
Kevin dan Lala sudah di Rumah Sakit, saat ini mereka menunggu panggilan.
Lala terus menggenggam tangan Kevin, Ia merasa sedikit gelisah dan deg-degan.
Beruntung dokter kandungannya juga bisa bahasa yang sama dengan Lala, Lala bisa bertanya-tanya hal penting.
"Kapan terakhir anda kontrol kandungan?" tanya dokter.
"Saat kandungan umur delapan minggu dok." Lala memberikan hasil usg kontrol sebelumnya.
"Silahkan berbaring," ucap dokter.
Lala telah berbaring, menaikan kaosnya dan menampakan perut mulusnya. Suster mengolesi gel di perut Lala. Lala merasakan sensasi dingin di perutnya.
Kevin yang melihat itu ikut gelisah, gugup dan cemas, Ia melihat perut Lala yang yang telah membesar, dia masih saja kaget, walaupun ini kedua kalinya dirinya melihat secara langsung perut Lala yang tanpa ditutupi kain, dan terlihat sudah membesar itu.
"Anak pertama ya? wajar Anda merasa cemas," ujar dokter itu. Kevin hanya tersenyum tipis, Ia terlalu fokus dengan rasa cemasnya.
"Baik mari kita lihat ya," tangan dokter mulai menggerakan transdusernya. Dokter meminta Lala mengubah posisinya.
"Wah! selamat kalian mendapat dua hadiah."
"Maksud dokter?" tanya Kevin meghampiri dan berdiri di ujung kaki Lala lalu melihat layar monitor.
"Ada dua janin, yang sedang tumbuh di rahim Ibu."
"Apa?!" Lala dan Kevin bersamaan terkejut tak percaya.
Bagaimana hasilnya bisa berbeda dengan pemeriksaan pertama.Batin Lala dan Kevin.
Dokter menjelaskan detail gambar di layar monitor.
"Tidak terdeteksinya kehamilan kembar bisa jadi karena posisi bayi tersembunyi saat dilakukan USG pertama. Misalnya, salah satu bayi berada di belakang saudara kandungnya atau menyelinap ke salah satu celah rahim."
"Namun, bayi anda kemungkinan berbagi kantong ketuban. Kita tunggu beberapa minggu lagi, berharap kita bisa menemukan selaput pemisah, ini masih awal kemungkinan membran masih sulit di deteksi."
"Normalnya bayi kembar memiliki kantung ketuban dan plasenta sendiri-sendiri. Bila kita tidak menemukan membran yang memisahkan kantung cairan ketuban si kembar, benar ini akan berisiko. Bayi-bayi itu monoamniotic-monochorionic atau biasa disebut kembar momo, ini membuat kedua bayi berada dalam satu plasenta yang sama.
Kondisi ini memiliki risiko tali pusat bisa kusut, kelaparan, atau bahkan mencekik satu sama lain.
Datanglah tiga minggu lagi, nanti Ibu akan dipandu ke dokter spesialis kehamilan beresiko, selalu kontrol rutin ya, Ibu. Vitaminnya harus rutin diminum."
Lala berjalan di papah Kevin, mereka masih kaget, karena bayi dalam perut Lala kembar dan tidak terdeteksi di pemeriksaan pertama.
Terlebih yang membuat mereka sedih dan menjadi pikiran karena bayi kembar ini dalam satu kantong plasenta. Ujar dokter semakin besar kandungannya semakin beresiko.
Lala masih tak bisa percaya dengan apa yang baru di dengarnya, pantas nafsu makannya banyak sekali, pantas ia sering pingsan, pusing, dan mual yang berlebihan, ternyata ini jawaban dari semua keluhannya selama ini. Dua??? bagamaina dia bertahan kedepan, bagaimana bayi-bayinya bisa bertahan dalam satu plasenta.
Dan juga yang menjadi beban Lala karena belum mengabari ayahnya atau Johan yang seharusnya tahu hal ini.
**
Mereka telah di perjalanan. Kevin masih termenung dengan apa yang harus dilakukannya ke depan. Tugas kuliahnya mulai banyak, ia tak bisa selalu di samping Lala.
Padahal kondisi Lala sekarang harus lebih mendapatkan perhatian. Sedangkan Lala terus mengeluh minta menghubungi ayahnya, padahal Alen menghilang, berkali-kali anak buahnya datang ke kantor Lewis, Alen tak pernah terlihat.
Mereka sampai di rumah asri cantik halaman luas.
"Sayang, mengapa kita kesini?" Lala turun setelah Kevin membuka pintu mobil dan berhenti sebuah halaman rumah.
"Rumah di Clarkson Rd sedang di bersihkan dari hama. Sementara kita tinggal disini ya,"
"Tapi ini jauh dari kampusmu kan sayang?"
"Apapun demi kamu, ayo masuk," Kevin mulai menggandeng Lala, Gadis itu sudah terlihat mulai kesulitan jalannya.
Mereka masuk ke rumah itu, beberapa pelayan menyambutnya. Kevin mengajak Lala duduk di ruang keluarga, dan pelayan kembali pada pekerjaannya.
__ADS_1
"Pegal?" Kevin menarik kedua kaki Lala di pangkuannya, ia mencoba memijit kaki yang terlihat bengkak itu.
"Huum, pelan-pelan." Lala yang terbaring di sofa memandang Kevin yang tengah memijat kakinya. Terlihat Lelaki itu tampak banyak pikiran, apa kehamilannya jadi beban untuk Kevin? "Kevin, maaf aku banyak menyusahkanmu."
"Menyusahkan apa? kenapa berbicara begitu? apa pacarmu ini tidak boleh melakukan segala hal yang terbaik? Kamu saja yang tidak peka," ucap Kevin.
"Bukan begitu yank, maksud aku kan agar kamu bisa memprioritaskan kuliahmu dulu."
"Oh, jadi setelah aku lulus, artinya kamu mau menikah denganku, begitu?"
"Yup!" jawab Lala mantap. Tidak ada alasan untuk menolak menikah dengan pria imut ini, asalkan Kevin lulus terlebih dulu.
Terlihat Pria itu selalu sopan kepadanya, sekalipun kadang keras kepala, memaksa dan suka emosi, tapi kembali lagi alasan di balik itu semua karena pacar gantengnya itu tidak mau hidup sendirian. Lala mulai memahami Kevin, jika Kevin sedang berusaha melindunginya, walaupun belum sepenuhnya lelaki itu terbuka padanya.
"Kamu melamun apa?" tanya Kevin mengelus perut Lala.
"Ayah."
"Sayang, kamu harus sedikit menunggu. Nomor ayahmu masih tidak aktif, aku sudah minta orang untuk mencari tahu," ujar Kevin sambil memegang-megang perut Lala.
Terlihat Lelaki itu selalu penasaran saat memegang kekencangan perut Lala.
"Kevin, sebenarnya ... terakhir aku menerima telepon ayah, ayah bilang pergi dengan Johan. Pasti Johan tahu keberadaan Ayah, yank."
"Begitu ya? kamu siap menelpon Johan?"
"A-Apa! apa yang kamu bilang tadi? ulangi sayang!" Lala sepertinya salah mendengar, Ia berusaha duduk, Kevin membantunya bangkit. Lala duduk mepet pacarnya. "Tadi, apa yang kamu katakan?"
"Kamu siap menelpon Johan?" tanya Kevin dengan tenang, Netranya menyorot penuh kasih sayang.
"Aku boleh menelponnya?" tanya Lala, matanya berkaca-kaca, terharu.
Lelaki itu mengangguk. Pelayan tiba-tiba masuk dan mengantarkan tas kecil yang lalu di terima Kevin. Kevin mengambil ponsel dari tas kecil itu dan memberikannya di tangan Lala.
Lala menunduk melihat ponsel yang kini dalam genggamannya, ia masih tak percaya, setelah beberapa bulan Kevin bersikeras melarangnya.
"Kamu boleh menghubungi orang-orang yang kamu kenal, terkecuali semua orang yang terdapat di resto bekas tempatmu kerja. Dan kau juga tak boleh menghubungi Luca. Paham?"
"Apa yang Kau pahami? yang mana!?" tanya Kevin mendekat ke wajah Lala.
"Aku tak boleh menghubungi 'orang-orang resto' dan juga tak boleh menghubungi mas Luca. Benar kan?"
"Betul. Kau harus memegang janjimu, jangan meninggalkan aku, Ya?"
"Ya, Janji kita akan selamanya. kamu juga harus berjanji, tidak membiarkan Nana menyentuh-nyentuh dadamu itu." Lala bibirnya mengerucut.
"Nana yang mana, sayang?" Kevin melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lala.
"Nana teman kampusmu lah, emang kamu punya Nana yang lain?"
"Nana? Nana mana ya? aku bahkan nggak ingat siapa yang kamu maksud."
"Apa terlalu banyak wanita di sekitarmu, sayang? hah! Yang waktu setelah aku operasi rahang, kamu mengajak ku ke Mall, lalu cewe kecentilan datang memegang-megang kamu." cicit Lala semakin mengerucutkan bibirnya, wajahnya semakin cemberut.
"Ah, pacarku ini cemburu ya!?" Seringai Kevin.
"Siapa bilang? gak kok!" jawab Lala dingin.
"Oh ga cemburu ya? berarti gak apa-apa ya kalau mereka manja-manja ria menggodaku?"
"Kevin! seneng ya kamu di goda-goda para cewek!" garang Lala mencubit perut Kevin berkali-kali.
"Auw! Auw! Auw!!! sakit sayang!" ringis Kevin menahan kedua tangan Lala.
"Jadi kamu nggak cemburu?" tanya Kevin Lagi, menatap Lala.
Lala menggeleng kepala dengan wajah masam.
__ADS_1
Mata Lala saat ini terlihat begitu seksi di hadapannya, ingin sekali Kevin mengecup bibir Lala.
"Kamu gak cemburu. Jadi, kamu gak cinta dong, sayang?" tanya Kevin beralih menatap netra biru-langit Lala.
"Maunya gimana? gimana, kalau aku gak cinta?" tanya balik Lala yang matanya semakin sayu.
Kevin yang menatap sorot mata Lala semakin mendekatkan wajahnya. "maka, aku akan membuat kau ... cinta! dan membuat kamu tidak akan pernah bisa melupakan aku."
Jempol Kevin mengusap bibir Lala, merasakan kelembutannya. Dia memandang Lala lagi. Cukup lama mereka saling bertatapan, dengan tangan kiri Kevin di punggung Lala.
Kevin melihat bibir Lala yang menggigit bibir Lala sendiri, membuat bibir sensual itu terlihat semakin basah mengkilat. Kevin yang melihat itu, tergugah, Ia sangat merindukan ciumannya bersama Lala, namun Ia lebih tak berani melanjutkannya.
Kevin dan Lala, nafas mereka mulai memburu walau hanya saling bertatapan dari dekat, deruan hangatnya nafas saking menyapu pipi mereka.
Kevin menjauhkan kepalanya, menahan keinginannya.
Namun gadis itu menahan kepala sang lelaki, tak mengijinkan Kevin menjauh. "Mengapa kau selalu menghindari ku? apa kamu sekarang jijik kepada ku yank?"
Kevin menggelengkan kepalanya, mengapa pacarnya itu justru berpikiran jauh seperti itu, Ia hanya berusaha menghormati Lala selama ini.
"Lalu mengapa kau tak pernah memulainya lagi?"
"Memulai apa?" tanya Kevin gugup saat pacarnya itu menyentuh bibirnya.
"Kenapa kau masih berpura-pura tidak tahu, mengapa kau selalu memberikan aku harapan, seakan-akan kamu akan mencium ku, lalu kamu tiba-tiba menjauhiku dan membatalkan niatmu setelah memancingku?" Lala menggoda mengusap bibir Kevin, sama persis dengan apa yang sering Kevin Lakukan.
"Sayang, bukan begitu maksudku."
"Lalu mengapa kau tak pernah menciumku lagi kalo bukan karena jijik!? coba sekarang cium aku!" kesal Lala.
Kevin memandangi wajah Lala lama, lalu bibir sensual Lala.
Ia mendekat ke wajah ayu Lala namun begitu bibirnya akan menempel ke bibir Lala, refleks kepalanya menjauhi Lala.
"Sayang," pangil Lala dengan lembut, membuat Kevin menatap Lala saat gadis itu kini duduk di pangkuannya.
Kenapa pacarnya menjadi agresif si?. Batin Kevin
DEG
Kevin membelalakkan mata saat gadis itu mendekatinya dan meraih bibirnya dengan bibir sensual dan hangat Lala dengan rakus.
Bibir gadis itu menyapu bibirnya dengan nafas yang memburu.
Lala sedikit mengerang membuat pikiran Kevin jadi menggila.
Setelah dia mencoba menahan-nahannya, pertahanannya pun runtuh. Sang lelaki dengan wajah seksi itu pun membalas ciuman sensual Lala.
Ciuman yang sudah lama tak di dapatkannya setelah di villa milik ayahnya di pantai. Itu sangat lama. Lenguhan suara Lala, membuat darah Kevin mendidih, Ia memejamkan mata menikmati desiran-desiran yang dirindukannya, aroma vanila Lala yang selalu dirindukannya.
Dia memainkan lidah Lala yang terus menantangnya, liurnya terasa manis, nafas kami memburu jadi satu, hawa panas mulai menyelimuti badan kami.
Kevin mere mas rambut Lala badan mereka semakin dekat, Kevin bisa merasakan kehangatan perut Lala yang besar yang bersentuhan dengan tubuhnya.
Tangan Gadis itu memeluk tubuhnya, meremas punggung kekarnya, bahkan tangan gadis itu kini mere mas rambut Kevin. Kevin benar- benar telah terpancing.
Dua sejoli yang telah di bakar asmara itu sudah tak mempedulikan aktifitas mereka di ruang keluarga, toh Kevin juga melarang para pelayan masuk sembarangan.
bersambung ...
____________________________________
Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.
Simak BAB selanjutnya🔍
Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘
__ADS_1
Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.
Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.