
“Bibi sakit!" pekik Johan.
"Kau nakal sekali ya, berani-beraninya!" Bibi Johan menguatkan jeweran.
"Johan ..." Gadis itu bangun mendengar ada keributan.
"Ah! bibi membangunkannya," keluh Johan saat Lala langsung duduk
"Apa yang kamu lakukan bocah tengik?" Bibi masih butuh penjelasan.
"Lepaskan dulu tangan mu, Bibi. Malu sama Lala."
"Emang kamu masih punya malu? Menggerayangi gadis yang sedang tidur! dasar, siapa yang mengajarimu begitu?!" Bibinya Johan Kesal.
"Johan?" Lala menatap Johan tak percaya.
"Ini salah paham, biar Jo jelasin. Aku jelasin ya La ... di rambut Lala ada remahan wafer, jadi aku mengambilnya. Lagian kan pintunya kebuka memang mau apa?" ucapnya setenang mungkin.
"Beneran begitu? Atau kau mau ngibulin Bibi lagi?" Bibi menteot tangan Johan, dengan tatapan menyelidik.
Dia berlagak polos lalu berusaha melepaskan jeweran
"Sakit Bi! Kapan Jo bohong?" Johan berlagak polos sambil berusaha melepaskan jeweran.
"Maaf kamu jadi bangun karena keributan kecil ini. Jangan kaget, ini sungguh memalukan," kata bibi sambil tertawa.
"Saya yang harusnya berterima kasih, karena Bibi mengijinkan saya istirahat disini." Lala merasa tak enak.
"Ah jangan sungkan Bibi suka ko dengan kedatangan mu, baru kali ini bocah ini membawa gadis kesini," kata bibi sambil tertawa membuat Lala merasakan sesuatu yang sangat dirindukannya.
"Tidurlah sudah larut, kunci pintu mu. Jangan sampai bocah tengil ini masuk ke kamarmu diam-diam." Bibi mengelus kepala Lala.
"Bibi keterlaluan memang aku ngapain!" dengus Johan.
"Selamat tidur Lala," ucap Johan dengan senyum mautnya, membuat sang bibi men-tabok pantat Johan dengan keras, namun sedetik kemudian bibi menggandeng tangan keponakan kesayangan.
.
.
Matahari memberikan kehangatan di sebuah tampan yang terdapat meja dan bangku tua yang masih kokoh. Keceriaan jelas mengembang di antara mereka.
"Jadi kamu mendapatkan beasiswa di Universitas Melalang Buana?" tanya pria tua yang tengah memakan roti bakar.
"Iya Paman, saya bersyukur, bisa mendapatkan beasiswa di universitas ternama Melalang Buana. Itu impian saya dari kecil dan saya masih saja tidak menyangka, bisa mendapatkannya." Lala dengan penuh semangat.
"Pintar ya kamu, tidak seperti Jo hobinya cuma pacaran."
"Bibi!" sanggahnya.
"Biar saja Lala tau." Bibi beralih menatap Lala. "Kamu jangan kemakan mulut manisnya ya .... Hobinya saja gonta-ganti pacar!"
"Bibi sungguh bilang begitu ke Lala," rengek Johan.
"Kenapa? memang faktanya begitu. Mamamu saja selalu mengeluh dengan Bibi. Kelakuanmu itu … ! " Bibi jadi kesal.
__ADS_1
"Lala anti rayuan Bibi, jadi tidak akan gampang kemakan." jawab Lala tertawa dengan riang.
"Bagus kamu, La. Jangan asal mau percaya omongan lelaki, ya.Lain di mulut, lain di hati," tukas Bibi .
"Sudahlah, namanya juga anak muda, wajar." Sang paman membela Johan. "Jo pasti senang ya, bisa sejurusan denganmu?"
"Maksud Paman?" tanya Lala.
"Oh Jo belum cerita? Biar Johan yang menceritakannya." Paman melirik Johan.
"Iya La, ternyata kita masuk di universitas dan jurusan yang sama."
"Beneran apa yang kamu bilang, Jo? Ini sungguh tak terduga ya!"
Mereka berempat melanjutkan cerita di taman yang sangat asri, sampai matahari terasa mulai hangat di kulit.
Kemudian Lala dan Johan, pamit pulang menggunakan mobil milik pamannya
Mobil Johan sudah tidak beraturan. Sisi: kanan; kiri; belakang; dan atapnya, penyok. Kacanya berlubang. Johan enggan menaikinya.
.
.
...-Saint Mariano Group-...
Sekumpulan orang sibuk bekerja. Seorang asisten cantik berpakaian rapi masuk ke ruangan besar, bergaya modern dengan warna klasik.
"Pagi Pak Kevin, ini yang Pak Kevin minta."
Dompet sedikit kusam dengan warna krem. Ia buka pengait itu. Dilihat terdapat beberapa lembar pecahan puluhan ribu. Matanya tertuju pada satu foto lawas wanita paruh baya dan satu foto seorang gadis, serta sebuah kartu identitas diri.
Pandangan itu teralihkan ke sebuah ponsel lawas tanpa kata sandi. Kemudian beralih ke map yang berisi lembar informasi.Ia menutup map lalu terdiam sejenak.
"Meme."
"Ya Pak Kevin," jawab Meme.
"Urus pendaftaran ku di universitas Melalang Buana dengan jurusan yang sama dengan LALA. Kuberi waktu kau satu hari," ucap pria itu dengan dinginnya.
"Baik Pak Kevin." Mendengar cara bosnya menyebut nama LALA, bulu kuduknya langsung berdiri. Lebih baik Ia cepat undur diri.
Foto di tangan terus diamati Kevin, dia menyeringai. "Gadis yang tak punya rasa takut ya?"
"Bagaimana bila saya membuatmu merasakan sesuatu, yang pasti tidak pernah kau sangka bahkan tidak pernah kamu bayangkan sebelumnya?"
"Saya tidak akan membuatmu mati dengan mudah, bagaimana bila kamu lebih dulu merasakan perih? terus perih sampai kau sendiri tidak sanggup menahannya. Apakah kamu masih bisa berdiri seperti itu?"
"Permainan ini sungguh ... " Seringai Kevin tidak melanjutkan kata-kata.
.
.
Keringat bercucuran membasahi leher dan kaos yang Lala kenakan. Kipas kertas diayunkan. Badannya terasa mendidih membuat dia keluar kamar.
__ADS_1
Sang ayah tengah asik di depan laptop dengan kipas angin dan televisi yang menyala.
"Ayah masih sibuk mengirim cv? Makan dulu sana ayah," pinta Lala setelah melirik laptop. Dia bersandar di punggung kekar dan berharap kipas angin bisa mendinginkan badannya.
"Aku sudah makan. Ceplok telurnya itu buat ," kata Ayah sambil mengirim surel.
"Ayah cuma makan pakai kecap doang? Ayah harus makan protein untuk tenaga." Lala memeluk Ayahnya. "Lala masih punya tabungan untuk beberapa bulan. Pakai saja itu.
"Tabunganmu di simpan saja ya." Dielusnya rambut Lala.
"Ayah semangat! semoga secepatnya Ayah diterima."
"Ayah janji akan lebih bersemangat."
"Pendiri Agensi Model XX, diduga terlibat kasus pelecehan asusila terhadap talentnya. Dia kini telah dijemput oleh pihak berwenang. Para korban yang telah dilecehkan ramai-ramai mulai berdatangan ke kantor polisi."
DEG
"A... Yah..." panggil Lala.
"Agensi yang kamu datangi kemarin?" Geram ayah. "Si botak itu biar aku hajar!"
"Ayah berjanji kepadaku jika Ayah tidak akan memukul orang lagi." Lala menatap ayahnya.
"Owner agensi XX di TV kok botak. Yang aku temui tinggi!? kenapa dia lebih pendek, gendut dan botak." Lala menggaruk kepala.
"Kamu gak salah orang kan-?"
Lala memukuli kakinya, mengingat-ingat.
"Lalu siapa yang Lala marahin kemarin?" Lala memeluk lututnya, menggigit jarinya saat tatapan ayah penuh curiga.
"Siapa yang sudah kucaci maki di depan umum. Aku menyiramnya dengan air kopi! Tapi di ruang meeting itu hanya dia yang pakai jas warna Navi. Aduh!" Batin Lala.
-kilas balik Lala-
Lala mengikuti group pemilihan model atas rekomendasi teman, untuk Brand Ambassador. Tempat audisi di kamar hotel Besar Martini nomor 1011.
Lala datang sore itu, para pendaftar lain telah selesai audisi, Lala yang terakhir.
Juri memberikan segelas jus jeruk. Setelah Lala meminumnya, orang itu keluar mengangkat telepon.
Saat Lala ke kamar mandi, Ia mendengar sebuah percakapan tentangnya.
Dengan cepat Lala menutup pintu kamar mandi, Ia mencolok tenggorokan berkali-kali agar bisa memuntahkan isinya. Meski begitu Lala tak yakin minuman yang sudah dicampuri obat itu, apa bisa berhasil dikeluarkan semua dari perut.
Lala mencoba bersikap wajar, tapi kepala itu mulai terasa pusing.
Dengan penuh amarah Ia mendatangi pemilik agensi XX di ruang meeting Raflesia. Sesuai gambaran informasi yang diberitahukan oleh si caster. Yang dimaksud itu pria berjas warna navi.
Maka begitu Lala yakin telah menemukannya, Lala langsung mendamprat orang tersebut.
-Kilas balik selesai -
Lala memandang ayah, lalu meneplak kening sendiri. Dia berusaha menahan gejolak di hatinya. "Apa aku benar-benar salah orang???
__ADS_1