Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 77 : HAPPY WEDDING


__ADS_3

Bunga-bunga mekar penuh. Kelopak warna-warni menghidupkan setiap sisi gedung.


Kelap-kelip cahaya putih bertebaran pada langit gedung yang di dekor segelap lautan. 'Aurora' cahaya warna hijau melintang panjang dari ujung ke ujung membentuk ekor bintang jatuh, memukau para tamu, mengingatkan mereka pada 'Aurora Borealis' di Islandia.


Asap buatan melambai setinggi betis dengan cahaya semu merah-pink-ungu menutup seluruh Lantai.


Aroma wangi bunga-bunga dan wangi alam semerbak menjadi satu.


Beraneka bunga warna putih tertata rapi di pinggir panggung.


Menyerupai panggung catwalk besar dengan lampu bulat menyorot memutari seluruh pengunjung. Terutama orang-orang penting.


Pejabat, media dan bankir.


Profesor, cendikiawan, dan pengamat.


Founder, CEO dan Kolektor seni.


Olahragawan dan pekerja dunia hiburan.


Beberapa tamu dunia bawah yang hanya di ketahui Kevin.


Di tempat vvip di ruang terpisah, Casino dan ketua gangster berkumpul menyaksikan prosesi pada monitor besar.


Semua tamu undangan yang pernah berhubungan langsung dengan Kevin diundang, tak terkecuali Samantha.


Semua anak buahnya, 'Black Lion' dan 'Macan putih' TIDAK DIUNDANG.


Kecuali Parker dan tentu Alen sergio. Tidak ada orang yang tahu dua orang ini memiliki andil besar. Parker menangani 'Black Lion' dan Alen menangani 'Macan Putih'.


Fabio memegang lengan kanan Lala, "Kak selamat! kakak ipar akan jadi kakak yang perhatian, kan !? jangan seperti dia," fabio melirik sang kakak membuat Lala terkikik.


Kevin melebarkan mata melihat Fabio mendekat ke telinga Lala


"Dia tak pernah menganggap ku ada, kak," bisik Fabio, dan Lala mengangguk-angguk.


Fabio tertawa di sambut tawa kecil Lala.


"Hisssh menjauhlah," sungut Kevin, lubang hidungnya melebar. Dia mendorong kepala fabio dari Lala. "Jaga jarakmu adik sialan."


DEG. Fabio membulatkan mata, baru kali ini sang kakak mau merespon Fabio. "Dia memanggil apa? adik?! ya aku tak salah dengar!" ucap Fabio dalam hati seraya menepuk-nepuk pipinya.


Duck! Kevin menendang tulang kering Fabio, "Hey! menyingkir, mengganggu pemandangan saja."


"Issssh kakak, ini sakit tau," Fabio melototi sang kakak, namun sedetik kemudian sudut bibirnya tertarik ke atas dengan mata yang berbinar, "Selamat ya Kak!!"


Fabio memeluk erat Kevin, sampai tangannya melingkar kuat di leher Kevin membuat sang empu diam dengan mulut terbuka lebar "Ck! sialan minggir!"


Kevin memelintir tangan sang adik, matanya menyempit. Sang adik makin meringis.


"Aa aaagg'!"


"Berhenti sayang!" Lala menarik tangan fabio dari pitingan Kevin.


"Lain kali! habis kau," gerutu Kevin.

__ADS_1


Fabio menggenggam tangan Lala "lain kali juga tolong aku kak!"


Hidung Kevin berkerut, "INI ANAK!" Kevin menghentak kakinya.


"Oke Fine!" Fabio mendesah putus asa sedetik kemudian bibirnya menyeringai.


"Sampai nanti Kak Ipar." Fabio menatap dan mengejek Kevin. Ia bersiul meninggalkan Kevin yang masih mengatub mulut.


Lala memeluk dan mengelus lengan Kevin, "Apa masalahmu sayang, dia hanya berusaha mencari perhatianmu."


"Anak kecil itu ...Ck" kalimat Kevin terhenti saat dia menoleh ke kanan, Lala mengikuti mata Kevin.


"Samantha" batin Lala dan diam membeku.


"Selamat! hiduplah dengan damai," kata Suami Samantha menepuk punggung Kevin. "Jangan menganggu istriku," bisiknya dengan sudut mata terangkat. Mata mereka saling menghunus.


Bibir Samantha rapat tersenyum dan menggenggam tangan Lala, "Selamat, Anda sangat cantik, Kevin beruntung memiliki mu."


"Terimakasih, justru aku yang beruntung memilikinya," wajah Lala menghangat.


Samantha memeluk dan mengusap punggung Lala. "Jaga Kevin, dia tak terkendali," bisik Samantha membuat kening Lala berkerut.


Wanita itu melepas pelukan dan pegangan dari Lala.Samantha tersenyum dengan bibir rapat manakala pandangannya beralih pada Kevin.


Melihat mereka membuat jantung Lala semakin berdebar-debar.


"Apa mereka serius masih seperti ini," gerutu Lala.


"Samantha." Kevin memandang berkaca-kaca, "Terimakasih."


"Iya, Selamat Vin. Semoga kebahagiaan selalu berserta kamu dan istrimu."


"Apa ini?" Kevin sedikit pucat memegang tangan kiri samantha yang biru keunguan, wanita itu menarik tangannya dari Kevin.


"Ini jatuh tak sengaja. Tak usah khawatir ... tak apa."


Samantha melebarkan mata saat sang suami mendekap dari belakang.


"Ayo, sayang," bisiknya menguatkan pelukan di perut sang istri, sementara matanya menatap tajam pada Kevin.


Kelopak mata atasnya terkulai, Lala mundur selangkah menjauhi Kevin. Matanya kehilangan fokus dan sudut bibir sedikit tertarik ke bawah manakala melihat Kevin mengepalkan tangannya.


Lala mengalihkan pandangan ke seluruh gedung, "Mereka semua terlalu fashionable. Apa ini pesta musim panas? Pakaian mereka rata-rata berharga setengah 'M'. Wajah mereka bersinar atau terlalu jenius dan Lux. Bagaimana bisa kamu mengenal mereka, Kevin?Apa ini circle mu?" Bathin Lala.


"Bahkan kamu mengenalkan si kembar sebagai putri mu," ucap Lala dalam hati.


Tak sengaja, Lala -bertemu pandang- dengan Luca.


Lelaki itu memberi senyum dan Lala membalas dengan anggukan kepala. "Sejak kapan mas Luca melihat kemari?" Batin Lala, dia memutar mata, menghindari tatapan Luca.


"Selamat Bro! gila kau benar mengundang orang-orang hebat! semoga kalian bahagia," kata Guskov menepuk keras punggung Kevin. Mereka berpelukan dan saling memukul ringan.


"Hai, Ladies ketemu lagi, selamat ya," ucap mama Guskov pada Lala lalu mengelap sudut mata.


"Tante Rumi, makasih ... mengapa anda menangis?" tanya Lala, matanya ikut mengembun.

__ADS_1


Rumi tertawa kecil, "Kamu sangat cantik, boleh tante memelukmu?"


"Tentu, tante," Lala menerima pelukan Rumi yang begitu menghangatkan. Kristal-kristal air mata jatuh ke pipi, membuat heran Kevin dan Guskov.


"Semoga kamu selalu diselimuti kebahagiaan dalam pernikahanmu," Rumi mengelus punggung Lala dengan jantungnya berdebar-debar.


"Mama, sudah dong, Ratu pesta hari ini bukan cuma untuk mama," kata Guskov menarik tubuh Rumi.


"Sebentar," Rumi bertahan masih memejamkan mata dan semakin erat memeluk -istri dari teman- Guskov. Rumi menghela nafas, sempat melepas namun memeluknya kembali.


Alen, matanya melebar dan mulutnya mengendur melihat mereka.


"Ada apa om Alen?" tanya Luca melihat ekspresi ayah Lala yang tiba-tiba berubah. Luca menggeser duduknya lebih dekat ke Alen, "apa om kenal dengan mereka?"


"Mereka?" alis Alen terangkat sesaat.


"Namanya, Guskov. Teman terdekat Kevin di kampus. Di sebelahnya itu mamanya Guskov. Rumi kalau tidak salah."


uhuk huk huk!


Minuman di mulut Alen muncrat. Alen meletakan gelas dari tangan ke meja.


"Anda baik-baik saja?" Luca memberikan sapu tangan pada Alen. "Ya, saya tak apa," sahut Alen sibuk mengelap mulut dan pipinya yang basah.


"Sepertinya Lala dekat dengan mamanya-Guskov."


Alen sedikit memundurkan kursi hingga sejajar dengan Luca, "dekat?"


"Saya tidak pernah melihat Lala dengan tatapan seperti sekarang. Dia terlihat sangat damai. Apa dia rindu pada ibunya? Ah maaf-"


"Tak apa," Alen meletakan tangan kirinya di punggung Luca, "Apa kamu dan Lala pernah dekat?"


Sorot lampu terang tengah menyorot ke Luca dan Alen. Alen melihat rona merah pada pipi Luca, Alen melihat Luca yang berusaha menyembunyikan senyuman.


Alis terangkat, "Apa ini? Dia memiliki perasaan pada putriku!?" batin Alen.


"Ya kami cukup dekat, kami berteman dengan baik."


Alen mengelus-ngelus pundak Luca, dia memiringkan kepala menghadap Luca "Apa putriku cantik?"


"Sangat Cantik!" Luca menjawabnya dengan penuh gairah. Seketika Luca melebarkan mata dan menutup mulutnya.


Luca duduk lebih tegak dan merubah nada suaranya lebih rendah, "e-hm,"


"dia cantik, om." Luca menelan Salivanya. "Seperti bidadari," ucapnya lembut memandang mata Alen yang terlihat menahan tawa.


"Apa ada yang lucu?" tanya Luca saat Alen tak bisa menahan tawa dan tertawa lepas namun dengan suara yang Alen tahan. Luca terkesiap melihat sikap hangat Alen.


"Tidak-tidak."


"Mereka terlihat mirip, om, coba deh perhatikan," Luca tertegun dengan apa yang dilihatnya. "Warna rambut tante Rumi persis seperti Lala."


Pelayan mengambil gelas kosong di meja bundar depan Luca. Alen semakin memandangi Lala.


"Benarkan om? orang yang tak tahu pasti mengira mereka ibu dan anak."

__ADS_1


"Hm."


"Kenapa senyuman Alen seperti itu? seperti seorang suami memandangi istrinya." bathin Luca. Alisnya terangkat karena suara-suara yang memenuhi pikirannya.


__ADS_2