Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 226 : RUANG KERJA KEVIN


__ADS_3

Di kamar Ivy, Lala membaringkan tubuh di kelilingi oleh tiga putrinya, menceritakan bagaimana dia terjebak di hutan upaya melarikan diri dan semua hal tentang penculikan, ya dia rasa tidak perlu ada yang ditutupi dari putrinya yang telah dewasa, karena rasa keingintahuan ketiga putrinya, dan hanya sebatas cerita penculikan biasa tanpa mengaitkan tentang siapa Kevin, dan siapa kakeknya Alen.


Pintu kamar berderit terbuka, mata Lala melebar saat Vino dalam gendongan Kevin tengah menepuk pipi Kevin. Lala terlonjak dan langsung menghampirinya bersama tiga putrinya yang tidak mau kalah.


Melirik mata Kevin sejenak, lelaki itu mengangguk dan tersenyum penuh kehangatan dimana bibirnya bergetar.


"Vino," Lala memperhatikan bagaimana putranya mengamati dirinya seperti bingung, mungkin Ars merawat dengan sangat baik, pipinya semakin cubby hanya dalam waktu sebulan. Tangan kiri Lala memegang ketiak Vino, tangan kananya mengelus kepala Vino yangmana rambutnya halus dan hangatnya.


Kevin memperhatikan bagaimana mata wanita itu bergetar dan mengembun, dengan sorot mata keharuan, menyentuh sangat hati-hati pada putranya seakan-akan putranya vas kristal berharga yang bila di sentuh sedikit bisa menimbulkan retak. Lengan tangan kanan Lala bersentuhan dengan dada Kevin saat mengambil alih Vino, Kevin begitu merasa getaran penuh saat itu.


Kini wanita itu mengungkung Vino dengan rintihan tertahannya, membuat hati Kevin sakit, mengapa wanita itu harus melewati ini, tidak ingin dia melihat wanita itu kesakitan seperti itu. Tidak boleh ada yang memisahkan kebahagiaan keluarganya lagi.


Tubuh Kevin merengkuh putri-putrinya yang memeluk mamahnya dan adiknya, itu sangat lama, dan putri-putrinya ikut menangis karena rintihan mamahnya.


Hati Kevin berdenyut, dia tidak cengeng, tapi bila ini menyangkut putra-putrinya dan wanita yang dicintainya, hatinya menjadi begitu peka, bahkan tersayat oleh rintihan sekecil apapun bila menyangkut keluarganya.


Keluarganya dalam rengkuhannya detik ini. Bila orang melihat dari kejauhan sekarang, mungkin keluarganya tampak utuh, harmonis dan lengkap, tapi ... tapi dari dalam satu bagian telah retak, mantan istrinya yang terus memberontak dan terus memisahkan diri sekuat apapun dirinya merekatkan dengan cinta.


Seharusnya seperti ini Lengkap, tidak boleh ada yang memisahkan kami, tidak boleh. Lala, tolonglah kembali, demi keutuhan ini. Jika kamu tak mau, aku akan memaksamu. Kamu terlahir hanya ditakdirkan untuk ku, tidak bisa- tidak boleh ada yang menyentuhmu. Bahkan sekadar pikiranmu tidak kuijinkan memikirkan lelaki lain, aku bersumpah. (Kevin)


Lala mendongak saat putri-putrinya membawa Vino ke kasur, sementara dirinya masih di pintu, "saya mau menyusui Vino, tolong keluar."


"Ba-be, kita bisa memperbaikinya. Ini sangat indah." Kevin melembutkan suaranya setelah melirik putra-putrinya dari jauh.


Lala melirik ke atas kasur. "Mereka anugrah terindah, Kevin, aku juga tahu," tatapan meredup, menyentuh bisep Kevin, "tapi, tidak untuk kamu dan aku. Tolong hargai keputusan yang ku buat. Bahkan kau tak mau peduli dengan keputusanku? saya rasa itu bukan cinta, tetapi anda terlalu terobsesi pada saya?"


Kevin menelan benjolan keterkejutan dari pernyataan Lala sebagai tanggapan. Bibirnya bergetar, tangan meremas.


Aku tidak akan membiarkanmu membuat keputusan sendiri. Tidak akan mengijinkan. Kau hanya perlu mendengarkanku. Mengikuti semua perintahku. Karena aku jelas tahu apa yang terbaik dan aku yakin kamu tidak bisa hidup tanpaku. (Kevin)


Lala tercengang karena Kevin dengan cepat menarik kepalanya dan mengecup kening seolah menyiram hatinya yang telah mati, dan lalu pergi menutup pintu.

__ADS_1


Tubuh Lala membeku, takut hatinya berulah lagi oleh siraman itu. Satu cairan bening jatuh ke sudut matanya. Semakin dia cepat-cepat jauh dari Kevin semakin baik, bahkan dia tidak bisa mengontrol hatinya sendiri, dari rasa sedikit ingin ...


Tidak, ini tidak boleh, tidak akan kembali, jangan kembali, tidak titik.


Tolong hati, jangan bergulat denganku, kau milikku, tidak- jangan berani-berani melawanku, Kevin menyakitimu, akan sangat baik kau harus menutupnya, jangan berani-berani mengintip, tidak ada kasian- tidak ada kata perandaian...


"Mah mah," celoteh Vino, Lala mendongak meninggalkan tatapan dari lantai parket kayu, ini rumahnya dahulu, dan sekarang bukan, dia harus cepat-cepat meninggalkan kediaman Kevin.


Menyusui, menyusui, menyusui, putranya. Jari-jarinya mengelus alis, pelipis, pipi Vino bergantian.


Oh kenapa mirip sekali dengan Kevin, bahkan tatapannya, netra deep blue, kamu fotokopian Kevin, putraku ... mamah harap sikapmu jauh dari kata arogan, kamu tidak boleh seperti papah, nak.


...***...


Malamnya, Lala terdiam didepan kolam renang, paman Pedro akan menjemputnya besok. Dia akan bertemu Ars untuk menyelesaikan perselisihan Ars dengan ayahnya, dan dia harus meninggalkan Vino sementara waktu.


Tiba-tiba Kevin datang membawa dua cangkir beraroma kopi, vanila dan duduk di depannya.


"Kevin, kamu belum tidur," Lala menatap jubah tidur yang dikenakan Kevin, itu hadiah darinya saat ulangtahun Kevin. Lalu melirik susu di depannya dengan aroma vanila, hoh dulu Kevin selalu membawakan ini saat mau tidur.


"Aku tidak menaruh apa-apa di dalamnya, apa kamu kira aku memercikan obat?" Kevin menggeleng dan tertawa kecil.


Mengerutkan alis, "aku tidak berfikiran seperti itu." Meraih pegangan cangkir, telapak tangan kiri menempel di cangkir, Lala membawa gelas ke depan hidungnya, menghirup, aromanya langsung terbang di antara selang-selang otaknya.


Kevin menatap gerakan elegan itu, segala sesuatunya selalu membuat dia semakin jatuh cinta, terutama saat bibir itu menempel diujung cangkir, walau redup tetap begitu elegan sikutnya melayang di udara.


Mengapa kerendahan hati wanita itu selalu mencongkel otaknya, teringat bagaimana dulu setiap minggu Lala selalu mengunjungi panti, dan selalu ikut dalam acara sosial, wanita itu jarang mau berbelanja untuk diri sendiri ... bahkan hampir tidak pernah.


Wanita itu selalu menggunakan jatah bulanan untuk acara amal. Semua pakaikan disiapkan desainer khusus, dan wanita itu tidak pernah komplain dan sangat penurut. Bahkan wanita itu bukan penggila tas, sepatu, mewah, tidak seperti para aktris muda yang selalu berusaha menggodanya untuk mendapatkan barang-barang mewah itu.


Mengapa tidak seperti wanita lain yang mencintai kemewahan dan batu permata langka lalu memamerkannya pada teman-temannya. Sebenarnya isi otaknya apa?

__ADS_1


Dan sekarang, wanita itu bukanlah penurut yang seperti dulu, sekarang tampak lebih tegar, seakan-akan memperlihatkan bahwa Lala telah berdiri di atas kakinya sendiri. Apa aku sudah melukai harga dirinya?


"Kevin?" Lala menatap Kevin yang melamun, lelaki itu terus melirik kolam renang, seakan di sana ada yang menarik. "Besok siang, saya akan pergi dengan teman ayah."


"Kamu keras kepala," Kevin memperhatikan Lala baik-baik. "Jika kamu mau tetap ke tempat Ars, kita pergi bersama. Seharusnya kamu tahu itu bukan persoalan perempuan."


Kevin menghela nafas panjang, "dan di sana ada Bella, saya mengambil Edric di sana, jadi kamu jangan salah paham karenanya." Kevin merasa harus mengklarifikasi itu, jangan sampai wanita yang dicintainya mengira salah tentangnya.


Mata Lala membesar, "Bella?" suaranya tercekik, hampir tidak mau keluar. Tidak ingin bertemu Bella, itu terlalu melukai hatinya. Kenapa Ars membawa Bella? hidup sialan. "Aku tidak peduli, mau kamu hidup dengan Bella, saya juga tidak peduli, bukan urusanku."


Kevin menatap tajam saat mendengar helaan seperti putus asa di ujung kata-kata Lala, wanita itu menggigit ujung bibirnya dengan mata tampak kecewa, nah kan benar dugaannya, tidak salah wanita itu masih mencintainya. Kevin tersenyum getir, mengigit bibir bagian dalam, mengapa wanita itu tidak mau mengakui saja.


"Ars menyandra Alen, Edric dan ..." Kevin tidak meneruskan kata-katanya. Bella mencuri dokumen pentingnya, tidak secara langsung, tapi dirinya tahu itu anak buah James di bawah perintah Bella. Bahkan Bella sudah tahu letak markas macan putih.


"Menyebalkan," gumam Lala sangat kecil dan Kevin mendengarnya, untuk ukuran orang lain mungkin itu tidak terdengar, tapi indra pendengarannya tiga kali jauh lebih peka dari manusia normal. Dia bisa mendengar setiap gerakan, dan hembusan nafas walau beberapa meter. Memeriksa tingkat kebohongan dan perbedaan kalimat seseorang dari hembusan nafasnya.


"Kevin, apa yang dulu kamu lakukan pada ayahku? apa kamu menyuruh ayahku untuk membunuh seseorang?" Mengerutkan alis, Lala mengelus tangannya yang merinding, jari-jarinya mati rasa, kursi besi yang di dudukinya seperti frezeer dan giginya gemertak, mulai menggigil.


"Ikuti saya, jika kamu mau mendengarnya, atau kamu mau mati kedinginan disini?" Kevin melangkah menuju pintu kaca dan Lala mengikutinya.


Di sebuah ruangan khusus pribadinya, Kevin membawa mantan istrinya, memutar kursi putar, "Duduk, nyonya ..." Suara Kevin bergetar dan Lala mendelik saat Kevin dengan senyum seringai mengedipkan mata.


Baru kali ini, Lala memasuki ruangan ini seumur-seumur. Semuanya dengan layar komputer lebar, mungkin ada dua puluh, dan jari-jari Kevin sangat lincah entah banyak tombol yang di gerakannya. Lala memperhatikan seksama cara Kevin menempelkan sidik jari, menggambar pola khusus, dan bahkan pria itu menunduk mendekatkan bola mata pada semacam pemindai.


Kevin melirik Lala, wanita itu menganga, namun beberapa detik kemudian menutup mulutnya dan beralih melihat ke arah lain dengan gugup menggaruk kening, saat wanita itu tahu dipergoki sedang memandangi. Kevin menahan senyum, lucu sekali wanita itu.


Lala melirik beberapa cctv di belakangnya, semua rumah ini, dan dua bagian lain, seperti dua buah tempat lain yang berbeda lokasi, seperti bukan di sini. Semuanya berisi lelaki berbadan tegap, dan di sana terdapat Tuan Parker, sepertinya dia berunding di meja lonjong bundar.


"Apa anda terkejut?" Bisik Kevin di belakang telinga Lala, aroma vanila dari rambut Lala mengganggu reseptornya, sangat manis.


Lala merasakan panas tangan besar Kevin yang menutupi pucuk kepala, Lala menoleh ke belakang tapi lelaki itu berdiri lagi, dan tangan Kevin kembali mengotak-ngatik tombol. Aroma alam kuat dari tubuh Kevin menguar tertinggal di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2