Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 87 : PERTOLONGAN KEVIN?


__ADS_3

 Di kediaman Kevin sore hari, Johan tengah duduk memandangi kolam renang di depannya.


-Kilas balik di hotel batas kota-


-POV Johan-


Aku terbangun dengan kepala yang begitu sakit, dengan mulut yang  mati rasa dan perut mual.


 Aku duduk dan menyingkirkan sprei, ini tempat asing. Aku tidak mengingat kejadian terakhir,  Mengapa sampai di tempat ini?


Pintu kamar terbuka, mataku melebar, "Kevin?"


Ah masuk akal, jadi Kevin yang membawaku.


"Uh," aku memijat kepalaku yang berdenyut-denyut, aku mendongak lagi. Kevin memberikan aku sekaleng minuman.


Dia menarik kaleng itu dan membukanya dan kembali mengulurkan padaku, "Kau yakin menolaknya? mau Lala melihatmu seperti ini? terlihat begitu buruk."


Alisku naik sebelah, "Lala?" Aku menatap wajah Kevin yang datar. Kuraih kaleng dingin itu, dan ku tenggak, minuman kaleng pereda mabuk bertuliskan LaCroix.


Aku meraba perut kiriku yang terasa nyeri, kulihat disana telah di perban, ku mendongak kearah Kevin.


"Bukannya datang ke pernikahan kami, kau justru membuat masalah," kata Kevin seraya duduk di sebelahku.


Aku melebarkan mata, "dimana si brengsek itu?" tanganku mengepal sedikit mengingat kejadian semalam.


"Untuk apa mencari? tak ingat jika kau telah membunuhnya!? Membuat repot, seharusnya kau lihat dulu siapa lawanmu.


Aku beranjak ke kamar mandi, "Baguslah. Dan ini bukan urusanmu. Kau tak perlu repot-repot kemari."


Menatap pantulan di cermin,  keningku telah di perban, pasti botol menghantam kepalaku semalam.


Terakhir yang kuingat menghajar sekelompok orang yang sedang menyerang seorang wanita di ujung gang, entah setelah itu aku tak tahu. Seharusnya wanita itu baik-baik saja, jadi aku sampai membunuh si preman? Aku terlalu banyak minum saat itu.


Aku samar-samar mengingat pria bertopeng, apa dia yang menolongku? Apa Kevin yang membawaku? Gak mungkin.


Selesai mandi aku keluar dari kamar mandi hanya memaki handuk, kulihat Kevin asik dengan tabletnya.


Diatas bed ada kaos orange, celana dan dalam mannya,  itu pasti Kevin yang  menyiapkan. Aku masuk  ke kamar mandi dan memakainya. Mataku melebar, dimana celana jeans kemarin?


Aku membuka kasar pintu, bergegas mencari-cari ke seluruh sudut ruangan.


"Ini?" kata Kevin memegang kantung hitam kecil,  aku berjalan cepat dan  meraihnya dengan kasar.

__ADS_1


"Sepenting itu?" kata Kevin dengan alis naik lalu berdiri. Dia berjalan ke arah pintu, "Ayo isi perutmu."


Setelah aku memeriksa kalung paraiba itu masih ada, aku menyimpannya kembali. Ini yang paling penting, ini peninggalan Ayah Alen yang belum sempat ku berikan pada Lala.


Aku dan Kevin berada di restoran berdinding kaca di pinggir pantai, di lantai dua. Tempat VIP, kami telah selesai makan.


Minuman pereda mabuk yang diberikan Kevin, telah menenangkan perutku, membuat badanku terasa lebih baik.


Aku melihat Kevin yang begitu tenang dan terlihat lebih dewasa, beda jauh dengan dulu. Sepertinya dia puas dengan keberadaan Lala.


"Urusanmu belum selesai? apa jauh lebih penting daripada mendatangi ritual sakral kami?" tanya Kevin dengan senyum tipis dan jari yang terus mengetuk pada meja.


Tersenyum masam, aku mengepalkan tangan, apa Kevin sedang menertawakan kemenangannya? "Kevin, sekali lagi kau membuat Lala menangis, aku sendiri yang akan membawanya."


Kevin tertawa, “dengan apa? apa kau punya kekuatan? Kekuasaan?Sebelum kau berpikir begitu pakai otakmu dulu. Kau membuat masalah disini, justru saya yang melindungimu, kamu tahu kenapa? Karena kamu lemah dan childish.”


Aku mengepalkan tangan.


“Oh kamu bilang, ‘aku akan membelinya tak peduli walau hanya 15 triliun’ Hallo ... Sadarlah Johan, kau masih di bawah bayangan Tuan Lewis.”


“kau masih anak..”. “Mo -mmy,” kata Kevin menggerakan mulut tanpa suara.


“Marah? Kau mau memberikan makan apa pada Lala jika dia hidup denganmu? Seharusnya kau sadar diri, kau bahkan tak bisa melindungi Lala. Apa kau tahu siapa saja yang menerornya? Sayangnya kamu sangat tidak pantas disisinya. Jadi telan pil pahit untukmu itu Johan.”


Kevin tertawa.


Kedua alisku menaut, "Aku tak tertarik," Aku beranjak dan meninggalkan Kevin.


"Sayang sekali, semua pintu telah di halau, kau tak bisa keluar dari negara ini."


Langkah kakiku terhenti, "Maksudmu apa?"


"Setelah kau membunuhnya, Kau kira bisa bebas? kamu terlalu naif, Jo. Tuan Lewis tidak memberitahu ya? ini bukan tempat bermain, apa kau disini mau mati konyol?" Kevin geleng-geleng kepala, "Harusnya kau tak perlu mengurusi wanita itu."


"Kau gila," kataku. Aku mencengkram kerah Kevin dan dia hanya tersenyum sinis. "Haruskah aku membiarkan wanita itu diperkosa!?" tanyaku membuat Kevin terbelalak. Dia tertawa keras di depanku wajahku.


"Kau lucu ya, Jo. Apa beda mu dengan para pemerkosa?! Aku tanya apa bedanya?"


"Apa maksudmu?"


"Mau jadi superhero pada orang yang baru kau temui? Bahkan mengorbankan diri menjadi sasaran mereka," Kevin menggelengkan kepala.


Kevin menggertakan gigi. Suaranya mulai naik satu oktaf, "saat akan menodainya ... Apa tidak terpikirkan olehmu, luka bathin yang akan dihadapi Lala di masa mendatang? Sedikit saja, tiada kan? lalu apa bedanya kau dengan mereka!?"tanya Kevin, matanya mendelik padaku.

__ADS_1


Aku melepaskan cengkraman ku, "darimana kau tahu..." kataku gemetar.


Itu memang kesalahan terbesarku. Aku tak menyangkalnya. Mataku mengembun menahan kemarahan pada diriku yang juga terus menghantuiku.


Kevin menunduk memijat kepalanya, "apa kau pikir aku tak mengetahui itu.” Kevin menoleh kanan menatapku tajam, ”Bahkan malam-malam kau berani menyelinap ke balkon dan kau berniat menculiknya?"


"Memuakkan, Jo, menyerahlah. Dengar kesalahanmu ini. Satu, kau menyusup menemui Lala. Dua, kau masih berani menyusun rencana penculikan Lala, padahal Lala sudah menolak pergi denganmu, kan? kau mau mencurinya dariku? Tiga, Kau sangat bodoh sampai membunuh anggota gangster.”


Aku mengepalkan tanganku karena Kevin tahu semuanya.


“Aku beritahu soal gangster ini, benua ini memiliki aturan sendiri, mereka mengubur si pembuat masalah hidup-hidup, apa kamu mau mencoba?”


“Hentikan omong kosongmu, Kevin.”


“Saya tahu siapa Twenty, orang yang berharga untuk perusahaan Lewis kan? Apa kau pikir Twenty dan ketiga anak buah mu masih di persembunyian? cepat hubungi mereka.”


Sial mengapa dia tahu semua. Aku menghubungi Twenty. Twenty menuturkan semua tentang persembunyian mereka yang diserang oleh anak buah gangster setempat. Kata Twenty mereka telah diselamatkan. Aku mematikan telepon.


Kevin tertawa.


“Kau berhutang empat nyawa dan itu tidak termasuk keluargamu. Berpikirlah sebelum bertindak.  Jika saya tak menyelamatkan anak buah mu  ... pasti anak buah gangster itu sedang melintasi benua, melanggar wilayah selatan karena kau telah membuat masalah. Terlalu gegabah, apa kau siap melihat mama Tiara mati?" kata Kevin dengan nada penuh penekanan.


DEG, tanganku gemetar, nafasku naik. Oh Mama...


Kevin melihat ke arah pantai, “Kandungan Lala bermasalah.  Jika kau masih berniat membawanya, pikirkan ulang ... apa kau siap dengan konsekuensinya? Kau bisa kehilangan peri-peri kecil tak berdosa.”


Aku masih berdiri melihat Kevin yang sedang tertawa.


Apa maksudnya? Aku Kehilangan peri-peri kecil?


“Dan Lala akan semakin membencimu karena kamu sangat konyol," kata Kevin dia beranjak dari kursinya melewati ku.


Aku terus mengikuti dan menanyakan apa maksud Kevin dengan kandungan bermasalah itu, tetapi dia tak menjawabnya.


Aku hendak masuk satu mobil dengannya, tapi pengawal menghadang ku dan menarik ku ke mobil yang berbeda.


-kilas balik selesai-


Seorang pelayan meletakan kopi hangat, roti dan soup panas di meja. Johan menanyakan keberadaan Kevin dan Lala tapi pelayan itu diam dan langsung pergi.


Bersambung ...


_______________________________

__ADS_1


Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍



__ADS_2