Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 204 : MEMBUKA PENAWARAN


__ADS_3

-POV LALA-


“Tuan Dima, Veeper … Anda bilang mereka Veeper membawa Tatiana,” saya menarik nafas dalam, takut ini akan membuatnya marah. Saya yakin Dima tidak tidur, saya mendengar nafasnya yang lebih cepat, “Veeper- apakah mereka juga yang akan ‘menangkap ku’ ?”


Jantung saya berdebar saat Dima menghela nafas kasar.


“Veeper siapa? Orang? Mengapa mereka menangkap ku?”


Tuan Dima berdeham seoalah ini sesuatu yang sangat ‘serius dan susah dijangkau’.


Saya mengambil nafas dalam lagi, “kami diculik. Saya dan anak lelaki saya berusia satu tahun, dia masih membutuhkan asi. Dan sudah satu bulan saya tidak bertemu dengan putraku."


Saya merasakan nafas Dima yang tertahan, seperti memperhatikan ucapan saya. Dima duduk di sebelah saya, dan ujung  jari kaki kelingking saya bersentuhan dengan celana sutranya. Saya yakin celana Dima, celana mahal.


Namun, mengapa gadis secantik Tatiana di hutan mencari hasil hutan. Apakah gadis itu tidak takut bila nanti ada orang jahat atau hewan buas yang akan menyerangnya.


“Veeper,” Dima berkata dengan berat seakan ada yang menodongkan senjata padanya. “Mereka menculik dan menjual gadis-gadis perawan.”


Saya melebarkan mata, leher saya seperti tercekik.


“Dan penjualan organ."


“Organ?” mulut saya ternganga dan jemari gemetar. “Apa hubungannya dengan saya?”


“Anda jelas tidak perawan,” Dima berkata tanpa bernada melecehkan, “dan jelas bukan calon pendonor.”


“Pendonor apa, maksud anda?”


“Industri  paling terselubung. Mengandalkan populasi miskin untuk menjadi pendonor. Dan orang asing kaya untuk jadi penerima. Veeper-mengeksloitasi, memaksa atau menipu untuk mencuri atau membeli atau menjual organ secara ilegal.”


DEG- Mata saya membelalak dalam kegelapan, tangan saya mere..mas, mencoba menelaah.


“‘Wisata transplantasi’ bahkan  Iran adalah satu-satunya negara di dunia yang legal untuk menjual organ. Bahkan menetapkan harga dasar tertentu, tetapi itu hanya ketika organ  diperoleh secara legal-”


Dima menghela nafas kasar,  “yang seringkali tidak demikian, karena orang miskin melalui  perantara dan dibayar tanpa diketahui, harga di bawah meja.”


“Tuan Dima, anda menakut-nakuti saya.”


“Terkadang meskipun penerima donor organ -tidak menyadarinya, bahwa beberapa rumah sakit yang mereka lalui terlibat dalam operasi bawah tanah, bisnis perdagangan organ ilegal. Dan mereka penerima, baru saja terlibat dalam ‘wisata transplantasi’


“Bidang medis bukan satu-satunya, yang menjunjung tinggi perdagangan ilegal. Agen perjalanan, agen asuransi, dan organisasi berbasis ‘agama’ yang menyerukan ‘pemburuan organ’ juga bertindak sebagai pemain utama dalam mempertahankan pembelian dan penjualan ilegal  organ yang diambil.”


“Hentikan, Tuan Dima, saya ingin muntah,” kata saya gemetar dan tubuh telah dingin ngeri. “Mengapa anda menceritakan ini pada saya!”

__ADS_1


“Itulah Veeper,” Dima menegaskan.


“Vino,” pekik saya gemetar dan mata memanas, “dimana Vino.” Kuat harapan saya pada Richie dan ayah. Kedua tangan saya menyentuh dan mere..mas kening. Perlahan makin keras, menangkub ke hidung. Saya menyeruput udara lalu, menjauhkan tangan dan menghembuskan sangat pelan.


“Mengapa anda menyebut mereka mengejar saya, anda belum menjawab pertanyaan saya ini,” kata saya, tidak dapat menahan kesal karena ledakan dari dalam dada.


“Saya beritahu, anda sekarang di Rumania dan kita di tengah belantara. Di dalam sini, di hutan ini-” Dima penuh penekanan ini. “Semua orang disini berkaitan dengan Veeper, bedannya KAWAN atau LAWAN .”


“Tuan Dima, apa anda mengenalkan diri sebagai KAWAN Veeper karena Anda tinggal dengan ‘selamat’ di hutan ini?”


“Hum, ternyata anda masih memiliki otak. Apa anda memilki nama?”


Saya menghela nafas kasar, "anda tahu saya di culik, anda KAWAN, seharusnya Anda tahu nama saya kan?”


Dima tertawa keras dan mencibir, “Anda mengganggap diri Anda tinggi, IBU.” Dima kembali tertawa, membuat saya merasa jadi sangat tua. Meski sepertinya, wanita paruh baya tadi siang, seusia dengan saya. Namun, Dima terlihat sangat dewasa. Mengapa saya tersinggung dipanggil ‘Ibu’ Huh.


“Saya beritahu ya, IBU,” Dima tertawa kecil terus mencibir ‘IBU’ dan saya terus mendidih karena itu. “Banyak gadis terpilih, dan banyak pendonor, yang akan ‘DI ANGKUT’ jadi, untuk apa saya tahu nama-nama mereka yang akan hilang di telan gelombang.”


Saya gemetar, "anda terlalu berputar-putar, Tuan Dima.” Saya menarik nafas dan menghembuskan lebih panjang. “Apakah kita bisa berbisnis-berdua.”


Dima tertawa begitu dalam, saya tidak mengerti apa yang lucu.


“Saya memilki penawaran bagus, Tuan Dima, dan itu bisa menyelamatkan mu.”


“Tuan Dima, penawaran saya akan jauh melebihi ekpetasi Anda,” kata saya sambil membebaskan tangan Dima dari leher. “Anda tidak akan menyesali!”


Saya dengan keyakinan dan menantang. Berhasil, membuat Dima melepas cengkraman.


“HAAAAHHHH,” saya mengelus-ngelus leher saya.


“uhuhukk-huk!” Mata saya berair, tenggorokan saya semakin kering, saya butuh air, cengkraman Dima memperparah dahaga saya.


“Anda bisa memberikan semua yang saya minta?!” tantang Dima dengan nada penuh tanda kutip.


“Tuan Dima, apa Anda pernah mendengar Sanla Pictures, sebuah production house  terbesar di London? Anda ... bukalah Internet. Penawaran saya, ada di perusahaan itu. Tapi sekarang bantu saya mencari dimana putraku, Vino.”


Berbisik condong ke dia, “saya akan beri tahu. Bahwa Vino … CALON PENERUS Sanla Pictures. Jadi, daripada, Veeper yang menculik saya dan Vino-” mengeraskan suara dengan elegan, "lebih baik Anda yang menculik kami, kan? Dan-”  Saya menegaskan “pasti Anda menerima lebih banyak, daripada saat anda berbisnis dengan Veeper.”


Saya tertawa dalam hati, memikirkan betapa gilanya yang baru keluar dari mulut saya, tidak cuma memanfaatkan nam perusahaan Kevin untuk membuat penawaran.


Namun, saya juga takut bila semua menjadi lebih buruk.


Untuk saat ini … saya kira itu yang paling baik, pasti Kevin tidak keberatan.  Mengulur waktu, untuk  menemukan cara menghubungi Richie. Setidaknya, saya mencari jalan untuk tahu keselamatan Vino.

__ADS_1


DOG! DOG! DOG!


“COPILUL MEU! VINE MAMA! Esti bine?” suara dari luar samar sayup.


Derap langkah kaki Dima terasa menjauh. “Da mami, ajuta-ma,” nada suara Dima penuh cinta.


Tidak berapa lama lubang persegi terbuka. Sorot cahaya senter menyilaukan, membuat saya dan Dima sama-sama menyipitkan mata lalu menyesuaikan.


“Cepat datang.” Tegas Dima ketika saya menghela nafas penuh kelegaan. Udara dingin segar menerobos masuk dan mengganti udara yang tadi panas dan pengap. Saya menghampiri Dima dengan rasa penuh syukur.


Dima mengibas-ngibaskan rambut saya dari pasir, “Nama IBU-Vino?”


Mengerutkan alis, saya terkadang dibuat bingung dengan bahasa indonesia yang digunakan Dima, yang terbalik-balik. “Nama saya, Lala.” Dan Dima mengangguk perlahan, ‘IBU LALA,” katanya dengan aksen yang lucu.


“DIMA,”suara dari atas membuat kami tersadar.


“Da, mamă, vin,” sahut Dima sambil menghadap ke atas. Dima beralih melirik ke saya, “beliau mamah saya dan galak,” dia memberitahu dan saya mengangguk. Dima mengarahkan saya naik lebih dulu.


Satu kaki terakhir saya mendarat di tanah saat Dima masih menaiki tangga kecil.  Saya memperhatikan ke bawah, Dima tersenyum pada saya, tiba-tiba dia menoleh, senyumnya memudar bersamaan mata melotot. Saya ikut menoleh.


PLAK!


“MAMA!” Jeritan Dima ketika saya melayang, lalu  terjerembab di tanah, Langsung kliyengan menyelimuti kepala saya.


Saya mengelus-ngelus pipi, betapa panas dan nyerinya. Dimana bibir menjadi mati rasa, kaku dan perih begitu mengatub mulut. Rasa logam bercampur liur, mengumpul di dalam mulut, membuat saya tidak tahan dan hingga saya meludah.


“Mama,” panggil Dima seperti ragu-ragu, dan terdapat rasa bersalah di dalamnya.


Wanita paruh baya yang tadi siang itu begitu murka pada saya, meski saya tidak tahu apa kata-katanya, dia menyebut Tatian, sepertinya Tatiana mendapat masalah.


“AGGGGG!” Pedas nyeri, rambut pendek saya di jambak sampai saya melayang ke depan mengenai lutut wanita paruh baya.


“nu o răni, asta e pentru Tatiana.” Dima mencoba melepaskan wanita paruh baya,  dari menjambak, memukul kepala, dan menendang. Dan saya terjengkang dan semua rasa panas, kaku, di bagian atas tubuh. Saya melirik bagaimana Dima menahan dan memeluk wanita paruh baya itu yang tengah murka.


Dan mereka meninggalkan saya di belakang rumah dalam lingkungan gelap. Angin melewati tubuh  dan saya menggigil memperhatikan kepergian mereka yang hilang di balik pintu dengan lampu kuning redup.


Saya duduk loyo dan terisak, menerka-nerka apa yang menimpa Tatiana. Mereka benar-benar menangkap Tatiana? Saya menjadi tidak tenang, memeluk lutut saya, melindungi diri untuk tidak menggigil.


KRESEK! KRESEK!


Saya menoleh tajam ke belakang, malam yang sangat gelap, rerumputan tinggi sepertinya bergerak cepat dan semakin jelas.


Mata saya melebar, beberapa orang muncul dari semak-semak,

__ADS_1


__ADS_2