
Lala menoleh, "mas Luca sudah itu terlalu banyak, kita tidah butuh itu," Lala menekan tombol kursi rodanya, ke arah Luca yang terus memasukan banyak mainan ke keranjang.
"Eh, tapi banyak yang bagus."
"Kita belum lihat yang lain, ayo."
"Baiklah." Luca mendorong kursi roda lagi, sementara tiga keranjang dorong sudah mulai penuh itu di dorong Bodyguard.
"Kemana mama Sheril?" tanya Lala.
"Iya ya, masa ke toilet lama." Luca berbelok ke kanan, memasuki arena sepatu bayi. Dia kembali memiliah-milih lagi, "Hei lihat, ini motif tikus, lucu."
"Jangan, aku tidak suka itu mas Luca, geli," kilah Lala saat melihat sepatu mungil di tangan Luca.
"Biar saja lucu kok."
" Tidak!"
"Bagaimana jika ini, ini burung ya?"
"Iya, pinguin lucu, itu saja," kata Lala yang sempat menoleh, dan dia kembali mencari kaos kaki bayi.
"Lala???" panggil seseorang, membuat Lala batal menarik kaus kaki yang telah dipilihnya.
"Tante Rumi, apa kabar?" tanya Lala saat, mama Guskov itu memeluknya.
"Baik dong, mana Kevin?"
"Sedang ke tempat tante kan?"
"Apa? Guskov sedang di Indo, dua minggu ini, wah telpon suamimu, kasian dia pasti tidak ada siapa-siapa dirumah."
'apa Kevin bohong? dia bilang seminggu kemarin pergi dengan Guskov, mengapa dia bohong?' batin Lala kembali sesak.
"Nanti saja, Lala telponnya tante."
"Luca ya??" tanya Rumi pada lelaki di depannya, kemarin di pernikahan Lala, dia tak bertemu dengannya.
"Iya tante."
"Saya melihat kantormu terbakar, berita di TV begitu heboh, saya ikut prihatin ya."
"Iya, tante, terimakasih. Saya juga masih belum bisa melupakan musibah itu."
Rumi mengelus pundak Luca, "kamu yang semangat, ya, seperti papahmu pantang menyerah."
"Iya tante, sekang Luca pindah ke New York."
"Oh Ya? tante ada kantor disana, mari kita kerja sama Luca?"
__ADS_1
"Benarkah tante? terimakasih banyak."
"Iya nanti kita obrolin lagi, ah maaf Lala kita jadi asik sendiri."
"Gak apa tante, Lala senang kok," jawab Lala yang masih asik memilih kaus kaki.
Tumpukan kaus kaki jatuh dari pangkuan Lala, Luca yang mau mengambil kalah cepat dengan Rumi.
"Maaf tante," kata Lala sedikit membungkuk dalam duduknya tapi tertahan perut besarnya. Beberapa kaus kaki bayi diraih Rumi, "santai nak."
Rumi teralihkan pandangannya saat Lala mencoba melonggarkan syal. "Lala..." dia menahan syal Lala, saat Lala mau menutupi lehernya.
"Ya, tante???" Lala terlonjak karena Rumi dengan cepat membuka syal yang dikenakannya.
Rumi begitu shock saat memegang bandul Turmaline paraiba Lala yang selama ini dicarinya, tidak, tidak mungkin, dia membantah dugaanya sendiri, karena itu hanya di produksi satu di dunia dan dia sendiri yang mendesainnya.
Luca mengerlingkan alis melihat Rumi yang berjongkok memegangi bandul Lala, dan mencoba membuka bagian terkecil di kalung Lala.
"Tante mau apa, jangan," kata Lala terkejut dan menangkup bandul, sehingga Rumi tidak bisa melihatnya.
"Lala, tolong perlihatkan kalung itu pada tante," kata Rumi mulai menahan sesenggukan.
"Tante, anda tidak boleh seperti itu,"kata Luca lembut dan sedikit menarik pelan bahu Rumi agar menjauh.
"Nak, tolong, itu penting bagi tante."
Rumi tak mau kalah, setelah dua puluh tahun pencariannya ... itu sangat lama ,dia menyingkirkan tangan Luca dan dia mendekat ke wajah Lala, menarik tangan Lala dengan paksa sampai tangan Lala kesakitan.
TIK!
Rumi menekan titik kecil di atas bandul, itu terbuka dan tertulis, "Alea Alena!" Rumi terkejut bukan main, dia menatap Lala.
Lala bingung, kenapa kalungnya itu bisa terbuka dan tertulis nama asing, dia tak tahu itu, bahkan ayah tak memberi tahu itu. Mengapa melihat tante Rumi seaka-akan, tante tahu betul kalung ini, kenapa tante Rumi menangis.
"Tante maaf, anda sudah keterlaluan," kata Luca menarik tubuh Rumi, karena Lala terlihat tak nyaman, bodyguard mulai mendekat meminta Luca minggir, agar mereka menangani, tapi Luca menolak biar dirinya saja yang menjauhkan Rumi.
"Lepas Luca, cepat telepon papahmu!" perintah Rumi, membuat Luca kebingungan.
"Sebenarnya ada apa ini tante."
"Cepat Telepon! sebutkan namaku, dia pasti akan datang!" perintah Rumi. Luca menuruti lalu menelpon papahnya.
Sheril datang melihat kerumunan orang di sudut toko, ternyata di dalam kerumunan ada putranya, Lala dan...
"Rumi? kamu disini? kenapa? apa Luca menggangu mu?" Sheril mendekat ke tubuh Rumi yang mulai sempoyongan, wanita itu mencengkram bahu Sheril kuat -kuat. Air matanya membasahi pipinya.
Lala kebingungan merasa bersalah, tapi tidak tahu apa yang membuat wanita itu begitu setelah melihat kalungnya, Lala berpegangan tangan kiri Luca, karena takut.
"Kita duduk dulu." Sheril menuntun Rumi diikuti Luca yang mendorong kursi roda, mereka memasukai sebuah ruang santai berdinding kaca, petugas telah memberikan mereka tempat nyaman terpisah dari hiruk-pikuk. Mereka saling tatap, kecuali Rumi yang dari tadi terus menatap Lala tanpa mereka tahu apa arti pandangannya.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, Anton tiba di ruangan itu, dia melihat Rumi, sahabatnya, terlihat kacau. Dia duduk di sebelaha Rumi, "Kenapa, Rum?"
Rumi langsung memeluk Anton di depan Sheril, membuat Luca dan Lala terlonjak, sedangkan Sheril tak kaget, karena suaminya memang dari dulu dekat dengan Rumi. Sheril ikut mengelus punggung Rumi, dia tak tahu apa masalah teman dekatnya itu.
"Apa?" tanya Anton dengan nada rendah.
"Kalung itu, Lala," kata Rumi masih terisak, membuat Lala berdegub kencang memegang kalungnya yang jadi pembuat onar.
"Luca ada apa sebenarnya?" tanya Anton.
"Tidak tahu, itu kalung Lala." Luca kebingungan.
"Rum ada apa, cepat bilang, atau aku pergi, jika kamu tidak segera mau menjelaskannya."
"Kalung Alea."
"Kalung Alea? belum ketemu kan? kalung Lala jadi masalahmu?"
"Itu kalung Alea," kata Rumi tetap menyembunyikan wajah di bahu Anton.
"Apa?????"
"Luca, pinjamkan kalung Lala, cepat!" bentak Anton, dituruti Luca.
"Sebentar ya," kata Luca, di angguki Lala. Lelaki itu melepaskan kalung Lala dari lehernya dan memberikan pada papahnya.
Anton mengamat-ngamati kalung itu, di klik titik kecil, dia terlonjak membaca namanya, tertera nama anak Rumi yang diculik di bandara.
"Lala darimana kamu mendapatkan kalung ini?" tanya Anton datar.
"Dari ayah, itu kalung milik ibu."
"Apa!!!" Anton dan Rumi teriak bersamaan, saling berpandangan, mereka sedikit tersenyum dan sama menangis.
Rumi memeluk erat Lala sampai membuat Lala kesulitan bernafas, "Ale, alea alea, ... kemana saja kamu huuuu mama mencarimu! ini ibu nak!! ini mamahmu !!"
"Hentikan tante! Jangan berkata begitu!! ibu Lala.. telah tiada."
"Ini ibumu, Alea!" pekik Rumi.
"Dia mamahmu Lala," kata Anton bergetar, "kalian harus tes DNA."
"Tidak! aku yakin dia Alea!" seru Rumi.
Luca dan mamahnya bingung bukan main karena ibu Lala sudah meninggal.
"Telepon Kevin dan ayah Lala, Luca," perintah Sheril.
"Iya mah." Luca langsung keluar dari ruangan itu.
__ADS_1