
Jari-jari keras Daniel mencakar dan membelai rambutku hingga aku makin tenggelam diantara dua dadanya. "Masuk area terlarang, bagaimana anda bisa?"
Saya mengumpulkan sisa kekuatan dengan mencengkram pinggang daniel, lelah fisik dan mental. "Saya -"
"Lala, bukan saatnya main-main. Vino menunggu mu."
Seketika saya mendapat sedikit kekuatan untuk bertahan karena nama Vino. Hati berdenyut oleh kerinduan yang menghantuiku akan kedipan mata, hidung mungilnya dan ocehan lucu Vino. Kerinduan menggigit, sakitnya sampai titik di bawah tulang rusuk.
"Lala?"
"Hanya mengambil tumbler jatuh. Saya belum sepenuhnya mengerti, ketika lantai bergetar dan makin turun. Saya begitu takjub disaat itu dan waktu berlalu ketika saya sudah terjebak di dalam besi bergerak."
"Dimana tumbler nya?" tangannya menekan kepala saya menghadap atas, lalu menyelami ke dalam mata saya.Saya menjilat bibir keringku.
Netra hijau zamrudnya menghunus, hingga aku tidak tahan dan membuang muka.
Dia menggeser wajahku untu memghadapnya. "Apa itu masuk akal?" suara bergetar menggema di ruang sempit.
Satu alisnya terangkat. "Anda selalu memegang tumbler di tangan?"
Saya mengangguk perlahan.
"Lalu anda terjebak di dalam lift bersama tumblernya?"
Saya mengangguk.
"Lalu anda di lift sampai saya menemukanmu?"
Saya mengangguk sangat pelan, saya sempat turun lift, oh setengah bohong.
"Apa anda melempar tumblernya?"
Saya menggeleng kuat.
"Anda bisa bermain sulap? hingga bisa menghilangkan tumbler? atau anda berbohong karena ketahuan mengendap-ngendap, seperti pencuri?" Ujarnya dengan sarkasme, dia meringis hingga gemertuk giginya membuat saya merinding.
"Tidak chef! saya mengambil tumbler. Hanya Tumbler jatuh dan saya berniat mengembalikan," saya membayangkan saat mengambil tumbler itu di kamar Ars.
"Saya hanya mengambil tumbler di kamar itu" kata saya merasa tertekan, hingga sudut bibirku membentuk lengkungan ke bawah membentuk kesedihan.
"Saya tidak menuduh anda mengambil yang lain kan?" tanya Daniel, dan saya berhati-hati agar tidak terjebak dalam pertanyaanya.
"Lala, saya tidak peduli jika Anda mengendap masuk ke tempat ini. Namun, jika Ars tahu maka tidak akan memaafkan hal ini, kau tahu kan!?"
Membeku, menelan benjolan kengerian di tenggorokan saya, dada saya berdenyut sakit.
Tempat ini adalah neraka!
Daniel menghela nafas kasar. "Oke. Apapun yang anda lihat hari ini, buang dan jangan pernah mencoba mengingatnya. Jangan menceritakan ini pada siapapun, termasuk Ars."
Mengangguk lemah, membayangkan tempat penuh darah di beberapa tempat ... membuatku kehabisan tenaga dan membuat saya mual.
"Bahkan anda masih berbohong pada saya ya," gumam Daniel sangat lirih dengan nafas kekesalan.
Kepala saya terasa digerus oleh mesin penggiling yang tidak terlihat. Bohong!? saya tidak seperti itu. Tidak! Tidak! Saya hanya tidak menceritakan ruangan itu. Dan itu bukan bohong
Saya menggigit pipi bagian dalam, memindai memori ingatan gambaran meja penuh berkas dan meja cctv. Saya berharap jika tumbler tidak ada di sana.
__ADS_1
Daniel diam dan enggan menahan tubuh saya, semua tangan berotot itu pindah ke samping paha.
Bersandar di dada keras Daniel, saya mengencangkan tautan jemari saya yang terus mengendor karena lemas di pinggang belakang Daniel. Saya memeluk pinggang Daniel. Saya lelah selalu mendapat masalah.
"Chef, jika anda marah ... " sebetulnya saya sangat ingin menceritakan, tapi mungkin ruangan itu disembunyikan Ars dari siapapun.
Terlebih, saya tidak tahu hubungan Ars dengan Daniel.
Deguban jantung pria ini keras di telingaku, seperti gendang, setidaknya suara jantung keras itu menguatkan ku, bahwa saya tidak sendirian saat ini.
"Tolong, bawa aku pulang, tolong," keluar dari jeritan hati terdalam.
"Anda akan pulang saat pertukaran. Dengar. Bertahan ya sampai 'pengangkutan'."
"Pertukaran?"
"Ya, tentu saja. Ars akan menukar dengan sesuatu. Jadi, jangan buat masalah. Mulai belajar menghargai keselamatan anda. Kau akan habis bila Ars terus menghukum mu."
Daniel menggendong saya saat di kamar Ars, setelah dia memeriksa tidak ada orang disana.
Seragam, masker, kacamata dilucuti Daniel dari tubuhku, wajahku memerah karena aroma amoniak kuat di antara kami, maaf Chef, ini memalukan.
Daniel mencongkel penutup tangki - kloset duduk- , lalu membenamkan seragam dan menyembunyikan di sana. Semoga Ars tidak mencurigainya.
"Ingat Lala, jika Ars bertanya. Jawab saja kamu sedang di kamar mandi dan aku tiba-tiba masuk mengganggu mu."
Mengerutkan alis, saya bertanya-tanya, dan kemudian tetap mengangguk.
Saya menyingkirkan kata-kata buruk Kevin soal Daniel dari kepala saya.
Daniel hanya mencoba membantuku dari kesulitan. Harapanku saat ini..Hanya pada Daniel dan Dima.
"Chef, mengapa anda membantu saya?" tanya saya bingung.
"Bukankah dulu saya pernah bilang. Kita harus saling membantu ya, kan?"
Saya mengangguk patuh.
Pria itu menatap lembut sambil duduk di ujung bathub, saya menutup bagian paha saya yang basah, dan dia tersenyum hangat seakan mengasihani saya, sejujurnya saya benci dikasihani.
"Lala, saya bukan chef lagi, hanya mantan. Daniel saja, saya senang cara Anda memanggil saya tanpa embel-embel."
Saya mengangguk tetap saja sulit, "Chef, saya tidak bohong, saya beneran tersesat dan masuk ke lift tanpa sengaja, dan apa untungnya saya berkeliaran jika hanya membuat Ars marah, kan?"
Daniel beralih menatap lantai kamar mandi. "Itu aneh, kami para lelaki menggunakan logika. Lain kali cobalah memikirkan sesuatu yang masuk akal ... baru menjawabnya."
Mata Daniel melirik kiri atas, seperti mencoba mendengarkan sesuatu.
Tiba-tiba Daniel melompat ke bathtub. Dia berlutut di antara kaki saya.
Mataku melotot saat Daniel menarik kedua sisi piyamaku, secara alami aku menahan tangan Daniel, agar -melepaskan cengkramannya- dari baju ku.
Mata ku menangkap dengan jelas seolah dalam gerakan melambat, bagaimana kuatnya tangan besar itu menggaruk kancing, membedah. Dan kancing-kancing terlepas lalu terpental.
Menampilkan b.r.a pink dan perut saya, ditambah cela..na da..lam pink sedikit mengintip di celana piyama merah.
Saya berusaha menarik pinggiran baju saya dengan hembusan kemarahanku, ketika dua tangan Daniel tetap menahan kedua tanganku tak mengijinkan aku menutup perutku.
__ADS_1
Cekalan melingkari pergelangan tanganku begitu menyakitkan, bulir air mata lolos begitu saja, saat udara dingin menyentuh permukaan dada dan perut saya.
"Kamu, ketakutan sampai mengompol, ja*lang?" menggonggong, dengan nada sangat mengejek.
Dadaku mendidih karena kata-katanya aku meludah pada wajah Daniel saat lelaki itu mengedipkan mata nakal, tatapannya membuatku jijik, terlepas kita sedang berakting, dia keterlaluan.
"Menyingkir! Dani-" Dia langsung membekap ku dan aku mengarahkan pukulan lutut pada telur daniel.
Itu tak sampai.
Lelaki itu menahan paha saya, kaki besarnya menindih kakiku, nyeri.
"Tyoma!!!!" suara Ars.
"Lepp--!" Saya bergidik kketika Daniel mengendus leher.
Ketika mulut saya sedikit terbebas dari tangan Daniel, "Ars! tolong saya!"
Saya sejujurnya, memang sesenggukan gemetar karana tidak tahan oleh kengerian ketika Daniel menjilat dan menggigit kulit di bawah telinga saya.
"Tyoma!!!" Suara bariton Ars bergetar.
Dapat saya tangkap bagaimana cara Ars menjambak rambut Daniel sampai lelaki itu terjengkang ke ujung bathub.
Daniel tertawa menyingkirkan tangan Ars yang akan memukul. Ketika Ars akan memberi pukulan dengan tangan lain, Daniel juga menahannya.
Saya tidak mengerti hubungan di antara mereka walau dalam sorot kemarahan mereka satu sama lain. Saya tahu Daniel hanya berakting menganggu saya, tapi saya tak menyangka dia sampai merusak pakaian saya, apa saya harus berakting menghajarnya di depan Ars?
"Lihatlah kelinci Anda, dia mengompol. Dia ketakutan sampai mengompol pffhh!! Ha.. haa...haa.." cibir Daniel sambil tertawa terpingkal-pingkal lalu meninggalkan kami. Bagaimana bisa dia tertawa seperti itu?
Cibiran Daniel membuat Ars melirik daerah paha saya, yang tercetak jelas basah, dan aroma amoniak masih sangat kentara. Entah mau di taruh dimana wajah saya,memalukan.
"Anda aman-" ucapan Ars terhenti ketika netra itu bergeser naik ke atas menatap area dada saya. Matanya melebar penuh, dalam sepersekian detik.
Saya menunduk, lantas menyatukan piyama yang terbuka, rapat-rapat menutupi dada saya. Ars sempat melihat b.r.a dan perut saya.
"Hei."
Saya mendongak oleh panggilannya ketika tangan Ars telah mengulur, di depan kepalaku. Mungkin dia akan membantu saya berdiri.
Saya lebih mendongak dan menangkap tatapan Ars yang terpaku.
Beberapa detik berikutnya, dia menarik lengan bertato itu, dan berdiri tegap, jemarinya meremas. Dia membatalkan bantuannya?
Dapat ku tangkap guratan bulu keriting, di jari bertato : warna hijau daun, dan merah.
Dia telah menariknya tangan kembali, dan aku semakin bingung ketika dia berbalik dan pergi. Pintu tertutup.
Saya menghembus nafas kasar, sesuatu mengganjal di cela..na da..lam, saya mengambil. Peta itu sedikit basah, dan tintanya jadi mengabar. uh pesing.
Ceklek- suara pintu terbuka dan seketika saya menyelipkan peta dibawah paha. Jantungku berdebar kencang dan dingin merayap di bawah kulit.
Saya kembali mengeratkan piyama yang sudah tidak bisa dikancing. Mendongak menatap Ars yang menjinjing paper bag biru, berukuran sedang. Wajah Ars bahkan tak berekspresi, kaku, memyeramkan dan tak terduga.
Dia datang mendekat dengan yakin dan meletakan paper bag di samping westafel. Kemudian melirik ke arah saya, di pantulan cermin.
Saya membeku ... jangan sampai Ars kesini dan menjadi tahu bila aku membawa sebuah peta.
__ADS_1
"Bisa mandi sendiri?" tanya Ars.
Saya mengangguk lemas. Apa ada alasan untuk tidak bisa mandi sendiri?