Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 42 : RUMI ALENA?


__ADS_3

Hari telah malam, mobil telah menepi di depan kos Lala, sopir telah turun dari mobil, tinggallah Lala dan Kevin di dalam mobil.


"Besok bersiap jam sembilan, supir akan datang menjemputmu, kau tidak perlu menemaniku sarapan." ucap Kevin mengelus pipi Lala.


"Mengapa kau meninggalkanku di Mall tadi? apa kamu cemburu?" ucap Kevin seraya memeluk Lala, tangan kanannya memegang rambut gadis itu dan dihirupnya wangi aroma vanila.


"Tidak ada perempuan selain dirimu. Apa kamu tidak yakin kepadaku? Percayalah ... bukankah aku sudah menawari mu sebuah pernikahan? tapi kau juga tak kunjung menjawab ku kan," tegas Kevin.


"Ayo kita cepat menikah dan memiliki anak yang banyak," bisik Kevin di telinga Lala.


Lala menyunggingkan bibirnya mendengarkan pernyataan Kevin.


"Kapan kamu siap ketemu Papa, mungkin Papa akan sulit menerima, tapi kita harus berusaha."


"Dan besok kita akan ke pernikahan Samantha, tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku sudah menjadi milikmu seutuhnya. Aku menerima kamu apa adanya, aku juga berharap kamu menerima ku apa adanya.


Bila suatu hari nanti kamu mendengar tentang keburukan ku, tetaplah berdiri di sampingku.


Mulai sekarang pikirkan panggilan mesra. Apa kamu mau kita terus memanggil nama? tentu aku tidak mau." pinta Kevin memandangi wajah Lala.


"Bagaimana jika saling memanggil 'sayang' ...? " tanya Kevin pada Lala, sedetik kemudian gadis itu mengangguk dengan senyuman manisnya.


"Sayang..." ucap Kevin sedikit malu dan menyunggingkan senyum dalam keadaan semi gelap di dalam mobil.


Gadis itu memalingkan wajahnya yang memerah namun Kevin menariknya.


"Jangan kau palingkan senyuman indah itu dari pandanganku, jangan tunjukan keindahan ini di depan siapa saja termasuk Luca, Johan ataupun rekan kerjamu itu.


Jaga jarak dengan mereka selama aku di Inggris, mengerti? kamu tidak ingin aku memberimu hukuman kan?"


Lala mengerutkan dahi, apa maksudnya? apa Kevin terus mengawasinya?


Lala mengangguk-anggukkan kepalanya, senyuman tak pernah lepas dari wajahnya. Ia memeluk Kevin erat, tidak mau berpisah.


"Ayo sudah malam, apa kamu akan terus memelukku atau kamu mau aku membawamu lagi?"


Gadis itu memasang wajah cemberut.


"Apa mau mu, jangan diam, aku tidak bisa membaca pikiranmu, Lala."


Gadis itu memeluk Kevin tanpa menjawab pertanyaannya. Lelaki itu benar-benar di uji kesabarannya saat Lala mulai seperti ini.


"Ayo kita ke pantai lagi di malam sebelum aku berangkat ke luar negeri, aku sangat merindukan suaramu, sayang ..." ucap Kevin sambil mengusap punggung kekasihnya.


Sudah satu jam Lala di pelukannya, astaga gadis ini malah tertidur.


Apa ini saatnya melakukan tes keperawanan pada Lala? tidak! untuk apa aku melakukan itu. Jika memang Johan telah melakukannya, apa yang bisa aku rubah? semua sudah terjadi. Aku tidak mau melukai Lala lagi.

__ADS_1


Kepala Kevin jadi kembali berat. Dia bertarung dengan pikirannya sendiri, dari awal semua salahnya. Dia yang mengenalkan Johan pada Lala. Mungkin ini balasan yang harus diterimanya.


Tubuh ringan Lala diangkatnya pelan-pelan. Dia keluar dari mobil berjalan di bawah langit yang cerah terang benderang melewati susunan batako di bawahnya.


Pengawalnya sudah mengetuk kosan Lala, dan Bella membuka pintu.


Dengan penuh kasih sayang Kevin membaringkan Lala, Dia mencium dahi Lala lalu menyelimutinya. Dia tak menghiraukan Bella yang terus memasang wajah sengit itu.


Para pengawal sudah meletakan belanjaan Lala di sudut Kos.


Kevin dan Bella saling bertatapan tanpa bicara. Lalu Kevin meninggalkan Bella tanpa berkata-kata.


...**...


Di Kondotel Kevin, lelaki itu sedang sibuk di ruang kerjanya, membaca laporan keuangan perusahaannya sendiri yang disembunyikan dari semua orang. Perusahaan keamanan, pengawalan, sekaligus pembunuh bayaran.


Tentu saja keluarganya tidak ada yang tahu. Johan pun tidak tahu. Yang tahu hanya Billy.Tidak ada anak buah yang tahu siapa Boss sebenarnya. Musuhpun tidak tahu. Para anak buah level bawah tidak akan tahu anggota di atasnya, mereka tidak ada yang tahu wajah Billy.


Dan saat kemarin Billy disandera pun karena sang penyandera salah sasaran. Namun Billy cukup pintar menyembunyikan rahasia team Lion.


Bos dari segala Bos team Lion itu menyunggingkan senyumannya, Kerja Billy walaupun tanpa pendampingannya saat memuaskan.


Sekarang assistenya sedang mengambil cuti setelah menjalani operasi plastik, dan identitas Billy dirubah. Sementara identitas lamanya tertulis bahwa Billy telah mati.


Satu misi besar dari pelanggannya yang belum terselesaikan adalah memburu Algio dan Hamar.


Lelaki itu mengambil hp khusus yang hanya di gunakan saat Ia kerja.Hp tercanggih, tidak akan bisa ada yang menyadapnya. Beruntung Kevin menemukan seorang pemuda yang canggih teknologi, Kevin mempekerjakan pemuda itu di markas utama.


Panggilan dengan Billy tersambung ...


"Selamat malam, Tuan,"


"Apa kau sudah menemukan dua orang itu?"


"Ampun Tuan, mereka berhasil menangkapnya, namun musuh tiba-tiba menyerang sebelum Lion sempat membuka topengnya. Namun satu dari kedua orang itu, kondisinya sudah sangat lemah,"jawab Billy.


" Sial, bodoh sekali anak buahmu. Tangkap mereka hidup-hidup, jangan membuatnya terluka, paham?" tegas Kevin


"Apa Tuan?? Bukannya klien meminta kita menghabisinya?"


"Kau mau mendikte ku Bill?"


"Ampun, Tuan, saya lancang."


...***...


Rumi termenung di depan TV. Pikirannya jauh melayang ke saat tadi siang.

__ADS_1


-Flash Back ON-


"Nyonya! Nyonya!" panggil seseorang yang menarik tangannya.


"Ya maaf siapa? apa kamu mengenal saya?" tanya Rumi.


"Ah anda tidak mengingat saya Nyonya?" tanya wanita sederhana itu tampak murung.


"Maaf, saya belum ada seminggu di negara ini, jadi saya beneran tidak tahu."


"Saya wulan, Nyonya! pengasuh putri Anda!" jawab Wulan.


"A- apa!"


Rumi hampir jatuh, beruntung wulan menangkapnya. "Nyonya Rumi, Anda sedang sakit?"


Beberapa orang mulai mengitari Rumi yang kini terduduk di Lantai. Beberapa orang memberi pertolongan dengan memberikan minyak angin. Beberapa Lainnya memapah Rumi duduk di kursi lorong Mall.


Wulan memijit-mijit pundak Rumi seperti saat dulu dia bekerja pada Rumi, sambil mengoleskan minyak angin di Leher Rumi.


"Sudah cukup, Wulan terimakasih."


"Nyonya kenapa Anda menangis?" tanya Wulan


"Saya tidak apa-apa, hanya terharu bisa bertemu denganmu Wulan, bagaimana kabarmu?"


"Saya sangat baik, sudah menikah dan mempunyai dua anak. Bagaimana kabar Alea? seharusnya sudah lulus SMA ya? Wulan kangen banged sama Alea lucu, yang selalu dalam gendongan Wulan." ucap Wulan membayangkan anak asuhnya.


"Nyonya?? kenapa Anda menangis?"


Wula mengelus-ngelus tangan Rumi.


Kringg-


Kringg-


Kringg-


Rumi mengangkat telepon, "Bentar ya," ucap Rumi mengelap pipinya dan menerima telepon, dan Wulan mengangguk.


"Ya, sayang, Mama di Mall Duta Ambassador," ucap Rumi mulai mengobrol di telepon.


Setelah Rumi mematikan telepon, kebetulan suami Wulan datang.


"Ah maaf, saya pamit dulu Nyonya, ini kartu nama saya, salam untuk Alea ya." ucap wulan meninggalkannya.


-Flash Back OFF-

__ADS_1


__ADS_2