Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 175 : RASANYA


__ADS_3

Dia menekan pump shampoo berkali-kali, hingga telapak tangannya penuh dengan cairan berwarna silver.


Sedikit menunduk, mengusap rambut, matanya terpejam. Dia me..remas, menggaruk dengan kasar rambutnya, manakala dirinya semakin gusar, hari ini belum menghubungi Lala. Richie bingung harus bilang apa.


Dia menarik kran shower. Air hangat begitu segar meluruhkan semua busa dari rambutnya.


Dia mengusap wajahnya berkali-kali.


"Haahhhh." Beban di kepalanya terasa luruh bersama jatuhnya air.


Rasanya ingin berlama-lama mandi, bila tidak ingat ini di rumah Kevin.


Meraih pasta gigi dan memilin menguarkan pasta putih, dia menarik sikat gigi penuh pasta ke dalam mulutnya sambil menatap dirinya pada pantulan cermin.


Dia menggosok perlahan, Ingin rasanya, cepat-cepat memiliki pendamping, dan dia hanya mau dengan teman kecilnya.


Mungkin sangat menarik, bila segala sesuatunya dijalani dengan sang istri. Dadanya menjadi berdebar, wajahnya memerah di pantulan cermin. Ah itu sepertinya masih jauh.


Berkumur dan membuangnya, mengulang tiga kali. Richie mendekatkan wajah ke cermin, menatap wajahnya lekat-lekat.


Apa Lala mau menikah denganku nantinya? Lalu bagaimana dengan Kevin dan anak-anaknya, kemungkinan besar saya mendapat pertentangan keras. Belum apa-apa semua tampak menghalangi jalanku. Bagaimana cara aku mendekati, putri-putrinya?


Richie menggaruk-garuk rambutnya yang masih basah. Baru kali ini dia merasa sebingung ini. Apa sesusah ini untuk menjalin hubungan?


Melilitkan handuk besar putih di pinggang, menggeser pintu kayu, hangat ruangan menyambut dada telanjangnya.


Masih membayangkan senyuman Lala, dia melangkah sambil mengelap rambut dengan handuk kecil putih.


Gerakannya terhenti, me..remas handuk di tangannya saat mendapati Kevin sudah duduk di pinggir kasur dengan kepala tertunduk.

__ADS_1


"Hei, kamu, sudah lama?" Richie melangkah melewati lelaki menggunakan kaus hijau dan celana hitam panjang.


"Saya mendengar kau menyanyikan tiga lagu, bukankah kau seperti konser di kamar mandi." Kevin menatap punggung berotot Richie.


"Hummm ya konser, saya menyukai segala hal tentang rumah ini." Richie membuka lemari, dia menatap satu persatu tumpukan baju. Lantas mengulurkan tangan ke rak paling atas kanan meraih pakaian inti.


"Wah, kamu masih menyimpan semua pakaianku disini," ujar Richie membuat Kevin menoleh menatap Richie yang menhatuh kan handuk menampakan tubuh polosnya. Terlihat Richie membelakangi Kevin dan memakai celana intinya.


Kevin geleng-geleng kepala dengan kebiasaan Richie yang tidak berubah."Ya, saya tahu kau pasti kembali kesini."


Kaos-kaos miliknya yang masih tertata rapih di lemari kamar, Richie meraih kaos biru, dia mengibaskan dan mencium bau harum kaus itu.


"Apa kamu tak berniat menikah? usiamu semakin bertambah."


Mendengar itu Richie menatap yang Kevin menunduk lalu memasukan baju ke dalam kepalanya, "Itu ide yang bagus," menurunkan ujung baju yang menempel di punggungnya, sedikit susah di turunkan.


"Apa kau tidak ingin merasakan rasanya hidup dengan memiliki pendamping..." Hati Kevin berdenyut, dia tidak dapat mengontrol mulutnya. Dia ingin tahu lebih banyak.


"Kamu tidak akan kesepian dan akan selalu ada yang mengganggumu dengan kehangatan dan canda tawa." Kevin memijit keningnya.


Hatinya bagai digempur rudal, kepala pusing dan tubuhnya bergetar membayangkan masa indah dulu.


"Apa seperti itu? terdengar indah." Richie memandangi celana bermotif kotak-kotak putih, dia memasukan kakinya dan melirik Kevin yang terdiam lama. Dia melamun lagi.


"Kamu baik-baik saja?"


Kevin menyingkap tangan Richie dari bahunya, dengan masih tertunduk. "Mari makan." Kevin berlalu, membuat Richie termenung lantas mengikuti Kevin.


Richie berhenti dan kembali melangkah ke nakas, meraih hape, terlihat pada pop layar terdapat sebuah pesan dari Lala.

__ADS_1


"Richie?" Kevin memanggil di pintu. Membuat Richie memasukan ponsel dalam celana. Ah tadi Lala kirim pesan apa?


Richie menutup pintu mengikuti Kevin di sepanjang lorong. "Kamu menerbitkan dua talent baru bulan ini?"


"Ya, mereka sangat potensial."


Kevin memasuki lift diikuti Richie."Kapan kamu mau bertemu dengan mereka?"menekan tombol angka dua dan pintu lift tertutup.


Melihat itu, Richie menatap punggung tangan Kevin yang lebam dan lecet, padahal saat waktu meeting tangan itu baik-baik saja. Sebenarnya dia kenapa?


Richie memerjap, memperjelas penglihatannya. Dia yakin dengan luka baru di tangan Kevin. "Lusa saja. Lalu, BG kapan akan kembali berakting?"


"Dia baru saja menghadapi terapi kanker, kita masih menunggu apa dia masih diperlukan atau bisa diganti dengan pemain lain."


Jam menunjukan pukul sebelas malam, Isla memasuki ruang makan. Matanya melebar dan dua sudut bibirnya terangkat. Sudah dua minggu tidak melihat papa, dia melangkah lebih cepat dan sedikit berlari. Disana mendapati ayahnya bersama seseorang yang dia kenal.


Langkahnya terhenti "Paman Richie?" Isla maju lagi melihat wajah orang yang cuma terlihat punggung lebarnya.


Kevin ternganga menatap Isla, "kenapa kau belum tidur?" tanyanya pada Isla saat melihat Richie bangkit dari kursi dan langsung mendekap putrinya, membuat Kevin merasakan panas di dalam dadanya dengan wajah menekuk.


"Paman mengapa tidak pernah main kesini?" Isla mendongak.


Richie menatap Isla, dia menyingkirkan rambut Isla yang menutupi wajah ke belakang telinga, "paman sedang banyak pekerjaan."


Kevin berdeham, membuat isla tersadar dan melepas pelukan paman, dia menoleh dengan sangat manis nyengir pada sang papa, menghampiri Kevin dan mencium pipi kanan-kiri Kevin. "Papa, Isla sebal, papa jarang di rumah!" kata Isla sambil merangkul leher Kevin, dengan manja dan suara kekanak-kanakan.


"Hum, lepasin, nggak malu sama paman Richie, kamu sudah besar masih seperti ini hum?" Kevin mencubit hidung Isla ke kanan-kiri.


"Ahg, sakit pahh." Isla meraup, menyingkirkan tangan Papa, dan duduk ternganga di sebelah Kevin dengan mengelus-ngelus hidungnya yang panas, dia tidak mau jauh-jauh dan menggeser kursi lebih dekat.

__ADS_1


Richie tersenyum kecut. Hatinya sakit, karena dia belum pernah merasakan yang seperti itu. Jangankan seperti itu, bercinta pun dia belum tahu rasanya.


Jadi seperti itu rasanya memiliki seorang putri, ketika ada yang merengek dan memangil papah? begitu HANGAT hanya dengan melihatnya.


__ADS_2