
Mall sedang di jam sibuk. Setelah melewati hiruk pikuk orang yang berlalu Lalang.Tanpa sadar Lala berjalan ke toilet.
Ah! Hp ku di tas dan tasku dibawa pengawal. Sekarang, aku tidak tahu harus kemana dan bagaimana? Masa aku harus kembali menghampiri Kevin yang sedang asik dengan cewek. Siapa wanita itu? kelihatannya mereka dekat. Apa maksudnya kangen-kamar? masa?! apa Kevin sering berduaan di kamar dengan cewek? ngapain? ih!!!. Batin Lala pikirannya sudah kemana-mana memikirkan apa yang dilakukan cewek dan cowok bila di kamar.
Lala masih panas mengingat cewek yang menggesek-gesekan dada besarnya itu pada Kevin.
Lala menatap pantulan dirinya di cermin, mengamati wajahnya, menghitung kekurangan dirinya, dari pada cewek yang kecentilan kepada pacarnya itu.
Dia membasuh wajahnya ... kemudian suara ramai karena kedatangan segerombolan cewek, masuk ke dalam toliet membawa aroma wangi yang mulai memenuhi toilet.
"Kamu lihat tidak siapa yang bersama Nana?"
"Apa itu pacarnya? enak ya dia, udah kuliah di luar negeri karena bapak ibunya kaya."
"Ya, apalah daya kita yang cuma bisa kuliah disini."
"Itu tadi teman sekaligus pacarnya di Universitas ternama di Cambridge Inggris."
"Jadi, mereka sama-sama dari sini? wah apa mereka jodoh ya?"
"Eh kalo aku gak salah ingat nama cowoknya ... Kevin."
Lala langsung melebarkan matanya melirik pantulan mereka di cermin.
Kenapa namanya bisa sama sih? Batin Lala, hatinya mulai terasa deg-degan.
Lala lebih antusias karena mendengar nama yang sama, dengan pacarnya.
Matanya melebar karena setelah dipikir-pikir mereka menyebut universitas yang juga sama dengan Kevin.
Nggak mungkin, pasti bukan Kevin ku!. Batin Lala menenangkan dirinya.
"Aku punya fotonya Loh, mereka berduaan di kamar. Gila!"
"Ganteng banged yang namanya Kevin."
"Nana beruntung ya!!!"
Lala yang mencuri pandang menoleh, matanya menangkap foto itu, karena gadis itu membelakanginya. Itu foto Kevin-pacarnya! bertelanjang dada mengenakan jeans, terlihat otot perutnya!
Sorak-sorak riuh keributan, lima cewek itu saat melihat foto yang ditunjukan kepada mereka.
Gemuruh dada Lala semakin menjadi, mengapa dirinya sakit mengingat foto Kevin di tangan mereka! telanjang dada. Lala ingin menangisi dirinya, apa benar itu Kevin.
Lala tanpa sadar terus mendengarkan percakapan mereka. Lala terus membasuh wajahnya dengan air kran yang menyala kecil sambil menguping pembicaraan mereka, Lala bahkan menggunakan sabun cuci tangan untuk pura-pura menyabuni mukanya.
"Jadi kita batal di traktir Nana hari ini?"
"Dia saja sibuk bermanja ria dengan pacarnya."
"Kita tetap makan saja, besok kita tagih Nana, iya kan? setuju gak?"
"Ya, setuju, biarkan Nana bersenang-senang dulu."
"Eh aku minta foto cowok itu dong, siapa namanya ... Kevin?"
"Perutnya seksi banged ih! lumayan buat bahan aku ngehalu."
__ADS_1
"Jangan-jangan Nana di cambridge udah sering bercinta nih ..."
"Ya jelaslah, gak mungkin dia bisa nahan lihat bodi seksi gitu."
"Ya bener-bener, apalagi tuh foto mereka di kamar." celetuk cewek itu sambil tertawa di sambung dengan tawa gadis-gadis yang lain.
Brakk!
Lala menggebrak meja westafel yang terbuat dari kayu, membuat semua yang berada disitu kaget.
"Apa sih dia?" bisik mereka satu sama lain, saling berbisik-bisik membicarakan Lala.
Lala mengambil tisu di kotak pada dinding dengan kasar, cukup banyak. Semakin dongkol lalu pergi meninggalkan toilet sembari mengelap wajahnya.
Entah kenapa hatinya semakin terbakar! dadanya sesak! ingin rasanya Ia mencari barang untuk jadi sasaran pukul-pukulannya. Kedua tangannya mengepal kuat, nafasnya naik-turun, bibirnya semakin mengerucut. Dia berjalan namun kakinya seperti ingin menendang semua apa yang di depannya!
Bruk!
"Hmmh!" Lala jatuh di depan restoran jepang, karena di tabrak seseorang.
"Kamu tidak apa-apa?" ucap seorang wanita lalu membantu Lala berdiri.
"Maaf saya tidak lihat jalan, mari ikut saya ke restotan itu, sebentar," ucap perempuan paruh baya itu lagi.
Lala mengeram, tulang ekornya sakit, kenapa sih dirinya sial terus. Ia dituntun wanita paruh baya itu kemudian duduk di restoran.
Seorang waitress datang."Selamat sore ada yang bisa saya bantu?" ucap wanita itu dengan sopan.
"Ah saya mau kakigori, mugicha. Lalu Sushi, sukiyaki, ramen, dan yakitori," ucap wanita itu pada waitress, Lala tidak tahu makanan apa yang disebutkan wanita itu. Lala masih asik memegangi tulang ekornya yang ngilu.
"Kamu mau makan apa nak?" ucap wanita itu tersenyum.
"Kenapa? pesan saja,"ucap wanita paruh baya.
"Ini benar kamu, Lala?" panggil seorang lelaki berjalan mendekati.
Lala menoleh, Head Chef! eh bisa ketemu disini, Lala mengangguk.
"Kamu sedang apa? bukannya kamu gak bisa makan?" tanya Head Chef Daniel.
"Ah silakan duduk, saya tadi tidak sengaja menabraknya," ucap wanita paruh baya pada Daniel.
"Oh, Begitu ya, perkenalkan saya Daniel rekan kerja Lala," ucap Daniel tersenyum ramah sembari duduk.
"Oh jadi, namanya Lala?" ucap wanita paruh baya.
Lala mengangguk dan tersenyum.
"Maaf Tuan, Nyonya, saya menyela ... jadi apa ada pesanan lagi?" tanya waitress yang dari tadi menunggu.
"Oh ya! jadi Lala mau pesan apa? Daniel boleh, ayo pesan juga," tawar wanita paruh baya.
Lala melirik Daniel meminta bantuan.
"Ah, Lala baru operasi rahang, dia tidak bisa makan atau minum sembarangan. Kebetulan saya baru selesai makan di sofa sana," ucap Daniel menunjuk sisi lain restoran, terlihat di sana piring gelas bekas makanan.
"Oh saya pesan itu saja ya, terimakasih." ucap wanita paruh baya pada pelayan.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja, Lala?" tanya Daniel.
Lala mengangguk.
"Kamu pergi sendiri? atau sama siapa?" tanya Daniel.
Lala kebingungan menjawabnya.
"Hnnnghhh hnnghh!" Lala menunjukan mulutnya yang tak bisa bicara, dia mencari bolpoin tidak ada.
"Kamu butuh ini?" ucap Daniel seraya mengambilkan hpnya.
Lala mengangguk cepat, Daniel membuka paswordnya. Lala mengetikan sesuatu.
Saya kemari sama pacar saya. Chef Daniel ... hp dan tas saya terbawa dia, kami terpisah.(Lala)
"Jadi kamu terpisah? ceroboh sekali! Gimana kalo kamu ada apa-apa lagi?"
"Ah kenalin saya Rumi Alena biasa di panggil Rumi," ucap wanita paruh baya.
"Ah iya Tante, maafkan teman saya yang sedang tidak bisa berbicara."
"Ah iya gak apa-apa, saya yang harus minta maaf, jadi tolong maafkan saya ya Nak Lala?" ucap Rumi.
Lala mengangguk sambil tersenyum.
"Mau aku antarkan pulang?" tawar Daniel.
Lala berpikir sebentar.
Kevin, apa kamu akan mencariku? nggak mungkin karena kamu lagi asik sama cewek! Mungkin kamu tak akan mengingatku sekalipun aku pacarmu, dilihat bagaimanapun aku kalah jauh dari itu cewek. Batin Lala kesal.
Daniel bisa membaca wajah Lala yang sedang tidak baik-baik itu. "Lala, aku antarkan pulang, ya? apa kamu mau menghubungi seseorang? gunakan saja hpnya."
Lala gelisah, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Nona, Anda disini ... mari ikut saya, Tuan sudah menunggu Anda," ucap pengawal berjas hitam yang baru datang.
Lala memandangi pengawal yang tadi membawa barang belanjaanya lalu beralih menatap Daniel dan tante Rumi.
"Nona cepat, Tuan tidak suka menunggu," ucap pengawal lagi.
"Ah kamu mau pulang ya, sekali lagi maafkan saya, ini bawa kartu nama saya ya, hubungi saya bila sampai rumah," ucap Rumi ramah sambil memberikan kartu nama.
Lala mengangguk tersenyum pada tante Rumi, dia berdiri mengembalikan hp Daniel, lalu memberi hormat kepada tante Rumi dan Head Chef Daniel dan mengikuti dua pengawal.
"Lala setelah sampai rumah, segera hubungi saya," titah Daniel.
Lala menghentikan langkahnya, tersenyum dan mengangguk pada atasannya itu.
Di Lobi Mall, mobil hitam telah terparkir. Pengawal membuka pintu belakang mobil. Lala masuk dan duduk di sebelah Kevin.
Pacarnya itu diam saja dan sangat dingin.
Sopir menjalankan mobilnya, suasana di mobil semakin mencekam. Kevin tidak mau melihat Lala.
Dimana itu cewek?Kenapa jadi kamu yang marah ke aku? harusnya aku kan?! Batin Lala semakin merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Kesal marah sama lelaki tembok!