
"Tuan Richie, ikutlah makan bersama kami."
Susu dingin diambil Richie dari rak pintu kulkas, "Cih, kamu kira saya mau semeja dengan cecunguk itu." Dia menuangkan sampai setengah gelas, dan menghentikannya,"Kau mau aku melemparkan gelas ke wajahnya? memuakkan hanya melihat cecunguk itu," di isi lagi gelas di tangannya sampai penuh.
Lala beringsut ke Richie , lalu menahan segelas susu yang hampir menempel di mulut pria itu, "ku mohon ... sekali saja." Sorot mata Lala penuh pengharapan, "setelah sekian lama hubungan mereka tidak baik, bantulah saya mencairkan keheningan itu." Lala menarik gelas menjauh dari mulut Richie lagi berharap Richie mau menolong.
"Siapa kamu menyuruh-nyuruh saya, nyonya Saint, ck!" katanya sedikit kesal, dia menarik gelasnya lagi, tenggorokan yang sudah terlampau kering ingin dibasahi. "Ih, saya haus!" Richie mendelik, wanita itu terus menjauhkan gelas dari tangannya.
"Tuan Richie yang paling baik budiman, saya mohon ya, kali ini saja," kata Lala memelas semakin menarik gelas susu menjauh dari Richie.
'Dasar!' batin Richie melepaskan gelas susu, membiarkan Lala meraihnya.
Gelas itu terlepas dari tangan Lala yang tak menahan dengan kuat, dan jatuh menyentuh lantai.
PRANG!
Dua orang terlonjak, cipratan susu mengotori celana panjang Richie dan sandal rumah yang dipakai Lala. Sekali gerakan Richie meraih perut Lala menjauh, "Hey, biarkan itu." Kotak susu di tangan Richie sampai penyok karena tertahan perut Lala.
Di tariknya Lala pelan, Richie menyuruh Lala tetap duduk di kursi kayu yang berwarna coklat, di samping meja dapur berlapis marmer.
"Poo poo, panggilkan kepala pelayan," kata Richie, Lala yang masih terkejut itu masih belum mencerna ucapan Richie, ia memandangi kulit kakinya yang basah dan lengket oleh susu, itu terasa dingin.
"Baik Tuan, segera," kata Poo Poo menggema dari langit-langit dapur. Suara perempuan itu membuat Lala tertegun, dia menengok kiri dan kanan, di sana tidak ada orang selain dirinya dan Richie.
Lala melihat pemandangan yang tak biasa, tidak jauh darinya Richie membawa sekotak tisu, tubuh tinggi itu berjongkok mencoba melepas sandal sepatunya. Lelaki itu mengelap sandal yang basah oleh susu sampai kering.
"Tuan Richie, jangan!"pekik Lala saat lelaki itu meraih sandal bulu basahnya, dan mengelap telapak kaki Lala dengan tisu membuat jantung Lala mau copot dari tempatnya.
"Diam," katanya sambil melihat permukaan telapak kaki Lala, membuat wanita itu sedikit kegelian hingga jemari kakinya menekuk kuat. "Tahan sebentar, pecahan kecil bisa tak terlihat." Richie mengusap telapak kaki kiri Lala dengan telapak tangan hangat Richie yang tengah jongkok.
"Saya bisa sendiri," Kata Lala seraya mengamati Richie sebentar dan menarik kaki , tapi tangan berotot itu membuat kakinya tetap dalam cengkraman kuat Richie, "Ah sakit," katanya sedikit meringis.
Richie mendongak, "sakit?" sedetik kemudian dia baru sadar dengan arah pandangan Lala. Dirinya langsung melonggarkan cengkraman,"Oh sory." Richie memasukan sandalnya kedalam kaki mungil Lala, "aku membantumu, karena kamu kesulitan dengan perut besar mu.”
Kaki kanan dan telapak kaki Lala - terlihat merah, "peredaran darahmu bagus." Richie mengusap telapak kaki Lala. Telunjuk dan jempolnya mengelap jemari kaki Lala, dia sedikit menekannya, meninggalkan jejak lebih merah. Richie menarik dua sudut bibirnya ke atas, pemandangan di depannya begitu menarik saat jemari kaki Lala menekuk kencang terlihat kegelian.
Telunjuknya membuat sentuh lembut dari ujung jemari kaki Lala ke ujung tumit.
"Ahh! geli!"
Erang itu membuat mata Richie mendelik, 'Sial!' batinya membuat darahnya berdesir. Richie bergegas mengelap punggung kaki Lala yang terlihat sedikit bengkak, 'apa ini karena kehamilannya?' batinnya segera memakaikan sandal besarnya. Ia tersentak saat menoleh ke belakang, ada kepala pelayan sudah di belakangnya, 'apa dia mendengar rintihan manis Lala? ck! dia hanya pria tua, tenanglah.' batin Richie segera berdiri.
Lala tergegap dengan supnya yang masih di atas kompor. Ia sedikit melompat kemudian melangkah cepat, dan bersyukur mengetahui wortel yang baru setengah matang dengan kubis yang telah layu. Di cicipi potongan ayam yang telah memutih... 'sudah empuk'. Dituang piring berisi Kol, brokoli, dan tomat kedalam panci kaca, tangan lainnya menaikan api kompor.
"Apa itu enak?"
Lala mendongak ke belakang, terlihat Richie dengan tatapan tak biasa yang sedang memegang bahu Lala. "Bergabunglah dengan kami, ini nikmat bila disantap bersama," dia kembali memutar sendok sayur, menunggu sayuran layu.
"Oh iya?" tanya Richie sambil dagunya di sandarkan pada bahu kanan Lala, tercium bau wangi rambut yang bercampur keringat Lala, wangi itu begitu menyenangkan hidungnya. 'Apa keringat wanita seperti ini? ini terasa jauh menyenangkan bila dibandingkan dengan kegiatan saat para wanita yang bekerja pada kejantanannya.'
'Kau sungguh memiliki banyak pesona ya... aroma tubuhmu sungguh menggoda, nyonya Saint. Jemari kaki mu juga sangat menarik, bagaimana jika aku menjilatinya di sana, mungkin kamu semakin kegelian dan beradu dengan rintihanmu?' batin Richie, dia terlonjak karena tangan Lala mendorong wajahnya.
__ADS_1
"Minggir," kata Lala tanpa menoleh dari kesibukannya, dia beringsut mengambil potongan daun bawang dan menaburkan ke sop, lalu mematikan kompornya.
Lala berbalik menghadap Richie, "besok ulang tahun Kevin, bisakah kita membuat kejutan? tapi bersama Johan, bagaimanapun mereka dulu sangat dekat."
"Ah iya? bagaimana dulu Johan memperkosamu?"
Lala mengalihkan pandangan dari Richie dan menatap lantai di sebelah kirinya, "pertanyaan anda tidak pantas bukan?"
"Kita sudah sama-sama dewasa nyonya saint, walaupun umurmu begitu muda, setidaknya kau telah menikah, aku hanya bertanya dan kamu bebas tak menjawabnya. Saya hanya heran mengapa bila mereka dekat justru cecunguk itu membuat kecewa kevin kan."
"Saya tidak merasa dekat dengan anda untuk bercerita hal pribadi saya." Lala berbalik dan memindahkan perkedel kentang dari rak tirisan, ke piring.
Kepala pelayan kembali masuk ke dapur membawa dua sandal, dia meletakkan sandal besar di depan tuannya yang telah bertelanjang kaki di lantai yang dingin.
Bergegas Richie memakai sandalnya, dia meraih sandal kecil dari pelayan dan berjalan ke arah Lala yang tengah menumbuk cabai kering yang telah direndam air panas.
"Itu pedas?"
Lala menengok ke asal suara, dia mendelik melihat Richie jongkok lagi disampingnya, lagi-lagi " Ah apa yang __"
"Angkat kaki kananmu, sandal itu tak nyaman ganti ini."
Lala sedikit membungkuk melihat Richie memegang sandal bulu yang masih baru, lantas Lala menekuk sedikit kakinya kebelakang membiarkan sandal plastik itu terlepas, dan lelaki itu mendorong sandal bulu ke kaki kanannya.
"Aku membuat sambal tidak terlalu pedas, mungkin lidah anda masih bisa menerimannya," kata Lala sambil memakai sandal kirinya.
"Kaki mu bengkak, apa ini sakit?" tanya Richi mengusap betis kiri Lala dengan jempol lelaki itu, membuat Lala merasa tak nyaman di buatnya.
"Apa ini membantu?" tanya Richie sedikit memijat betisnya, membuat Lala merem karena pijatan itu benar-benar mengurangi pegalnya.
"Hah... Lepaskan Tuan Richie, jangan membuat orang salah paham." Lala kembali menumbuk sambal yang belum halus dan menambahkan terasi panggang, lalu kembali menumbuknya.
"Saya hanya membantu anda, untuk apa mereka salah paham?"
"Maaf Tuan Richie jika saya tak sopan, tapi anda tidak boleh asal memegang."
"Saya memijit bukan memegang."
"Lebih baik anda cicipi ini, sudah pas belum," kata Lala dia menarik lengan Richie agar berdiri, dan itu di turuti Richie yang berdiri di belakang Lala dan kembali meletakan dagu di pundak kanan Lala.
"Anda terlalu dekat." Lala menggeser tubuhnya, tapi tertahan tangan kiri Richie yang berpegangan pada meja marmer.
"Mana saya cicipi."
"Minggir dulu, anda tak boleh seperti ini," kesal Lala dengan wajah ditekuk, karena tangan Richie menghalangi di sebelah kiri dan kanan, sehingga Lala terhalang.
"Cepat, mana saya cicipi," kata Richie lembut dengan nafas sedikit memburu, suara nafas Richie membuat Lala merinding, ia kini baru tahu arti nafas memburu itu sama seperti saat sang suami di atas ranjang.
Lala menyendokkan sambel itu dengan sendok kecil di tangan kiri, dan mengangkat tangan dengan sedikit gemetar, ia mendekatka ke Richie yang masih di bahunya.
“Anda harus melihat kemari, nyonya saint ”
__ADS_1
Pipi Richie yang terlalu dekat dengan pipi Lala sampai kehangatan pipi lelaki itu terasa walaupun tak menempel, "wajah anda terlalu dekat, saya tak mau mulut kotor saya menyentuh pipi anda. Jadi raih sendiri sambalnya, cepat tanganku pegal."
“YAKIN? Apa kamu ingin kelelakian saya menyentuh pantatmu nyonya saint,” bisik Richie semakin memburu dengan suara berat.
“Anda menyebalkan!”Lala memiringkan kepala kekiri menjauhkan sejauh-jauhnya. Namun, karena keberadaan tangan Richie, membuatnya terbatas. .
Dia menghadap wajah Richie yang telah semu kemerahan. Lala benar-benar bergidik ngeri melihat ekspresi Richie dengan tatapan dalam tengah menatapnya, seakan pria itu menginginkan dirinya. Tangannya gerak cepat menyendokan sambel itu saat Richie akan mendekati bibirnya.
"Mmmmmm," Richie mengecap sedikit dan badannya semakin condong kekiri mendekat ke wajah Lala, membuat Lala semakin menjauh. Pada akhirnya wajah Lala tak bisa menjauh lagi, wajah lelaki itu hanya berjarak setengah kilan, bibir Richie yang semerah buah cerry itu sedikit tersenyum lembut, "Ini masih pedas."
"Tuan Richie minggir, kasihani saya."
Richie tertawa.
Lelaki itu kembali berdiri tegap tanpa melepaskan Lala, membuat Lala kembali menunduk melihat sambal dihadapannya dengan tatapan kosong.
"Kan, kamu sendiri yang menawarkan tubuhmu nyonya Saint?" tanya Richie sambil menempelkan kepalanya ke Lala. Sehingga telinga mereka saling bersentuhan, Richie begitu menikmati kedekatan dan kehangatan telinga dan pipi wanita itu, tanpa mempedulikan hubungannya dengan Kevin, "atau saya akan memberi tahu Kevin jika anda mendengar percakapan Kevin di telepon?"
“Saat itu saya tak berpikir panjang," kata Lala dengan suara tertekan.
Richie mengendus-ngenduskan hidungngya ke pipi Lala. Dia tertawa hingga nafas panas Richie begitu kentara di pipi Lala.
"Setelah memancing macan tidur, kamu berniat kabur? Kamu pikir aku akan melepaskanmu? Anda harusnya dari awal sadar, bagaimanapun saya pria normal dan anda sungguh hobi memancing kelelakian saya.”
“Apa yang anda maksud dengan memancing? Justru anda yang selalu mengancam saya.”
“Kau tak ingat saat kita melewati ruang bawah tanah di tempat gelap pada acara pernikahanmu, tidakkah anda sadar... telah meraba-raba paha saya, sampai membuat saya mengeras?”
Lala membelalakan mata dan badannya gemetar mencerna apa yang keluar dari bibir lelaki yang kini mengecup rambut Lala.
“I-itu sa-saya tidak tahu. I-itu ...”Lala kembali teringat saat itu dirinya ketakutan sehingga mencari-cari tangan Richie dalam kegelapan, itu tak sengaja. Lala merutuki kebodohannya sendiri.
“Kau tahu Nyonya Saint? Saya masih perjaka... Saya bersedia memberikan untukmu di tengah maraknya para gadis merebutkan ini, nyonya saint, aku tak tertarik pada mereka, aku hanya tertarik pada tubuhmu nyonya Saint.” bisik Richie di tengah telinga Lala, dan langsung, kepala Lala menyingkir saat Richie mengecup telinganya.
“MINGGIR!” teriak Lala ketakutan.
“Kau harus menemaniku tidur nyonya Saint. Sepuluh tahun saya lebih tua darimu, saya pasti lebih tahu cara memanjakanmu kan?”
Richie tertawa.
“Anda gila, anda kira Kevin akan diam saja jika tahu ini!” lirih Lala pelan penuh penekanan.
“Silahkan beritahu dia, dia melawanku dan aku melawannya, kemudian kehancuran Kevin semakin di depan mata. Kamu mau melihat Kevin kehilangan semua? kau tahu... Kevin saja tak bisa menolong Johan, terlihatkan seberapa lemahnya dia di bawah saya.”
Mendengar Richie yang terus mengintimidasinya, membuat Lala hilang kendali. Bayang-bayang masa kelamnya kembali menyelimuti pikirannya.
"Tuan..." terdengar suara lelaki Tua itu tercekat dari sudut ruangan, Richie tetap tak bergeming dia tetap mengecup leher Lala dengan mata masih terpejam.
"Kevin menuju kemari, Tuan," kata kepala pelayan itu dengan suara bergetar membuat Richie langsung melepaskan Lala yang terlihat masih ketakutan itu dengan penuh kekesalan.
Dua lelaki itu meninggalkan dapur, meninggalkan Lala yang mematung menatap sambal itu dengan mata yang telah berkabut. Wanita yang shock atas ucapan dan perlakuan Richie itu bahkan sampai tidak sadar akan kedatangan sang suami di ruangan itu.
__ADS_1