
"Jalan!" bentak Daniel dengan senapan mengarah pada paman Jin, dia beralih menatap Kevin, "Hei cacat jalan! trik apa yang mau kamu mainkan? pura-pura lumpuh?" Daniel tidak tersenyum tapi bibirnya semakin melebar, "tenang aku akan membuatmu seperti itu."
"Kau datang kemari," geram Daniel menatap tajam pada Lala, pada saat yang sama mengarahkan senapan pada Parker, "minggir kau br*ngsek." Daniel menendang Parker, sekarang tampak Lala tapi Kevin mendorong wanita itu ke belakang kursi roda.
"Cacat!" Daniel menendang, dan Kevin menangkapnya memuntir kaki Daniel sampai terjatuh.
"Dia akan selalu bersama saya, bedebah!" geram Kevin dengan mata memicing.
"Sampah gila, kami yang membuat peraturan," Daniel berdecak, dia yang terjerembab segera bangkit mendorong bagian bawah kursi roda, membantingnya tapi dicegah Lala yang menangkapnya dan kaki Lala sedikit terkilir tertindih saat menahan Kevin.
"Berhenti!" Lala menjerit dalam jongkok , "sudah Kevin, aku dengan Daniel," Lala menatap tajam sambil mendorong perut Kevin untuk duduk kembali saat lelaki itu akan berdiri,
"Tidak perlu, tetap di sini." Kevin yang sudah tidak memakai infus mencekal tangan mantan istrinya.
Lala melepaskan jari-jari Kevin yang kencang. "Tidak apa," meyakinkan dengan tatapan percaya diri, "mereka tak kan melukai ku." Dia mengangguk dan menatap Kevin yang terakhir kali, karena Lala meyakini Daniel akan memisahkannya. Tatapan tak rela Kevin dapat ditangkap Lala, tapi Lala menggantung bibir dengan ceria menyembunyikan ketakutannya.Sampai dia menurunkan pandangan dan berlari ke arah Daniel yang tidak sabaran memanggil dengan gerakan tangan.
Kevin mengepal kuat, menangkap seringai jahat Daniel, untuk sementara dia harus mengalah mematuhi arahan Master Jin.
Daniel mendorong Lala ke depan dengan moncong senapan, sampai terpisah di lorong saat seorang wanita datang menjemput Lala memisahkan diri dari orang-orang.
Sementara di ruangan khusus, Ars duduk berhadapan dengan Kevin dan Paman Jin, Parker berdiri di belakang kursi Kevin.
Sementara Daniel membawa sebuah map dari laci, melemparnya ke meja.
Memandang Kevin dan Jin bergantian, bibir Ars berkedut, dia menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. Menyeringai jahat, "Tidak perlu basa-basi, tanda tangani itu," mata Ars berkedut menatap map yang baru diambil Kevin dari atas meja. Satu alis Ars terangkat saat Kevin membawa dokumen ke belakang untuk langsung diperiksa.
"Anda salah besar Ars," Jin yang dari tadi duduk dengan tenang mengamati putra Sergey.
"Saya tidak memiliki bisnis dengan Anda Kakek," Ars dingin, "dan saya tidak menganggap mu ada." Ars tanpa menoleh ke arah Jin.
Sementara Daniel duduk di atas meja kerja di sudut mengamati segala gerak-gerik Kevin, dia mengira Kevin sedang memakai trik pria cacat. Daniel berdecak, mau cacat atau utuh tidak akan menggagalkan tujuan awalnya. Daniel melirik jam tangan."Apa anda perlu balasan karena membesar kami dalam lima tahun berkabungnya kami, kakek?" Sarkasme Daniel, "kami akan memberi anda 'wisata tranplantasi' gratis," Daniel menatap tajam pada Jin saat kakek tua itu melempar sepatunya tapi bisa di tangkap Daniel dengan gelak tawa. "Kakek, sebaiknya anda pulang jangan campuri urusan kami, atau aku tidak akan segan-segan.
"Harus berapa kali kau memeriksanya?" geram Ars menyela, "itu asli bedeb*h."
"Ya, memang asli," Parker mengembalikan pada Kevin. "Tapi, tanpa persetujuan anggota, Anda tidak bisa menguasai semua," Parker dengan dingin nyaris tanpa ekspresi.
"Jika begitu, buat mereka setuju," Ars menekankan.
Kevin tertawa seakan yang di dengarnya adalah lelucon aneh. "Kau bisa saja menguasai ku, Ars. Tetapi, mereka berdiri di atas kaki mereka sendiri, dan mereka hanya patuh pada saya, dan kau tahu berita buruknya? Saya tidak akan menyerahkannya." Kevin menyeringai menang, menatap tajam Ars yang terkesiap.
"Oh, kau lihat ini!" geram Ars saat Daniel menyalakan tv lebar. Sebuah tampilan Edric dalam bekapan mulut dan diikat di sebuah kursi di ruang gelap, sedetik kemudian Kevin menggeram lalu melirik master Jin, Kevin menahan emosinya lagi karena kode peringatan agar dirinya tetap mengingat misi.
Daniel dan Ars tertawa.
"Menyenangkan bukan melihat putra pertama mu bermandikan matahari," gumam Ars.
Kevin yang darahnya mendidih, putranya tidak boleh terkena matahari walau sedetik.
__ADS_1
Kaki Ars naik ke meja, di dekat map, "Menurut bede*ah buat semua menjadi mudah," Ars tertawa.
"Dia harus mencicipi sakitnya," Daniel melirik Kevin sambil menunjukkan ponsel di tangan dengan suara speaker.
Geraham Kevin mengeras, anak buahnya bahkan belum menemukan tempat Edrick.
"Kita apakan anak ini bos, matahari sedang terik di luar, sekarang kita mandikan?" Video call tersambung pada seorang penjaga yang berdiri di gurun pasir, Kevin melotot karena kegilaan Ars.
Parker berkedut, dia menyelipkan penyadap yang telah ditempatkan anak buahnya yang telah menyusup di sini, anak buahnya akan mendengar percakapan ini dan langsung menyusur ke segala tempat. "Gurun Sahara?" Parker dengan nada dan tanpa ekspresi.
"Kau tahu itu luaskan, cepat berikan akses mu, Billy," Ars dengan nada penekanan sambil menjilat bibirnya yang telah mengering, tak sabar pada dua orang itu yang terlalu bertele-tele.
"Akses?" Parker mengerutkan kening dengan tenang mengulur waktu.
Teruslah bermain Ars, sebelum aku menghabisi mu. (Parker)
"Bill, mari ikut bekerja denganku, aku akan membayar mu lima kali, lihatlah Tuan mu telah cacat, apa dia masih layak? " Ars melirik Kevin yang sudah seperti menahan kesabaran pada titik puncak. Dan beralih ke Parker, "dan bukankah akan lebih sejahtera bersama keluargamu bila kau denganku, Bill?"
Parker tertawa, pertama kalinya tertawa di depan musuh seumur hidupnya. "Tawaran anda terlalu biasa, sayang, saya tidak tertarik."
Daniel turun dari meja memutari Parker, berdiri di belakang Parker. "Anda akan menyesal."
"Huh Ya?" Parker tanpa ekspresi membaca gerakan Daniel dan dia melirik pada Pedro memberi sebuah kode.
"Dimana Alen?" Pedro menyela sambil memutar leher.
Daniel mendekat lalu mendorong pistol ke kepala Parker, "saya tidak suka main-main bre*sek."
"Terlalu rakus," Jin menyela, "Merampas untuk mengakses sistem kekuatan kecerdasan buatan, yang telah dibangun Kevin dari enol? lalu apa Veeper akan yakin, menikmati sendirian? atau justru dirampas kekuatan musuh dari tangan kalian?" Jin tertawa kecil sambil menggelengkan kepala, "Putra Sergey sangat naif."
"Keluarlah Paman Jin, saya sudah terlalu bersabar padamu? jika tidak-" Ars menggeram.
"Jika tidak? kamu yakin mau membunuh sahabat baik ayahmu?" Jin menggelengkan kepala dengan senyum tipis, menurunkan pandangan ke cangkir kopi dan sekali gerakan memukul meja kaca sampai retak dengan tongkat. Dia menggeser cangkir ke tepian dan saat gelas jatuh Jin menangkap dengan tongkatnya lalu melempar ke atas dan memukul dengan tongkat, cangkir terlempar sampai mengenai dinding di meja kerja Ars, kira-kira empat meter, dalam gerakan sangat cepat.
Prangg!
"Putraku, Ars dan Tyoma. Apakah kalian terlalu bodoh. Sehingga kalian begitu mudah diperbudak oleh musuh?" Jin mengayunkan tongkat ke belakang dan menusuk tepat di pinggang kanan Daniel. "Lepas, kau bodoh, gunakan otakmu."
"Apa maksud paman?" Satu Alis Ars terangkat, suaranya melembut. Lalu melirik Daniel agar menurunkan pistol. Daniel menurut dan duduk di sebelah Ars.
"Saya harus berbicara, kalian semua keluar," Jin dengan nada rendah penuh wibawa semakin duduk tegap menatap putra Sergey. Dia meletakan tongkat di antara kaki, dan dua tangan bertumpu di atas tongkat.
"Ars dan Tyoma, tinggallah. Paman harus meluruskan sesuatu di sini. Pesan Sergey, saya rasa kalian harus tahu."
"Pindahkan," Ars memerintah sang asisten. Nic tahu artinya menjebloskan Kevin dalam penjara Veeper.
Billy mengangkat Kevin ke kursi roda, keluar bersama Pedro.
__ADS_1
*
"Ars mengirim Kevin ke penjara, Bell," menyerahkan serbuk dalam kertas, "cctv dapur aman sepuluh menit."
"Dimana Lala? kau sudah melacak di kamar mana, Zil?" Bella memasukan kertas serbuk ke dalam celana katun longgar.
"Belum, sepertinya di atas, tapi dia tidak ada di sana. Ngomong-ngomng jadi kapan kau akan menyuntik Lala?" tanyanya sambil membenarkan posisi ear piece.
"Cepat, Bell. Dia meminta Chamomille." Azil meraup bibir Bella lalu mengecupnya perlahan menggeser lidah diantara gigi-gigi manis Bella, tangannya meremas pantat wanita itu.
"Brengs*k, minggir!" Bella menggigit keras lidah Azil. Mencakar pinggang pria itu. Memaksa melepas tangan Azil.
"Kau harus keluar dalam sepuluh menit, tidak lebih," Azil menegaskan.
"Ya, kau awasi dimana Lala," Bella meludah lalu mengelap bibir dengan kasar membuat Azil tertawa.
**
Seorang pelayan sedang membuat dua kopi, dan satu teh chamomile, baru setengah ia menuangkan air panas, dia mendengar kegaduhan di dekat pintu dapur, membuatnya harus keluar untuk memeriksa.
Mengendap Bella langsung menuangkan serbuk ke dalam teh chamomile dan segera meninggalkan dapur.
**
Daniel mengangkat pantatnya, hatinya panas di depan paman Jin, "Bohong."
"Hm," Jin mengetuk lembaran foto di atas meja dengan ujung tongkat, "Bella memiliki kaka, namanya Bagus, sepertinya Lala pernah bertemu dengannya. Dan sepertinya kakak dari Kevin juga pernah bertemu dengannya.
"Bagus menolak turun di dunia bawah, tapi Bella selalu bercerita padanya. Dan hubungan dengan ibunya masih berantakan, tapi Bella rutin mendatanginya. Dan Bagus pemegang kunci tapi dia selalu melarikan diri." Jin melirik seorang pelayan yang batu datang dan menghidangkan kopi untuk Ars dan Daniel. Teh Chamomile di depannya.
Ars meraih foto-foto di meja lagi, menatapnya. "Tapi Alen bekerja di perusahaan itu."
"Atas perintah papa mu. Sergey mengirim Alen untuk memata-matai," Jin meraih cangkir teh yang masih mengepul, memegang gelas menikmati hangatnya.
"Tapi hari kematian papa Sergey, itu tepat saat Alen berjaga!" Daniel dengan kesal meraih cangkir kopi, dan menyeruput perlahan.
Jin menurunkan cangkir teh di depan perut, batal menyeruput dan tersenyum tipis. "Hari itu adalah ulang tahun negara Iran. Kantor di mana Alen bekerja juga sedang diliburkan karena sebuah 'alasan' pemeliharaan sistem. Alen tidak mengetahui jika, mereka diam-diam tetap beroperasi, sampai meluncurkan peluru kendali ke kediaman mu.
"Seorang teman lelaki Alen bernama Mark. Pertemuan mereka diawali ketika Alen diserang preman yang dikirim papamu, itu di awal-awal Alen masuk negara mu, Afganistan."
"Mark menjemput Alen di Iran, karena Alen baru menjumpai hari libur. Kemudian mereke ke Ibukota Baku- Azerbaijan, malamnya pergi ke klub malam. Namun malam itu Alen tetap pulang ke Iran sendirian saat hujan lebat. Sampai mobil itu hampir menabrak Rumi, mamahnya Lala. Itu juga hari pertama orang tua Lala bertemu. Alen tidak ada hubungan dengan peluncuran itu. Tidak mungkin satu orang berada di dua tempat berbeda dalam satu waktu." Jin menghela nafas panjang. "Alen tidak akan memberitahumu jika-"
"Memberitahu apa?" Ars bertanya setelah menyesap kopi.
Jin menatap kepulan di atas air teh kecoklatan, dia menempelkan bibir di cangkir sambil menatap kedua putra Sergey. Menyeruput, menyeruput.
"Anda harus tahu ... " Paman Jin berkata, saat nafasnya terasa sesak setelah menelan, mengecap-ngecap teh chamomile.
__ADS_1