Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 170 : MALAM LYDIA


__ADS_3

Siang itu udara di kota sejuk, di parkiran Amber dan Lydia turun dari mobilnya di restoran yang sedang ramai.


Kacamata di kepala mereka semakin menunjang tampilan mereka, orang-orang di sekitar pun dapat menebak dua gadis itu wisatawan dari kota besar, yang melangkah dengan anggun di parkiran restoran dengan rambut halus yang melambai tersapu oleh angin.


Lydia pecinta fashion, karena itu dia seorang designer, bodynya yang seperti buah pear itu mengenakan atasan Off-shoulder warna biru yang memamerkan bahunya dan celana putih sebetis dan sepatu hak bening bertabur gliter silver. Rambut sepunggung itu setengah di curly , bibirnya menggunakan lipstik warna nude serta jarinya-jarinya yang lentik dihiasi oleh cat kukus lukis. Dia selalu sibuk dan gawai, tas merek chanel dengan sebagian rantai pada talinya.


Sedangkan Amber, mengenakan Halter Top putih dan celana bermotif vertikal orange-putih dan sandal flate orange dengan tampil Chic. Dia memasukan kunci mobil ke dalam tas slempang biru sambil berbicara di telepon. "Ayah disebelah mana?"


Sepoi angin menerjang rambut dua gadis itu, siulan dari pemuda terdengar saling bersahutan. Amber melirik sedikit, dia melambaikan tangan pada sekelompok pemuda yang terlihat seperti serigala lapar itu dan mengedipkan mata.


"Hei, kau jangan membuat ulah, ayah sedang ada proyek," ujar Lydia setelah Amber mematikan telepon.


"Ah lihat saja, apa mereka berani, bila mereka kemari aku baru menghajarnya."


Lantunan musik traditional di beranda restoran menyambut kedatangan mereka, yang mana nuansa 'Bali' begitu kental.


"Lydia, kalau jalan lihat depan dong, kamu bisa menabrak," seru Amber pada Lydia yang terus melihat gawai, dimana restoran itu banyak pengunjung berseliweran.


Blak! Amber melirik asal suara. Cewek yang wajahnya tertutupi oleh rambut pendek yang begitu terawat, dengan gaun pantai bermotif bunga. Ketika cewek itu akan mengambil hp, justru isi tasnya tumpah semua.


Ceroboh... Batin Amber.


"Sebentar." Lydia berhenti sejenak, menggulir layar tablet, mencari alamat email calon klien manakala Amber ikut berhenti mengamati wanita yang mengumpulkan barangnya. Amber tahu make up terbatas yang berceceran itu hanya dijual di inggris.


Ditempat ini ada yang mengerti fashion juga? Wah lihat boneka rumah itu, kan itu sauvenir Patagonia-Chile. Keren juga bukan orang sini, sepertinya.


Lydia memasukan gawai ke tasnya. Dia melirik Amber yang mematung ke arah seorang wanita. "Ayo," menarik tangan Amber, melanjutkan jalannya.


Lala menoleh ke kiri, dia merasa ada yang mengamatinya, apa hanya perasaanku saja?


Setelah barang berceceran itu dimasukan semua dalam tas, tiba saat giliran Lala, dia segera memberikan kartu debitnya dan membayar makan siang itu termasuk dengan apa yang dimakan pak Zayn. Dia tidak mau memilki hutang budi apapun, walau sekadar makan siang. Hal itu sudah biasa, Pak Zayn juga tidak masalah karena terbiasa dijamu.

__ADS_1


Di bagian restoran lain. Johan sedang memesan makanan tepat saat Lydia dan Amber baru tiba.


"Dari mana saja sih, sibuk sendiri, ya? masa ayah ditinggalin."


Pak Bupati tertawa melihat putri Johan yang tidak jauh berbeda dengan putrinya yangmana hobi jalan-jalan, "begitulah anak bila sudah besar, mereka selalu sibuk sendiri."


"Itu Amber, tiap hari memaksaku ikut ke Boom Waterpark cuma karena ingin bertemu si pemilik, kurang kerjaan!"


Johan dan Pak bupati tertawa melihat Amber yang mencubit Lydia dan berusaha menarik rambut Lydia, karena mulut embernya.


"Apa sudah bertemu? memang apa sih yang membuatmu penasaran, Amber?"


"Belum ayah, wanita itu tidak pernah ada di tempat. Amber hanya penasaran."


"Kamu kesana pagi ya? dia pasti tidak di rumah," sahut pak Zayn.


Johan melirik pak Zayn, lelaki itu semangat sekali bila bercerita sang pemilik Boom Waterpark, sudah beberapa kali Johan menjadi tempat curhat pejabat itu.


Johan menatap lembut putrinya, "Amber, untuk apa sih?"


"Bila kamu datang lebih awal kemari, pasti kamu bisa bertemu dengannya, barusan dia disini makan sama bapak, tepat sebelum ayahmu datang. Mungkin dia masih di depan," kata Pak Zayn dengan gaya kebapakan.


"Apa!? aku akan melihatnya." Amber berdiri setelah mengambil ponsel dari tas.


"Memang kamu sudah tau wajahnya? dia mengenakan baju terusan dengan gambar bunga sakura, badan tinggi dan langsing, rambutnya hitam sebahu. Kulitnya sangat berkilau semu-semu merah, sepertinya tidak ada kulit seterang itu disini," ujar Pak Zayn dengan tersenyum.


Johan menggeleng menatap teman bisnisnya itu, Pejabat ini tidak ingat anak istrinya, astaga.


"APA! AH? sepertinya aku tadi melihatnya." Amber berlari dan meninggalkan tasnya.


Johan dan Pak Zayn bertatapan, lantas memandang Lydia, yang disambut gelengan gadis itu. "Aku tidak tahu ayah," ujar Lydia seraya membuka halaman demi halaman buku menu.

__ADS_1


Semua daftar menu restoran dimanapun selalu sama saja, membosankan! jadi kangen masakan ibu. Ibu dimana sih, huh nggak sayang Lydia banget.Dia menoleh pada pelayan di sebelahnya. "Tenderloin blackpaper dengan medium rare- mashpotato, jus alpukat tanpa gula dan susu, itu saja, terimakasih."


Johan menggelengkan kepala, melihat putrinya yang irit bicara dan terdengar ketus, bukankah itu tidak sopan. Dia mengusap wajahnya, merasa begitu penat hanya berkutat dengan kerja dan dokumen yang menumpuk, sedangkan putrinya selalu sibuk dengan dunianya sendiri.


Di pintu kaca pembatas ruangan restoran, Amber melihat wanita itu keluar dari beranda, "AH Tunggu." Dia berlari melihat wanita bergaun itu masuk dalam mobil bak putih. Mata dan mulutnya melebar, Amber melihat sesuatu jatuh dari tas wanita itu.


Terlambat, begitu sampai di pelataran, mobil itu telah keluar dari parkiran. Bahu Amber loyo, masalahnya dia harus pulang dan menemui kakek Hans. Dia jadi tidak bisa ke Boom Waterpark lagi besok.


Dia menunduk, entah mengapa rasanya kecewa, matanya terpaku pada -boneka rumah kubah 'Patagonia'- dia mengambilnya dari tanah dan menggenggamnya, itu terlihat lucu, ukurannya sebesar bola bilyar. Ini persis seperti milik ku. Apa dia juga ke Patagonia? lain kali aku harus mengembalikan ini.


...**...


Malam itu, Lydia sendirian di kamar hotel karena Amber sudah pulang.


Sedangkan dia masih ingin di kota ini, sangat nyaman untuk mencari inspirasi. Tapi tiba-tiba dia merasa bosan, kehidupannya sungguh sunyi.


Tanpa sepengetahuan Johan yang tidur dikamar sebelah, dia diam-diam keluar tengah malam menuju klub malam yang hanya ada satu-satunya di kota itu.


Tak berselang lama dia bergabung disana. Dentuman musik menggema memancing dirinya untuk turun, tapi saking dia badmoodnya dia memilih duduk di depan bartender.


Sebenarnya ini bukan pertama kalinya, karena sejak kuliah disaat ayahnya ke luar kota beberapakali dia gunakan kesempatan itu untuk diam-diam keluar malam. Dan itu tidak ketahuan walau sampai sekarang.


Dia merasa di rumahnya seperti tak utuh, dia juga ingin memiliki orang tua yang utuh, tapi sayangnya sejak kecil dirinya tahu itu hal mustahil.


Lydia yang memakai gaun malam hitam, memesan minuman dengan kandungan alkohol sedang, beberapakali dia didatangi pemuda dan pria berumur yang sok tampan dan Lydia mengaku bahwa dia adalah lesbi, itu hanya alasan agar para lelaki menjauh. Kepala Lydia terbenam di meja bartender.


Mengapa aku begitu merasa kesal tanpa tahu sebabnya. Aku juga benci ibu, mengapa tak menikah dengan ayah!


Seorang lelaki duduk menatap gadis yang tampak kacau disebelahnya.


"What can I get for you?" (apa yang bisa saya sediakan untuk anda?) tanya seorang bartender.

__ADS_1


"Surprise me," jawab lelaki itu. Membuat Lydia menoleh, dia melirik pria disebelahnya seperti bukan orang lokal dan pria itu balik menatap Lydia dengan tatapan dingin.


__ADS_2