Kencan Kontrak

Kencan Kontrak
BAB 56 : TIDAK DI JAWAB


__ADS_3

"Ayolah jawab, La! aku yakin itu kamu, mengapa tidak mengangkat panggilanku?" Johan mondar-mandir di kamar, Ia semakin gelisah kenapa Lala mematikan panggilannya.


Sudah setengah jam Johan menelpon Lala, namun panggilannya tidak dijawab. Ia mengirim pesan chat pada Lala.


Chat Johan :


'Lala tolong angkat telepon ku.


Lala dimana kamu sekarang? kabari aku dimana keberadaan mu?


Apa kamu marah? Please jawab. Aku punya kabar tentang Ayah Alen untuk kamu, jawablah ! '


Johan membanting hpnya ke kasur, perasaanya tak karuan, Ia membereskan pakaiannya. Saat Ia tengah membereskan pakaiannya, Budi masuk ke kamar.


Klek-


"Jo, kamu gak sarapan? eh?" Budi terkejut melihat Johan sudah rapih dengan tasnya. "Mau kemana kamu?? kau jangan bercanda Jo! nanti jam satu siang, kita latihan loh!!" ucap Budi menahan tangan Johan yang mau pergi.


"Aku bisa kembali nanti, minggir aku harus temui Kakek!"


"Ada apa sebenarnya Jo? jangan buat ulah deh, Kau tau gimana galaknya dan disiplinnya pelatih, kemari! ihg! aku tak kan membiarkanmu pergi!" Budi mendorong Johan sampai jatuh ke kasur.


"Lala, Bud dia menelponku, tapi dia langsung mematikan panggilannya, aku mau tau dia dimana?" Johan memasang wajah kelam gelisah, Ia mengambil hp nya di saku. Johan mengotak-ngatik hpnya, Ia masih posisi berbaring di kasur.


"Dia menelponmu?? oke aku akan membantumu melacaknya, dengan satu syarat kamu gak boleh kemana-kemana sampai training ini selesai, gimana?" tawar Budi karena dia tahu kalo Johan orangnya sulit dikendalikan.


"Oke aku setuju syaratmu, cepat!" Johan bangkit dari kasurnya, Dia langsung memberikan nomor-Lala yang baru, ke Budi. Terlihat Budi langsung menghubungi seseorang, Budi meminta waktu satu jam, sampai posisi Lala terlacak.


Setelah sekian lama mengapa kau baru menghubungiku? Dimana kamu please. Batin Johan yang sudah lama menahan kerinduannya pada Lala. Hatinya sesak, Ia hanya ingin cepat-cepat menemui Lala.


"Kau sarapan dulu, Jo. Staminamu harus terjaga. Aku suruh mereka mengantarkan sarapan ke kamar saja lah ya?". Budi melihat Johan mengangguk dengan wajah yang terlihat tidak karuan dan terlihat banyak pikiran.


Untung aku nggak pernah pacaran, bayangkan bila aku sebucin Johan, pasti hidupku juga ikut-ikutan kacau. Batin Budi


**


Pagi itu di kediaman Clarkson Road, Kakak dan adik sedang sarapan di meja makan. Moment seperti ini jarang terjadi, karena saat di negara asal, Kevin tidak pernah sarapan di rumah. Luca terus mengamati adiknya.


"Kamu selama ini sendirian, di sini apa ada kesulitan? ayolah jawab pertanyaanku," tanya Luca pada Kevin.


"Kesulitan? enggak, aku terbiasa hidup sendiri kan."


"Apa kau membutuhkan sesuatu? mumpung abangmu masih disini," tawar Luca.

__ADS_1


"Yang aku butuhkan, apa ya? oh ya, kamu cepat pulang saja. Melihatmu, membuat mataku jadi sakit!"


DEG


Mendengar itu, Luca bagai di tusuk ribuan duri tajam. Walau sudah sering menghadapi situasi seperti ini, Luca tetap tidak bisa menerimannya. "Bisa tidak? selama kita bertemu, jangan ada perdebatan. Kau ini adikku, Kevin. Bersikaplah selayaknya seorang adik. Aku ingin selalu mendukungmu karena kamu adikku, tapi sikapmu ini benar-benar ya? ... Kau masih punya keluarga telponlah mama, papa dan adikmu. Kau masih punya keluarga ingat itu! jangan seakan-akan kamu hidup sendirian. Bila Papa-Mama tidak peduli sama kita, kita yang harus memulainya. Rangkul mereka, kau tidak hidup sendirian, Kevin!"


Kevin membanting sendok garpunya, suara benturan dengan piring terdengar keras membuat keheningan dalam ruang makan pagi itu.


"Mengapa kau selalu mencercaku, Luca? mengapa kau tak mencerca mama dan papa saja! apa ini semua salahku? oh kamu juga sama seperti papa! yang bisanya cuma menyalahkanku?? Ah sial! kau buat moodku jadi jelek. Hanya ini yang kamu bisa lakukan kepadaku, Luca? menyuruhku, menyuruhku dan menyuruhku! kakak seperti apa kamu?! yang tak bisa berkaca pada dirimu sendiri!? sial untuk apa aku dilahirkan dari keluarga seperti ini!" sinis Kevin sambil tertawa, Ia meninggalkan Luca dengan kesal.


"Tunggu! mau kemana kau!! aku belum selesai bicara, Hah! itu anak." Luca menghela nafasnya, dilihatnya jam sudah menunjukan pukul delapan, Ia harus bersiap-siap menemui koleganya.


Luca tengah duduk di ruang santai lantai bawah, saat Ia hendak mematikan TV ada sesuatu yang mengalihkan matanya, dilihatnya gelang di atas nakas, ia kenal betul barang ini.


"Ini gelang dengan bandul kuda berponi, yang aku berikan ke Lala." Luca membolak-balik mengamati gelang itu, dia melihat inisial huruf 'L L'. "Benar, L L, aku membuat inisial dua L, yang artinya Luca Lala, kenapa bisa disini?"


Terdengar langkah suara seseorang datang.


"Tuan, mobil sudah siap," ucap kepala pelayan.


Luca yang masih memegangi gelang itu, lalu memasukan gelangnya kedalam saku jasnya. Ia berjalan dengan langkah cepat karena waktunya sangat mepet.


"Pak Salim, apa ada yang datang kemari selama ini?" tanya Luca kepada kepala pelayan.


Luca berbalik menghadap pak Salim, membuat kepala pelayan itu sedikit berkeringat dingin.


"Pak Salim? beneran tidak ada yang kemari? misalnya temannya Kevin?" tanya Luca dengan alis yang terangkat sebelah, sepertinya kepala pelayan menyembunyikan sesuatu darinya.


"Ah iya, Den Guskov yang kemari kadang-kadang," jawab pak Salim dengan senyum janggalnya.


"Cowok??? kalau teman cewek gimana? apa ada yang kemari?"


"Ce-cewek? tidak, Tuan. Tidak ada."


Terlihat Lelaki tua itu tampak mencurigakan, Luca yakin sang kepala pelayan telah menyembunyikan sesuatu darinya. Namun, karena dia terburu-buru dia meninggalkan kepala pelayan begitu saja.


**


Kevin telah sampai di tempat yang di tinggali Lala. Dia mendapat laporan dari Inem, jika Lala semalaman tidak tidur. Dia bergegas ke kamar Lala, dilihatnya gadis itu duduk di kursi pojok dekat jendela.


"Sayang," panggil Kevin. Gadis yang di panggilnya itu menoleh, terlihat matanya sembab, wajahnya pucat. Kevin memegangi kening Lala, pacarnya itu demam. Kevin hendak menggendong Lala, namun gadis itu menolak.


"Ada apa? maaf semalam aku tidur di tempat Guskov, tugas kuliah banyak, mengapa kau seperti ini lagi." ucap Kevin sambil bersimpuh di depan Lala, ia membelai rambut Lala.

__ADS_1


"Johan," ucap Lala pelan.


"Kenapa dia?" tanya Kevin.


"Aku tak sengaja melakukan panggilan video dengannya, a-aku belum siap berbicara dengannya," ucap Lala lemas.


"Jadi ini yang membuatmu seperti ini? Kemari." Kevin memeluk Lala, terlihat gadis itu mulai terisak dalam kungkungannya.


Ini pasti sangat berat bagimu, sayang. Batin Kevin


Dzzzt ... Dzzzt ... Dzzzt


HP Lala di atas nakas terus bergetar.


"Aku takut, Kevin. Aku takut memberitahu Johan, entah takut atau benci, atau jijik. Aku tidak tahu," ucap Lala masih terisak.


"Aku akan selalu di sisimu, jadi buang rasa takutmu," Kevin membopong Lala ke kasur. Ia membaringkan pacarnya, dan menumpuk bantal agar lebih tinggi, sehingga Lala setengah duduk.


TOK-


TOK-


"Masuk." Kevin menoleh, Inem membawakan makanan untuk Lala. Setelah meletakan makanan Inem keluar dan menutup pintunya lagi.


"Makanlah, sudah jam 9 pagi, sarapanmu telat. Kamu gak kasian sama dedek bayi? lihat mereka pasti sudah lapar," ucap Kevin sambil mengelus-ngelus perut hamil Lala.


Dzzzt Dzzt Dzzztt


HP Lala terus bergetar, Kevin melirik layar, Johan yang terus menelpon Lala. Hati Kevin kembali bergemuruh namun ditepisnya.


"Ayo makan, A" Kevin menyuapi Lala. Gadis itu menelan makanannya dengan kasar walau terlihat tidak berselera makan.


"Nanti malam kamu jadi ngerjain tugas di tempat Guskov lagi? apa menginap lagi?" tanya Lala.


"Sepertinya iya sampai larut pagi sayang, maaf ya?"


"Humm." Sebenarnya Lala semakin merasa kesepian, tapi bisa apa dia, dia tidak boleh egois.


"Sebentar lagi aku berangkat, nanti pulang kampus aku sempatin kemari ya." Kevin menyuapkan suapan terakhir ke Lala.


Lala memeluk Kevin, Ia seperti enggan melepaskan pacarnya itu. Kevin yang duduk di sebelah Lala di atas kasur, membalas pelukannya. Tak lama setelah itu, Lala yang sejatinya belum tidur dari semalam, akhirnya tertidur dalam pelukan Kevin.


Kevin beranjak pelan-pelan, Ia menyelimuti Lala. Dilihatnya ponsel Lala di atas nakas. Diambil hp itu dan diotak-atiknya, terlihat ratusan panggilan tak terjawab dari Johan dari tadi malam. Kevin memeriksa riwayat panggilan video tersambung selama tiga puluh detik. Dia membaca semua pesan chat dari Johan, pesan yang tidak dijawab bahkan tidak di buka Lala. Padahal gadis itu beberapa bulan ini merengek mau menelpon Johan.

__ADS_1


Mengapa hubungan kami harus ada orang ketiga, tidak bolehkah kami bahagia sebentar saja. Batin Kevin.


__ADS_2