Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 189 : KEJUTAN ATAU DIKEJUTKAN


__ADS_3

-POV RICHIE-


Saya menatap restoran itu dalam background malam. Mengangkat tangan di depan dada saya, jam sepuluh.


Dan ini lebih sulit dari yang saya bayangkan, saya hanya menginginkan pendamping hidup, dan itu cinta pertama saya.


"Mereka akan ke hotel bos," kata Jefri di jok kemudi menoleh ke belakang.


"Ikuti."


Apa yang akan mereka lakukan?


Ingatan saya kembali ke saat .


-Kilas balik-


Saya melihat jam setengah delapan, Saya akan memberi kejutan untuk Lala di depan teman perempuannya, pasti dia akan senang.


Saya menghirup mawar merah, saya pilihkan terbaik dan saya datang langsung dari daratan eropa. Ini sangat cantik masih segar.


Saya tahu dia sangat menyukai bau ini, pertama kali membawa buket bunga sejak hubungan kami semakin dekat, saya pikir saya akan menyatakan perasaan saya.


Badan saya panas dingin. Ini pertama kali saya akan mengungkapkannya, tapi saya gugup dan perut saya semakin terasa tidak nyaman.


Jefri memarkirkan mobil di pinggir jalan cukup jauh karena parkiran penuh, dan saya menghela nafas berulangkali, keringat dingin meluncur dari kening saya, saya tak bisa tenang.


Baru saja Jefri membuka pintu belakang mobil saat saya merapikan jas saya, tentu saya tidak ingin terlihat buruk di depan temannya, pasti dia terkejut karena saya tidak bilang-bilang.


"Bos, nyonya Lala ke pantai bersama seorang pria," kata Jefri yang baru mendapat laporan.


DEG-Ah mungkin itu temannya. Saya tak mempedulikan dan membawa buket bunga mawar dengan sangat hati-hati di depan perut saya, jujur takut bunga ini kusut!


"Lewat sini bisa." Jefri menunjuk jalan setapak tidak jauh dari saya, sungguh khas suasana di kota kecil jalan tanah kerikil di tumbuhi rerumputan kecil,dan tentu beberapa plastik berserakan tertimbun pasir, setapak gelap tanpa lampu, dan Jefri memberikan penerangan dengan ponselnya.


"Nyonya di sana, bos." Jefri menunjuk seorang wanita dalam pelukan seorang lelaki.


Mengerjap berulangkali, saya mengucek mata tidak percaya. Jarak saya sekitar tiga puluh meter, dada saya terasa bergemuruh. Cukup lama sepuluh menitan saya di sana dan terlihat wanita itu melepas dari pelukan pria yang saya seperti mengenalnya.

__ADS_1


"Saya terus mengawasinya, tapi baru kali ini nyonya menemui lelaki ini bos."


"Dia seperti, Johan?" Saya menelan saliva yang tertahan dan terasa memberatkan. Sejak kapan mereka bertemu?


"Sebenarnya, semalam nyonya berdansa dengan pakaian sedikit terbuka dan bersama seorang pria, saya kira itu juga salah satu orang terdekat dari nyonya Sasha."


Saya mengibaskan tangan, dan Jefri meninggalkan saya saat mendengar sayup umpatan dan segala hujatan wanita itu. Jadi kamu masih memikirkan Kevin?


Cukup lama saya di sana, dada saya terbakar, ingin menghampirinya tapi seuatu mengejutkan saya saat Pria itu membungkuk. Lala tak menolak berciuman.


Saya mundur perlahan dan berbalik menjauh. Apa ini kejutan untuk saya?


Buket mawar merah terlepas dari tangan, terkapar dan ceceran kelopak merah terlepas dari tangkai menggelinding terbawa angin.


Saya melangkahi pasir dengan bahu merosot dalam kegelapan. Meninggalkan seonggok mawar tak berharga, beberapa kelopak merah ikut terbawa dalam langkah menapaki di atas pasir putih, terhempas dan ternoda akan luka.


Cahaya bulan di langit biru menerangi langit tanpa awan bayangan gelap diri saya pada pasir yang terus saya pijaki.


Lagi-lagi harus melihat teman masa kecil saya dekat dengan orang lain. Setelah mengalah untuk Kevin, apa harus mengalah lagi? Bagi saya, tidak ada yang terpenting, melainkan keinginan dari relung jiwa memastikan wanita itu mendapatkan apa yang diinginkannya.


Saya terus mengingat siluet indah mereka berciuman dalam potongan pikiran saya. Sungguh menjengkelkan kenapa Lala tidak menolak? Saya menjejak jok di depan saya sampai Jefri terlonjak.


Saya sudah menunggu selama dua jam lebih. Sementara seorang anak buah Jefri dengan alat penyadapnya terus memantau pergerakan mereka. Dan sekarang ini? mereka ke hotel!


Saya memukul jok depan saya, anak buah Jefri mengikuti mereka ke hotel dan saya dengan bodohnya hanya menunggu di parkiran.


"Mereka memasuki kamar bos," kata Jefri setelah mendegar earpiece. Lala mengkhianatiku!


"Sebenarnya apa kerjaan mu! pasti mereka sudah bertemu sebelumnya!!!" saya Menjejak kursi kemudi, "Bodoh!"


"Tapi, mereka baru bertemu sekarang ini bos."


"Apa kamu pikir dia segampang itu, baru bertemu dan ke kamar!!!" saya kembali teringat siluet ciuman mereka. Masuk akal!


"Bukankah dulu mereka dekat bos, bahkan nyonya mau menyelamatkan nyawa Johan."


"Why don’t you put a sock in it?" (frase kasar yang menyuruh seseorang menutup mulut)

__ADS_1


"Am-pun, Bos. Apa saya perlu menelpon nyonya?" tanya Jefri dengan badan gemetar.


Menghela nafas kasar, saya tak bisa diam, dan keluar mobil membanting pintu, bolak-balik disekitar mobil menatap loby hotel. Saya meraup wajah saya, rahang saya mengeras saat Jefri mendekati saya, dan sekali tendang saya mendepak, membuat dia mengadu memegangi kakinya.


"Sa-kitt bos," rintihnya, wajahnya menekuk. Saya semakin ingin menonjok dia. Menjaga satu wanita saja sungguh tidak becus, cecunguk begitu ingin menguasai wilayah besar, bodoh. Cih!


Beberapa saat Jefri mendengar earpiece. "Bos, Johan keluar dari kamar dan masuk kamar sebelahnya. Sedangkan, kamar tadi itu, merupakan kamar putrinya, sepertinya kamar Lydia."


Saya memegangi dagu saya, angin berderak lebih kencang di pinggir pantai saat seorang anak buah lari dan menyerahkan kunci. Ya, mereka mengakses kunci tambahan bagaimanapun caranya. Saya meninggalkan Jefri melewati loby hotel, disana empat anak buah saya memberi hormat, begitu juga resepsionis laki-laki yang memberi hormat pada saya.


Melewati beberapa kamar, saya memasuki kamar 05.


BIP-Kunci elektronik bekerja, saya masuk bertepatan dengan kamar mandi yang dekat dengan pintu masuk terbuka. Lampu kamar redup, kasur terhalangi dinding, dan saya menemukan dia keluar dari kamar mandi dengan hanya dalam belitan handuk. Jantung saya mau copot dan saya membekap mulutnya saat mata dia membelalak, shock.


Merasakan aroma vanila dari tubuhnya, saya menghimpit dia ke tembok, mengunci dengan tekanan paha saya. Mengusap bulir air di bahu mulus yang dingin, merasakan gemetar badannya.


"Hmmmp," Dia mencoba berbicara dalam bekapan tangan saya. Saya semakin bersemangat dengan sudut bibir saya tersungging melihat gundukan melon terselubungi.


Mata Lala bergetar dan bulir air jatuh dari rambutnya yang wangi segar, meluncur ke bahu, dan meresap ke dalam gundukan bulat, meninggalkan noda basah. Aku menelan saliva yang bergumul dalam mulut, jika saya tak menahannya saya yakin liur itu menetes keluar.


Walau pernah melihatnya setengah telan..jang, melihatnya seperti ini, terasa sama menggetarkan sama saat pertama kali saya melihat dia dua tahun lalu di atas ranjang, memikirkan aroma almond cairan kehidupannya sungguh membuat saya mabuk.


Sepanjang hidup saya, walau saya memiliki bisnis hiburan malam, namun saya hanya beberapakali memangil wanita untuk menhibur bekerja pada kejantanan saya, tanpa saya pernah menyentuh atau mene...lanjanginya.


Badan saya terasa panas, nafas saya meningkat saat dia mencoba mendorong perut saya dan itu tentu itu tak akan membuat saya bergeser, bibir saya setinggi kening dia saya mengecupnnya dalam dan dia meronta, aku merasakan kegugupannya, otak saya mati dan saya tersesat. Arus listrik dalam diri saya meningkat, sekring dalam diri saya putus.


Sesuatu berbentuk pipa mengeras dan terpenjara mendesak ingin keluar dari singgasana.


Saya tahu dia merasakan 'tekanan' di perutnya, saat tangan kanan saya menarik pinggang dia, menghimpit daging panas saya, dalam era..ngan tertahan di telinganya.


Terlihat dia merinding dan semakin membulatkan mata. Pipi dan telinga Lala memerah. Saya melengkung, mengendus leher jenjang itu dan menggigit kecil, manis. Merasakan hembusan panas nafas dia, yang meningkat di punggung tangan saya.


Merasakan samar aroma pear dan Vanila pada reseptor hidung saya, saat matanya kian meredup dan terpejam.


"Kau menikmatinya, sayang?" bisik ku di -telinga dia-


Dengan sengaja, saya menyembul nafas dan meluncurkan lidah di telinga dalam dia. Dan dia bergetar kegelian! saya tidak dapat menahan senyum. Lidah saya menjelajahi leher di bawah telinga dia... Tengkuknya sangat harum.

__ADS_1


__ADS_2