
“Apa salahku, katakan...”
Mendegarkan suara yang dikenalnya, Lala mengerjapkan mata saat jantungnya mulai kembali meningkat.
“Tarik nafasmu, Lala, kamu hanya perlu bernafas, tak usah pikirkan yang lain, kami disini menjagamu.”
Lala berusaha mengatur nafasnya.
“Ya seperti itu, tidak terjadi apa-apa kan, kamu lihat Mamahku juga sekarang menjagamu kan, bahkan mamahku dulu seperti nenek lampir.”
“Siapa yang seperti nenek lampir? Serius itu yang kamu katakan, pada mamah yang mengandungmu? Bocah ini,” Sheril menabok pantat Luca, membuat Luca tertawa karena ketahuan.
“Mamah salah dengar kali.” Luca duduk cukup jauh di depan Lala, dia berusaha menjaga jarak agar Lala tak semakin takut padanya, lumayan lah ini jarak tiga meter, melihat Lala yang tidak ketakutan, meskipun Lala tak mau memandangnya.
“Gimana para investormu Luca?” tanya Sheril melihat anaknya yang baru pulang dari New york dan langsung kemari.
“Beres mah, jangan pannggil aku Luca jika itu saja tak bisa.”
“Baguslah! Bener mamah bilang, kan? bila rejeki mah tidak kemana. Meskipun kantormu di Indo ludes, kamu hanya perlu mulai dari enol. Cium mamah, dong!”
“Ada Lala, Mah...”
“Kenapa? Malu? Apa yang salah? Cepat cium, kamu tahu kekuatan restu ibu? Kamu mau, kan, kantor baru mu di New York beres, cium mamah kalau gitu.”
“Ancaman mama seram, baiklah.” Luca berjalan ke depan Lala, dia bersimpuh di depan Mamanya dan sempat melirik mata Lala yang tengah menatapnya.
’Aku tak pernah melihat tatapan mata Lala seperti itu, seolah dia kesakitan dan minta tolong, apa hanya perasaanku saja?’ Luca mencium pipi kanan kiri dan kening mamanya. Dia duduk di rerumputan tanpa alas, bersandar pada kaki Sheril.
“Mah, aku pijat ya?”
“Pintar kamu Luca, memang bisa diandalkan,” kata Sheril sambil mengacak rambut Luca, dia termenung melihat anaknya yang sudah tinggi besar, Sheril tersenyum. “Apa kamu belum punya pacar, Luca?”
“Belum, mah,” jawab Luca, matanya menatap pada Lala sebentar, dia sengaja duduk dibawah karena Lala terus menunduk, dia memijat kaki Sheril sesekali mendongak ke Lala, ‘mengapa lagi-lagi aku merasa deJavu, mengapa aku kembali mengingat kamu saat di vila ketika lututmu terluka, dan kamu tidak mau diobati. Aku kira, sudah move on, AAAH!’ batin Luca menghela nafas.
“Kurang keras, Luca,” kata Sheril yang mulai sibuk dengan gadgetnya, dia mulai membaca pesan yang sudah menumpuk dari grub sosialita. Teman-temannya sudah menjerit karena dia mulai jarang menghadiri arisan.
Lala memandangi rerumputan, tapi kepalanya pegal, mau tak mau dia sedikit menghadap Luca. Lala tak habis pikir dengan Luca mengapa harus sampai duduk di rerumputan. ‘Oh! aku tadi berteriak pada mas Luca !? Aku bodoh, aku terlalu kaget hanya karena sentuhan, jadi tidak enak kan,’ batin Lala.
Lala tersentak karena rangkulan tangan dari belakangnya, Lala menangkap mata Luca yang sama terkejutnya.
__ADS_1
“Sore, istriku, kamu disini,”kata Kevin, dia mengecup rambut dan pipi Lala dari samping. Jantung Lala masih berdebar-debar karena sentuhan mendadak, Lala selalu mengira orang jahat menyergapnya. Kevin mengecup rambut Lala lama, netra biru Kevin, melirik Luca yang tatapannya tak bisa di tebak.
“Bagi pelukan mu Kevin, kamu bisa memeluk istrimu setiap detik, cepat peluk mama!”
“Hm...” Kevin mengecup Lala sekali lagi, dalam dua langkah dia telah di depan Luca, “kamu baru sampai kak Luca?"
Luca menoleh ke belakang dan saling tatap dengan mamanya, tak percaya dengan apa yang di dengarnya, seorang Kevin memanggil Kakak?. ‘Apa dia kesurupan?’batin Luca. Sheril tersenyum penuh arti, sepertinya kedatangan Lala dalam keluarganya membawa andil besar pada hubungan keluarganya yang kian menghangat.
Baru kemarin di pernikahan, anak keduanya itu bersikap layaknya seperti seorang kakak pada sang adik. Sekarang anak paling pendiam itu bersikap manis pada kakaknya. Sheril mengelap sudut mata, hatinya tersapu dengan perubahan Kevin.
“Mengapa kamu hanya diam?” Sheril melotot pada Luca.
“Aku harus apa?” Luca semakin bingung dengan pertanyaan Sheril.
“Dasar bocah, setidaknya jawab pertanyaan adikmu, kenapa kecerdasanmu menurun?” tanya Sheril sambil berdiri setelah Luca menyingkir dari kakinya, ia menangkap pelukan hangat sang putra yang paling pendiam itu, “apa hari-harimu kesulitan?”
“Tidak, saya sangat bahagia. Apa kabar mamah?”
“Ya, sangat luar biasa dong, apa kamu mau rendang, jagoanku?”
Kevin melepaskan pelukan, dia tersenyum malu-malu, “boleh.”
“Oh ya??” tanya Kevin penuh penekanan, “baguskan? selamat kak Luca!” seru Kevin tersenyum hangat, dan mengulurkan tangan pada Luca yang masih berdiri.
Luca melirik tangan Kevin, dia bertanya-tanya apa orang bisa berubah secepat itu karena menikah. Luca menggelengkan kepala menyingkirkan pikiran buruk, dia menangkap tangan Kevin, dan adiknya itu langsung memeluknya.
Seperti mimpi, ini pertama kali sang adik memeluknya setelah pasca tenggelamnya Kevin saat kecil. Tubuh Luca mematung masih mencerna apa yang di depan matanya, kehangatan pelukan Kevin yang sudah lama tak dirasakannya. Luca meletakan tangan di punggung Kevin dan menepuk-nepuknya. “Terimakasih, atas ucapannya, mampirlah saat ke New York,” kata Luca dengan suara hangat, ‘Luar biasa,’ batin Luca, perasaan menjadi seorang kakak terpenuhi, karena adiknya itu kini menganggap dia ada.
Lala mendongak, dia tersenyum kecil melihat dua orang itu. Sedangkan Sheril yang berdiri di belakangnya mengelus-ngelus bahu Lala. Dua lelaki yang masih setengah pelukan itu menghadap Lala, terpaku menatap Lala tersenyum.
Sheril menaikan alis, melihat dua orang putranya yang kompak berjalan dan bersimpuh di depan Lala.
Lala yang mendapat pandangan aneh dua lelaki itu hanya bisa kembali tertunduk, dan senyumnya langsung pudar, bahkan Lala tak menyadari ekspesinya sendiri, dia hanya tak nyaman dengan segala sentuhan dan perhatian orang.
“Kak Lala!” teriak suara dari kejauhan yang tengah berlari, membuat Luca, Kevin dan Sheril teralihkan perhatiannya.
“Apa kalian sedang main permainan teletubbies? mengapa kalian mengelilingi kak Lala, hah ,hah,” kata Fabio terengah-engah setlah lari kencangnya.
“Hey apa kabarmu, dik,” sapa Luca pada Fabio, akan beranjak pergi menjauh dar Lala, tapi di tarik fabio lagi.
__ADS_1
“Ayo berpelukan! Kita teletubbies, pas berempat!!”
Sheril ketawa, Kevin dan Luca berpandangan sesekali mereka memandang Lala bersamaan’
“Ah lama! Mamah! Teletubbies!”
Sheril menahan tawa, dia memeluk fabio dikanan, tangan kirinya memeluk Lala. Sementara Kevin memeluk Luca dan mamahnya, luca memeluk kevin dan fabio. Lala begitu tersentuh sampai sampai kristal bening di matanya jatuh. Kehangatan itu menyelimuti hatinya.
‘Kadang sikap fabio yang begitu absurd, jadi perekat, kamu sudah kelas tiga sma kenapa masih suka teletabis,’batin Sheril dengan senyum haru, mengecup rambut Lala, “menantu ku, kamu ada diantara kami, kami melindungimu.”
“Kita kan main teletubbies toh mah...”
“Diam kamu bocil,” perintah Luca.
“Apa sih...” protes fabio yang tidak tahu apa-apa.
“YAAAH, gak ajak-ajak papah,” timpal Anton yang baru datang, langsung memeluk dari belakang -Sheril dan Fabio-.
“Papa ketinggalan! ini udah empat lengkap teletubbies, ehm papa jadi bayi yang suka ketawa di langit ya.”
“Diam kau bocil,” sanggah Kevin membuat fabio menurut.
Anton menepuk-nepuk anak-anaknya yang semua tersentuh oleh tangannnya,“Semoga keluarga kita dilindungi dari segala marabahaya, semoga cinta kasih menyelimuti keluarga kita, dan ketentraman selalu bersama kita, dalam suka dan cita bersama-sama, kita keluarga, dan bertambah anggota baru tiga, selamat datang menantu dan cucu-cucuku di keluarga Mariano, berdoa mulai.”
…"Terimakasih keluargaku tercinta, mari bangun keluarga ini dari awal lagi, semoga kakek dan nenek disana bahagia melihat kita kembali berkumpul. Salam kedamaian.” Anton melepaskan pelukan dan langsung memeluk istrinya, “terimakasih mamah dari anak-anak ku, mereka hebat seperti kamu,” kata Anton.
“Yah, mereka cerdas dan tampan seperti kamu, pah,”kata Sheril saat di kecup Anton.
“Iuuuh” keluh Fabio, Luca dan Kevin bersamaan mebalikan badan, tidak mau melihat orang tuanya bermesra-mesraan.
“Papa Mama, malu ada Lala, huh,”kata Luca mukanya memerah karena orang tuanya yang kadang terlalu terbuka.
“Lala harus tahu,” kata Anton sambil tertawa.
“Benar pintar papah!” seru Sheril.
Lala menutupi mata dengan tangannya, tapi ditahan Kevin yang duduk di sebelah kirinya. “Apa kamu sakit?”
Lala menggelengkan kepala, dia binggung dengan hatinya dengan perasaan asing ini. Dia tak pernah menemui seperti ini. Hanya ayah yang biasa dipeluknya.
__ADS_1
“Apa kamu baik-baik saja?”tanya Luca yang duduk di sisi kananya, Lala mengangguk dengan pelan.