Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 106 : TRAUMA


__ADS_3

"Anda mungkin merasa bingung, frustrasi, dan kewalahan. Anda mungkin merasa bahwa setiap upaya yang Anda lakukan untuk 'membantu' pasangan anda ditolak atau, lebih buruk lagi, diabaikan," kata lelaki tua berambut putih itu lalu melepaskan kaca mata, dan meletakkan di meja coklat.


Pria tua itu meraih kain kecil dari kotak kaca mata, lalu membersihkan kacamata, membuat Kevin geram karena dibuat menunggu. "Bahkan mungkin anda mulai merasa bertanggung jawab atas depresi yang menimpa pasangan. Anda tidak sendiri."


"Jadi, saya harus bagaimana?" tanya Kevin dengan dada bergemuruh, menahan kekesalan karena merasa pembicaraan ini terlalu bertele-tele.


"Anda dapat membantu pasangan dengan -menetapkan dan mengakui tujuan kecil- dan pencapaian harian."


Kevin melonggarkan dasi yan terasa mencekik, "hanya itu?"


"Lalu anda bisa membuat kencan mingguan untuk menyewa film, berjalan-jalan, atau bermain permainan papan. Mulai dari yang kecil untuk membantu nyonya Lala kembali bersosialisasi."


Lelaki tua itu memegangi -pena cover putih- dan melihat jurnal di meja kayu, "sulit, untuk mengetahui bagaimana membantu nyonya Lala yang depresi."


Dia membalikan kertas jurnal dan kembali menatap Kevin, "anda tidak dapat menyembuhkan depresi pasangan, tetapi Anda dapat membantu nyonya Lala di sepanjang jalan menuju pemulihan. Dukungan Anda penting sebagai pasangan menjadi sumber cinta, kenyamanan, dan dukungan yang sangat besar."


Setelah mendengar penuturan profesional penyakit mental, Kevin menapaki karpet abu-abu di sepanjang lorong, memikirkan semua ucapan pria yang berpenampilan nyentrik itu, membuat hatinya berdebar.


Dia melirik lalu melewati Inem dan Siska yang berwajah pucat pasi di depan pintu kamar.


Langkah Kevin terhenti setelah memasuki kamar besar yang bersih dan terang oleh cahaya luar. Kevin mendapati Lala langsung menyelimuti seluruh tubuh, begitu mengetahui kedatangan Kevin. Setelah melewati sesi konseling, istrinya itu akan tidur lagi setelah berhari-hari selalu tidur dan hanya pergi ke kamar mandi.


Ditarik selimut yang sehijau brokoli itu dari tubuh Lala, "Babe, bangun, ayo kita jalan-jalan."


Kevin duduk di pinggir kasur, menyingkirkan guling dari dekapan Lala, "Kamu sudah banyak tidur, saya akan menggendong mu, kita jalan-jalan ya?"


Lelaki muda yang masih mengenakan jas itu mengangkat punggung Lala, "Saya akan membawamu, kamu hanya perlu diam."


"Pergi!!! Menjauh!!!" teriak Lala tak terkendali.


Tinjuan keras Lala mendarat pada hidung mancungnya, meninggalkan jejak sangat merah, membuat lelaki itu meringis, tanpa mempedulikan rasa panas di hidungnya, Kevin tetap tersenyum, "nanti tidur lagi, atau kamu tidur dalam gendongan saya saja, Babe."


Siska terlonjak melihat Tuannya tetap lembut dan sabar pada sang nyonya, tangan siska memberikan selimut -rajut kecil warna coklat- dan Kevin meraih selimut itu lalu menghamparkan pada tubuh Lala.


Tangan-tangan kuat berotot Kevin langsung menggendong Lala. Dia tidak mempedulikan istrinya yang menangis, asalkan sang istri menghirup udara luar.


Langkah besar dan aura kuat sang Tuan begitu kentara saat melewati Inem, dan empat orang penjaga yang berdiri mematung. Mereka mengikuti sang Tuan yang sudah menyempatkan diri pulang lebih awal dari biasanya demi bertemu psikiater yang menangani sang nyonya.


Mereka menyusuri hutan di atas mobil golf dan sopir berpakaian formal berkacamata hitam itu mengemudi dengan pelan, sementara mobil lain tetap mengikuti dengan jauh menjaga jarak.


"Saya lihat belakangan ini kamu semakin sering melukai diri, dan keadaan kamu bikin saya sangat khawatir. Adakah yang bisa saya lakukan untuk membantumu, istri ku?"


Lala menyembunyikan wajah di leher Kevin dengan kedua tangan terus menaut di bawah selimut, jantung Lala semakin berdetak cepat setiap mendengar pertanyaan seperti itu.


Tangan kiri Kevin semakin menyangga punggung Lala, sikutnya bertumpu pada sandaran tangan.

__ADS_1


"Kamu penting bagiku Lala, tiada yang paling penting di hidup saya selain kamu."


Tangan kanan Kevin menaikan selimut sampai menutupi leher Lala, membuat Lala merasa sedikit terlindungi karena merasa kehangatan dada bidang suaminya. Namun, disisi lain itu juga membuat hatinya semakin terluka.


"Saya membayangkan apa yang kamu alami, babe, tetapi saya mencoba memahaminya semampu yang saya bisa. Kita bisa dan akan membebaskan mu dari penderitaan ini."


Kevin berusaha tersenyum dan dia mengusap surai rambut Lala. "Kita akan melewati ini bersama-sama, kan?kamu bagilah denganku."


"Saya rindu kamu, saya akan membantu setiap kesulitan mu, istriku," kata Kevin lagi, dia mengusap pipi Lala dan sedikit mencubitnya.


"Apa kamu pernah berpikir untuk mendapatkan bantuan? katakan pada saya apa yang bisa saya lakukan sekarang untuk membantu mu? meminta bantuan bukanlah tanda atau kelemahan atau sesuatu yang memalukan, lakukan itu kepada siapa saja, katakan pada ke saya, Johan, papa Alen, Ah Luca juga tak apa, ceritakan pada kami semua yang kamu butuhkan, itu akan meringankan ketidaknyamanan kamu, cinta..."


"Pelan-pelan saja. Saya peduli denganmu dan saya akan tetap berada disini dengan mu untuk melalui semua ini."


"Saat kamu ingin menyerah, katakan pada dirimu sendiri bahwa kamu akan bertahan untuk satu hari lagi, satu jam lagi, satu menit lagi- seberapa lama yang kamu mampu dan saya percaya padamu, dan saya tahu kamu mampu untuk melewati semua ini. Saya akan berada si sampingmu setiap waktu," kata Kevin semakin serak menahan agar tidak terisak. "Apa kamu mau mendengarkan saya bernyanyi?"


Dia berdeham beberapa kali menghilangkan serak, dan mulai bernyanyi...


🎼


Aku mencintaimu pertama kali melihatmu Dan kau tahu aku masih mencintaimu Aku mencintaimu pertama kali melihatmu Dan kau tahu aku masih mencintaimu🎼


Nyanyiannya terhenti, Kevin mengusap kristal-kristal air di sudut mata, menahan sesak di dada, "ah sial debu!"


Sang suami menghela nafas menahan keputusasaan, istrinya itu tak mau memakan apapun. "Tak apa tetap diam seribu bahasa, saya tak apa, Babe. Tolong, setidaknya makanlah satu suap saja, ya?"


Sendok itu di tampik Lala, sampai membuat sendok itu terlempar keluar dari mobil.


Lelaki yang mencoba menahan kesabarannya, dada bidang itu mendekap Lala gemas, "coba rasakan sapuan angin yang menerpa wajah kita, terasa sejuk ya? semilir. Bau hutan ini selalu membuat saya semangat, Lala. Kita masih hidupkan," kata Kevin sedikit menggeram sambil tertawa kecil, dia menghela nafas kasar mendapati dirinya mulai ikutan gila.


Suara hewan di hutan saling bersahutan, mobil itu melewati aspal yang tertutup daun-daun kering. Derik angin memecah wajah mereka, musim hangat itu seharusnya menjadi hiburan untuk orang yang kondisinya sehat.


Namun, tidak bagi Lala. Ada yang berbeda dengan dirinya. Moodnya menghilang. Dirinya mati rasa - tidak bisa merasakan itu semua. Bagai mayat hidup, tidak menginginkan kehidupan ini lagi, tidak mengharapkan keberadaan orang-orang di sekitarnya lagi. Dilia ingin menghilang dari dunia ini keluar dari rasa sakit.


Aku tidak mau dilahirkan ke dunia, aku ingin mengakhiri dunia ini agar kegelapan dan kehampaan ini bisa lenyap. Aku ingin mati, mengapa kau selalu menggagalkan semua, biarkan aku mati Kevin!


Aku benar-benar muak dengan kehidupan ini!


Aku marah, Aku kecewa. Mimpi buruk menghantuiku. Bayangan para bajingan terus menyentuh dan menjadikan ku objek, pelecehan itu terus membayang-bayangiku. Mata mesum terus menghantuiku. Bisik-bisikan mesum, ancaman memenuhi kepala ku. Aku jijik !' teriak Lala dalam hati.


Ancaman Richie semakin terngiang di kepala. Sentuhan-sentuhan Richie berputar dikepalanya. Dia takut pada sentuhan selain Kevin. Bayang-bayang sentuhan-sentuhan selain Kevin, membuatnya jijik, itu sangat menyesakan. Itu sangat menjijikan.


Bayangan pada masa kelam, tubuh besar, dada penuh tato mengerikan dan darah pada tangan pria bertato ular yang mencengkram pecahan kaca terus muncul dikepala. Mengacungkan dan menodongkan serpihan kaca tajam dan semakin mendekatinya. Menyayat-nyayat kulitnya, membuat Lala semakin tenggelam dalam pusaran kegelapan dan kubangan kesakitan. Dia begitu sulit hanya untuk bernafas.


"Ruang ini kedap suara, kita habiskan sampai pagi, kau bisa berteriak gadis manis"

__ADS_1


"Sakii iii iitt ! hik hik ..."


"Aku suka bau dar*h, kita belum mulai, jangan menangis, menangislah saat k*imaksnya"


"### Ayolah kami akan memuaskanmu, sayang, jangan sok jual mahal lah sama abang-abang."


"Pergi kalian! Jangan! Menjauhlah!!!"


“### Apa kamu ingin kelelakian saya menyentuh pantatmu nyonya saint.”


“Kau harus menemaniku tidur nyonya Saint. Sepuluh tahun saya lebih tua darimu, saya pasti lebih tahu cara memanjakanmu kan?”


Luka Lala di masa lalu terbuka lagi. Dia wanita kotor, dia pantas diperlalukan seperti ini. Tidak ada orang yang bisa menolongnya. Pikiran itu terus berputar di kepalanya.


Seakan datang malapetaka seakan ajal terus mengejar tanpa menuntaskannya. Lorong panjang kesakitan, kehampaan, kekosongan.


Lala menutup telinganya, tubuhnya gemetar "Pergiiiiiiiiiii!!! tolong pergiiiii!!!!!! sakit!!!! sakit sakit, jangan!!!! jangan! tolong! tolong aku!!"


Teriakan Lala tercekik dengan nafas pendek .Tangannya memukul ke segala arah begitu Kevin mendekapnya, kepalanya menggeleng dengan kuat... Lala merasa orang-orang itu akan memperkosanya dan kaki Lala menjejak tak beraturan.


Rasa sakit disayat itu begitu kentara, ketakutan itu semakin membuat dirinya jatuh ke jurang tak berujung. Jantungnya seperti akan berhenti, Lala membelalakkan mata melihat wajah-wajah mengerikan itu menggerumuti, alisnya terangkat dan menyatu, "Jangan sentuh saya huuuu," lengkingan memilukan bergetar.


Kevin mendekap Lala yang berkeringat berlebih dan tubuh Lala terasa dingin, "Tidak ada yang menyakitimu, kembalilah Babe, saya disini," suara Kevin teredam sakit hati dan gemetar.


-Mobil gunung-itu berhenti, Kevin menggendong Lala pindah ke mobil dibelakangnya yang tertutup.


"Cepat!" geram Kevin pada sopir setelah pintu ditutup anak buahnya.


"Baik Tuan." Tanpa babibu, mobil itu melesat pada kecepatan maksimal.


Tiba-tiba ledakan suara Kevin gemetar, "Aku di sini Lala! aku disini! Kevin disini! vino disini," geram Kevin, isak tangis Lala terus mencabik hatinya. Alis Kevin ke bawah Mata dan Bibirnya menyempit.


Mata Kevin kehilangan fokus tak bisa menahan rasa terbakar pada dadanya. Dirinya merasa menjadi penyebab semua kesakitan yang dialami Lala.


Sudut bibir Kevin tertarik ke bawah, mengingat akan kemarahan Johan yang menyalahkannya, sebab telah memicu kembali trauma Lala.


Dirinya benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi, dia berharap secepatnya Lala menemukan gairah hidup.


Sesampai di kediaman, semua telah bersiap-siap, Lala dijagal pada ranjang pasien dengan dokter-dokter yang telah siap.


Kevin yang frustasi terus mengikuti mereka, tetapi anak buah sialannya menghalaginya, siapa lagi, jika bukan Parker.


"Matamu buta ya! sepertinya saya harus menyungkil matamu," geram Kevin menendang ******** parker.


"aaaaaaah!" pekik Parker memegangi pusaka, ia sampe terjatuh menahan nyeri sakit luarbiasa sampai otot-otot di kening parker begitu tercetak, dia meringis, tetapi mengingat tujuannya "Tuan, ada berita genting di kantor!"

__ADS_1


__ADS_2