
-POV Author-
Ars membawa Lala ke balkon luas di samping restoran, dia mendudukan wanita setengah mabuk itu pada sofa lebar di pinggir pagar besi kapal.
"Ceritakan masa kecilmu."
Menoleh samping ke Ars yang berdiri bersandar pada pagar, Lala memejamkan mata yang berat, "Suatu ketika ayah menggiling daging rusa hasil buruannya dari ... sekarang saya tahu itu hutan di Serbia, saya membantu ayah mengupas kulit bombai dan ayah mencampurnya."
Ars melirik wanita yang bersandar ke sofa dengan bibir melengkung ke atas membentuk senyuman, dimana dadanya sangat menonjol dan menarik, jari-jari lentiknya memijati kening, sesekali menyibak rambut yang terbang oleh angin. "Ayah anda berburu?"
Wanita itu tertawa, bibir montok itu terbuka lebar dan tampak sangat anggun dan menghibur dari caranya tertawa, seakan tidak memiliki beban, dan jiwa yang bebas, "ayah pandai berburu, ayah pandai memanjat dinding lantai sepuluh : seperti spiderman, ayah pandai melompat dari lantai satu, ayah pandai semuanya," wanita itu kini terisak. Ars menaikan alis, penuh tanda tanya kenapa terisak?
"Ayah mengepal daging rusa giling berbumbu dengan kepalan sangat besar dan memasaknya dalam teflon, juga acar timun dan lobak. Saya mencicipinya itu sangat lezat. Kami menyimpan sisanya ke dalam plastik berbentuk kotak-kotak," wanita itu tersenyum tipis, lalu dia menangis keras membuat Ars melirik beberapa anak buahnya, menyuruh semua orang keluar dari balkon.
"Api tiba-tiba menyambar, dari bawah pintu apartemen saat saya bermain balon," wanita itu semakin histeris.
"Ayah sepertinya menggulung saya dengan sesuatu basah dan saya mulai batuk-batuk oleh udara berwarna gelap hitam dan ayah terus berusaha mendombrak pintu dan saya saat itu menjerit, suara-suara teriakan orang, pletak-pletok keras, dan saya tahu ada suara sirine keras."
Mata Ars meredup, dia duduk di samping wanita itu yang kini duduk mencengkram bantal sofa.
"Saya melihat orang-orang berhamburan di depan dan belakang ayah, dan saya melihat kilatan api yang membakar ... orang-orang berebut lift dan berteriak 'kebakaran-kebakaran' Dan ayah berlari melewati tangga darurat sampai di lantai berikutnya kami, orang-orang berteriak mengeluh terkunci di lantai itu, saya melihat bagaimana ayah menciumku sebelum dia memukul kaca."
"Saya mengingat bagaimana ujung rambut ayah berasap dan sedikit terbakar ketika ayah mengibaskan, dan entah mengapa kami terbang di langit dan aku tak ingat lagi..."
"Lalu?"
"Saat di tempat." Lala memijit keningnya yang ngilu, gambaran-gambaran otaknya merilis kenangan yang pernah menghilang. "Ayah...Eros...."
"Eros?" Ars bergeser ke samping Lala, wanita itu terkulai ke sofa, dan bantal di pangkuannya jatuh.
Di kamar, Ars membaringkan wanita itu, namun Lala bangkit dan melangkah lagi dan jatuh tengkurab di lantai marmer, bahkan sepatu hak itu belum dilepas.
"Eros hiks," isak wanita itu sambil menampari lantai, "moy paren. Anda bilang akan saling mencari," wanita itu mengulurkan jari kelingking ke lantai, seakan lantai itu adalah orang.
Ars geleng-geleng, mengapa wanita itu tak memanggil Kevin? Bukankah cintanya adalah Kevin.
Ars melangkah dan membantu Lala duduk.
"Eros ... menikah dengan ku Eros! anda sudah besar ... " wanita itu melantur sambil menusuk-nusuk pipi Ars dengan jari lentik itu, membuat Ars semakin kesal hingga dia menggeram dan menggertakan rahangnya.
__ADS_1
Dia membanting wanita itu ke kasur dan menggulungnya seperti sosis dengan selimut. Dan Ars melepas sepatu hak itu dan meninggalkannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang."
Dalam kegelapan Lala menangkap sebuah siluet. "Richie kamu kah itu?uhh" Lala merasakan sensasi di seluruh tubuhnya saat sesuatu itu menggerayanginya, sesuatu yang dirindukannya.
"Richie, kemana saja kamu, mengapa lama?" dalam tubuh ringannya, lelaki itu terus menyiksa dengan segala hal menggelitik. Richie tampak berbeda, dia sangat lembut. Lelaki itu merengkuhnya, sesuatu keras menekannya di bawah.
Mungkin dirinya hanya bermimpi, mimpi yang indah. Siluet pria itu mengendusnya aroma parfumnya begitu kuat, ditambah panas itu, Lala menjambak rambut kepala pria menginginkan lebih.
Entah ada apa dengan tubuhnya hari ini, sangat haus sentuhan, setiap satu sentuhan itu mengirim impuls listrik tinggi dan menjalar ke seluruh tubuh.
"Richie, oh!"
Lelaki membasahi leher dengan sesuatu hangat, dan tangannya menarik kainnya ke atas, dan merayap ke bawah kain, panas itu melintang di sepanjang perut dan merayap masuk ke dadanya.
Dirinya merasa demam bercampur panas saat bibir itu membasahi bibirnya mengolesinya dengan cairan kental mint manis. Dan dirinya semakin panas menyambut tarian.. lidahnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lala bangkit duduk dalam sedetik. Kepala seperti ditusuk oleh burung pelatuk, teggorokannya kering.
Apa aku hanya mimpi? mengapa itu terasa nyata?
"Selamat pagi."
Lala memutar mata, memeriksa pendengarannya tidak salah, sejak kapan Ars mengucapkan selamat pagi.
"Selamat pagi, Tuan Ars. Bolehkah saya tahu, dimana Anda tinggal semalam?"
"Kenapa?" dia mengulas senyum.
"Ti-tidak tidak apa-apa, hanya ingin-"
"Di sini-" Ars menunjuk ke samping Lala.
"Apa!" matanya melebar dan mulutnya tertutup.
__ADS_1
"Anda berani berteriak?" sindir Ars dengan suara rendah sedikit tertekan.
"Ma-maf." Lala menunduk, menatap sprei putih lembut, semalam hanya mimpikan. Dia meraba ke belakang, b.ra. masih terkait.
"Kenapa? apa anda mau membebaskan pakaian di depan saya?" tanya nya dengan satu sudut bibirnya terangkat.
Lala menggeleng cepat, "saya ingin ke kamar mandi."
Ars mengangguk, Lala melewatinya namun Ars mengikuti dan menjagal pintunya.
"Tuan Ars? saya ingin buang air kecil."
"Jangan di kunci."
"Apa? tapi-"
"Harus bilang dua kali?"
Lala menggeleng cepat, dia mendorong perlahan saat Ars menyingkirkan tangan.
Menatap pantulan cermin, Lala memeriksa cela..na da..lam, bekas cairan ke..wanitaannya telah mengering. Benarkah itu mimpi. Perlukah dia menanyakan pada Ars apakah terjadi sesuatu semalam.
Menggosok gigi, setelah Lala membersihkan cela..na dal..am, dia menjadi sangat kikuk karena Ars, munkinkah dia menjereng cela..na dal..am atau membuangnya ke tong sampah seperti sudah-sudah.
Lala berendam dalam buih-buih, sampai tiba-tiba Ars memasuki kamar mandi.
"Tuan Ars, mengapa-" Wajah Lala menghangat, oleh malu. Lelaki itu memakai celana semi boxer bertulis Calvin Klein, oh kemana jubahnya, kepala Lala menjadi pening, adrenalinnya meningkat, dia menutupi bagian dada, beruntung buih itu sangat banyak.
"Anda pasti tahu, kamar ini didesain untuk pasangan," Ars dengan nada sedikit menyindir, Lala menekuk lutut saat Ars mencelupkan kaki ke bathtub jacuzzi, memang ini sangat lebar dan bulat bisa untuk sepuluh orang.
Namun, Ars mendekatinya, Lala terus menunduk menatap gelembung air dan pijatan air tampak semakin jelas karena otak matinya, airnya seharusnya hangat tapi tubuhnya menjadi dingin saat menyadari tiada sehelai kain menutupinya.
Menunduk, Ars menatap rambut hitam pendek basah dengan ujung rambut menyentuh bahu eksotis itu, lehernya semakin jelas begitu jenjang dan kulitnya cantik berkilau di tutupi bulir-bulir air tampak semakin segar dan dingin, wanita itu gemetaran, Ars ingin tertawa.
Lala tersentak, menatap punggung polos Ars di depannya. Tubuhnya membeku, beruntung ujung kakinya tidak menyentuh Ars. Bukankah kolam ini cukup lebar, untuk apa lelaki itu di depannya.
"Siapa Eros?" tanya Ars.
Lala bergidik, melihat buih-buih disekitar punggung Ars, "Eros? seingat saya teman saya saat di Moskow."
__ADS_1
"Bisakah anda memijat bahu saya?"
Mata Lala melebar, oh itu tidak boleh terjadi itu berbahaya, bagaimana jika lelaki itu minta yang lain dan lainnya.