
"Nona, Anda sangat cantik!" ucap penata busana memandangi Lala yang tengah tersenyum Lebar.
Lala menganggukan kepala, setelah empat jam lamanya akhirnya selesai juga ritual persiapan datang ke pesta.
Dia menatap dirinya di pantulan cermin.
Gaun panjang merah anggur yang pas menampakan perut ratanya yang terbuat dari satin berkilauan dengan garis leher yang longgar pada tulang selangkanya dan bagian bawah berbentuk flare.
Dia memakai High Heels warna beige dan dompet pesta kecil berwarna abu-abu yang berkilauan.Tak lupa pelayan telah memasangkan anting Berlian pada telinga mungil Lala.
"Sayang."
Gadis anggun itu menoleh ke arah suara, Kevin dibuat terpesona ia mengulum senyumanya, menghampiri kekasihnya.
Sesampainya tepat di depan Lala, Kevin memandangi dengan mata berbinar dari bawah sampai ke atas tanpa berkedip dengan senyum puasnya, memandangi style rambut Lala yang semakin memperlihatkan aura kecantikan dari dalam dirinya.
Dikecupnya kening lebar Lala, Kevin mendekap Lala sebentar, sampai gadis itu menepuk-nepuk punggung Kevin dan menariknya jasnya pelan, karena Ia tak bisa bernafas saking eratnya Kevin memeluk Lala.
"Kamu cantik sekali, sayang, gaunnya jadi terlihat indah karena kamu," puji Kevin memegang bibir Lala dengan sorot mata dalam penuh cinta..
Gadis itu tersenyum tulus membalasnya, membuat Kevin mencium tangan Lala.
Kevin memberikan tangannya tanpa pernah memutus senyumanya, "Ayo, My Princess."
Lala menautkan tangannya pada Kevin. Lelaki itu selalu saja, setiap berjalan dengannya Ia selalu meminta berpegangan tangan atau saling bertautan tangan, seolah takut jika Lala akan melarikan diri darinya.
Kevin membukakan pintu belakang mobil, tak mengijinkan pengawal melakukannya. Merekapun meninggalkan butik mewah itu menuju tempat pernikahan Samantha.
Di perjalanan Kevin menarik pinggang Lala agar mepet dengan dirinya, tangan kirinya melingkar pada pinggang ramping kekasihnya.Sementara tangan kanannya memegangi jemari tangan Lala.
Kevin terus menciumi rambut Lala, membuat Lala menjauhkan kepalanya berkali-kali dengan tangannya karena malu dengan keberadaan sopir. Tangan Lala di tangkap Kevin, lelaki itu tidak peduli dan terus menjaili gadisnya itu yang menggemaskan.
Di sebuah gedung besar, dengan lampung gantung kristal panjang yang memenuhi langit-langit gedung, menyala-nyala laksana bintang di kegelapan. Cahaya terang fokus pada panggung pesta. Nuansa malam tercetak jelas di gedung itu.
Nuansa lampu biru juga bertebaran menyorot setiap kecantikan hiasannya. Bak di kastil negeri dongeng, musik dari saxophone mengalun indah, ini sangat romantis.
Asap buatan memencar memenuhi Lantai gedung, dan panggung utama. Tak ketinggalan bau wangi bunga-bunga segar yang menyegarkan dimana-mana.
Panggung pengantin yang sangat mewah luar biasa. Berdiri di sana Sang Ratu dan Raja Pesta yang sangat cantik dan tampan, yang selalu menyunggingkan senyuman menyapa para undangan.
Gedung ini sangat Besar, menampung 5000an orang. Tentu Kevin mendapat fasilitas di depan berikut orang-orang penting lainnya.
Dari tadi selalu saja ada yang menyapa Kevin. Termasuk mantan koleganya yang dulu, karena sekarang perusahaan Saint Mariano Group di ambil alih papa Anton selama Kevin kuliah Juga beberapa teman-temannya yang juga sama gantengnya dengan Kevin, mereka saling mengobrol.
Sungguh luar biasa dimata Lala. Dia seperti masuk negeri dongeng memasuki wilayah-wilayah kelas atas. Ini seperti mimpi, dia jadi gugup menahan gemetarnya setiap menjumpai orang-orang yang terlihat Lux. Lala berasa memandang langit dari dekat, walaupun orang-orang itu di depannya, Lala seperti tak bisa menyentuh mereka. Namun Kevin tak pernah melepaskan tangan Lala, Ia selalu menggenggam tangannya membuat Lala merasa nyaman.
Para perempuan cantik juga berebut mendatangi Kevin, namun pacarnya itu bersikap dingin dan mengacuhkan.Kevin justru memamerkan pacarnya dengan kemesraan, yang membuat para perempuan menatap penuh kebencian kepada Lala.
Saatnya tiba, Kevin menggandeng Lala naik ke atas panggung. Perasaan gemuruh mulai timbul di hati gadis itu. Tiap langkah semakin terasa berat, Lala tetap mencoba tersenyum walau hatinya bergetar.
__ADS_1
Terangnya lampu menyorot di atas panggung seakan terus menyoroti hatinya yang tengah berada di kegelapan.
Bagaimana tidak, Samantha, orang yang selalu dulu Kevin ceritakan di Danau permata saat dirinya berjualan sebelum tragedi salah orang di ruang meeting. Tampak sekali saat itu Kevin begitu terpukul karena Samantha setelah menghilang dari panti, setelah ditemukan Kevin ternyata Samantha justru dijodohkan dengan Lelaki Kaya. Dan Samantha menolak ajakan Kevin untuk menikah dengannya. Itulah kenapa Lala tak juga mau menjawab lamaran Kevin. Ia masih takut Kevin tak bisa lepas dari pikiran tentang Samantha.
Lala melirik mata Kevin, hatinya terasa sakit. Walaupun lelaki itu katanya menyerahkan sepenuh hati untuk Lala, namun mata Kevin tidak bisa bohong.
Sebuah sorot kekecewaan dapat di tangkap Lala saat Lelaki itu terus menatap Samantha.
Aku Sakit. Batin Lala.
Mereka kini berhadapan, dan saling diam. Inikah Samantha? Kenapa tatapan Samantha juga berbeda? apa Samantha memiliki perasaan terhadap Kevin. Orang melihat pun pasti akan tahu bahwa mereka saling memiliki perasaan.
Mata Lala mulai memanas, memerah menahan kabut di matanya. Namun senyuman tetap coba Ia paksakan saat Pengantin Lelaki mengumbar senyum pada Lala.
Kevin mengumbar senyum getir, "Selamat, Samantha, kuharap kau mendapatkan kebahagiaanmu," ucap Kevin. Lala dapat merasakan getaran tangan Kevin di telapak tangan Lala, tangan Kevin menjadi dingin, Kevin mempererat genggaman tangan Lala.
"Ya, Kevin, aku pun berharap begitu padamu," jawab Samantha, terlihat jelas matanya berkaca-kaca, senyumannya dipaksakan.
Kening Lala terasa berat tiba-tiba. Ia melepaskan tangan Kevin.
Gadis itu memegangi keningnya yang pusing dan semakin hebat pusingnya.
"Sayang!" seru Kevin saat menyadari tangan gadisnya terlepas. Kevin menangkap tubuh lunglai gadisnya yang nyaris jatuh. Pasangan pengantin dan tamu undangan yang melihatnya ikut terkejut.
Dengan sekali gerakan Kevin langsung menggendong gadisnya diikuti petugas kemudian membawanya ke sebuah kamar tamu.
Lelaki yang terlihat khawatir itu, membaringkan gadisnya, cepat-cepat melepaskan kaitan sepatu hak yang melingkar di kaki indah gadisnya.
"Mana dokternya?! apa kalian tidak bisa cepat!" bentak Kevin pada pengawal perempuan yang di bawanya.
"Dokter sudah sampai lorong, Tuan" jawab pengawal perempuan terus mendengarkan earpiece.
"Bangunlah sayang!" seru Kevin seraya menggenggam tangan gadisnya. Dia tidak bisa menyingkirkan rasa khawatir dari pikirannya.Tangan gadisnya itu dingin dan wajahnya pucat.
Dokter datang terengah-engah seperti baru lari jauh.
Di biarkan dokter perempuan itu mulai fokus memeriksa Lala, terlihat sang Dokter mengambil darah Lala.
Kevin terus mondar-mandir, sudah satu jam belum mendapat jawaban.
"Tuan, selamat ..."
"Selamat?! dia pingsan dia sakit kau bilang selamat???!" bentak Kevin menggema ke seluruh ruangan membuat dokter dan para pengawal di ruangan itu ketakutan.
"Tu..tuan saya belum sele ..."
"Cepat katakan! kenapa dia!" bentak Kevin tidak sabar.
"Pasien hamil Tuan! Ini hasil pemeriksaan darahnya." ucap dokter itu cepat ketakutan.
__ADS_1
"A! - apa!???" sentak Kevin menggema di ruangan.
Dokter menyerahkan hasil kertas pemeriksaan, Kevin pun merebut kertasnya.
Kevin menggelengkan kepala, tangannya mengepal kuat-kuat sampai urat-uratnya terlihat. Ia semakin meringsek kertas di tangannya.
Kevin jatuh terduduk ke Kasur di sampingnya, Ia menelan salivanya.
Pikirannya mulai melayang jauh.
Urat keningnya menegang, mulutnya mengatup, giginya menggertak, wajahnya kini berubah merah padam.
"Aku Kecewa"
Dadanya naik turun, hidungnya semakin berkerut, matanya nyalang ... alisnya menaut.
Bola matanya, melihat ke kiri-ke kanan mencari kebenaran, bibirnya gemetar, tenggorokannya tercekat.
Ia memegangi kepalanya yang sakit. Darah di tubuhnya terasa dingin. Ia tidak bisa mempercayai ini semua.
"Sial!" Ia berdiri menendang meja dua kali, sampai kaki meja yang terbuat dari kayu itu patah.
Kevin menahan air di sudut matanya.
Ia memukul-mukul kasur dengan keras, tak peduli Lala yang masih pingsan akan terbangun atau tidak karena kegaduhannya.
Dia tidak bisa menahan sesak di dadanya.
"Breng*ek !! Jo!"
________________________________________
...Kekecewaan adalah kehilangan dan kesedihan yang mungkin timbul karena kehilangan sesuatu....
...Mungkin sulit untuk mengakui seberapa dalam dan tajam rasa sakitnya....
Tips:
Menerima dengan lapang dada.
Selalu fokus pada hal-hal yang menjadi prioritas.
fokus kepada hal-hal yang lebih bermakna dan menjadi tujuan hidup.
Melanjutkan hidup dengan bersyukur.
__ADS_1