
Siang itu Kevin mengajak Lala makan di luar.
Kini mereka sudah di kompleks perbelanjaan yang letaknya dekat dengan tempat kuliah Kevin.
.
Lala berjalan cukup jauh memasuki area bebas kendaraan, dilihat banyak orang berlalu lalang dengan sepeda, bunyi krincingan sepeda turut menghiasi jalanan dengan deretan toko bercat coklat itu. Dengan sangat gentle, Kevin selalu menggenggam tangan Lala, sesekali lelaki itu memegang pinggang belakang Lala.
Lelaki itu tak pernah jauh-jauh dari tubuh Lala. Lala yang malu karena Kevin terus menggenggamnya, namun Lelaki itu seolah tak peduli.
Mereka sampai di sudut jalan yang ada puluhan sepeda berjajar dan terparkir rapih didepannya. Restoran itu sebagian besarnya kaca, dan di atas pintu masuk tertera tulisan 'Wasabi Sushi dan Bento'.
Di dalam resto sangat kental akan suasana jepang. Beberapa rak etalase dipenuhi oleh banyak macam makanan dalam paper box, siap saji, siap santap.
"Kamu mau makan apa? pilihlah yang kamu suka, rice bowl disisi sana," ucap Kevin yang sudah mengambil dua box makanan sembari menunjuk rak yang tidak jauh dari situ.
Lala mengambil sushi sheet dan chiken katsu, ini yang paling sesuai dengan lidahnya.
"Sayang aku mau tom yam," Ucap Lala yang melihat tulisan tom yam di kasir.
Lala memilih duduk di sofa sisi depan. Gadis itu memandangi orang berseliweran di luar, dia merasa insecure karena orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingnya bule-bule yang terlihat keren.
"Makan tomyam ini selagi panas, apa kau tidak suka dengan makanannya?" tanya Kevin sambil membuka kotak makanannya.
"Aku tidak terbiasa makan makanan panas. Aku menunggu agak dingin, yank. Eh!" pekik Lala saat Kevin menyerobot tomyam miliknya.
Bibir Lala mengerucut tidak terima karena makanannya diambil, sekalipun itu oleh pacarnya. Lala terus memelototi Kevin, dia menelan salivanya melihat Kevin meniup-niup kuah dan udang di sendok dalam genggaman tangan Kekar itu, rasanya Lala mau nangis, karena ia mau tomyam yang ini, tak mau pesan lagi karena harus menunggu lebih lama.
Udang, kemari kau! seharusnya kamu menari-menari dengan lidahku! Ah! kenapa Kevin menyerobot makananku!. Batin Lala kesal setengah mati.
"A', ini nggak panas," ucap Kevin.
Gadis itu kegirangan dalam hitungan detik, dia langsung melahap dan mengunyahnya dengan pelan, dia sampai memejamkan mata saking menikmatinya, karena dia sudah lama gak makan tomyam . "Hmmmm! kenapa ini nikmat sekali hemmm aku belum pernah menjumpai yang seenak ini. Tomyam buatan Bella, lewat!"
Kevin terdiam mendengar nama Bella di sebut.
"Aku jadi kangen Bella, dimana dia sekarang, ya? aku ingin tahu kabarnya ..." ucap Lala dengan wajah murung dan mulut yang masih mengunyah. Ia lalu mengambil sushi dan mengunyahnya.
Kevin mendorong sendokan tomyam yang sudah ditiupnya ke mulut Lala lagi, Ia berusaha mengalihkan pikiran pacarnya. "Sayang, aku mau tahu apa impinan kamu?"
"Impian? Hm lulus Cumlaude, tapi ..." ucap Lala tak melanjutkan kalimatnya. Dia memegangi dan menatap perutnya yang sudah masuk trisemeter kedua. Gadis itu memikirkan masa depannya yang harus ditunda dulu, demi bayi yang tidak berdosa dalam kandungan.
"Aku sudah mengurus cuti kuliahmu. Jangan khawatir ya sayang, kamu bisa melanjutkannya nanti," ucap Kevin menggenggam tangan kiri Lala, lelaki itu ikut menyentuh perut Lala yang terasa hangat dan keras.
__ADS_1
Kevin belum pernah memegang perut wanita hamil. Jadi, dia belum terbiasa, ia masih suka gemetar saat menyentuh perut Lala yang mulai membesar itu. Ia takut Lala kesakitan, Ia takut bayi itu terluka, sekalipun Ia memegangnya pelan.
Di sisi lain, Lelaki itu ingin membencinya karena bukan darah dagingnya. Namun, setiap melihat wajah dan badan Lala, justru dia tidak tega, dan muncul perasan kasian dan ingin menyayangi bayi itu juga. Tapi, terkadang hatinya tetap saja takut, Ia merasa perasaanya bercampur aduk jadi satu. Dia bagai makan buah simalakama.
Namun dia menemukan sensasi yang berbeda saat menyentuh perut Lala, entah itu perasaan apa dia juga tidak tahu. Aneh, dia jadi ingin memiliki anak! anak darinya dengan Lala. Bagaimana bisa dirinya berpikir sejauh itu? sedangkan, dia yang menyentuh Lala lebih jauh saja tidak berani. Semenjak dia mengetahui Lala hamil, dia tidak berani mencium bibir Lala. Sekalipun Kevin sangat menginginkannya.
"Kevin,kamu melamun?"
"Ah! tidak... " ucap Kevin gugup.
"Kamu lagi ada masalah? kenapa aku panggil-panggil, kamu diam saja?" tanya gadis itu khawatir.
"Aku baik-baik saja. Jadi, selain impian tadi, apa kamu memiliki impian lain?"
"Apa ya? Ah! aku memiliki impian paling besar, bisa menemukan pekerjaan dengan gaji tinggi dan mengumpulkan uang yang banyak, lalu membeli kembali restoran milik ayah!" ucap Lala penuh semangat.
"Restoran?"
"Ya, ayah-ibu pernah memiliki resto. Tidak terlalu besar, tapi itu terlihat begitu penting bagi ayah. Namun, saat aku masih kecil, restoran itu harus di lelang karena hutang-hutang ayah. Ayah berhutang untuk membayar biaya rumah sakit ibu. Namun, kesehatan ibu memburuk. Ia meninggalkan ku saat aku masih kecil. Bahkan aku merasa belum pernah melihatnya. Aku telah berjanji pada diriku sendiri, aku harus mendapatkan resto itu dengan hasil jerih payahku sendiri! Aku ingin seperti ibu. Kata ayah, Ibu terlihat cantik saat mengurus restonya. Ibu turun langsung ke dapur membantu Ayah, kata Ayah itu momen mereka paling romantis. Ihg! debunya nyungsep ke mata sih," ucap Lala seraya mengelap sudut matanya, Ia menunduk.
"Kemari lihat aku, sayang, tidak ada yang salah dengan ini, jangan menahannya sendiri. Apa kamu mau terus menyembunyikan kesedihanmu sendiri, sedangkan aku jelas di sisimu, apa kamu tidak mau mengandalkan aku walau sedikit saja?" kata Kevin sambil mengelap bekas air mata di pipi Lala. Namun gadis itu langsung berdiri.
"Mau kemana?" ucap Kevin menahan tangan Lala.
Kevin melepaskan tangan Lala, matanya tidak lepas dari menatap punggung Lala yang mulai menjauh, mengapa pacarnya itu tidak mau lebih terbuka.
Pengawal perempuan yang Kevin tugaskan membuntuti Lala ke arah toilet.
"Kevin?"
"Guskov? kenapa kau disini?! bukankah kamu paling tidak suka makanan jepang!?"
"Ah, ini mamah yang minta aku menyusul. Kau dengan siapa?" tanya Guskov melihat bekas box makanan dan minuman di depan Kevin. Dia menatap sekitarnya mencari sesuatu, dia curiga ... Kevin yang tidak mau bergaul dengan siapa-siapa kecuali dengan Guskov, tiba-tiba ada bekas minuman lain.
"Bukan urusanmu, pergi sana jauh-jauh."
"Ayolah, apa kamu sedang kencan?? Astaga, apa ini benar Kevin teman ku?" seru Guskov sambil tertawa, dia memukul keras punggung Kevin.
Kevin merasa terusik, dia memberi kode pada pengawalnya, pengawal itu langsung menghampiri Guskov dan menarik Guskov agar menjauh dari Kevin.
"Hei diam kalian! kalian belum pernah merasakan tendangan super ku ya!" kesal Guskov pada pengawal yang menahan tangannya.
"Pergilah! kau mengganggu saja," acuh Kevin, matanya fokus pada layar hp.
__ADS_1
"Awas kalau kamu meminta bantuan untuk mengusir para gadis, aku akan membiarkanmu!" ancam Guskov dengan wajah cemberut.
"Bodo amat," ucap Kevin mengibaskan tangannya tanpa menoleh, penjaga itu menariknya paksa.
"Guskov? Heh kalian berani mengganggu putraku, beraninya ! sini kalau berani!" marah seorang wanita memukulkan tas brandednya ke kepala botak dua pengawal itu.
"Auw! Nyonya jaga sikap Anda!" tegas pengawal satu.
"Tak akan kuberi ampun! beraninya keroyokan!" seru wanita itu.
"Mah, tolong aku! ya, benar hajar terus mereka!" seru Guskov yang percaya pada wajah menakutkan mamahnya itu pasti akan mudah mengalahkan pengawal Kevin, dia sudah tahu jika pengawal itu tak akan membalas perlakuan mamahnya tanpa perintah Kevin. Sekali-kali mengerjai pengawal Kevin yang seperti robot yang bisanya hanya diam dan bertarung. Dua pengawal itu melepas cengkraman mereka dari tangan Guskov, namun dua lelaki gundul itu masi jadi sasaran wanita itu.
Lala yang dari toilet bingung dengan keributan di dekat Kevin.
"Sayang, ada apa dengan pengawal mu?"
"Biarkan saja," ucap Kevin cuek.
"Kamu ini!" kesal Lala menghampiri dan memisahkan keributan mereka, Kevin yang melihat itu ikut berdiri, tidak mau bila Lala terluka.
"Nyonya, maaf maaf bisa tolong hentikan," ucap Lala menyentuh sedikit punggung wanita itu.
"Ini tak bisa di biarin!" seru wanita itu, pukulan tasnya hampir mengenai kepala Lala.
Beruntung Kevin menahan tas itu, sehingga Lala tetap aman.
"Lepaskan!" ucap wanita itu menoleh kebelakang, Ia melihat tasnya di tahan tangan lelaki yang seumuran dengan anaknya.
"Anda! benar-benar keterlaluan, ya! bagaimana bila itu mengenai pacar saya!" kesal Kevin pada wanita yang lebih tua darinya.
bersambung . . .
____________________________________
Hai Pembaca yang Budiman terimakasih telah membaca Bab ini.
Simak BAB selanjutnya🔍
Tinggalin jejaknya ya supaya Author semangat untuk update kisahnya, bisa dengan : like, koment, vote, atau tambahkan ke daftar bacaan favorit kamu ! 😘
Author sangat mengharapkan kritikan dan saran kalian soal kekurangan novel ini.
Sekali lagi terimakasih ! semoga hari kalian selalu menyenangkan.
__ADS_1