Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 64 : KENGERIAN HATI YANG TAK DAPAT DIPUNGKIRI.


__ADS_3

Lala tengah bolak-balik dikamarnya, ia merasa sangat gelisah memegangi ponselnya. Ditatap ponsel di tangannya, kakinya mengetuk-ngetuk karpet di kamarnya. Ia berjalan lagi, hatinya semakin deg-deg an, ada perasaan takut disana.


"Telepon atau tidak." Lala mengelus wajahnya yang terasa panas. Dia bingung sekali, digigit telunjuknya yang menekuk. "Ah ayolah Lala, ini demi anakmu."


Ia menjatuhkan dirinya ke kasur, dengan tangan gemetar ia bangun dan duduk lagi, mencari nama Johan.


Ia menghitung dalam batinnya mengumpulkan semua keberaniannya. Ditekan tombol panggilan .


"Nomor yang anda tuju tidak bisa di hubungi, cobalah beberapa saat lagi," suara operator.


Hah, Ia semakin tak tenang, "Ayolah Jo, kumohon ..." harapnya sambil menunggu menit berganti. Di tekannya panggilan itu lagi.


"Nomor yang anda tuju tidak bisa di hubungi, cobalah beberapa saat lagi," suara operator lagi.


"Ah menyebalkan!" teriak Lala membanting ponselnya ke atas kasur.


Klek-


Pintu terbuka.


Lelaki bercelana jeans dan hems biru itu masuk menghampiri Lala, "Sudah siap?"


Lala menoleh kebelakang, wajah putih tampan dengan mata besar tajam dan bulu lentik tengah tersenyum dengan wajah eropanya.


"Sayang, aku begini saja ya," sahutnya dengan suara lemas. Lala sudah tak minat ganti baju karena kekesalannya pada Johan yang tak bisa dihubunginya.


Kevin terdiam sejenak, melihat ada yang tak beres pada wajah Lala. Ia berjalan ke lemari memilih sebuah outer yang sekiranya nyaman untuk di pakai sang kekasih. Terpilihlah outer berwarna hijau lumut, yang tidak terlalu tebal, karena cuaca hari ini lumayan panas.


"Harimu terlihat buruk, sayang. Harusnya yang begitu kan aku." Kevin duduk di sebelah Lala dan membantu Lala mengenakan outernya.


Gadis itu hanya terpaku menatap wajah tampan sang pacar. "Kevin, peluk aku."

__ADS_1


Lelaki itu mendekap pacarnya, kepala Lala terbenam dalam rengkuhan dadanya. Dia tak tahu apa yang membuat sang wanita tiba-tiba terlihat tidak baik-baik. Dalam posisinya, Kevin melirik layar hp Lala yang tertampil panggilan dari Johan. Hp itu di silent. 'Apa pacarnya itu belum juga mau menjawab panggilan dari Johan?' Batin Kevin.


Satu jam berlalu, mereka berada di dokter kandungan.


"Lihat bayi-bayi anda, mereka saling bergandeng tangan." Dokter menunjukan membulirkan tampilan di layar monitor USG.


Lala dan Kevin tersenyum.


"Mereka terlihat saling memberi kekuatan," ucap Kevin yang tak bisa mengalihkan matanya dari layar monitor karena ketertarikannya melihat bayi-bayi mungil.


"Selamat anda akan memiliki putri-putri kecil"


"Apa..." jawab Lala dan Kevin saling bertatapan diikuti senyuman mereka.


"Peri-peri kecil..." ucap Kevin dengan mata yang masih terpana. "Pasti akan secantik mamanya."


Sang dokter mengingatkan kembali agar Lala mematuhi janji kontrol untuk memastikan, satu kembar tidak tumbuh luar biasa lebih dari yang lain. Dan terus memantau tali pusar agar tidak menjerat si kembar sehingga menyebabkan kematian.


Para dokter dan perawat menjelaskan Lala akan tinggal di rumah sakit selama sepuluh minggu sepanjang waktu.


Hal itu agar dokter bisa memaksimalkan peluang hidup sikembar yang tengah terancam.


Di sepanjang perjalanan Lala memandangi foto bayi si kembar. Sangat manis melihat si kembar berinteraksi bersama, mengetahui jari kelingking mereka benar-benar saling bersentuhan dan tubuh kecil mereka benar-benar meringkuk.


'Tenanglah baby! mama sungguh-sungguh ... kalian semakin bersemangat, mama juga akan bersemangat' Batin Lala saat bayi-bayinya menendang. Kevin pun menyandarkan kepalanya di bahu Lala seraya merasakan tendangan sikembar.


Jam dua siang mereka sampai di rumah baru. Kevin mengajak Lala mengelilingi rumah besar bak Istana itu. Kursi roda yang Kevin siapkan agar pacarnya itu tak kelelahan, dan Lala dilarang menolaknya.


Setelah satu jam mengelilingi seluruh Istana yang di tengahnya terdapat kolam renang besar outdoor. Sore itu mereka makan di meja dekat kolam renang itu.


Lala mengedarkan pandangan ke seluruh bagian deretan ruangan yang mengitari kolam renang itu. Sepuluh lantai dengan lima under ground untuk parkiran mobil, bahkan ini Istana bukan rumah, yang selalu dilengkapi peta arah pintu dan tata letaknya di setiap sudut.

__ADS_1


Istana ini dilengkapi lift, teater, tempat gym, tempat sauna khusus, tempat anak-anak bermain yang bahkan sudah disiapkan Kevin.


Selain itu ada dua Landasan Helipad besar lengkap dengan helikopter di atapnya.


Juga di sisi rumah ada tempat bermain Golf, dan parkiran mobil yang siap menampung ratusan mobil dengan pagar tinggi mengilingi Istana ini, meski begitu Istana ini sangat asri dengan pohon tua tinggi yang menjulang, padahal Istanabini terlihat baru.


Kebun binatang dengan koleksi hewan-hewan langkanya lengkap dengan gua, air terjun dan pantai buatan. Bahkan sebuah macan putih terlihat jinak pada Kevin.


Tak ketinggalan ada danau kecil lengkap dengan perahunya, dan bunga-bunga cantik disekitarnya. Apa anggapannya itu tidak salah bila danau itu dibuat semirip dengan danau Permata? tempat Lala dan Kevin bertemu pertama kali.


Sebenarnya sejak kapan Kevin menyiapkan ini semua? Mengapa dirinya menjadi takut dengan ini semua, dengan semua yang telah disiapkan Kevin. Sebenarnya siapa Kevin?


Lala tidak kaget bila sang pacar menggila dengan segala kemewahan. Namun satu pertanyaan yang selalu membuat Lala gundah dari mana asal uang-uang Kevin untuk membeli itu semua.


Lala ingat betul, perusahaan Kevin telah diambil alih ayah Anton.


Lala dalam diamnya memakan makanan yang diambilkan Kevin. Terlihat Pacarnya itu begitu perhatian, terlihat manis, tampak seperti manusia pada umumnya. Tapi bagi Lala kini aura Kevin sungguh mengerikan di balik kemanisan dan senyumannya. 'Aku takut dengan siapa aku berurusan kali ini. Apa pacarnya itu melakukan hal-hal ilegal.'


"Kenapa? apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Kevin.


Lala tergagap menggelengkan kepala berusaha tersenyum tulus, meski pada kenyataannya kini Ia ketakutan.


Lala berpikir mencari cara untuk dirinya sendiri bisa mengorek secara jelas dan detail kehidupan Kevin yang sebenarnya. Ia berpikir harus mencari seseorang yang bisa membantunya. Tapi, siapa? dan bagaimana caranya?


bersambung ...


________________________________


Hai pembaca setiaku mampir ya ke novel yang keren banged ni ... jangan lupa tinggalin jejak ya. terimakasih.


__ADS_1


__ADS_2