
"Maaf," bisik Kevin di telingaku. Aku kira dia mencoba menyembunyikan kesedihan dariku atas kejadian tidak mengenakan yang aku alami hari ini.
Aku belum tahu apa yang mereka kerjakan, mengapa sampai ada perjudian? Aku juga tidak bisa menyalahkan Kevin yang terikat dengan Fraksi Utara. Entahlah ... Itu sangat menguras isi kepalaku.
"Aku mendukung semua keputusanmu. Bukankah ini hari spesial?" tanyaku dengan suara lembut, "Aku tak mau malam bersejarah ini rusak-"
CUP!
Kevin memagut lembut. Tangan kiri Kevin menarik pinggangku lebih erat. Tangan kanannya mendorong pintu kamar tanpa melepas pagutan.
Kevin bersandar di pintu. Wajahku menghangat saat tangannya mulai menurunkan resleting gaunku. Jemari sensual Kevin menggoda dan menggelitiki punggungku membuat aku melenguh.
TOK!
TOK!
"Sssahh!" Kevin melepaskan kecupan dari telingaku saat wajahku sudah memanas.
"Kevin, buka pintu, Ini mamah."
Kevin menggertakan gigi. Dia berbalik dan menaikan resleting punggungku. Aku menyisir rambut dengan tanganku. Nafasku masih memburu saat pintu terbuka. Alis sheril naik sesaat, dia membawa dua gelas pada baki dan langsung masuk ke kamar kami.
"Sudah tidak sabar? ini masih sore," gumam sheril. "Boy, ini bagus untuk stamina mu, ayo minum." Sheril memberikan secangkir minuman.
Alis Kevin terangkat dan dia memegang cangkir itu melihatnya sebentar dan kembali memandang tajam Sheril.
"Minum," Sheril mendorong tangan kanan Kevin sehingga mulut cangkir sudah di mulut Kevin.
"Enak kan?" tanya Sheril pada Kevin.
Aku meremas gaunku saat Sheril menyentuh pipiku. Jantungku berdegub mengingat kejadian tempo lalu akan kata-kata pedas Sheril yang menyakitkan.
"Berpuluh-puluh tahun keluarga Mariano selalu mengandalkan ramuan ini untuk malam panas, ini ampuh dalam sekejap menghilangkan kelelahan," Sheril berbisik di telingaku, "Ini membuat kandungan mu aman, tapi tetap panas di ranjang."
Pipiku langsung menghangat mendengarkan ucapan Sheril.
"Terimakasih tante," sudut bibirku tertarik ke atas menatap mata Sheril yang sulit di tebak.
"Mulai sekarang panggil Mama," Sheril menuntun cangkir di tanganku dan aku meminumnya. Seketika lidahku terjulur, aku menggelengkan kepala.
"Paksakan, meskipun sangat pahit yang penting khasiatnya," ucap Sheril lagi, Ia menungguku menghabiskannya.
Kening ku berkerut, sikap mama Sheril hari ini berbeda.
Kevin meletakan gelas di nakas, dia melepas dasinya. Mama sheril membisikan sesuatu pada Kevin, Kevin melebarkan mata dan wajahnya memerah.
Mama Sheril memeluk Kevin, dia mengelus lengan Kevin. Mama Sheril meminta cium dan Kevin mencium pipi mama Sheril, Kevin masih termenung matanya mengembun, dia menatap kepergian mama Sheril.
Aku membuka kotak pemberian mama Sheril, mataku melebar melihat isinya, sebuah Lingeri warna pink dengan renda tipis.
Kening Kevin berkerut dia terus mendekatiku, aku mundur sampai tak bisa mundur karena tembok.
Kevin meletakan tangannya ke tembok, menghimpit ku. Dia menyeringai dan hangat tubuh Kevin menguar, "Apa yang kau sembunyikan, Babe?" dia mendekat ke telingaku. Aku menggelengkan kepala. "Tidak ada."
"Saya tahu apa isinya. Maukah kamu memakainya sekarang, Babe?" bisiknya dengan nafas menyembul.
DEG
Wajahku memanas. Tangan Kevin bermain di leherku, jantungku bedebar-debar. Nafasku memburu, "hh A-aku akan memakainya. Jadi hh-" aku mendorong tubuh Kevin pelan dan menjauh, "aku akan mandi."
__ADS_1
Kevin menangkap ku, "Bukannya harus mandi bersama?"
"hhh aa-aku aku mandi sendiri!"
Kevin tertawa kecil, aku meninggalkan dia yang sedang tersenyum seperti habis menang lotre.
Aku mengunci pintu kamar mandi, jantungku masih berdebar.
Aku meletakan kotak lingeri di atas kabinet, Aku membasuh wajahku, dan ku tatap pantulan diriku di cermin.
"Ini seperti mimpi."
Aku melepas semua hiasan rambutku, ini hanya jepit-jepit rambut yang kecil.
Aku berusaha menurunkan resleting di punggungku namun aku tak bisa menggapainya. Aku berkali-kali mencoba namun gagal. Aku menggigit bibirku, mau tak mau ...
Aku keluar kamar mandi, Kevin sedang duduk di sofa, dua sudut bibir Kevin tertarik penuh ke atas seakan sudah bisa menebak ini semua.
"Saya tak mau membantumu Babe, Kecuali..." kata Kevin.
"Kec-kecuali apa?" tanyaku terbata dan tanganku gemetar.
Dalam sekejap dia menggendongku.
"Sayang!"
Dia tak mempedulikan teriakan ku.
Sesampai di kamar mandi, dia mengunci pintu.
Kevin terlihat mengerikan.
"Sayang...," lirihku saat tangannya menekan bibirku, dia mendekat. Mata sayu dan nafasnya memburu. Dia memiringkan wajah dengan mata mulai terpejam dan bibir hangatnya mulai menyapu bibirku di tengah tetesan shower yang berjatuhan.
Rambut dan pipi Kevin basah, tangan lihainya menarik kasar resleting gaunku ... dia menuntun tanganku membuka kancing kemeja nya.
Kevin duduk dan dia menarik ku duduk di pangkuannya, mataku melebar karena sesuatu keras hangat menekan ku dari balik celananya. Air hangat sudah setengah bathub, Kevin diam dengan kedua tangannya bersandar pada pinggiran bathtub.
Dia membiarkanku melepas kancing kemejanya. Satu persatu, mukaku sangat merah pasti, jantung berdegub semakin kencang seperti akan melompat, aku berhasil melepas semua kancingnya.
Aku menatap Kevin yang sedang menunggu aksiku.
"Cepat lepas, bukankah ini yang kamu nantikan?" tanya Kevin, dia menyeringai. Tanganku gemetar saat membuka kemeja itu, Aku melotot dan ternganga melihat otot dada dan perutnya.
Dengan gemetar jemariku memeriksa kekerasan perut roti sobeknya.Tiba-tiba sesuatu yang ku duduki berdenyut dan semakin membesar.
Aku menelan saliva ku. Aku seperti menduduki bambu.
Kevin menangkap jemariku dari perutnya dan memindahkan jemariku ke dadanya.
Tanganku gemetar, itu sangat pink, kontras dengan kulit putihnya dan saat aku menyentuhnya itu mengeras.
Dia meminta aku melepas kemeja keseluruhan. Kulepaskan kemejanya lagi, badan dia begitu hangat dan wangi meskipun belum memakai sabun.
Aku menarik kemejanya, otot bisep dan trisepnya besar dan kuat. "Sayang kamu selalu olahraga? mengapa ini begitu keras."
"Setiap malam sebelum tidur, satu jam. Setelah bayi-bayi ini lahir, sebaiknya kamu mengikutiku, Babe. Itu sangat bagus untuk kebugaranmu," kata Kevin dengan suara yang mulai serak, aku menggeser duduk ku karena merasa tidak nyaman dengan yang aku duduki, hal itu justru membuat Kevin melenguh, dia sudah terlihat sangat ber nafsu.
Aku meletakan kemeja Kevin, dan dia menarik gaunku hingga melihatkan punggungku, dia langsung mengecup punggung dan tengkukku, tangan Kevin menarik gaunku ke atas lalu mengelus pahaku, aku semakin tak karuan.
__ADS_1
Dia mendudukkan aku di pinggir bathub sampai punggungku menyentuh dinding. Tonjolan besar di depan mataku, aku menatapnya dan mematung.
"Kau mau melihatnya sampai kapan? bukalah hadiah mu," kata Kevin.
Tanganku gemetar membuka pengait dan resleting celananya. Ah..
Kevin mengelap pipiku yang basah, dia memainkan telingaku.
Aku meminggirkan celananya, namun aku tak berani membuka dala mannya. Namun Kevin justru memerosotkannya sendiri dan...
Belalai tergantung terlihat keras dan berurat.
Dia begitu besar. Aku menelan salivaku. Aku baru melihatnya untuk pertama kali dan aku sangat malu. Jantungku berdebar, perutku sakit. Itu tak mungkin bisa masuk!
Kevin menuntun tanganku ...
Satu jam kemudian ...
aku telah di depan cermin kamarku, menatap wajahku yang terlihat sangat terang, aku berdebar membayangkan apa yang baru saja ku alami. Awal sangat sakit dan kami sangat kesulitan, dia bermain sangat lembut ...
Kevin keluar dari kamar mandi, hanya menggunakan handuk, Aku menelan saliva ku menatap kembali roti sobeknya.
"Babe ..."
Aku menghampiri dia membawakan pakaian untuknya.
"Apa mau lagi?" tanya Kevin sambil memainkan telingaku dia terus tersenyum menggodaku.
"Sudah tiga kali kan, aku tak sanggup lagi,Kevin," ucapku dengan suara serak.
"Belum empat kali Babe, kamu tahu fungsinya kasur? satu ya..." dia mulai mencium lagi, dia selalu memasang mata nakal.
"Kamu selalu bilang satu lagi, satu lagi... apa ini mesin" wajahku kembali menghangat karena cumbuannya, seseuatu keras menabrak perutku.
Dua jam kemudian ...
"Sayang .. hentikan... aku tak sanggup..."
Aku mendorong dada berkeringat Kevin saat dia akan memanjakanku lagi.
Dia bilang satu kali tapi itu tak berhenti-henti!
"Lihat dia mengeras lagi," bisik Kevin menunjuk sesuatu yang telah berdiri tegak, "Kamu tak mau menghabiskan malam bersejarah ini?"
"Tidak," aku meringkuk miring pada Kevin dengan menjadikan tangan kanan kevin sebagai bantalan. Kevin memiringkan tubuh menghadapku, dia menarik tubuhku lebih rapat sampai sesuatu keras itu menekan panggulku Dia menarik selimut menutupi kami.
Keringat kami yang bercampur menjadi satu terasa dingin di tubuhku, Kevin mengelap keringat di dahi Kevin, lalu dia merapikan rambutku.
Dia menatapku dalam, "I love you, Lala" kata Kevin, wajahnya sangat merah.
"I love you to, Kevin," aku memejamkan mata dalam kungkungannya.
Malam itu aku sudah tak bangun sama sekali, kami sampai tak makan malam, hanya memakan biskuit di kamar karena dari sore Kevin terus menjahiliku tanpa berhenti.
Bersambung ...
_______________________________
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍
__ADS_1