Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 40 : LALA DONGKOL


__ADS_3

Kondominium-Hotel Martini, kesan besar dan modern tak lepas darinya. Tempat singgah terfavorit satu-satunya.


Di tempat ini sangat nyaman.


Di kediaman Anton, dia tidak suka bila bertemu papa, Luca, apalagi Ibunya.


Di kediamannya terlalu besar dan sepi.


Namun disini berbeda ... Kevin seperti menemukan segalanya di tempat ini.


Terutama karena ada kunjungan seorang gadis, yang mulai menghiasi tempat ini. Membuatnya lebih berwarna dan terasa hidup.


Siapa lagi gadis itu kalau bukan Lala.


Tapi sesuatu besar telah mengguncang jiwanya. Mantan sahabatnya, Johan, telah menodai Lala.


Memang dulu Johan membelinya, tapi Johan sendiri yang bilang tak akan menodai Lala, tapi apa ini? Mengapa pada akhirnya Johan juga tetap mengambil miliknya.


*Apa benar Lala tidak tahu? Aku masih tidak mempercayai laporan Billy, Aku harus segera mengecek keperawanan Lala tanpa sepengetahuannya.


Apa benar Johan telah melakukannya?Bagaimana caraku menanyakan pada Lala, Aku ingin tahu apa Lala memang melakukannya dengan Johan. Ini sangat memalukan kan?*


Batin Kevin.


Kevin juga tidak mau menilai Lala dengan sebuah keperawanan, tapi mengapa ada rasa sakit yang terus menyerang hatinya


...**...


Lala menemani Kevin sarapan, sesuai aturan kontrak setiap pagi sopir Kevin menjemput Lala. Aturan kontrak kembali berlaku sejak mereka berkomitmen menjalin hubungan.


Lala tidak ikut makan karena cuma minum cairan dengan sedotan kecil. Tenggorokannya sakit bila menelan. Dia memilih cairan yogurt untuk asupan. Tidak lupa obat magh diminum rutin menjaganya dari serangan magh karena tidak diisi makanan.


Kecewa itu perasaan Lala terhadap rahangnya yang belum sembuh. Harapan mengobrol dengan Kevin, sebelum pacar kontraknya itu pergi ke Luar Negeri sepertinya pupus.


Berkomunikasi mengandalkan kertas atau Hp membuatnya frustasi, jika Kevin marah ... lelaki itu merebut alat komunikasinya. Lala jadi kesulitan menyatakan pendapatnya.


Keributan antara dia dengan Kevin, sudah menjadi hal biasa. Lala mulai berani melawan Kevin.


Melenceng dari niat awal yang menjalani hubungan sebatas aturan kontrak.


Lala tidak menduga bahwa kenyamanan dan rasa aman akan didapatkannya dari Kevin. Perasaan yang tidak bisa Lala temukan saat bersama Johan ataupun Luca.

__ADS_1


Kevin menjadi lembut dan terbuka seperti manusia normal. Hati Lala mulai gusar karena dia mulai memperhatikan segala hal yang berkaitan dengan Kevin.


Penasaran dan ingin tahu lebih banyak selalu menyelimuti isi kepala Lala.


Tangan kekar Kevin mendarat di perutnya, dia yang mengenakan dress warna nude sedang asik menonton drama.


Lala menumpuk tangan kirinya di atas tangan Kevin. Kehangatan terasa saat Ia menyentuh tangan Kevin.


Mata Lala fokus pada percakapan drama korea. Lala sudah ketularan Bella yang menjadi penggemar drama.


TV besar di depannya berisi 900 Chanel lebih, chanel dalam dan luar negri yang bisa memanjakan matanya.


Sangat jauh dibandingkan dengan TVnya yang kecil, yang mampu menangkap paling banyak 6 chanel siaran lokal.


Hanya chanel tv, tidak ada apa-apanya... Orang kaya memang beda, ya. Barang mahal pun tidak ada nilainya di mata Kevin, setiap arogannya kumat, siap-siap guci atau apa saja di tendang, dihancurkan remuk tak berbentuk. Kevin tidak tahu betapa Lala kesulitan mencari rupiah, maka Lala menghargai apa saja walau sesuap nasi tak diijinkannya mubazir begitu saja.


Lala tertohok dengan kenyataan pahit. Kehidupan dia dengan Kevin sangat berbeda, latar belakangnya sangat jauh. Lala gundah, padahal yang diinginkan dari sebuah hubungan pasti sampai menikah, namun dia cukup tahu diri dia siapa, ya orang tak punya.


"Aku lapar, masakan sesuatu," kata Kevin sambil melingkarkan tangan kiri di leher Lala, dan bibirnya mencium rambut Lala.


Gadis itu menghembuskan nafasnya, karena harus menyudahi kegiatan menontonnya.


Lala menyingkirkan tangan Kevin lalu berjalan ke pantry.


Kini Lala membuka kulkas besar dan dilihat bahan masakan di dalamnya, cukup lengkap. Padahal hampir tiap hari Ia memasak makan siang untuk Kevin, tapi bahan masakannya selalu diperbaharui tiap hari dan selalu segar.


Sepertinya Kevin sengaja menjadikan Lala tukang masak dadakan, padahal di hotel ini sudah jelas ada master Chef handal, tapi mengapa Kevin selalu meminta di buatkan makanan?


Aneka sayur, seafood, daging dan tahu diambilnya ke sebuah nampan besar dan dibawanya ke meja dapur lalu Lala mengupas kulit udang dan dicuci.


Ia memulai membersihkan lalu memotong aneka bumbu, sayuran dan tahu sambil berdiri.


Lala menyalakan kompor, menuangkan minyak dan menggoreng tahu sebentar lalu meniriskannya.


Di teflon lain dia memasukan bumbu lalu sayurnya, kemudian ditambahkan air panas, di biarkannya mendidih, Lala memasukan aneka saus dan memasukan tahu, dan menunggunya.


Setiap gerakan Lala tidak lepas dari mata Kevin, yang terus memandanginya dari tempat duduk.


Kini sapo tahu telah matang, di pindahkannya ke piring lalu dihirup aroma masakannya ... sesuai aromanya ini pasti enak, warnanya juga cantik, ada merah wortel, tomat, seafood dan hijau brokoli, caisim, daun bawang serta sayur lainya yang berwarna kuning, tak lupa jamur kuping melengkapinya.


Di teflon lain Lala menunggu sapi lada hitamnya yang mulai mendidih, menunggu matang. Pelukan tiba-tiba mendarat di pinggangnya membuat Lala terkejut.

__ADS_1


Ia menoleh ke atas, sorot mata kelam itu lagi.Guratan amarah terlukis dan terpendam di wajah tampan.


...Jadi apa yang membuatmu, marah? Ada apa sebenarnya, Kevin? mengapa kau tak mau cerita. Batin Lala....


Lala berbalik memeluk dada bidang lelaki dengan aura menyeramkan itu.


Lala tidak patah arah, walaupun perasaanya masih sebatas penasaran, Ia coba terus menumbuhkan benih-benih cinta di dalam hatinya untuk lelaki misterius ini. Ia tidak mau berhubungan dengan Kevin atas dasar kepalsuan, Ia ingin tulus mencintai seseorang.


Tangan Lala mengelus punggung Kevin berharap itu bisa menghiburnya. Tercium aroma maskulin dari tubuh Kevin, aroma yang perlahan mulai disukainya.


Sebenarnya satu kekurangan dari Kevin hanya soal pengaturan emosi, pasti bila emosinya selalu wajar, Kevin akan jadi sosok sempurna, terutama di hati Lala.


Di meja makan, Lelaki itu tengah menikmati makan siangnya, tentu saja Lala menyuapinya.


Aku seperti sedang bermimpi memiliki pacar gagah dan kaya. Batin Lala


Sapo tahu dan sapi lada hitam telah ludes. Lala belum terbiasa melihat orang yang, banyak makan sayur dan lauk. Karena Lala biasa makan dengan lauk sedikit tapi nasi yang banyak.


"Mau jalan-jalan?" tanya Kevin. Gadis itu mengangguk-angguk.


beberapa jam kemudian ...


Kevin sudah memilihkan beberapa pakaian, sepatu, perhiasan untuk Lala.


Lala sudah menolak namun Kevin tidak mau di bantah.


Dua orang pengawal setia di belakangnya membawa semua belanjaan, tangan mereka telah penuh, namun Kevin tak peduli.


"Kevin," panggil seorang dari jauh.


Gadis cantik bergaun pink, style modis mahal, branded, seksi, pantat dan dadanya yang besar, datang menghampiri Kevin kemudian langsung memeluk tangan kiri Kevin. Wanita seksi itu sengaja menggosokan dadanya di tubuh Kevin. Tangannya astaga menggerayangi dada Kevin. Lala melebarkan matanya tak percaya. Ingin rasanya Lala menjejak gadis itu.


"Hm," jawab Kevin.


"Ayo kita pergi, aku kangen ... ahh aku telah menyiapkan kamar spesial loh," ucap wanita itu dengan suara yang sangat menggoda, memainkan jemari lentik meliuk-liuk di dada Kevin.


Ini tempat umum loh, beraninya! Kevin juga kenapa diam aja diperlakuan gitu!? Batin Lala dengan tatapan tak suka.


Gadis itu tangannya mulai turun ke perut Kevin.


Lala tidak sanggup melihatnya, dia semakin menekuk bibirnya, kesal karena tidak bisa menahan gemuruh di hatinya. Ia meninggalkan Kevin dengan langkah cepat.

__ADS_1


Apa yang mau wanita itu pegang? gila!. Batin Lala, tidak bisa hilang dari ingatannya bagaimana cara cewek itu memeluk Kevin membuatnya sangat dongkol.


__ADS_2