Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 195 : ADIK SAYA


__ADS_3

-POV LUCA-


TING TONG!


Pintu terbuka, Kevin membeku- ponsel ditangannya jatuh.


Saya memberikan bayi Vino pada Kevin dan memaksa Kevin agar menggendongnya.


Dia berkedip berulang kali seolah tidak mempercayai. Wajah tanpa ekspresi itu sepertinya terus mencoba mencerna, dan matanya mulai berkabut, embun bening menyelimuti mata, terpaku pada bayi dalam gendongan.


Saya mengambil ponsel Kevin di lantai, dan melenggang ke arah kulkas. Saya meraih sekaleng Bir.


Tubuh Kevin terlihat bergetar dengan bulir air mata meluncur jatuh melewati pipinya.Kini mata dia tak berkedip, seperti orang bodoh.


"Dasar cengeng, sampai kapan kau terus berdiri," cibir saya sambil menghamparkan pantat di sofa.


"Ayolah Kevin ... Sampai kapan kau terus diam seperti itu. Nah, kamu, kenapa menangis hanya karena seorang bayi? Jadi, kau sepertinya 'tahu' ?"


Ceklek-membuka kaleng sambil tertawa.


Kemudian saya menenggak botol bir tanpa mengalihkan pandangan dari adik saya, dia tampak terguncang saat Vino memukul-mukul wajah papahnya, dengan sorot mata mungil penasaran. Apa bayi itu dapat merasakan?


Bayi itu kemudian tersenyum lucu menunjukan gigi-giginya. Vino terlihat gemas kepada Kevin yang masih berkedip pelan dimana bulir air mata itu kembali jatuh dari sudut mata.


"Vino, Vino, kamu tahu siapa yang menggendong mu?" Saya menggelengkan kepala perlahan, karena Kevin sungguh naif.


"Berhenti hidup seperti seorang zombie. Saya mendengar berita bahwa Samantha telah bercerai lama dengan suaminya. Dekati lah dia .... dan bangun kehidupan lagi."


Kevin menutup pintu kamar, tangan kanan besar itu mengelus punggung mungil Vino dengan penuh cinta. Dia berjalan ke arah saya, dengan mata terus tertuju pada Vino, sementara Vino memegang bibir Kevin dan mencengkeramnya. Kevin terlihat sangat tersentuh, apalagi dia yang pecinta anak-anak.


Saya bersandar pada bahu Kevin yang baru duduk.


"Kenapa diam Vin? apa kamu baru memegang Vino untuk pertama kali? coba ceritakan pada kakak mu ini apa yang ada di dalam isi kepala mu itu."


Saya meliriknya, dia mengecup pucuk kepala Vino dan bayi itu tertawa lucu, dia menempelkan pipinya dengan pipi Vino, sampai pipi bayi itu basah oleh air mata sang papah. Terlihat jelas kerinduan begitu dalam di netra Kevin, dia terus menciumi Vino yang berceloteh tak jelas.


"Saya akan kembali sore ini, kak," katanya dengan suara rendah dan dingin.


"Kembali? sebenarnya kau ke sini mau apa? Kamu tidak ingin menemui Lala?"


"Dia tampak sangat marah kepada ku."

__ADS_1


"Tahunya?"


"Dia mencaci maki saya di pantai."


"Oh, kamu sudah menemui dia?"


"Tidak, aku mendengar dia mengumpat ku di depan Johan, semalam."


"Coba kamu minta maaf dengan tulus, kamu masih memiliki kesempatan."


"Richie, kemungkinan nanti malam akan melamarnya."


"Richie? orang itu? dari mana kamu tahu Richie akan melamar. Oh bukan itu pertanyaan ku. Dan lalu kamu membiarkan itu terjadi?" saya mengerutkan kening.


"Richie mengatakan kepadaku saat menjenguk Ivy."


"Lalu, kamu menjawab apa? apa kamu cuma diam saja, apa kamu seorang pria, cengeng hanya bisa menangis, bukan ini yang Lala butuhkan."


"LALU AKU BISA APA!"


"Tunjukan! tunjukan padanya. Bukan hanya diam begini, kamu mengawasi dia dari jauh?"


Dia berkedip cepat dengan keputus-asaan. Saya tertawa. "Kau mengawasinya, dan tidak menemuinya. Lalu apa dia akan tahu jika kau masih menunggunya?"


Dasar, Naif.


"Dia menunggu di bawah, sepertinya dia menghubungi Ivy. Apa kamu mau membawa anak-anak ke negara ini?"


"Entahlah..."


"Suruh mamah, jika kau tak bisa menemani anak-anakmu. Dan Mamah juga ingin melihat cucu laki-lakinya."


"Kak ... Kak ... " Suara Kevin tercekik seperti tidak punya kekuatan untuk menyampaikan betapa buruknya perasaan dia.


Kevin semakin terisak dan tertunduk lebih dalam, air matanya berjatuhan ke pahanya, dia mengenakan celana kain pendek.


Bagaimanapun dia, adalah tetap seorang adik dan hatinya seperti kucing kecil.


Saya membiarkan dia terisak lama, saya mengusap kepala yang jatuh bersandar di bahu saya. Vino terlihat kebingungan.


"Sakit... sakit .... " isaknya tercekik.

__ADS_1


"Sudahlah, kau tidak malu dilihat putra mu. Apa katanya bila besar, 'papah ku cengeng' " kata ku dengan suara melengking.


"Kakak, seperti apa kau, brengsek," cebiknya dalam suara rendah dan saya me..remas keningnya lebih dalam ke bahu saya. Dia menangis dengan cara kekanak-kanakan, menyedihkan, matanya tertutup sementara tangannya memegang kuat pada Vino yang kini mendekap papanya. Miris, saya ingin tertawa dalam duka. Siapa yang papa, siapa yang bocah.


Aku memiringkan tangan, melihat pergelangan tangan. Jam satu, Apa Lala masih telepon dengan Ivy.


Ting-Tong!


"Siapa?" isak Kevin sambil mengembalikan posisi duduknya. Dia menatap tajam pada saya, satu alisnya terangkat.


"Itu Haris, kamu buka," kata saya bohong.


"Mas Luca ... " suara Lala.


Baru setengah jalan, Kevin berbalik, dia menatap tajam pada saya dan kembali ke arah saya.


"Aku tidak mau menemuinya. Jangan bilang aku di sini," lirihnya tidak semangat. Dia mengecup banyak Vino, mungkin tidak ada yang luput dari kecupan di wajah mungil itu. Kevin mendekap begitu erat, sorot kesedihan kembali terlukis diwajahnya seolah tidak ingin berpisah dengan Vino.


Kevin berjalan dengan bahu merosot ke kamar mandi setelah memberikan Vino pada saya. Bayi ini seolah tahu, dia mengulurkan tangan ke arah Kevin dengan tangan membuka menutup seperti memanggilnya atau ingin menggapainya.


Di pintu, Lala terlihat begitu khawatir dan cepat meraih Vino, dia sempat mengendus-ngendus, mungkin dia bisa merasakan perbedaan parfum di tubuh Vino. Ya Kevin suka parfum aroma alam kuat, sedangkan aku suka citrus.


"Ayo turun," ajaknya dengan mata sedikit melirik-memutari ke dalam kamar. "Mana istri mu, mas Luca?" tanya nya mengagetkan saya.


"Di-di bawah."


"Ayo cepat, Lydia sudah mencari ku." Lala melangkah duluan.


Aku masih terpaku menatap punggungnya. Namun, tiba-tiba dia kembali.


"Mas."


"Ya?"


"Boleh ikut ke kamar mandi?" Dia tertawa kecil dengan wajah memerah.


Saya mengerutkan alis. "Bukannya tadi kamu habis dari kamar mandi?"Jantung saya berdebar, harus memberi alasan apa.


"Tadi, segelas milkshake, aku tidak tahan, plis," dia memberikan Vino pada saya.


"Tapi-kamar mandinya kotor."

__ADS_1


Dia sudah melangkah masuk, "tidak apa," teriaknya berlari ke kamar mandi dan saya meninggalkan kamar itu, aku tak mau melihatnya.


Bukan salah ku...


__ADS_2