
Ivy mencoba meretas cctv dan keamanan sistem di rumah, dia mengotak-ngatiknya, dan bergegas ke ruang kerja papa.
Kebetulan malam itu tiada penjaga disana. Ivy mulai memasukan pin sandi pada pintu, setelah beberapa kali salah menebak, akhirnya berhasil. Sebuah jari buatan yang telah di tempeli dengan cetakan -sidik jari Kevin- ia tempelkan di mesin pemindai.
Ting!
Berhasil pintu itu terbuka, Ivy masuk dan menutup pintu dengan pelan, dia segera menyalakan laptop papa.
Mata Ivy melebar melihat wellpapper di laptop papa. Ivy memotret dengan hape, dan bergegas mencolok USB dan meletakan sistem penyadap dilaptop. Kemudian dia mencari beberapa file penting, lalu mengirim ke flashdisk satunya.
Ivy melihat jam tangan canggihnya, terlihat ada papah mulai memasuki lorong, Ivy melihat berkas yang terunduh baru 80 persen.
Jantung Ivy semakin berdebar, saat papanya sudah di depan pintu. Ivy akan mencabut flashdisknya namun terlihat papa menerima telepon dan menjauh dari pintu, membuat Ivy batal mencabut flashdisk.
Jari-jari Ivy mengetuk dengan cepat ke meja, dan terus mengamati jam. Tepat saat Kevin memverifikasi sidik jari di pintu, Ivy langsung mencabut flashdisk yang telah selsai dan mematikan laptop.
Mata Ivy berputar, mencari tempat sembunyi, dan Ia memasuki pintu lain di ruangan itu, beruntung pintu tidak dikunci.
Blak!
Ivy menutup pintu bersamaan saat Kevin membuka pintu lain. Ivy menahan nafasnya menatap ranjang tidur itu, sementara telinganya mendengar langkah kaki sang papa melewati pintu.
KRING ---
"Sudah kau siapkan?" tanya Kevin di telepon yang di dengar dari ruang sebelah. Ivy di kamar semi gelap itu, menempelkan telinga ke pintu agar suara papa lebih jelas, sementara jantung Ivy semakin berdebar.
'Papa mau terbang ke wilayah barat? untuk apa?' batin Ivy menarik kesimpulan dari percakapan papa di telepon.
Tiba-tiba hape Ivy yang menempel di pintu bergetar karena telepon. Ivy kelimpungan, segera mematikan hape.
Kevin yang baru duduk di kursi, menyalakan laptop, telinganya mendengar suara getaran. Kevin mengusap telinganya memastikan pendengarannya tak salah.
Dia sejenak mengamati ke seluruh penjuru ruangan itu dan kembali pada laptop. 'Apapun akan ku hadapi resikonya. Setelah James dan Viktor mati, Istri dan anak-anak ku akan aman. Saya tahu pasti Parker diam-diam akan menyelinap dan menyusul saya.'
Kevin menunduk, 'sayang, maaf saya tak bisa selalu menjagamu. Bila saya tidak selamat, semoga kamu menikahi Richie, dia akan menjagamu dan anak-anak' batin Kevin terasa ngilu, menghadapi kepahitan hidupnya.
Dia kembali ke laptop memeriksa rencana penyerangan susulan yang akan dia lakulan setelah dia berhasil masuk markas Scorpion.
Kevin tak sengaja menyenggol pena, pena itu jatuh. Saat dia akan mengambilnya, dia menemukan benda kecil di sebelah pena, Kevin mengambil dan mengamati.
__ADS_1
"Tutup Flashdisk? Saya tak memilik flasdishk warna pink." Kevin berpikir kembali, tidak mungkin ada yang bisa masuk ruangan ini selain Parker dan tak mungkin Parker menggunakan flashdisk warna pink.
Setelah mematikan laptopnya, Kevin berjalan ke arah pintu, dia membuka pintu kamar, menyalakan lampu, mengamati kamar, tidak ada siapa-siapa.
"Apa hanya perasaan saya saja?"
Kevin pun keluar dari ruang kerjanya.
Sudah jam dua pagi, tapi Ivy masih sibuk di depan laptop. Sejak SMP Ivy tahu sang papa terlihat mencurigakan.
Kebetulan Ivy memiliki teman jenius, sejak lulus SMP Ivy sudah mengetahui dunia pemrogaman.
Namun, semenjak temannya pindah ke luar negeri, Ivy kini apa-apa sendiri. Dan Ia pun memilih jurusan IT, disana Ivy menemukan banyak teman-teman jenius lainnya.
...☘️☘️...
Mereka tengah berkumpul di kamar Kevin.
"Kalian libur kan, ayo kita sewa villa," kata Kevin pada ke tiga anaknya. Dia melihat kepala Isla di pangkuan Lala, sedangkan Irish dan Ivy duduk diantara Lala dan Kevin.
Ivy bersandar pada bahu kiri Kevin, dan Irish bersandar di bahu kanan Lala.
"Pah ajak Ka Lydia dan Ka Amber dong, Isla kangen mereka," kata Isla masih sibuk lihat instgram milik Lydia dan Amber yang sedang berlibur di Bali.
"Tentu, kita pergi bertujuh, kali ini papah yang nentuin tempatnya," kata Kevin.
"Irish pengen Ke Afrika pah, tempat yang lagi hits itu loh, bentar ku cari," kata Irish, bermain dengan hp dan mencari tempat yang sudah ditandai.
"Boleh kita mampir sana, hem gimana kalau kita juga ke kutub selatan?" tanya Kevin,dia menatap langit- langit kamar, sesekali melirik kiri ke layar hp Ivy, 'anak ini selalu sibuk dengan dunianya sendiri.'
"Asik, kutub!" kata Isla, jiwa petualangnya sudah mulai bangkit, "kita mampir ke gua biru pah!"
"Boleh," kata Kevin.
"Kapan perginya? kita nggak ajak mama Sheril?" tanya Lala menoleh ke kanan menatap mata suaminya dengan penuh cinta.
"Tiga hari lagi kita berangkat. Kali ini, khusus kita aja dulu sayang, mereka anak-anak selalu sibuk dengan dunianya sendiri."
"Bukan kah papah yang sibuk terus?" tanya Ivy seraya meletakan hp di pangkuan, Ivy yang selalu di rumah dan tahu papahnya hanya di rumah saat malam hari.
__ADS_1
"Papah kan kerja buat kamu juga sayang," kata Kevin lembut, dia lalu mencium rambut Ivy.
"Uang papah sudah banyak dan takkan habis, Ivy juga ingin seperti teman-teman Ivy. Mereka selalu punya waktu untuk berkumpul," kata Ivy sedikit Kesal.
Kevin dan Lala beradu tatap.
"Ivy, papah mu memiliki tanggung jawab besar, dan mereka bergantung pada papah. kita nggak boleh egois dong sayang, bukankah papah sudah sangat berusaha dalam hal ini," kata Lala dengan lembut, memandangi Ivy yang menyembunyikan wajah di bahu Kevin.
"Aku tidak mau yang lain. Aku hanya ingin bersama papah," kata Ivy dengan sedikit terisak.
Irish memeluk perut Lala, mendengar tangisan Ivy, membuat Irish ikutan sedih.
Isla meletakan hp, bangkit dari tidur dan duduk di tengah, memeluk Ivy, tangan Isla di dada Kevin, dan Lelaki itu memeluk dua putrinya itu, disusul pelukan Irish dan Lala.
"Maafin papah sayang, papah tak bermaksud begini," kata Kevin Lembut dalam pelukan.
Kevin mengecup pucuk kepala Ivy, Isla dan Irish. "Papa minta maaf, kalian mau mengerti kan? ya kan, Ivy?"
" ... " Ivy tak menjawab, dia takut papa nya terluka, sepertinya hanya dirinya yang tahu soal papanya yang dalam bahaya. Ivy merasa bingung, akankah dia bercerita soal rahasia papa pada mamanya.
"Irish?" tanya Kevin.
"Irish mengerti papa, Irish sayang papa," kata Irish.
"Isla memahami posisi papa. Maaf, maafin kami ya pah, yang banyak menuntut," kata Isla.
"Terimaksih sayang-sayang papah. Malam ini kita tidur bersama ya, papa ingin kalian disini,"kata Kevin tak mau jauh-jauh dari putrinya, dia mengelap pipi Ivy yang basah.
"Iya Pah," jawab Isla dan Irish bersamaan.
Malam itu pun di kasur super besar itu, Kevin tidur paling kanan sedang di peluk Lala, sementara Ivy memeluk punggung Lala.Dan di sebelahnya Ivy dan Irish. Mereka tertidur setelah menonton film bertema keluarga bahagia.
bersambung ...
***
Pengumuman Othor ada novel bagus nih mampir ya 😘
__ADS_1