
...🇵🇱🇵🇱...
Rumah kosong yang akan ditempati Richie selisih tiga rumah di sebelah kiri tempat tinggal Lala.
Setelah seharian membereskan rumah itu dibantu beberapa tetangga, rumah itupun telah bersih dari debu dan bau tak sedap itu berganti jadi aroma wangi kayu cendana setelah Lala meletakan Reed Diffuser, dua botol di ruang tamu dan satu di kamar Richie. Untung dirinya masih memiliki cadangan.
"Kita harus belanja, habis mandi mari ke kota," kata Lala seraya menyandarkan kepala ke sofa tak peduli bajunya yang basah oleh keringat.
"Apa kamu tak capai? besok saja," Richie mengelap keringat di wajahnya dengan tisu.
"Besok ke rumah sakit, jadi hari ini saja belanjanya," lirih Lala yang kehabisan tenaga dan ingatannya melayang ke saat tadi malam.
"Tidurlah denganku." Richie membuat Lala terdiam. Beberapa saat kemudian lelaki itu tidur di pangkuan Lala. Bahkan Kaki panjang itu tak muat di kursi dan menumpang di atas pegangan kursi.
Lala menunduk, matanya memandang sayu pada Richie yang terpejam. "Ya sudah, tidurlah." Lala putus asa tidak tahu cara membujuk Richie disaat seperti ini. Dari pada lelaki itu minum minuman beralkohol dan membuat masalah di kampung ini.
Sampai pagipun Lala bersandar di kursi, dan punggungnya sakit semua, pahanya juga pegal karena tertahan kepala Richie.
Setelah jam 5 pagi, Richie baru mau pindah ke depan Tivi.
"Yaah... mati lampu." Richie membuyarkan lamunan Lala, dia beralih menuju kipas.
"Ha mati lampu?" Lala yang mendapati Richie menekan tombol kipas angin, berkali-kali dan tombol lampu. "Wah, cucian ku." Di eranjak keluar rumah, di depan bertemu Bu Asih yang sedang menggendong Vino yang terlihat baru mandi.
"Mati lampu ya, bu?" tanya Lala pada tetangga terdekatnya yang sudah seperti ibu kedua Vino. Karena Bu asih belum memiliki anak.
"Tidak kok dik. Lihat itu lampu rumah Bu Cici menyala."
"Iya ini tidak menyala, sudah di coba dinyalakan semua tetap mati," kata pak Dennis suami bu Cici yang keluar bersamaan dengan Richie. "Mana sudah petang lagi, ya terpaksa mas Richie tidur di tempat Bu Lala lagi. Biar nanti saya sampaikan pada pak RT. Tukang listrik juga bisanya besok siang." Pak Dennis memberi saran ketika Lala mengambil alih Vino dari gendongan bu Cici.
"Ya udah kita pulang, Dik, sudah gelap."
"Iya Bu, Lala juga sudah ingin mandi."
Lala menunggu Richie mengunci pintu dan pun Mereka kembali ke rumah masing-masing.
Wanita yang baru selesai mandi menyusuii Vino di kamar, sembari menunggu Richie selesai mandi. Jam tujuh Richie memajukan mobil bak terbuka milik Lala yang terpakir di tanah kosong tidak jauh dari rumah.
"Apa letaknya jauh?" tanya Richie saat Lala masuk mobil.
__ADS_1
"Dua puluh menit." Lala memegangi Vino yang berdiri di pangkuannya, bayi laki-laki itu tak mau diam, terutama saat di dalam mobil.
Richie melajukan kendaraan dengan panduan wanita berjaket hijau disampingnya. Sesampai di Mini Market, Richie menggendong Vino sambil mendorong keranjang.
Richie merasa malu karena saat ini dirinya tak memegang uang untuk berbelanja. Sebenarnya dia bisa menghubungi nomor Jefri, anak buahnya, tapi nanti Lala tidak akan percaya lagi dengannya.
Lala berjalan terpisah dari Richie mencari semprotan nyamuk.Namun, di etalase terlihat kosong, beruntung Lala melihat satu.
Baru saja semprotan nyamuk di pegangn, tiba-tiba tangannya dibanting ke rak etalase oleh seseorang dan semprotan itu raib dari tangan.
Lala menoleh ke belakang, terlihat perempuan yang seumuran tengah tersenyum mengejek Lala dengan jari tengah mengacung. "Hei ini sudah aku duluan yang lihat!"
"Mana ada yang seperti itu? aku yang memegang dulu!" Lala meraih kembali semprotan.
"Dasar! anak masih ingusan minta uanga sama orang tua, tak punya sopan santun!"
"Ha? yang tidak punya sopan santun kamu, asal memukul, enak saja." Lala tak mau kalah, sebenarnya dia ingin memiting dan membuat pelajaran pada perempuan itu. Tapi orang-orang mulai melihatnya , jadi Lala menurungkan niat.
"Dasar bocil." Wanita itu memangil masa, "lihatlah bapak Ibu, gadis ini tidak memiliki sopan santun ini pada orang yang lebih tua!" Wanita itu terus berkoar-koar, dan seketika orang-orang saling berbisik.
'Orang yang lebih tua apa! kita pasti seumuran! hanya karena wajah baby face ini, dia mengira aku anak kuliahan, menyebalkan,' batin Lala.
Lala merebut semprotan itu kembali tidak mau kalah, pasalnya di kampung jarang ada jualan semprotan. Dia takut bila ada kecoa, karena persedian di rumah benar-benar habis.
"Sakittttttttt igghh," ringis wanita itu, wajahnya sudah menekuk.
"Berani sekali kau pada wanitaku." Richie menatap dengan pandangan iblis dan cengkraman kian menguat.
"Sudah Richie, lepaskan, ayo." Lala mengelus lengan Richie dsn sedikit menariknya, karena pandangan orang-oraang seperti berpikir buruk tentangnya.
"Sekali lagi kau berani mengganggunya, aku yang membuat perhitungan denganmu." Richie melepas kasar tangannya, sampai wanita itu mundur ke belakang karena sentakan Richie.
"Hey mas ganteng, mendingan sama saya dari pada ayam kampus itu pasti labil!" seru wanita itu saat Lala sudah menjauh.
Perkataan itu membuat Richie berbalik tapi ditahan Lala. "Sudahlah Richie, menghabiskan energi mengurusi orang seperti itu."
Sudah jam 10 malam mereka telah sampai rumah, dengan empat dus besar belanjaan, yang di turunkan Richie. Karena kelelahan malam itu mereka sudah tidur.
Dini hari Richie terbangun karena suara berisik pintu, lantas dia ke dapur mengambil pisau dan mematikan semua lampu dalam rumah. Dia bersembunyi di balik pintu ruang tengah, tak berselang lama dia merasakan langkah seseorang mengendap-ngendap dalam kegelapan, membuat jantung Richie makin berdetak cepat.
__ADS_1
Dengan sekali gerakan Richie langsung mengunci dan membanting pria itu begitu masuk ke ruang tengah.
Richie bergulat, jungkir balik saling menjatuhkan, lawannya cukup mumpuni juga, keributan itu membuat Lala terbangun dan menyalakan Lampu, "Richie?"
Lampu menyala terlihat Richie dan orang berpakaian serba hitam dengan penutup kepala saling mengungci.
"Cepat masuk Risa! tutup pintu," perintah Richie, membuat Lala perlahan mundur dan akan menutup pintunya tapi di tahan. "Richie, ini rumahku jangan melukainya, aku akan telpon pak RT."
"Kak ini aku Guskov!!"
"Diam kau!" Richie makin memuntir tangan lelaki itu ke belakang.
Lala berbalik ke pintu, "siapa? Guskov?" Lala mendekat dan makin berlari.
"Jangan dekat-dekat, menjauhlah. Ini bahaya!" sentak Richie menarik lelaki itu duduk.
"Kak aku Guskov, lihatlah wajahku!" Laki-laki itu memekik dan meringis ketika tangannya terkunci membuat Richie melepas penutup wajah lelaki itu.
"Gu s kov? kok bisa?" Lala melepas tangan Richie dari Guskov, sang adik tiri.
"Ceritanya panjang." Guskov , dia membuka baju hitam luar dan kini hanya memakai kaus putih.
"Mengapa kau mengendap-ngendap." Lala ketika meletakan dua jahe hangat di meja kecil portabel. Mereka bertiga mengelilingi meja kecil.
"Kau seperti maling, untung kau tidak ku pukul," cerca Richie.
"Diam! siapa sih kamu? malam-malam di tempat saudaraku?" Guskov menggerutu menatap tajam pada lelaki di sebelahnya.
"Habis, kalau siang aku menemui mu takut ada yang mengikuti," kata Guskov pada Lala.
"Dari mana kau tahu tempatku?"
"Setiap kaka mengirim foto baby Vino ke rumah, aku mengikuti si pengirim surat. Jadi, sampai kapan kaka mau bersembunyi, Kevin terus menanyakan mu hah! anak itu," keluh Guskov, mengingat Kevin juga teman dekatnya.
"Belum tahu, sementara sembunyikan keberadaan ku, bagaimana kabar mamah Rumi?" tanya Lala menanyakan mama kandungnya.
"Baik kak, dia sangat kangen padamu. Tadinya dia akan mencari mu, tapi aku beri pengertian ke mamah, takut bila kami akan makin menyulitkan mu."
Richie mengamati lelaki itu, mengapa dirinya tidak tahu apa-apa. Pak Pram belum memberi tahu soal pria ini.
__ADS_1
Alhasil kasur sempit di depan tivi ditiduri Richie dan Guskov. Lengan mereka menempel dan mata tak terpejam di ruangan semi gelap, karena cahaya dari dapur.
"Sejak kapan kau disini? untuk apa disini?" Guskov bertanya dengan suara pelan, takut Lala mendengarnya. Padahal ruangan itu terpisah sekat dinding dengan kamar Lala. Entah wanita itu bisa mendengarnya atau tidak dari dalam kamar.