
Hari minggu hari dimana orang-orang melepas jenuh. Lala yang telah memangfaatkan mata air alami dan membuatnya menjadi tempat rekreasi kolam renang, dengan dua kolam besar untuk orang dewasa dan dua kolam berukuran sedang untuk anak-anak.
Uang dari tabungan ayahnya benar-benar harus diputar Lala, agar dia bisa menghidupi diri dan anaknya.
Lima bulan pembuatan di bantu warga setempat, akhirnya pembuatan kolam telah selesai dan tinggal acara pembukaan.
Para tetangga sibuk untuk turut jadi panitia acara opening besok. Selama seminggu kedepan, kolam renang dibuka gratis untuk semua orang. Kesempatan itu digunakan para tetangga meningkatkan jumlah dagangan mereka.
Malam itu jalan di depan rumah, sepi. Tak seperti biasanya.
Lala yang masih sibuk di depan laptop menghubungi teman-teman kampusnya di Cambridge, tiba-tiba dibuat khawatir karena ketukan pintu dan bunyi Bel malam itu.
"Siapa yang bertamu jam 11 malam?" Lala dengan ragu mendorong kursi tempat duduknya dan melihat cctv. Lala mengamati dengan teliti, masih tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya, "Tuan Richie? astaga kenapa malam-malam."
Lala mondar-mandir di depan cctv memegangi hpnya, hendak menelpon keamanan setempat tak enak malam-malam. "Dari mana Richie tahu aku disini?"
"Tak usah aku buka lah, nanti jadi masalah."
"Lala!!!" teriak Richie sampai kedengaran ke dalam rumah.
"Mana dia teriak lagi, bisa-bisa dia dipukuli bapak-bapak."
Lala hendak ke pintu tapi balik lagi. Tidak yakin. Sesaat mengamati cctv, Richie terlihat jatuh tapi bangun lagi.
Setelah satu jam berlalu Lala masih di depan cctv. Lelaki itu tak kunjung mau pergi. Di luar mulai hujan. Lala tidak tega, mau tidak mau, ia membuka pintu.
Pintu baru terbuka dan Richie langsung terjerembab ke belakang, "Richie? bangun... " Lala menepuk-nepuk pipi Richie. Bau alkohol begitu kentara di mulutnya.
Dengan susah payah Lala menyeret dua tangan Richie di sepanjang lantai. sampai ruang tengah. Lala terjatuh ke belakang saking capeknya menyeret orang itu.
Pintu ruang tamu ditutup. Lampu ruang tamu yang biasa nyala dimatikan. "Wah, kalau sampai pak RT liat ini, bisa-bisa aku diusir dari kampung ini." Gerutunya, merasa cemas dengan peraturan ketat di kampung itu.
Kasur dihamparkan diatas tikar. Lala kembali menarik tubuh Richie ke kasur lantai. Keringat Lala sudah bercucuran hanya memindahkan Richie. "Kenapa badanmu panas?"
Lala berjalan ke dapur untuk merebus air, kemudian di campurkan air dingin sampai suam-suam kuku, dia mulai mengompres kepala Richie.
__ADS_1
Bajunya Richie yang semi basah, mau tak mau, Lala melepas kemeja Richie. Begitu terlihat jelas otot-otot keras perut dan dada Richie.
Lala tidak memiliki baju pria, karena itu dia hanya menutupi Richie dengan selimut. Lala memasukan baju Richie ke mesin cuci. Sesekali mengganti kompresan Richie dan sesekali kembali ke laptop Lala.
Lala sampai ketiduran di kursi depan Laptop, terbangun karena tangisan Vino yang minta susu.
"Anak mama aus ya, bentar, cup cup cup." Lala menimang-nimang dalam gendongannya, sambil mengambil baju Richie dari mesin cuci dan menjerengnya di ruangan samping.
"Jangan menangis ya nak, ibu disini," katanya kembali ke kamar dan mengunci pintunya. Lala mulai menyusui Vino sampai dia ketiduran.
Keesokan harinya Lala terbangun karena jam weker jam 5 pagi. Vino masih tidur, dia cepat bergegas masak.
Lala heran kenapa dia mengunci pintu saat akan berjalan ke kulkas, dia sampai lupa ada Richie di rumah ini. Dia kembali lagi ke ruang tengah, kembali mengecek suhu badan Richie lewat mulut, dan mengambil kain kompresan. "Aduh masih demam."
Jam berlalu, hari mulai terang Richie mulai membuka mata dengan kepala sangat pening, dia bingung sedang di tempat siapa. "Kemana pakaianku?" gerutu Richie saat duduk, bau wangi masakan tercium di hidungnya, dan suara orang sibuk dengan wajan.
Richie bangkit dari kasur lantai menghampiri asal suara. Terlihat seorang wanita tengah mengaduk panci dan mencicipi di tangan.
Wanita itu membuat Richie terpaku, 'sepenting apa wanita ini di masa lalu saya? mengapa selalu membuat saya penasaran.'
"Hei itu memotongnya tak seperti itu," ucap Richie spontan, membuat Lala melebarkan mata.
"Kamu sudah bangun?" tanya Lala melirik sebentar dan kembali memotong sayurnya.
"Ini seperti ini." Richi berdiri di belakang Lala. Kedua tanganya menuntun tangan Lala, "tekuk ini ke depan untuk sanggahan, dengan begini kamu takkan memotong jarimu."
Dada Richie begitu hangat kentara di punggung Lala, 'ini terlalu dekat,' batin Lala jadi salah tingkah, sampai dirinya sulit bergerak takut saling bersenggolan.
Richie terdiam, dia merasa tidak asing dengan momen ini, dia bertanya-tanya apa ada hubungan spesial dengan Lala di masa lalu.
Semua video yang Richie lihat pada rekaman cctv seputar Lala dengan dirinya masih belum bisa dipercayai Richie.
"Ayunkan ebih cepat, pada bagian belakang pisaunya, mudah kan ... ke atas dan ke bawah, itu lebih efisien dalam menggunakan pisau," kata Richie, dua bibirnya terangkat, dia tersenyum, hatinya entah mengapa menghangat.
"Saya akan melakukan ini sendiri, Tuan Riche, tolong adukan bubur itu," pinta Lala, mencari alasan, agar dirinya bisa bernafas. Terlalu dekat Richie membuat hatinya tak tenang.
__ADS_1
Bubur itu diaduk Richie, dia mencicipinya, "apa ini untuk saya?" tanya Richie yang masih bertelanjang dada.
"Iya, untuk anda, apa kurang sesuatu?"
"Saya mau jagung dan wortel dan bayam."
"O, sebentar." Lala berjalan ke kulkas mengambil apa yang diminta Richie, "apa anda telah mengingat cara memasak? atau sudah kembali menjalani hobi memasak?"
"Apa saya hobi memasak?" tanya Richie balik, mengupas jagung.
"Ya, anda sangat hobi memasak, itu anda begitu cekatan..."
Lala menyalakan kompor satunya dan mulai menuangkan minyak.
"Entahlah, ini hanya insting, saya masih belum bisa mengingatnya. Membuat saya frustasi." Richie mengupas wortel. Sementara Lala mengecilkan api pada panci bubur.
"Sejak kapan anda masuk negara ini? " Lala mulai mengoseng bumbu.
"Dua bulan..." Richie mulai memetiki segenggam bayam.
"Lalu dimana anda selama ini, mengapa bisa tahu tempat saya? anda tidak memberi tahu siapa-siapa kan." Lala memasukan sayuran dan menutup wajan.
"Di dekat sini, tapi saya kecopetan, hp dan dompet saya raib." Richie mencuci sayurannya, dan menerima talenan dari Lala.
"Copet? saya yakin anda jauh lebih jago bertarung dari pada dicopet." Lala memasukan garam, penyedap, dan mengaduk capcaynya.
"Kan, saya mabuk, jadi saya kecopetan."
Lala tertawa
Richie melirik Lala yang terlihat tanpa beban itu, wanita itu jauh terlihat sumringah dari pada dulu saat dengan Kevin. Richie memasukan sayuran ke dalam bubur, "jadi, bisakah selama beberapa hari ini, saya ikut tinggal disini?"
Lala mematikan kompor yang memasak capcay, dia menoleh ke kenan, menatap manik hitam, "bukannya saya tidak mau, tapi di negara ini ada aturan tak tertulis yang tidak boleh kita langgar. Dilarang orang yang belum menikah tinggal satu rumah_"
"Yaudah kita nikah saja," kata Richie. Dia kelepasan ngomong, dan kembali melihat bubur, lalu mengaduknya.
__ADS_1