
...🇬🇧🇬🇧🇬🇧...
Keamanan di markas Richie ditingkatkan. Geng jalanan juga juga memperketat penjagaan terutama di beberapa titik menuju markas Richie.
Semua gangster di seluruh titik daratan itu telah siaga mengantisipasi perlawanan baik yang dilakukan oleh kelompok Kevin maupun kelompok baru yang mencurigakan.
"Bagaimana pak Pram?" tanya asisten Richie pada kepala pelayan.
"Belum ada perubahan, sudah dua hari tapi Tuan Richie masih belum siuman. Apa sebaiknya kita panggil nyonya Saint? mungkin Tuan akan membaik. Yang dikatakan Dokter mungkin ada benarnya, harus ada orang terdekat yang memancingnya, tapi Tuan sudah tak memiliki keluarga, orang yang dirasa paling dekat dengan Tuan Richie hanya nyonya Saint, dan Tuan Kevin," usul kepala pelayan yang sudah 30tahun menjadi pelayan Richie.
"Kita tunggu saja dulu," kata Asissten Richie.
"Itu Nyonya Saint terus menelepon saya, tapi saya belum menjawab. Bagaimana bila dia menanyakan Tuan Kevin?" tanya pak Pram.
"Untuk sementara rahasiakan semua ini dulu, kita juga belum bisa bergerak karena Bos belum siuman. Katakan saja pak Pram tidak tahu apa-apa, dan cukup bila dia bertanya soal Tuan Richie, katakan Tuan diserang orang.
"Lalu bila dia bertanya Kevin, katakan tidak ada disini. Katakan apa saja, sambil menunggu Bos. Dan saya tidak mau ada yang mencari saya, apalagi hanya karena Kevin," kata Asisten Richie, kemudian berlalu meninggalkan kepala pelayan.
...🇨🇱🇨🇱...
Johan baru saja mendarat di Punta Arenas. Amber menyuruhnya menyusul karena Lala terlihat banyak melamun, sedangan Kevin tak kunjung datang, terlebih tidak ada kabar dari Kevin membuat anak-anak kecewa, bercampur khawatir.
"Uncle Jo!" Irish dan dan Isla langsung memeluk Johan, sedangkan Ivy masih duduk cuek, tak suka dengan kedatangan ayah dari Lydia dan Amber.
"Wah, cantik-cantik ini keponakan Uncle."
Seseorang masuk ke ruangan mengabarkan mobil jemputan telah siap.
"Hai Ivy, apa kabar mu?" Johan mendekati Ivy dan duduk disebelahnya tapi Ivy tidak mau melihatnya dan berlalu begitu saja, hal itu dilihat Isla dan Irish.
Irish duduk di sebelah Johan yang terlihat terdiam, "Uncle, jangan dimasukan hati ya, anak itu ga sopan."
Isla mengambil tas di sofa depan Johan, "ayo Uncle kita lihat penguin. Mamah tadi lagi mandi."
"Biar aku panggil mamahh," kata Irish langsung masuk kamar.
Sementara di kamar lain Lydia dan Amber baru keluar. "Ayah baru sampai? istirahat di kamar Amber saja,"kata Amber sambil menunjuk kamar lalu duduk memakai dan mengikat tali sepatu.
"Ayah, ko bisa disini katanya banyak kerjaan?" tanya Lydia sambil sibuk menenteng tasnya dan tetap fokus pada Macbook, mengirimkan desain gaun ke sang bos.
"Ah iya, kerjaanya diundur," kata Johan beralasan. "Bikinin teh dong," kata Johan pada Lydia.
"Amber saja, ayah,"kata Lydia yang baru duduk dan masih ribet mengutak-ngatik Macbook.
Amber langsung ke dapur, tanpa diminta. Amber yang terbiasa dengan Lydia yang memang sok sibuk, dan tak bisa lepas dari gadget. Tak berselang lama dia memberikan teh, tepat saat Ibunya keluar kamar.
__ADS_1
Johan menyeruput teh panas itu, letihnya lumayan terasa lepas.
"Ayo, kalian sudah siap__" kalimat Lala terpotong, "Johan? wah kapan datang?" tanya Lala menghampiri Johan.
"Barusan. Kau apa kabar?" tanya Johan dengan nada datar, mengecup pipi kanan-kiri Lala.
"Yah, baik, hemm ayo ikut ... atau mau istirahat?" tanya Lala, karena pemandu wisata telah datang.
"Aku ikut saja ... " sahut Johan bergegas menghabiskan secangkir teh, yang lumayan melegakan tenggorokan.
Mereka berangkat menggunakan tiga mobil, dan berkumpul di pelabuhan, selanjutnya mereka naik kapal fery untuk menuju pulau Magdalena.
Melewati Selat Magelhaens, Lala mencoba memotret anjing laut.
Setelah perjalanan dua jam merekapun sampai.
Penguin Magellan menyambut dimana-mana, yang tampak acuh tak acuh dengan kehadiran orang-orang.
"Ada sekitar 65.000 pinguin di pulau ini, luar biasa," kata Lydia yang berjalan berdampingan dengan Irish.
Mereka berjalan memencar, Johan mengikuti langkah Lala yang terhenti memandangi laut biru.
Entah mengapa memandang lautan biru, dada Lala merasakan sakit, kesendirian, dan semua kesedihan yang tak jelas.
"Apa kau ingat pantai milik Grandpa Lewis?" tanya Johan.
"Hemm sudah lama kan Jo, itu pantai penuh ular kan?" tanya Lala sambil tertawa mengambil gambar berusaha menyembunyikan kesedihan.
"Itu bebek atau apa sih," guman Lala mengatur camera dan memotretnya, Lala benar-benar tak bisa menahan pikirannya yang bercabang, dia tak tahu dimana Kevin sekarang, 'apa Kevin menemui Bella?'
Johan meraih tangan kanan Lala, berusaha membuat Lala tak banyak melamun. "Sebulan yang lalu aku membawa Lydia dan amber ke pantai itu, pantai dimana kita tidur di kursi malam itu."
Lala menoleh ke kanan, terlihat jambang Johan yang terawat, 'kenapa lelaki ini sekarang suka berjambang. Kontras sekali dengan kulit putihnya. Lala melepas tangan dari Johan dan memotret Johan yang saat itu tak menyadari di potret.
__ADS_1
"Apa di sana, sudah tidak ada ular?" tanya Lala.
"Masih," sahut Johan menghadap ke Lala yang rambutnya terbawa angin, hatinya kembali berdenyut. Johan teringat ke saat di pantai itu. Ke saat dirinya belum menyadari perasaan terhadap Lala, dan saat pertamakali mencium bibir Lala.
Lala kembali menyusuri pantai, merasakanhangatnya matahari di bulan Januari, "apa Lydia dan Amber juga takut ular seperti aku? ah dua minggu rasanya kurang waktu ku untuk bersama mereka."
Johan mengikuti Lala yang memakai baju kaos putih dengan mantel coklat, "Amber berani, dia berani memegang ular, dia suka camping dan hiking dengan teman-temannya, bahkan dia pernah memakan ular!"
Lala menoleh ke belakang, raut wajah Lala berubah tak suka "apa dia pergi dengan teman lelaki?"
"Ayolah, dia akan menjaga diri, tidak mungkin mengurungnya terus dan dia tidak suka dikekang, terlebih Amber jiwanya bebas."
"Yaitu karena itu..." kata Lala tidak meneruskan kalimatnya dan duduk di tanah pasir. Dia kembali memotret burung di depannya.
"Apa kau tak percaya aku sebagai ayahnya akan menjaga dia?" tanya Johan.
Lala menoleh ke kiri menatap mata Johan yang tengah menatap dengan lembut.
"Bagaimana kau menjaga, kau sering keluar kota, siapa yang mengawasi dia, mata-mata?"
"Aku akan akan menjaganya dengan caraku," kata Johan tegas membuat Lala menghela nafas.
"Lalu bagaimana denganmu? apa kau diam saja saat Kevin terus mengurusi Bella?" tanya Johan datar ikut duduk di sebelah Lala.
Lala memotret lagi, "entahlah."
Suara burung ,ombak, dan pinguin, serta suara angin begitu dinikmati Lala yang berusaha menghilangkan pikiran kacaunya.
"Kau bisa bercerai. Hidup hanya sekali untuk apa kau memilih yang sulit," kata Johan memandangi Lala yang mulai tak menyembunyikan raut kesedihan lagi, 'apa kau begitu lelah, sampai sorot matamu nampak menyerah? biasanya kau selalu menolak perkataanku mentah-mentah. Lihatlah, sekarang kau tampak rapuh, walaupun kau menyembunyikan di depan anak-anak, aku tahu kau tak baik-baik saja.'
"Aku lelah Jo, seperti burung hitam itu. Aku benar-benar lelah." Tiba-tiba Lala terisak, semua yang sudah ditahannya selama ini tak kuat dibendungnya lagi.
Johan menarik kepala Lala ke bahunya, dan mengelus bahu Lala. Hati Johan terasa sakit begitu mendengar wanita itu terisak. Namun dirinya bisa apa, semua keputusan tetap ditangan Lala.
bersambung ....
...***...
Selamat pagi, Othor ada pengumunan novel bagus ini, jangan lupa mampir ya...
__ADS_1