Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 256 : KESERIMPET


__ADS_3

Sebuah sentuhan di kening, membuat Lala terjaga, dia menyipitkan mata dan mendapati Richie duduk di sampingnya. "Mas .... "


"Tidurlah tak usah bangun." Richie lalu mendapati ponselnya yang bergetar, dia mengambil ponsel dan Damar mengirim foto Amber yang baru sampai di Flat Kevin. *Flat \= apartement*


"Di mana Amber?" Lala bertanya saat duduk di samping Richie, membenarkan ikatan jubah tidurnya yang sedikit melonggar hingga menampakkan sedikit garis dadanya.


Richie menunjukkan foto di ponsel. "Ke Flat, dia mau tidur di sana."


Lala mengangguk, berdiri dan membantu melepas jas Richie. "Apa kamu sedang ada masalah?"


"Hanya pekerjaan kecil." Richie sedikit berbohong, sebenarnya dia memendam masalahnya dengan Amber. Dia menatap Lala yang mulai melepas kancing kemejanya dan Richie menahan tangan itu. "Jika kamu melakukannya, aku tidak bisa menahannya, sayang." Terutama karena kepalanya sedang pusing, dan hal paling melegakan adalah membebaskan benih, tapi, itu tampaknya harus menunggu setelah mengucapkan ikrar suci.


"Lalu?" Lala tetap melepas kancing satu persatu. "Cepat, mandi dan aku akan mengambil pakaian di kamar mu." Menatap wajah Richie yang memerah.


Richie melirik ke belakang pada Vino yang terlelap dan kembali menatap Lala yang melepas kancingan ikat pinggang.


"Kamu, mau membangunkan macan tidur?" suara Richie serak.


"Apa kamu menginginkan sekarang?" menarik ikat pinggang yang baru terlepas dari lubangnya. Kemudian meletakan itu di nakas.


Richie memandang dengan sendu dalam kebingungan karena pertanyaan Lala. Sudah pastilah siapa yang tidak menginginkan 'hal paling menyenangkan yang sudah di tunggu-tunggu seumur hidupnya' . "Sayang, buatkan aku kopi susu."


"Apa kamu tidak mau susu saja?" Lala mengulas seutas senyuman dan menjewel pipi Eros.


"Lalu, jika Vino bangun, apa kamu akan menghentikan aktifitas panas, dan aku merana dalam kesakitan sayang?"


Lala duduk di pangkuan Richie, mendengarkan suara Eros yang penuh penekanan tapi tetap lembut.


"Risaa, kau tidak ingat? kamu hobi menjerit?" Tangan Richie menyusuri sepanjang pinggang sang kekasih.


"Kamu membuatku malu. Apa kamu tidak merindukan ku. Mana yang katanya ingin menggigitku?" Lala melembutkan suara dan melingkarkan kedua tangan di leher Eros, dan menyandarkan kepalanya di bahu kanan Eros sampai keningnya menempel telinga Eros.

__ADS_1


"Aku akan menggigit mu sekarang, bila kamu siap." Richie mengelus perut Lala, "tapi kau ingat dokter, tidak boleh mencangkul dulu kan, sayang?"


Lala menghela nafas membuang kecewa, " ya, kita harus sabar lagi." Mengecup pipi Richie dan bangkit menjauh, menuju meja makan.


Richie menurunkan celana jeans menatap Lala yang mengatur mesin kopi. "Sayang ... kita perlu ke dokter lagi, apa itu akan aman atau," Tidak meneruskan suaranya, karena Lala tampak sangat berharap pada kehamilan itu.


"Atau apa?" Lala mendongak dan mengerutkan kening menatap Richie yang menghilang di kamar mandi.


Lala kembali dari kamar Richie membawa piyama tidur Richie saat sang kekasih baru keluar dari kamar mandi. Dan bertemu pandang dalam diam. Ini pertama kali memilki kesempatan berdua, dan rasanya itu membingungkan bagi Lala.


Mengecup kening, hidung dan bibir Lala, dan Richie meraih pakaiannya dari tangan Lala.


"Apa kamu tak berganti di depanku, Mas?" Lala menghela nafas kecewa.


Richie berbalik wajahnya menghangat. "Boleh saya jujur? saya malu, dan tidak percaya diri di depanmu." Richie berbalik.


Lala memeluk pinggang lelaki itu dari belakang. "Kenapa mas? Eros, mengapa kamu tidak percaya diri." Menahan pakaian Richie dan masih memeluknya.


"Mas, kita lihat ke depan ya." Menarik ikatan jubah Richie dan Lala merasakan deguban kencang dalam dadanya. Dia meyakini ada tubuh polos dalam balik jubah ini. Wajah Lala menghangat dan dia mendengar keluhan Richie dengan suaranya yang mulai serak. Seandainya bukan karena larangan dokter, pastilah malam ini menjadi panas melebihi panas gurun.


Aku juga malu, mas. (Lala)


Lala membeku, tidak berani membalikkan tubuh Richie.


"Sayang, mau apa? kamu bisa bertanggung jawab?" suara Richie serak saat merasakan darah mengumpul ke bawah pada inti tubuhnya dan itu berdenyut. Richie mengembuskan seluruh udara dari paru-paru agar besi panasnya cepat turun, tapi tampaknya tidak akan bekerja karena pelukan kenyal sang wanita!


"Mas, kopinya mau mendidih ... kamu pakai sendiri dulu." Lala langsung melepas pelukannya dan dengan gugup menjauh sampai kakinya keserimpet dan "Ahh!"


Richie menangkap bahu dan paha Lala hampir-hampir kening Lala mencium lantai. "Sayang, kau ingat harus lebih hati-hati?" mendorong Lala ke belakang sampai sepenuhnya berdiri.


Lala mengehela nafas lega, "oh Anak ku, kamu selamat. Lala mengelus perutnya, tapi matanya tertuju ke seberang. Dia menelan benjolan di tenggorokan oleh keterkejutan dan kekaguman, jadi itu yang masuk ke dalam intinya dan kenapa itu sudah membesar!

__ADS_1


Dalam gerakan tajam Lala mengangkat dagu, bersamaan Richie yang dalam sedetik menutup tubuhnya.


Lala menangkap wajah Richie yang memerah, dan Richie menangkap wajah yang memerah.


" A-anu-" Lala terbata mere..mas jemarinya sendiri.


Richie mencengkeram lengannya sendiri saat sedakep.


Richie menarik nafas dalam-dalam menghirup oksigen ke dalam paru-parunya. "Lala, lihatlah langkahmu, pelan-pelan, apa perlu aku menggendong mu?"


"Tidak, aku jalan sendiri dan akan hati-hati. Dan itu."


"Itu apa?" Richie menatap telunjuk sang kekasih yang menunjuk ke bawah ke inti tubuhnya. Dan seketika Richie menunduk baru ingat, besi panas tengah menodongkan senjata di balik jubah. Richie tersenyum tipis, "bukankah kamu harus terbiasa melihat ini, kan?" Satu alis Richie terangkat dan dalam tiga detik melepas itu dan jubah meluncur ke bawah.


Mata Lala membulat sempurna, rasanya sulit bernafas mendapati tubuh polos lelaki itu yang tersenyum menggodanya. "Kopi, ya kopi ..." Lala berbalik untuk menjauh dengan jantung berdebar kencang.


"Lihat jalanmu." Richie meninggikan suara, mengingatkan karena merasa ngeri bila Lala jatuh lagi.


"Iya..."


"Pelan-pelan saja, kamu membawa satu kehidupan baru, sayang." Richie menatap punggung Lala.


"Nah, aku berjalan sangat pelan, sekarang." Lala melangkah perlahan, pikirannya kacau, setelah lebih dari satu bulan sejak malam yang tampak 'kabur dalam ingatan' dengan Richie membuat penasaran dengan rasanya.


"Oh, Nak. Bertahanlah, aku akan berjuang untukmu dengan segala cara!" Lala kemudian terdiam sejenak saat meletakan gelas di bawah mesin kopi. Inilah kehamilan yang terakhir, jika ini tidak berhasil, maka dirinya tidak akan memiliki keturunan dengan Richie.


Richie termenung dalam bayang-bayang tadi sore saat akan ke rumah sakit.


"Bukankah akan bahaya jika kamu hamil lagi? jahitan mu semakin tipis."


"Mas, kita akan menemukan jalan." Lala menatapnya dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


Richie memeluk Lala, "asal tidak membahayakan mu, sayang." merasakan kehangatan tangan Lala yang menahan punggungnya.


__ADS_2