Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 80 : KERETA GEMPITA


__ADS_3

Aku sudah menghabiskan banyak makanan tadi siang, tapi semua energiku habis karena semua hal di ruangan ini yang telah menguras pikiran dan energiku.


Aku menyesap habis sari buah yang diberikan Richie, aku bahkan meminta segelas lagi setelah semua ke lima indra ku kembali normal.


Dia juga mengelap wajah dan leherku yang lengket karena liur macan dengan handuk hangat.


Aku memberikan gelas yang telah kosong pada Richie, sikapku seperti anak kecil yang baru sembuh dari sakit. Aku tak peduli, aku harus menyelesaikan ini dan keluar dari ruangan menyebalkan ini.


Musik di ruangan ini tak sekeras saat awal aku datang, orang-orang itu kembali berjudi, mereka tertawa dan sibuk dengan dunianya.


"Apa tujuan Anda membawa saya kemari, Tuan Richie? Anda terlalu membahayakan janin saya, bagaimana jika putri-putri saya stress, Anda harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu!"


Richie mencengkram rahangku kuat, dia mendekatkan wajah padaku dengan rahangnya mengeras, dia menatapku tajam, bahkan jauh lebih menakutkan dari pada arogannya Kevin.


"Anda yang memulai semua ini, LALA. Anda datang dan mengacaukan rencana kami dengan kehamilan sialan ini! Gara-gara bayi ini, masih untung kami tak mengambil bayimu, jangan kau kira karena aku bersikap manis kau semakin berani. LALA. Jaga sikap atau aku akan benar-benar menggantungmu!"


Richie berpindah duduk ke kananku tanpa melepaskan cengkraman pada rahangku, tangan kirinya menjabak rambutku hingga bentuk sanggul modernku tak berbentuk.


Mulutnya mendekat ke telingaku, "Lihat jangkar di langit gedung itu," dia mencekram rahangku kuat sampai aku meringis, mataku melihat jangkar yang begitu runcing dengan beberapa rantai di ujungnya.


"Kau lihat, seruncing apa itu? itu lebih tajam dari pisau daging. Kau bisa membuktikan dan menancapkan diri, dengan tekanan pelan... perutmu akan langsung berlubang. Atau kau ingin jadi 'Sundel Bolong' ke dua? kau tahu kan film itu?"


Aku mengepalkan tanganku. Pikiran Richie terlalu jauh, apa dia psikopat!?


Richie tertawa lepas.


"Tadinya aku akanmenggantung mayat mu di sana, kau beruntung 'Teddy' tidak melukaimu barang sedikit aja. Menurutlah ! atau ku jerat lehermu dengan rantai bergerigi itu. Kau mau jadi mati mengenaskan dan menjadi hiburan kecil untuk mereka? CK!"


"Kalau begitu kenapa anda tak menggantung ku saja, sekarng ha!!" teriakku tak terkontrol, bendungan air mata mengalir begitu saja.


"Kau masih tanya? sialan! aku masih belum mendapatkan tujuanku! tunggulah sampai aku mendapatkannya, aku sendiri yang menghabisimu Ja Lang!! jika kau memberi tahu perbincangan ini pada suamimu, akan kupatahkan leher ayahmu, CK!" Richie mendorong kepalaku kasar.


'Darimana Richie tahu ayah Alen! apa aku lagi-lagi membawa ayah dalam bahaya!!!'


Aku menengok ke kanan, kelima orang ekslusif itu sedang tersenyum padaku, apa mereka sedang menertawakan ku?


Aku meringis memegangi rahang ku, aku mengelap pipiku yang basah.


Richie berdiri di depanku dan dia mengulurkan tangan dengan telapak tangan menghadap atas. Aku mengabaikan tangan Richie dan terlihat tangan Richie mengepal sampai terlihat otot tangannya saat aku berusaha berdiri sendiri.


Aku tertunduk dan Richie menarik kasar telapak tanganku. Aku melepaskannya dan dia semakin kuat menggenggamnya.

__ADS_1


Kami berjalan ke arah lima orang ekslusif itu, melewati pembatas kaca yang di desain khusus.


Tangan kiri Richie tidak melepaskan genggamanku saat Richie menekan kaca dengan telapak tangan kanan lalu menekan sidik jari dan terakhir mengkomfirmasi dengan matanya.


Kaca itu membelah dan bergeser memberikan jalan untuk kami lewat dan otomatis menutup sendiri.


Richie berbicara bahasa Itali pada ke lima orang yang masih duduk itu, tangan kiri Richie melepas tanganku tapi berpindah ke pinggangku. Aku melepaskannya namun dia semakin erat sampai kami merapat.


Dia berbisik di telingaku. Aku mengerutkan dahi menoleh padanya, namun Richie menatap tajam padaku.


"Geratci nobile," kataku pada lima orang itu dengan punggungku yang setengah membungkuk. Sesuai arahan Richie.


Mereka pun setengah membungkuk sesaat lalu tersenyum, "congratulazioni per il tuo matrimonio."


Aku menengok ke Richie.


"Mereka mengucapkan selamat atas pernikahanmu," bisik Richie dengan terlihat rahangnya yang masih mengeras, lalu dia melewati ku begitu saja.


Richie duduk di sisi kanan mereka. Dia memijat keningnya, "Nyonya Saint, apa pantatmu bisulan!? duduklah," perintahnya dengan nada yang dia tahan dan tanpa melihatku.


'Ya Tuhan, tolong pindahkan aku ke belahan dunia lain sekarang. Richie!! ku rutuk kau, anak-anakmu akan sepertimu dan membuatmu kesal!'


Aku duduk di sebelah kanan Richie.


Aku tak tahu tapi aku merasa tempat duduk kami berjalan dalam gempita. Aku tak tahan, aku tak takut gelap, tapi ini beda situasinya, tempat ini bergerak, aku takut menabrak sesuatu. Atau jika ada ular, pikiranku sudah tak karuan.


Tangan kiri ku meraba-raba mencari Richie, berharap ada sedikit saja cahaya. Dimana tangan Richie, aku hanya menyentuh sesuatu empuk dan hangat, "Tuan, Richie ..." lirihku.


Tiba-tiba sesuatu hangat menyembul di telingaku.


"Apa kamu sedang menggodaku, Nyonya Saint?" bisik Richie dengan suara sangat kecil.


Aku diam.


"Atau kamu takut Nyonya Saint? apa kamu akan terus menggodaku dengan tanganmu?" bisik Richie.


Menyebalkan, Aku menarik tanganku lagi. Aku semakin gemetaran karena tak dapat mengatasi ketakutan ku.


"Nyonya Saint saya tahu Anda takut, memohonlah maka saya akan berbaik hati dan memberikan tangan saya," bisik Richie.


Aku memejamkan mata, tanganku berpegang pada lutut ku yang bergetar sampai kepalaku menempel di lutut. Kapan penderitaan ku berakhir! mengapa mereka tak menyalakan lampunya!

__ADS_1


"Duduk! jangan memperlihatkan ketakutan Anda, di depan mereka. Saya hanya mencoba memberitahu dan sebentar lagi kita sampai di ujung lorong," bisik Richie, membuatku menuruti perintahnya. Aku duduk tegak dengan tangan saling menaut di atas paha.


Ini masih lama.


Richie mengenggam kedua tanganku dengan tangannya yang hangat dan besar, itu sedikit mengurangi ketakutan ku.


Aku tak tahu kemana ini berakhir. Tapi ini seperti kereta berjalan. Mana yang katanya Richie hanya sebentar? Sebenarnya mereka membawaku kemana.


'Apa ini yang dikatakan Ayah jika hidup Kevin abu-abu. Apa yang dimaksud ayah itu, tentang perjudian? atau jauh lebih buruk. Mungkin jika saat itu aku mendengarkan nasehat ayah, aku tak akan mengalami ini. Mengapa justru Richie mengancam ku dengan keselamatan ayah,


sedang Kevin menjanjikan ku keselamatan ayah dan anak-anakku.'


'Mengapa Tuhan mengirimku ke tempat orang gila. Mengapa cobaan ini tak pernah ada habisnya. Bella... kamu dimana? aku butuh pendengar yang baik sepertimu, kamu sahabat terbaikku, aku lelah Bell...' air mataku berderai jatuh.


Richi melepaskan genggamanku.


Aku bergegas mengelap tangisku.


Tiba-tiba kain halus menempel di hidungku.


"Bukankah sudah ku peringatkan, jangan tunjukan kelemahan mu di depan mereka, Anda akan mempersulit Kevin jika terus begitu, cepat lap ingusmu atau mereka akan melihatmu." bisik Richie dengan penekanan.


Menyebalkan! darimana dia tahu!!


Sebuah kain halus mendarat lagi di pipiku. Tangan kanan Richie memegang kepalaku dan tangan kirinya mengelap kedua mataku, membuat mataku terpejam karena sapuannya. Astaga. Dia memencet hidung dan mengelap ingus ku.


Dia tak mungkin bisa melihat di kegelapan! Hidungku sakit! aku menggeser tangannya.


Dia merebut kain kecil dari tanganku. Dan tubuhnya semakin menjauh. Tak lama cahaya silau mulai terlihat.


Silau sekali. Aku sedikit menutup mata dengan tanganku. Kelima orang itu mulai terlihat. Aku menyesuaikan mataku.


Ku melirik ke kiri. Richie menatap lurus ke depan dengan kaki kanan bertumpu pada kaki kiri dan tangan diatasnya. Pandangannya dingin.


Mataku melirik mencari kain bekas ingusku tadi, tapi tidak ada, apa Richie membuangnya?


Astaga lihat dia. Apa dia sok keren? dasar Psikopat!


Bersambung ...


_______________________________

__ADS_1


Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍



__ADS_2