Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 187 : PERTEMUAN YANG KU IMPIKAN, KINI MENJADI KENYATAAN


__ADS_3

-POV Johan-


Saya bosan dengan makanan hotel dan memutuskan berjalan melewati beberapa restoran.


Saya harap restoran ini tidak akan menyiapkan makanan terlalu lama.


"Selamat datang di restoran teluk Biru. Bapak, mau duduk di meja mana?" tanya seorang remaja berpakaian seragam pelayan.


Saya melihat seluruh meja di dalam ruangan, sampai mata terpaku pada sosok punggung wanita yang saya kenal.


Mata saya terbelalak pada perempuan berambut pendek yang duduk di sebelahnya.


"Bapak?" tanya pelayan, tepat bersamaan dua orang pengunjung yang menabrak saya.


"Ah maaf," kata mereka bersamaan dan berlalu menuju orang yang saya kenal.


"Begini saja, saya memesan satu porsi kepiting saus padang, bawal bakar, dan oseng tauge, dan jeruk hangat. Dan saya akan menunggu di dekat orang itu."


"Di dekat bu Sasha? baiklah, saya catat pak."


"Oh, kamu mengenal Bu Sasha apa kamu tahu orang di sebelahnya?"


"Ibu Lala, teman bu Ella-"


"... Bisa kau ulangi?"


"Bu Ella pemilik restoran ini."


"Bukan, yang satu, siapa tadi?" saya tidak percaya seperti tersambar petir, ada berapa nama sama di dunia ini? okey jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.


"Bu Lala Alena..." Alis remaja itu terangkat.


"Lala Alena? oh ya sudah terimakasih ya." Aku menghela nafas nafas panjang, hingga paru-paru saya mengempis maksimal. Nama yang mirip.


Mirip? Saya memperhatikan betul 'Lala' / 'Mawar' terutama saat dia serong kiri, pipinya sedikit tirus atau mungkin kencang lebih tepatnya. Wanita itu menyingkirkan rambut ke belakang telinga, membuat jantung saya berdebar.


"Apakah dia atau bukan?" Pikiran ini telah menusuk otak saya seperti jarum tumpul.


Dia sangat mirip.


Menepuk bahu Sasha yang tiba-tiba menegang, saya melihat 'Lala?', wanita itu menoleh dan seketika membulatkan mata sempurna.


Fitur cantik yang sama: mata, bibir cherry leher anggun perbedaan: Namun, ada juga alih-alih rambut panjang, pendek dan dia berpakaian ala gadis dan lebih ramping tapi 'berisi'


Namun, memandangnya, seolah-olah dia benar-benar orang asing. Jika itu benar-benar Lala Clarissa dia pasti akan mengenali saya, tetapi dia tidak merasakannya. Sangat mirip Namun, kemungkinan besar, bukan dia. Atau dia?


"Jo_" panggilan Sasha terdengar tercekat, tetapi mataku tidak pernah lepas dari wanita itu yang terlihat shock dan masih memandangiku.


"Mawar?" panggil ku.


"Sa...?" tanya Wanita itu.


"Jo, duduklah," Sasha menarik tanganku, saya duduk di hadapan mereka, dan memandang tajam meminta jawaban Sasha.


Saya menatap dalam-dalam mata wanita itu."Mawar? Lala?" samar-samar dan kabur. "Lala Chlarissa? Lala Alena?" aku menegang, tanganku mengepal di atas meja."Beri aku penjelasan, Sha," kataku penuh dengan penekanan pada Sasha yang terlihat pucat.


"LALA CHLARISSA?" desak ku tak sabar, dengan penuh penekanan menarik tangan Lala agar keluar dari tempat duduknya yan terkunci Sasha.


"Jo, kita bicarakan baik-baik."


"Baik-baik kata mu, Sha?" menahan suaraku saat Lala berpandangan dengan Sasha, bukankah itu makin jelas.


"Maaf, tapi mungkin anda salah orang," jawab mawar bergetar membuat aku tertawa, dan mawar tampak gemetar. "Lepaskan tangan saya."

__ADS_1


"Johan, lepaskan tangan dia!"


Saya menatap terusan putih berkancing yang digunakan mawar." Tunjukan perutmu, jika kau bukan Lala Chlarissa. "Aku berdiri tanpa melepas tangan kiri mawar, saat Sasha juga memegang pergelangan tangan saya agar melepas Lala.


"Omong kosong! alasan saja, mesum!" cicit mawar dengan alis menyatu.


"Minggir Sha," pintanya membuat Sasha berdiri dan mawar melewati dia. Kemudian memukul pergelangan saya dengan tiba-tiba dan berlari.


"Mengapa dia berlari?" tanya ku pada Shasa, "katakan siapa dia sebenarnya?"


Mulut Sasha terus terkunci. Saya berbalik dan mengejar mawar, kenapa dia berlari?


Saya begitu cepat kehilangan dia, menatap pohon-pohon ketapang, Apa dia bermain petak umpet? dia tidak mungkin masuk ke restoran lain kan?


Saya berjalan ke resto sebelah dan membantu seorang dengan barang dagangan berceceran, "jatuh ya pak?"


"Iya perempuan tidak punya etika, sudah lari-lari, menabrak malah main kabur saja."


"Lari? kemana dia lari?" tanyaku memiliki harapan dan bangkit membantu pak tua yang membawa krupuk. Lelaki itu menunjuk pantai, itu terhalang pohon, aku bergeser, benar dibawah sinar dia berdiri di tepi pantai.


"Terimakasih pak." Saya setengah berlari, derak kaki saya menginjak ranting kering, lalu mulai melewati pasir.


Angin malam melewati seluruh wajah terutama leher saya, berhembus pelan tetapi cukup mampu membuat saya menggigil.


Suara pecahan ombak dan pecahan gelembung air di pinggir pantai, sangat nyata.


Aku melangkah ke belakangnya dan dia menoleh.


"Anda salah orang."


"Bukan kah suaramu lama-lama kian mirip? jangan berlari lagi? aku tak peduli kau siapa; mawar; Lala Alena; Lala Chlarissa; jangan pergi lagi."


Dia memandangi pantai. Baju berlengan panjang bagian rok dan rambutnya tersapu angin ke belakang. Wangi parfumnya berganti samar; mawar dan raspberry. Tangannya menekuk, "Johan," katanya datar membuatku tersenyum.


aku ingin mengatakan aku sayang kamu.


Aku memandangnya merasakan sesuatu keinginan bagaimana dan segala di dalam mulai gatal dari untuk mendekat, menyentuhnya dengan tangan, bibir, meremukkannya dalam pelukannya, membuatnya terkesan pada dirinya sendiri, meninggalkannya seperti itu. endorfin yang mengejutkan !


Saya percaya dan tidak percaya bahwa saya akhirnya bertemu Lala. Betapa aku berdoa sekali, hanya untuk menemukannya, hanya untuk melihatnya...


Betapa aku merindukannya, mengkhawatirkan wanita kucing kecil dan jahat ini.


Menjijikan untuk diingat. Aku cinta! Betapa aku pernah mencintainya. Dan kemudian aku bersumpah pada diri sendiri: aku tidak akan pernah mengingat cinta itu lagi.


Dan aku melanggar sumpahnya berkali-kali aku kehilangan hitungan. sehingga Lagi-Iagi aku bermimpi bertemu dengannya.


Sementara saya sekarat karena kerinduan, dia menjalani hidupnya sendiri, dan dia tidak peduli bagaimana saya ada di sana. Dia baru saja melemparkan saya ...pikiran ku terus memakan, menggigit, mengancam akan melahap ku utuh.


Aku sangat ingat betapa buruknya aku di bulan pertama, ketika dia meninggalkan negaranya. Selama itu aku hidup dengan satu- satunya tujuan untuk bertahan untuk berpikir tidak bunuh diri. Aku tidak bisa memikirkan hal lain.


Naif, aku juga hanya memimpikannya, memimpikan aku akan menikahinya.


Setelah berbulan bulan tidak mendapat kabarnya. Lala tidak menelepon, menulis, meninggalkan suara.


Kemudian suatu pagi aku terbangun dari rasa sakit yang luar biasa.


Aku menderita, memanjat dan sekali lagi bersumpah: tidak ada lagi.


kemudian kemarin kucing ini sedetik membangunkan dalam dalam dirinya segala sesuatu yang aku jalani, apa yang paling membuatku bergetar.


Dia berusaha menyembunyikan diri. Aku tidak mengijinkannya!


Dia menunduk menatap pasir pantai, di bawah sinar bulan. "Saya bukan yang dulu, jadi jangan temui saya lagi. Anggaplah saya yang dulu telah mati."

__ADS_1


Dia berkata dengan bergetar lalu pergi aku menahannya."Minggir, kamu menyebalkan!"


Saya tertawa membuat dia berbalik menatapku dan aku menjajarkan tinggiku dengannya. "Lala, kamu curang. Sudah meminta saya membuat kamu agar bisa mencintaiku dan lalu ini?"


"Bahkan saya sudah tidak mengingat itu."


"Kamu pikir bisa dengan sesuka hati mempermainkan saya?"


Saya kembali tegap, meraih dan mencengkram pinggang ramping dan membanting dia ke perut saya.


Dia mendongak dengan bibir mengerut, "Aku membutuhkan waktu! saat-saat sendiri!"


"Saya," aku dengan penuh penekanan, "akan menyembuhkan hati anda, saya bisa diandalkan."


"Aku tidak bisa," katanya datar.


"Kamu pengecut kecil, kamu harus menghadapinya!"


"Aku tidak pengecut! Siapa bilang aku tidak menghadapi ini semua?"


"Kamu tidak ingin bercerita? aku akan mendengarkan."


"Tidak ada cerita," katanya bergetar. "Lepas tanganmu, Jo. Aku ingin pulang, sudah malam."


"Kamu paling berarti untuk saya dan putri-putri kita."


"Saya butuh waktu! kamu menyebalkan!" Dia menekuk tangan dan mencoba melepas dengan kuat, aku masih menahannya.


Kamu benar-benar manis. Kamu memberontak dan aku makin semangat.


"Kamu tidak bisa menolak saya, sayang," kata saya dengan nakal. Dia rubah kecil yang mencoba terlihat kuat diluar tapi rapuh di dalam.


"Lepas." Matanya berkaca-kaca.


"Kamu segalanya dan saya tidak akan melepaskan anda lagi. CAMKAN."


Tubuhnya gemetar dan saya mengecup keningnya dan menemui mata dia terbelalak. "JOHAN!"


"Ya, kitty, kurang keras," bisik di telinganya. Aku menyeringai dan kembali berdiri tegap. Mengeratkan pelukan di pinggangnya.


"Ah! Johan! hentikan," ringisnya


karena guncangan saya.


"Panggil aku lagi," mengedipkan mata, patu-paru ku terasa dipenuhi kehangatan.


"Apa, kitty?! kamu panggil saya kucing!!!!" Dia meninggikan suara dan bibirnya semakin mengerucut, menghangatkan hati dan menumbuhkan tunas-tunas baru dalam diri saya.


Dia memukul bahu dan saya menutupi tangan itu dan menggesernya pada dada saya yang kini berdendang dengan keras.


"Kamu, bisa rasakan ini? Lala Clarissa Sergio, Johan beri tahu, ini hanya bekerja padamu."


Suara hembusan angin, deburan ombak mencium bibir pantai, menyela keheningan diantara kami.


Dingin mengigit kami, tapi saya sangat menikmati memandang tatapannya sekarang.


Kapan lagi saya bisa merasakan keindahan ini. Tatapan kami, mengingatkan di pantai tempat kakek Lewis. Tangannya sangat hangat di dadaku, getaran-getaran menyalurkan listrik, sampai sekring dalam diriku putus!


Aku akan menahan mu, kitty. Kamu telah menjadi tahanan saya, rubah atau kucing aku akan mengekang tali pada lehermu, milik ku.


"Berikan seratus malam, aku akan membuat kamu jatuh cinta kepada saya, kitty."


"Panggilan mu menjijikan. Dan aku sudah memiliki pacar!"

__ADS_1


__ADS_2