
Mataku terbuka, aku mengelap air mataku, setelah mimpi indah.
Ibu seperti tersenyum kepadaku dalam mimpi, tapi aku tidak mengingat wajah ibu.
Pasti Ibu dari Surga bahagia karena pernikahanku. Lala kangen ibu. Sekali saja Lala ingin lihat Ibu. Jika ibu masih hidup pasti Ibu akan memeluk ku lebih lama dari tante Rumi. Mengapa pelukan tante Rumi sangat menenangkan. Hatiku sangat sakit menahan rindu ini Ibu. Ayah juga terlihat rindu Ibu, setiap aku menyebut Ibu pasti ayah langsung diam.
Buck. Aku kaget karena tangan Kevin mendekap ku. Aku berbalik. Kulihat Kevin masih tidur. Aku menyingkirkan tangan Kevin ke depan perutnya. Aku menekan otot bisep Kevin berulang kali.
"Ini sangat keras. aku ingin punya otot seperti ini."
Aku kembali teringat ucapan Richie.
Tidak mungkin Kevin keluar malam karena menemui perempuan. Aku benar-benar ingin menangis hanya dengan membayangkannya saja.
"Tidak! Aku yakin, kamu tidak akan seperti itu."
Tapi para artis kemarin sangat cantik dan tubuhnya sangat seksi. Tidak mungkin para lelaki tidak tergiur dengan kemolekannya, bisa jadi ...
Menyebalkan ini gara-gara Richie aku jadi berpikir tidak-tidak.
Siapapun menyukai Kevin. Dulu saja saat di Indonesia, teman kampus Kevin begitu berani menggerayangi Kevin di depan umum.
"Tuhan lindungilah suamiku dari segala pengganggu."
Jam menunjukan setengah enam pagi. Biasanya aku kedinginan tapi kali ini tidak, dengan ada Kevin dia selalu memberikan aku kehangatan.
Tapi badanku sakit semua, terutama inti tubuhku.
"Lecet."
Semalam sangat sakit. Itu hanya masuk setengahnya. Sekalinya masuk semua, perutku sangat linu. Aku mencoba menyembunyikannya, tapi dia tahu, akhirnya dia tak memasukan semuanya. Aku sangat malu.
Apa semua lelaki memang sebesar itu, apa para wanita tidak kesakitan?
Tapi mengapa aku tidak tahu saat Johan me nodai ku. Apa gara-gara aku minum obat flu sampai dua tablet? lalu aku tak sadar? atau karena aku baru tidur sebentar?
Mengapa aku jadi banyak pikiran si !!
Aku menyingkirkan anak rambut yang menutupi mata Kevin, aku memainkan hidung mancungnya. Dia terlihat sangat damai dalam tidurnya.
Pipi Kevin sangat lembut dan cerah, aku menyentuh bibirnya dan dia menggigitku.
"Agh!"
Aku meringis, dan dia tersenyum lalu membuka mata -biru lautnya-.
"Sayang sakit," kataku. Kevin menggelitik jariku dengan lidah dia yang panas dan lengket.
"Sudah bangun dari kapan?" tanyaku, lalu dia melepasakan gigitannya.
"Saat kamu memuji otot bisepku, apa kamu begitu mengagumi tubuh ini, Babe?" tanya Kevin, dia tersenyum nakal.
"Hm," lirihku wajahku menghangat,
"Apa kamu mendengar semua ucapanku?" tanyaku malu sekali.
__ADS_1
Kevin menjadikan lengan berototnya sebagai bantalan leherku, "Terlalu banyak yang kamu pikirkan ya!?" sudut Kevin tersungging,dia mengobrak-abrik rambutku.
"Ah Kevin!" Aku merapikan rambutku yang acak-acakan.
"Lala ... " panggil Kevin dengan mata sayu.
"Hm?"
"Adakah saya tempat istimewa di hati kamu?" tanya Kevin, wajahnya berubah kelam.
"Kevin, apa kamu meragukan ku?"
"Karena kamu memiliki putri-putri Johan. Apa kamu pernah berpikir akan hidup dengan dia demi putri-putrimu?"
"Lihat yang kamu pikirkan, sejauh itu? bukankah jelas aku telah hidup denganmu, apa kamu pikir aku main-main dengan pernikahan ini Kevin."
Dia semakin memasang wajah kelam. Sebenarnya apa yang dia pikirkan?
"Kamu tidak tahu ya, saat awal mula bertemu kamu, kamu saat itu menatapku dalam, aku yang tak pernah pacaran, jadi aku sampai mengira tatapan itu tanda ketertarikanmu," kataku.
Aku tertawa kecil.
"-miris, aku terlalu percaya diri, pada akhirnya aku tahu asal tatapan itu karena patah hatimu. Aku masih mengingatnya. Tatapan itu tidak pernah bisa hilang dari ingatanku. Meskipun, setiap kita bertemu ...selalu semua topik soal kisah kamu dengan Samantha, namun itu tidak bisa menghilangkan getaran aneh di hatiku, walaupun saat itu aku sedikit cemburu dan berandai mengapa bukan aku yang menjadi Samantha, pasti aku akan bahagia," kataku.
"Namun takdir berkata lain saat itu, aku kira sedikit saja kamu memiliki rasa kasihan karena pertemanan kita yang saat itu tak pernah ada masalah, ternyata aku tidak ada artinya sama sekali di matamu," kataku.
"Sampai kau begitu teganya mengirimkan aku pada seorang iblis, rasa sakit itu masih datang menghantuiku, kekecewaan itu terus menghantui tidurku.
"Namun Kevin, aku tidak bisa bohong ...aku sadar aku kira aku lebih takut bila kamu menjauh ..." jawabku dengan mata yang sudah mengembun.
"Saya merasa malu atas apa yang telah saya lakukan,"kata Kevin.
"Jangan sembunyikan kebencian dan sayang. Ceritakan semua yang kamu rasakan. Saya akan berusaha untuk mengubah semua perilaku saya," kata Kevin, itu terdengar sangat dalam bagiku.
"Tapi, seandainya suatu hari nanti saya berbuat kesalahan besar. Apa kamu bisa memaafkannya?" tanya Kevin.
Aku terdiam, apa maksud pertanyaan mu itu Kevin, seakan-akan kamu melakukan kesalahan yang tidak bisa aku maafkan.
Apa ini soal hal ilegal yang kamu lakukan atau lebih buruk, mengapa ini pertanyaanmu menambah kegelisahan ku.
"Tergantung ..." jawabku sambil menatap Kevin dan dia terlihat kecewa dengan jawabanku.
Dia mendekap ku lama... lalu mengangkat ku ke kamar mandi. Aku sangat malu, karena tiada sehelai kain yang menghalangi kami, ini masih asing.
Satu jam kemudian, aku berjalan dengan kaki loyo menuju meja rias.
"Apa perlu kursi roda, Babe?"
"Tidak, itu memalukan ... apa nanti yang mereka pikirkan..."
"Memang apa yang mereka pikirkan?"
"Ah mereka tahu ini malam pertama kita, jadi apalagi yang mereka pikirkan, selain melihat aku kelelahan karena kamu menghajarku."
Kevin tertawa lepas membuatku kesal bukan main. Tenagaku yang sudah pulih saat bangun tidur, justru dikuras Kevin saat kami mandi, itupun terhenti karena aku mulai sempoyongan.
__ADS_1
Aku melihat jam, ternyata dua jam kami di kamar mandi. Ini gila.
"Ayo sayang, kita terlambat," kataku selesai mengenakan cream pagi, toner rambut, dan lipstik tipis. Wajahku terlihat sangat cerah ... seperti seorang putri kerajaan, apa ini namanya kecantikan karena s*x seperti kata orang-orang?
Aku membantu Kevin mengenakan kemeja dan dasinya. Ya ampun dia terlihat begitu berseri-seri. Bibir Kevin semakin terlihat pink.
Pelayan membukakan pintu ruang makan, setelah memberi hormat.
Aku semakin menguatkan genggamanku pada tangan Kevin.
Ayah Alen, Om Anton, Mama Sheril, mereka tersenyum melihat kami.
Aku sempat melihat mata Mas Luca yanng terlihat begitu sedih, ada apa dengannya, mengapa dia menampakkan kecemburuannya yang begitu jelas.
Aku berjalan.
"Pagi pengantin baru ..." kata Fabio membuat ku tersipu, Mama Sheril menepuk-nepuk pipi Fabio karena ucapannya.
Kepala pelayan menarik kursi Kevin. Dia duduk di ujung, Kevin terlihat sangat lux.
Namun aura Luca di sebelah kiriku terasa begitu kuat.
Ayah Alen duduk si belah kiri Luca. Kenapa Ayah Alen tidak duduk di kiriku saja! Aku jadi canggung karena Luca seperti memperhatikanku.
Kami makan dengan hangat pagi itu, tidak seperti sebelum menikah. Kini suasana lebih mencair, kami bercengkrama beberapa hal, fabio pandai mencairkan suasana. Ayah Alen juga tampak akrab dengan mas Luca.
Tangan mas Luca menggenggamku di bawah meja. Aku terlonjak. Aku melepaskannya namun mas Luca semakin menggenggam erat. Wajahku kaku.
"Kamu baik-baik saja, istriku?" tanya Kevin menatap tajam padaku. Namun sedetik kemudian dia beralih menatap Luca.
"Aku tak apa ," kataku sedikit tersenyum.
"Susu, istriku," kata Kevin dengan lembut.
"Baik, aku akan menuangkannya. Aku sedikit menyerong kiri, melotot tajam pada Luca, dan dia melepaskan genggamannya.
" Apa Ayah Alen juga mau susu lagi?" tanyaku.
"Boleh, nak ..."
Aku beranjak dan menuangkan susu untuk Kevin lalu untuk ayah. Dan saat aku akan meletakannya.
"Adik ipar, saya juga," ucap Luca langsung memberikan gelas kosongnya. Aku melirik Kevin, dia diam, aku tak bisa menebaknya, tapi aku tahu pasti Kevin memperhatikannku. Aku menuangkan pada gelas Luca cepat-cepat.
"Terimakasih adik ipar."
Parker berbisik pada Kevin.
"Ada hal mendesak, silahkan teruskan sarapan kalian."
Aku meletakan teko susu di meja. Kevin mengecup keningku, kemudia dia berlalu. Aku menatap kepergiaanya. Segenting itu ya?
Bersambung ...
_______________________________
__ADS_1
Hai para pembaca setia aku punya Novel bagus buat kalian . Tinggalin jejak ya 😍