
Aku hanya tidur sebentar.
Aku dan ayah duduk bersandar pada pintu balkon. Ayah di sisi luar dan aku di dalam kamar. Aku tertidur cukup lama dengan tangan kiriku terus menggenggam tangan hangat Ayah. Sampai ayah membangunkanku, dan dia memelukku lama lalu kulihat ayah merayap di dinding dengan alatnya. Ayah pintar menghindari sorotan lampu mercusuar. Ayah terlihat lincah, apa dia sering melakukan ini?
Aku menutup pintu balkon kulihat jam tiga pagi, aku tidur sebentar dan jam lima para pelayan sudah membangunkanku dan membantuku bersiap dengan segala persiapan make up dan Inem sambil menyuapiku selama aku bersiap.
Mereka memberikan sentuhan make up yang semakin menonjolkan wajah asiaku. Apa kami cocok bersanding? aku mengingat saat pernikahan samatha, teman-teman Kevin kebanyakan bule, hampir semua berwajah eropa. Aku sangat insecure. Apa benar Kevin memilihku?
Jantungku berdegub kencang mengingat wajah eropa Kevin. Dia yang paling berkharisma dari teman-temannya.
"Nona.. nona"
"Ganteng."
"Apa yang ganteng nona?"
"Ah genteng!" Aku melihat pantulan di cermin wajahku yang memerah.
"Genteng?"
"A-aku teringat genteng di kampungku."
Inem mengerutkan dahinya, "Minum obatnya, nona" Siska memberikanku obat untuk kandungannku.
Jam delapan aku telah bersiap. Penjaga tak biasanya mengijinkan ayah masuk ke kamarku.
Ayah terlihat bersinar dengan jas mahal itu dan setangkai bunga di saku dadanya serta dasi yang membuat ayah semakin terlihat esklusif. Apa ini benar Ayah? matanya menyorot sangat dalam padaku, dia tersenyum saat semua para pelayan keluar dan meninggalkan kami berdua.
"Putriku ... kamu terlihat bercahaya, apa para bidadari bersatu dalam dirimu?"
__ADS_1
"Ah ayah apa sih," Wajahku langsung menghangat dan aku tertunduk lalu aku berdiri dari kursi rias dan duduk di tepi tempat tidur. Jantungku semakin berdebar, tanganku sedikit gemetar.
"Hiduplah dengan bahagia, jika ini kebahagiaanmu," ucap ayah bergetar, bibirnya tertarik ke atas dan ayah memberikan kotak merah persegi panjang.
"Ini untuk ku?" mataku berbinar saat melihat kalung indah dengan lontin berbentuk tetesan air berwarna ungu. Aku memeluk ayah sangat lama. "Aku janji aku akan bahagia, sebahagia ibu memiliki ayah, ibu di surga pasti sedang melihat kita sekarang kan, Ayah?"
Ayah tak menjawabku.
"Ayah?" aku melepaskan tanganku melihat tatapan ayah yang tak dapat di tebak.
"Jadilah istri yang patuh pada suami. Jika kamu memilki masalah, tolong terbuka dengan Ayah."
"Siap Kapten. Aku pasti akan jadi istri yang patuh sepatuh Ibu pada Ayah." Aku melihat bibir ayah yang tadi tertarik ke atas seketika turun ke bawah. Apa aku salah bicara? atau ayah merindukan ibu?
"Ayo, mereka sudah menunggu," ucap Ayah dingin memberikan lengan kirinya, dan aku menautkan tanganku padanya, tepat saat pelayan membuka pintu.
Kami menaiki sebuah mobil dan keluar dari gerbang setah melewati kanan kiri hutan. Tibalah kami di sebuah gedung krem besar. Tanganku semakin berkeringat dingin, semua darahku seperti mengumpul di wajahku , hingga wajahku terasa begitu kaku.
"Jantungku seperti akan berhenti ayah."
"Tari nafasmu sampai hitungan ke 7 .... tahan.... hembuskan sampai hitungan ke 8."
Aku mengikuti instruksi ayah.
Mobil kami di buka, Ayah menyambutku. Beberapa memberi pengarahan.
Kaki ku gemetar ... aku ...
"Nak, angkat dagumu, mereka semua ingin melihatmu."
__ADS_1
DEG jantungku semakin mau copot.
Aku beralih dari asap buatan di kakiku dan memandang ke depan... mereka semua menatapku. Rasanya? bagai ribuan tombak-tombak es menghujanikku.
Kulihat sosok yang paling ku kenal di ujung sana. Ia tersemyum padaku. Dia tak melepas pandangan itu dariku, aku melihatnya dia tak berkedip sama sepertiku yang tak berkedip.
Sesaat aku lupa jika kami menjadi pusat perhatian. Tatapannya begitu memikat. Wajahku semakin menghangat, tanpa aku sadari kedua sudutku bibirku terangkat dan terbuka.
Dia berjalan semakin dekat, tatapannya semakin lembut. Kami saling memberi penghormatan. Dan ayah memberikan tanganku pada Kevin.
'Ya Tuhan!'
Tanganku gemetar. Listrik menyengat sekujur tubuhku saat tangan yang terlihat uratnya itu meraihku, terasa hangat. Apa ini yang dinamakan listrik cinta? Dia berbalik dan berdiri disampingku. 'Ya Tuhan aku ingin menangis.'
Wangi parfumnya terus menggodaku, aku sedikit mengangkat kepalaku melihat wajahnya. Mata biru, sebiru lautan dalam, rambut dan alisnya yang sedikit pirang. Hari ini Kevin sangat bersinar. Hidung mancungnya... aku masih tak mempercayai hidung itu yang sering menyerang pada tengkukku.
'Apa dia malaikat?'
"Babe..." panggil dia dengan suara sangat mesra dan seksi, menyadarkan lamunanku.
'Sadarlah Lala!' rutukku.
Kevin melangkah dengan sangat keren. Aku masih tak percaya bisa sampai detik ini. Hingga kami bisa berjalan berdampingan dan hanya menghitung detik sampai kami mengikrarkan janji suci.
Apa yang ada di hatiku seperti akan meledak dan aku terus menarik nafasku dalam-dalam menyeimbangkan langkah demi langkah yang sangat berharga dengan langkah orang yang telah mewarnai hidupku.
Bersambung ...
_______________________________
__ADS_1
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍