
Sebuah kesepakatan baru telah dibuat antara Lala dan Ars. Tentu saja, dia mendapat hukuman tidak boleh keluar dari kamar.
Malam itu Damir meminta tidur bersama madam, dan Lala pun tertidur bersama Damir.
Bel kamar membangunkannya, Lala bangun dengan piyama, dia melirik jam setengah satu malam dan turun ke lantai bawah. Mungkin itu pelayan.
Saat pintu terbuka, Matanya melebar, "Kevin?" Lala melongok kanan dan kiri memeriksa lorong, benar perkataan Dima jika Kevin di kapal ini.
Lelaki itu mengulas senyum dan akan memeluknya, tapi Lala mundur menjauh, "jangan sentuh saya."
Bunyi klik pintu tertutup, Kevin dengan kemeja biru pendek dan celana hitam. "Ikuti saya, Babe. Mari kita pulang."
Bergidik, Lala menghindari tangan Kevin, "Huh! hentikan panggilan itu, aku merinding Kevin."
Mere..mas pergelangan tangan Lala, wanita itu terus mengibas. "Dengarkan dulu, Babe."
"Berapa kali harus bilang, pergilah. Ars bisa menangkap mu. Dan jangan sentuh saya, apa kamu tuli! aku jijik Kevin."
Menahan bahu Lala dan mendorong ke tembok, "tidak ada waktu untuk ribut. Saya akan membawamu pulang, dan lalu aku mengurus putraku. Saya tahu dimana Vino, cepat ikut saya. Jangan melawan Babe."
"Jangan memanggil seperti itu lagi. Dan saya tidak bisa pergi, saya berjanji pada Ars, dia akan membebaskan ayah, jika saya tetap menurut." Lala menunduk tidak mau menatap Kevin.
Mengangkat dagu Lala, "dan kamu percaya? apa kamu bodoh?! tidak ada kompromi dalam urusan nyawa. Saya akan mencari ayahmu, percayalah ... hah bukankah saya dulu melindungi ayah mu."
Menggelengkan kepala, Lala lebih percaya pada Ars daripada Kevin yang pernah membohonginya. "Ada putra Ars bersama ku, aku tidak akan pergi."
"Mengapa kamu sangat keras kepala, Ha? Bisa menurut?" Kevin mendengus, rahangnya panas tiap kali harus berdebat.
__ADS_1
"Tidak ada alasan untuk menurutimu," Lala dengan suara serak, meluncur ke bawah dan menyingkir dari himpitan Kevin.
Mengepal tangan kuat, giginya gemertak, wanita itu sulit diatur. Kevin meraih sesuatu dari saku melangkah cepat.
"Dan Richie ada mmmm." Menjejak, Lala menendang, tetapi sesuatu membekap mulut dan hidungnya.
Menahan penolakan Lala, Kevin membiusnya, sampai wanita itu tak sadarkan diri. "Saya sudah sabar, dan kamu susah, Babe."
Menggendong Lala keluar dari ruangan, Kevin dan anak buahnya menuju lantai bawah, dan pindah kapal kecil tanpa ada gangguan.
...***...
Melirik pergantian shift jam satu malam, Richie mengendap masuk lewat jendela balkon. Dia akan membawa pulang Lala. Saat dia masuk ke kamar dia tidak menemukan kekasihnya dan justru menemukan anak kecil tidur di kasurnya.
"Dimana Lala? apa kalian melihatnya?" Richie menghubungi tim lewat headshetnya.
Richie memutar mata dan berfikir, tidak mungkin Risa pergi malam-malam meninggalkan anak kecil. Setelah berdebat dengan dirinya lama, dia memutuskan untuk membawa anak kecil itu bersamanya dan menyerahkan pada anak buahnya di perahu karet.
...***...
Di kapal tugboat berukuran sedang, Daniel duduk di ruang makan, pikirannya melayang jauh pada trauma Ars yang kambuh.
Menyesap kopi, Bela melirik Daniel cuma menatap kosong pada pizza panas. "Kamu belum mendapatkan lokasi Kevin?"
"Dia akan datang dalam tiga hari."
"Lalu Alen?" Bella mengangkat satu alisnya.
__ADS_1
"Kami mendapatkannya."
"Bravo, Daniel!" Dua sudut bibir Bella terangkat, tangannya mere..mas kuat cangkir.
"Aku tidak sabar bertemu Lala. Dia pikir dia siapa, apakah dia pikir ... dia tuan putri?" satu sudut bibirnya terangkat. Meraih bungkus rokok, meraih satu dan menjepitnya diantara dua bibirnya.
"Kau sudah bawa dokumennya, Bell? apa itu asli?" Daniel menatap Bella yang menyalakan pemantik ke ujung rokok.
"Aku tidak pernah mengecewakanmu, kan? Tidak perlu khawatir," Bella meremas filter dengan bibirnya, menarik nafas dan, melemparkan kepala ke belakang, melepaskan aliran pahit tipis ke udara dengan senang hati. Kuat, ya. Tapi lebih nyata, daripada omong kosong rasa yang biasa dinikmati. Bella memasukan rokok lagi, dan menatap mata Daniel dengan sedikit setengah tersenyum.
Hari menjelang fajar, Daniel membersihkan diri dan mengenakan celana kolor, tiba-tiba pintu terbuka dan Bella masuk ke ruangannya dengan pakaian supertipis dan pendek.
"Dannn..."
"Hmm," Ars melangkah ke lemari kecil dan meraih kaos, cepat-cepat memakainya dan beberapa detik kemudian Bella menempel di punggung; tangan; menjalar ke pinggang; dan semakin ke bawah, dan Daniel mencekal tangan wanita itu sebelum menyentuh arena terlarang.
"Keluar Bell, saya harus tidur," melepas tangan wanita itu dari tubuhnya dan melenggang ke dekat pintu, memberi gerakan meminta Bella keluar.
"Ayolah Dan," jemari Bella menyentuh pelan leher dan bahunya, membuat Daniel mual.
"Sorry. Saya gay." Dusta Daniel dan itu bekerja, wanita itu mendengus kesal pergi keluar.
Baru saja mencoba terpejam, ponselnya berdering dari Ars, tak biasanya. Menggeser tombol hijau ke kanan, menempelkan di telinga.
"Artyom! Damir, Lala dan Vino hilang!" Suara teriakan dari telepon menggema. Tangan Daniel gemetar, sampai ponselnya jatuh ke tempat tidur, dia mengambilnya.
"Ars, anda serius? jam berapa mereka menghilang? aku akan melacaknya mungkin belum jauh."
__ADS_1