


Kamar mandi sempit yang tidak ada jendela. "Richie," hati saya berdenyut memperhatikan cincin Ruby di jari manis.


Menempelkan tulang belikat ke dinding dingin dan memeluk cincin di dada. Rasanya, tidak kuat ... membutuh Richie yang selalu ada, saya tidak bisa menghadapi ini sendirian.


Ingin menangis, merindukan sosok Richie yang selalu lembut dan membuatnya nyaman. Saya menjadi utuh dan tidak membutuhkan apa-apa lagi asal ada anak-anak dan Richie, saya ingin sekali pulang.


Menghela nafas keputus-asaan, merindukan pelukan hangat Richie. Tiga minggu sudah, Richie belum datang, mengapa juga saya terlalu berharap pada Richie? Untuk apa dia mencari orang tidak penting seperti saya. Dan aku mulai kehabisan harapan.


Sesuatu bergerak mengayun dari dalam closet, saya diam memperhatikan. Mungkin otak saya pun mulai halusinasi, padahal tidak ada apa-apa.

__ADS_1


Saya menatap pada lantai kamar mandi yang bercorak mozambik. Apa ini di negara timur?


Memijat kening saya, sakitnya tidak hilang-hilang.


Memikirkan, bila sepertinya, bukanlah Kevin yang menyekapnya.


Kevin selalu menyediakan nasi untuknya, atau ... pria itu sudah berubah. Tapi tidak mungkin.


Suara mesin menderu dari luar, seperti mesin berjalan, tapi tidak tahu apa. Saya pernah mencoba berjinjit di atas kursi, tapi saya tidak bisa menjangkau jendela, padahal saya ingin melihat ke luar.


Saya tidak boleh menyerah dan harus berjuang dengan segala cara. Saya meyakini Richie pasti tidak akan tinggal diam.


"Aaa-aaag!" merinding menjalar dibawah kulit saat menangkap penampakan kulit licin hijau lumut bermata kuning. "Ularr!" melompat, saya langsung meraba-raba kenop dengan tetap mengunci mata pada closet, tidak mau bila reptil mengayun datang dan membelit saya.


Sebuah kepala reptil sebesar -lengan manusia dewasa- itu berayun-ayun mulai melewati lingkaran closet, sedang menarik-menjulurkan lidah.


Nafas saya menjadi cepat, mencari-cari kenop merasa tercekik, seolah-olah malaikat maut tengah menjerat.


"Ah!! tol-onh-" Bulir air mata jatuh, ular melongok maju.


"Mamaah," benjolan naik turun, kata-kata berhenti di tenggorakan.


"Tuhan!!" saya menoleh tajam ke belakang memutar kenop, lalu keluar seketika sampai kaki menabrak pinggir pintu dan ambruk.


Saya memutar tubuh. Sial ularnya mau turun. Saya langsung berdiri menarik pintu.


Dan lagi terpelanting dan jatuh kembali manakala mendapati pintu belum tertutup sempurna.


Masih berlutut, saya menarik ujung kenop dengan cepat dan ngeri. Hampir-hampir jantung saya mau copot, saya gemetar hebat mengesot mundur dengan tanpa berkedip.


Keringat dingin membanjiri kulit. "Ular... ular," saya terisak. Otak mati. Saya juga pasti akan mati dalam belitan ular, saya meyakini.


Tidak memiliki kesempatan untuk bertemu Vino, meskipun terakhir kali.


Bukankah ini tidak adil!


Mereka akan membunuh! dengan ular. Bila tadi saya buang air besar, dimana ular langsung mematuk! atau menggulung. Ini rencana pembunuhan. Sebegitu keji mereka.


Apakah dia Kevin? yang sudah mengambil Vino, sekarang menyiksa ku dan mengapa di sisi lain juga merawat ku? Seharusnya biarkan aku mati, tidak perlu merawat ku.


"Siapapun keluarlah!" lirih ku tercekik dengan jemari merambat dan berdiri. Membanting lengan kiri, pada pintu.


"Tolong ular!" terisak. Menjauh, berlari dengan menghambur membanting pintu. DAK!


"Kalian manusia!? tolong!!!!"


Berulang kali saya berlari dan menghambur ke pintu. DAK!

__ADS_1


Sampai saya tidak memiliki tenaga membanting lagi "tolong," saya melolong dengan pipi beruraian air mata. "Jangan menyiksaku dengan ular..."


Bangun-bangun, saya sudah di tempat tidur, setelah saya meyakini jatuh di depan pintu.


Suara Krepek-krepek, berasal dari sesuatu di bawah lengan. Saya menoleh ke samping, meraih selembar kertas bertuliskan.


'Ular berhasil disingkarkan, Anda bisa menggunakan kamar mandi dengan aman.'


"Omong kosong apa ini?" saya tersentak oleh satu foto ular yang telah dipotong-potong di kamar mandi dengan cecerah darah, saya menjadi mual dan ngeri hampir pingsan melihat kepala reptil.


Meremas kertas dan foto, kemudian membuang dengan kasar. Saya tidak akan mempercayai mereka!


"Johan, ular. Johan! Richie! ayah! siapapun tolong Lala!!!" menyeka air mata, saya menggigit bibir bawah sampai rasa logam begitu kentara.


Memaksa bangun dan mere..mas botol mineral kuat-kuat dan berlari melempar ke kamera cctv.


Bahkan kini keahlian saya bertambah, melempari kamera cctv dengan tepat sasaran!


"Okeh, sampai batas mana kalian mau terus mengganti kamera! saya akan buat kalian marah!" Tangisan saya pecah dan langsung tertawa. saya akan mati, saya akan mati


Jika mereka menyingkirkan ular, tandanya mereka peduli pada saya.


Jadi, apakah dia adalah Kevin, masuk akal karena mereka tahu ukuran b.r.a saya, siapa lagi.


Oh, jadi apa, Kevin akan menyingkirkan saya.


Hari berganti hari, Saya sengaja tidak bangun, untuk mencari tahu siapa yang memasuki ruangan. Lagi-lagi, saya dibuat tidak sadarkan diri dan bangun saat menemukan sarapan.


Hari menjelang siang. Sebelum saya dibuat tidak sadarkan diri,


Saya berinisiatif.


Memegang kening dan melemaskan tubuh. Saya menghempas, menjatuhkan diri seiring gaya gravitasi dan kepala saya meluncur terbentur cukup keras, dan jatuh alami.


Ngilu luar biasa. semoga saya tidak gagar otak.


Tidak berselang lama pintu berderit. Keributan, derap kaki dan sepatu hak berlarian semakin dekat.


Mereka mengangkat tubuh saya ke bed. Semua percakapan adalah bahasa asing, suara perempuan, tidak ada lelaki, dan bahasa timur.


Stetoskop mulai menekan dada saya dan sebuah jemari halus menekan pergelangan tangan.


Haruskah, aku kabur sekarang? Mereka mungkin pintar, dan tidak akan mempercayai aku lagi yang pura-pura pingsan.


Sekarang atau tidak sama sekali!


Jantung saya berdebar cepat, pasti pada kecepatan penuh.

__ADS_1


Saya bangun sambil membuka mata dan mendorong perut tiga perempuan di depan. Berlari dengan lompatan besar, menuju pintu besi terbuka, yang terlihat ruangan gelap, diluar sana.


BAK!!!!


__ADS_2