
Masih saja Ars tidak memahami, bagaimana adiknya semarah itu hingga membawa Lala ke tempat itu. Benarkah hanya karena kabur, mau kabur kemana Lala, dirinya yakin wanita itu tak sebodoh itu ... atau mau lompat dan berenang? bahkan ini beribu-ribu mil dari daratan. Dan ada apa, tampaknya tidak sesederhana itu.
Ratusan ular Veeper mengelilingi kaca, dan Artyom menyentuh leher wanita itu untuk membuatnya menoleh ke depan kaca. Tentu saja, wanita itu terpejam dan mulai berlinang dengan terus menggaruk lengan Artyom agar tidak menjauhkannya.
Ars semakin menyeringai, menikmati pertunjukan. Saat sang Adik memaksa wanita itu membuka mata, dan Ars tertawa keras.
Nick yang di belakangnya mengerutkan kening, semakin memperhatikan layar monitor jadi... dimana lucunya?
"Tuan Ars, Tuan Muda Damir ingin wanita itu menemaninya dalam wisata kapal selam," Nick mengingatkan, dia harap tuannya tidak lupa dan lalu membuat putranya sendiri sedih.
"Hum," Ars berbalik memicingkan mata pada Nick karena mengganggunya kesenangannya, "Jemput wanita itu. suruh Lala jangan menunjukan wajah kesedihan itu di depan putra ku."
"Baik, Tuan," Nick ingin segera menyingkir dari tatapan Ars yang seakan-akan mau mencongkelnya.
...***...
Seorang maid telah mendadani Lala dan telah berganti pakaian dengan pakaian mahal.
"Buang wajah lemah itu di depan putraku jika Anda tidak ingin di buang ke Laut. Jadi, kenapa ingin kabur? anda kira bisa?" Ars terkekeh.
Bibir Lala berkedut, dia sudah tidak tahan dengan wajah Ars, jika ada pistol di depannya, dia bersumpah akan menembaknya. Dia ingin menembak Ars dan Daniel untuk melindungi ayah. "Kenapa saya harus kabur?!"
Ars mengatub bibir, berani sekali wanita ini menantang dengan nada suaranya, hukuman barusan tampaknya tidak membuat wanita ini sadar dan justru semakin melawan.
Namun, jika wanita itu tidak kabur, lalu apa yang membuat Thyoma marah. Ars menyuruh maid keluar dengan gerakan tangannya.
__ADS_1
"Katakan, kenapa Artem menghukum mu?" Ars geram, jika dia bertanya soal ini pada adiknya, tentunya tidak akan dijawab.
"Mengapa anda tidak tanyakan sendiri padanya?"
Ars menggertakan giginya, tanga di samping paha mengepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Wanita sialan!
Meremas gaunnya, Lala menatap tajam pada Ars di pantulan cermin. Jika mereka akan membunuh ayah dan Kevin, bukankah seharusnya ia akan mencegahnya, lalu dengan apa, atau dia harus menikam Ars dan Daniel apakah itu bekerja.
Aku benci lemah, aku tidak akan lemah, persetan dengan ular-ular itu. Jika aku mati- matilah dengan berguna, setidaknya aku membantu ayah dulu sebelum mati. Aku tak peduli seberapa keji ayah, ayah tetaplah ayahku. Dan aku takkan membiarkan mereka menyakiti ayah.
Ars mencakar rambut Lala, dan menariknya sampai kepala wanita itu terlempar ke belakang.
"Aaaaaa!"
"Pembakang, apel jatuh tidak jauh dari pohonnya, sama seperti ayahmu ya?" Ketel yang ada di dalam dada Ars mendidih dan siap mendesis kalau bukan suara manis di belakangnya.
Ars menoleh ke belakang, matanya membesar dan refleks melepas tangan menjauh dari rambut Lala dan menarik tangan ke pinggang. Tubuhnya membeku saat Damir datang ke arahnya.
Dan Nick di pintu baru datang dengan terengah-engah, "Tuan Muda-" Nick melirik Ars, sepertinya dirinya membuat kesalahan, saat Nick akan masuk Ars mengusirnya, dan Nick merasakan hawa tidak enak, beruntung dia meninggalkan kamar.
Berjongkok, Ars membuka tangan menyambut Damir, tapi putranya bergeser ke kiri melewatinya. Rasanya, Ars seolah-olah dijatuhkan dari lantai lima puluh lalu di jatuhi puing-puing bangunannya dan dia sulit menarik nafasnya, sekalipun menariknya... tampaknya oksigen tak memasuki paru-parunya dan membuat semakin sesak. Putranya mengacuhkan, mengapa? Ars bergeser sebelah memperhatikan Damir yang mendongak pada wanita itu yang kini semi membungkuk dan lalu berjongkok menyamakan tinggi dengan Damir.
"Madam? papa menyakiti madam?"
Mata Ars melebar, dadanya bergemuruh. Guntur seakan menyambar dan otaknya mati oleh pertanyaan yang keluar dari bibir mungil buah hatinya.
__ADS_1
Menelan ludah, Hal-hal yang selama ini telah dijauhkan dari mata anaknya, segala kekerasan yang ditutup-tutupinya, kini justru sang putra yang menemukan dirinya melakukan itu pada sosok wanita yang tengah dikagumi Damir.
Lala tertawa kecil, Ars membeku, akankah wanita itu mengadu. Dan membuat dirinya makin kesulitan menghadapi putranya yang selalu banyak bertanya dengan hal-hal yang sulit dijawabnya.
"Kenapa menyakiti? bukan menyakiti," Lala menatap Damir sangat lembut, lalu beralih pada Ars, "Ya kan Tuan Ars? anda hanya membantu saya merapikan rambut saya?"
Berkedip cepat, sesuatu berat seperti baru terpecah di kepalanya. Ars mengangguk dengan cepat saat putranya menatap penuh curiga, dirinya kini merasa sangat bodoh di depan putranya. Ars tertawa kecil, "apa yang dikatakan madam benar, papa membantu madam, Damir ... datanglah," Ars membuka kedua tangan berharap putranya memeluk dan lalu menyiram hatinya yang diliputi oleh kegundahan.
Damir menatung memperhatikan sang papa, lalu beralih menatap sang madam yang terus tersenyum dan Damir memeluk sang madam ... "Madam, ayo lihat paus."
Terhenyak, seketika Ars jatuh dalam lubang gelap menyaksikan putranya mengacuhkannya, mengapa memilih orang yang baru dua hari ditemuinya.
Berat sesuatu seperti batu besar seakan menempati hati Ars. Bagaimana bisa Damir melalukan ini. Tidak, putranya hanya masih polos dan belum tahu apa-apa. Ars berdiri melangkah dengan kaki berat.
Lala menoleh memperhatikan jalan loyo sang tuan arogan dengan kepala yang masih sakit akibat jambakan Ars yang kuat, mungkin sebentar lagi rambutnya tercabut dari tempatnya, kepalannya menjadi sangat panas dan sedikit perih. Sangat kesal. Namun hatinya begitu perasa. Bohong, bila dirinya tidak tahu soal ini, bahwa Ars cemburu, karena dia telah merebut perhatian putra Ars. Kesal, tapi bisa apa, Lala menghela nafas berat dan berbisik di telinga Damir. Anak kecil itu melepas pelukan dan menatapnya perlahan lalu berjinjit mengecup pipi kiri Lala. Wajah Lala terus menghangat memperhatikan kepergian langkah mungil itu, yang setengah berlari.
Sesuatu mungil memeluk pahanya, saat Ars di dekat pintu. Dia menunduk, putranya tengah menunjukkan gigi-gigi mungilnya. Ars berkedip perlahan, manisnya. Kembali berjongkok. "Jadi anda membutuhkan sesuatu?" Ars menjewel hidung mungil itu, hatinya menghangat kembali begitu melihat seutas senyuman Damir.
Kecupan mendarat di pipi kiri dan Kanan Ars. Lelaki itu terkesiap, dan merasakan panas tangan mungil itu menyentuh pipinya. Apa yang tadi gelap di hatinya seketika berubah terang, dan kembang api dengan percikan kebahagiaan tengah menari-nari dihatinya. Terimakasih Lala untuk setidaknya telah membuat putraku tersenyum.
"Damir, mau lihat paus dengan papa." Damir menggelayut dan mata cerahnya memandang Ars dengan antusias.
Menimbang-nimbang, Ars mungkin harus berterimakasih secara langsung pada wanita itu, nanti. Karena dua tangan ajaib mungil ini adalah satu-satunya kekuatan paling ajaib dalam hidupnya. Mungkin itu juga yang dirasakan wanita itu pada Vino.
Dua sudut bibir Ars terangkat membentuk senyuman manakala matanya memanas dan mengecup kening Damir sambil menggendongnya. "Tentu." Memeluknya erat-erat keluar dari kamar, dan menoleh ke belakang. "Madam Lala, kami menunggumu," Ars memanggil dengan lembut dengan sendirinya, saat tangan Damir mengulurkan pada wanita yang masih berjongkok di depan meja rias. Tampaknya sang putra sangat menyukai wanita itu.
__ADS_1
"Ya, saya datang." Lala sekali lagi mengalahkan perasaan bencinya, dan berakting sangat manis manakala di depan anak kecil, saat pikirannya sendiri dilanda kalut. Ingin sekali pergi jauh dari hadapan Ars dan Daniel yang selalu mengekangnya.
Ingin sekali setidaknya memeluk Richie dan menemukan sedikit kekuatan. Lalu bagaimana menyelamatkan ayah dan Kevin, mereka bilang akan menukarnya dengan Vino. "Ya Tuhan, saya harus meminta bantuan kemana."